Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Never too old to learn

Sudah lama aku berangan-angan untuk belajar surfing. Sebenarnya aku juga sudah sering surfing tapi yang aku lakukan adalah windsurfing. Surfing di ombak dan Windsurfing adalah genre yang berbeda. Yang disebut surfing dalam watersport di dalam perkembangannya tumbuh menjadi beberapa cabang. Surfing di laut awal-awalnya hanya menggunakan sebilah papan luncur disebut sebagai Surfing. Pada perkembangannya kemudian sailing, aka menggunakan layar, dan berselancar di atas papan selancar disebut sebagai windsurfing. Lalu ada pula watersport dengan sebutan Kitesurfing. Yang disebut Kitesurfing adalah surfing menggunakan papan selancar dengan bantuan kite, atau layangan, meski bentuknya bukan seperti layangan tradisional, papan untuk luncurannya juga lebih mendekati bentuk papan wakeboarding. Itulah olah raga Surfing, masih banyak macam surfing-surfing yang lain. Selama ini aku windsurfing di open water tapi kondisi flat water, riding the small dune in the wave tapi belum berani benar-benar bermain-main ombak.

Meski sering membicarakan niat untuk belajar surfing, tadinya angan-angan ini cuma sekedar wacana saja. Berangan-angan untuk membuat progress pada kemampuan windsurfku, to the next level, untuk wave riding atau wave sailing seperti Jason Polakov. Windsurfing dengan bermain-main dengan ombak di laut berselancar di bibir ombak. Kemampuan bermain di ombak sudah termasuk sebagai advance windsurfer, berarti di atas level 5. Tapi sepertinya aku cuma omdo, dan tidak pernah benar-benar berusaha untuk mewujudkan angan-anganku, sampai beberapa hari lalu tiba-tiba aku mendapatkan tawaran free lesson dari Ripcurl School of Surf yang di Legian. Dasar mental gratisan hahaha. Terima kasih Ripcurl.

Saat saya tulis ini sedang berlangsung program sertifikasi instruktur untuk surfing di RSOS Legian Bali, dan mereka memberikan free lesson pada yang berminat belajar surfing untuk peserta program sertifikasi itu. Tanpa pikir panjang saya mengajukan diri menjadi model student. Belakangan setelah mendaftar sebenarnya aku agak sedikit minder juga karena pendaftar-pendaftar lain ternyata semuanya muda-muda. Aku satu-satunya yang sudah oma-oma. Malu juga kalau nggak nyampe otak ini untuk menangkap semua instruksi pengajar meski cuma sekedar belajar surfing. Kasihan juga kan yang lagi mengejar sertifikasi, big challenge ngajarin orang yang sudah dedel otaknya.

Akhirnya never too old to learn, hanya butuh komitmen untuk hadir di kelas, dan selebihnya semesta mendukung. Mendapatkan instruktur yang baik memungkinkan aku mendapatkan ombak pertamaku. Meski masih jauh perjalananku untuk menjadi wave rider.

 


Leave a comment

Kampung Waerebo

Untuk mengademkan pikiranku dari hiruk pikuk politik dan kejadian di Jakarta aku ingin menyimpan dan membagikan kenangan indah jalan-jalan bersama teman-teman SMP ku. Kami jalan-jalan ke Flores, melakukan trekking ke negeri di atas awan, Kampung Waerebo. Perjalanan kami sebenarnya bukan cuma ke Waerebo melainkan ini adalah bagian Overland kami di Pulau Flores. Tapi tulisan ini khusus saya buat hanya tentang Waerebo saja. Karena perjalanan yang lumayan challenging buat kami. Melakukan trekking ke gunung layaknya perjalanan anak-anak muda. Semboyan kami “Life begun at Fifty” #MenolakTua.

 

Tepat saat berlangsungnya Pilkada DKI putaran yang ke-dua, tanggal 19 April, kami berangkat terbang menuju kota di ujung Barat Pulau Flores. Labuhan Bajo. Ini kali ke-dua saya dan teman-teman terbang ke sana. Lupakan Pilkada DKI, seorang teman yang warga DKI juga harus merelakan hak pilihnya terbuang demi perjalanan ke Waerebo, untung saja Anies-Sandi pilihannya menang telak atas Ahok sehingga dia tidak menyesal. Dari Labuhan Bajo kita akan memulai perjalanan kami kali ini. Sedikit ketar-ketir ketika penerbangan saya dengan Wings Air grup dari Lion Air yang terkenal sebagai raja delay. Untung tidak banyak terlambat kita hanya terlambat selama 1 jam. Jam 4 sore ketika akhirnya saya dan adik saya keluar dari area bagage claim Kedatangan Airport Komodo. Terlihat satu-satunya mobil Hi-Ace sewaan terparkir di ujung area penjemputan. Si Pinky sudah menanti kami semua.

Untuk menuju Waerebo kami terlebih dahulu harus bermalam di kota Ruteng, Ibu kota Kabupaten Manggarai. Karena dengan jadwal kedatangan pesawat kami tidak mungkin kami langsung menuju destinasi utama Waerebo. Malam itu kita menginap di Susteran Maria Berduka. Jalan menuju Ruteng cukup mulus dan kita bisa sampai Ruteng nyaris ketika Gerbang Susteran sudah mau ditutup. Yah, memang agak mepet waktunya, sampai suster berkali-kali menelpon tour guide kita Bu Dwi menanyakan kapan kita akan sampai di Susteran. Perlu diingat buat yang rencana menginap di sana, gerbang Susteran ditutup tepat jam 9 malam, aturan biara yang tidak bisa dikutak-katik. Kita sampai mepet jam 9 karena ketika si Pinky dipacu kencang oleh om Adel membuat kita sedikit syok dengan kelok Seribu dari Trans Flores Highway. Baru seperdelapan perjalanan menuju Ruteng 2 anggota trip sudah menunjukkan wajah pucat, hijau kebiru-biruan, akibat motion sickness. Dan kita harus berhenti beberapa kali untuk memberi kesempatan 2 orang teman kami menguras isi perutnya.

Pagi itu sebelum menuju Waerebo seharusnya kita menuju Cancar terlebih dahulu untuk melihat Sawah Lingko, akan tetapi berhubung Bu Dwi menjanjikan kita durian di Cancar yang lebih tepat dimakan sore hari maka kita skip acara ke Cancar pagi itu dan langsung menuju Waerebo. Apakah durian itu hanya untuk mengalihkan jadwal supaya tidak bertemu dengan group kedua, entahlah. Wrong decision. Mengecewakan. Karena waktu menyusun itinerary aku berharap sekali kita di Cancar saat pagi hari untuk mendapatkan foto-foto spiderweb ricefield Lingko berlatar langit biru dengan sawah hijaunya di kaki bukit.  Dan waktu itu cuaca sangatlah mendukung. Pagi yang dingin dan sejuk, serta langit biru cerah menyambut kami pagi hari ke-dua di Flores. Belum rejeki. Pemandangan langit biru sawah-sawah hijau membentang hanya terekam dalam ingatan. Itulah pemandangan yang terlihat selama perjalanan menuju Waerebo. Mungkinkah kita ini kelaparan? Jika melihat suburnya Indonesia rasanya aneh kalau sampai ada orang Indonesia yang mati karena kelaparan.

 

 

Kita berhenti di Waerebo Lodge milik bapak Martinus di desa Denge yang tempatnya di tepi pantai. Kita rehat untuk sholat dan makan siang. Obat kekecewaanku tidak bisa ke Cancar pagi hari itu adalah kesempatan untuk melihat tarian Caci di Denge. Kebetulan ada orang Denge yang punya hajat dan dia merayakannya dengan menyelenggarakan pesta dengan tari-tarian Caci. Sungguh beruntung kita karena ini bukanlah sebuah kegiatan acara budaya yang rutin. Pesta rakyat yang sangat natural dan tidak dibuat-buat. Senang bisa melihat atraksi tari Caci meski tidak begitu paham apa maksud dari tarian ini, dan kenapa orang dengan suka rela membiarkan tubuhnya didera dengan pecut. Mirip-mirip debus, orang-orang yang kena pecut seperti tidak merasakan sakit. Kata orang sana sih mereka sudah minum-minum sopi alias tuak sebelum dipecut.

Dari Denge kita diantar Si Pinky sampai di kaki bukit dan lanjut dengan ojek menuju Pos 1 pendakian ke Kampung Waerebo. Latihan fisik selama berbulan-bulan membantu aku untuk melakukan pendakian cukup mudah. Aku bisa mengatur nafas dengan baik melewati jalan-jalan menanjak. Capek? ya pastilah. Sering berhenti untuk mengatur nafas dan minum. Aku harus minum banyak-banyak karena keringat yang keluar juga banyak sekali. Menuju Waerebo kita melalu jalan setapak melingkari bukit, jalan dengan pepohonan yang lebat menghutan, tebing di satu sisi dan ngarai di sisi lain. Jalan setapak yang cukup licin tetapi tongkat dari kayu, stick buat mengecat dinding dan sepatu trail runnerku berfungsi dengan baik. 45 Menit aku bisa mencapai Pos 2. Dan menjelang senja akhirnya kita diterima pemuka adat Bapak Alex di Rumah Gendang.

DSC01249.JPG

Rasa syukur karena akhirnya tercapai keinginan dan harapanku untuk melakukan perjalanan ke destinasi impianku. Teman-teman yang bersamaku saat itu yang benar-benar membuat rasa bahagiaku seperti berlipat ganda. Setelah menikmati makan malam dan secangkir kopi Waerebo malam itu kita habiskan bercanda di luar MBaru Ngiang sambil memandang langit yang kadang cerah kadang berawan. Ketika awan berlalu kita bisa melihat taburan bintang dilangit dan bagian galaksi kita. Di arah Selatan kita bisa melihat rasi bintang Crux alias Gubung Penceng malam itu. Menjelang jam 12 malam baru kita beranjak ke dalam untuk istirahat. Damainya suasana desa yang dingin, orang-orang yang ramah, bahkan anjing dan kucing di situ juga sangat ramah. Ketahuilah, hewan-hewan itu selalu menggambarkan bagaimana orang-orang di sekitarnya. Jika suatu kampung orang-orangnya ramah dan tidak curigaan, maka anjing-anjing dan kucing-kucingnya pun demikian juga, pasti ramah dan tidak curigaan.

 


Leave a comment

No Title

Aku tidak tahu mau dikasih judul apa tulisan ini.

Ini hanya sekedar sedikit catatan ketika Hans meninggal dunia. Hans suamiku sudah lama menderita sakit kanker darah. Seperti tulisanku sebelumnya. Pada akhirnya dia sudah tidak berdaya lagi menghadapi sakitnya, Hans menghembuskan nafas terakhirnya pada 9 Maret 2017. Sebenarnya dia tidak meninggal karena leukemianya tapi karena sakit di lambung sebagai side effect dari Thalidomide serta diet yang buruk karena selera makan yang buruk. Tapi itu adalah destinasi terakhir dari setiap orang, rahasia Ilahi yang kita tidak tahu.

Air mata kesedihanku menyaksikan seseorang menuju akhir hidupnya bukan kesedihan karena ditinggal mati, melainkan air mata kesedihan mengingat Allah. Mengingat kematian itu sendiri.


Leave a comment

Jalan Bareng ala Manula

Nyari teman untuk jalan bareng rame-rame di usia manula sudah tidak seperti waktu mahasiswa dulu, persoalannya berbeda. Dulu waktu mahasiswa kendalanya adalah uang saku, keuangan cekak. Tapi teman jalan bejibun. Asyik-asyik aja.

Ada perasaan ingin melakukan apa yang dulu belum sempat aku lakukan ketika mahasiswa. Ini bagian dari gejolak mid-age crisis yang aku alami. Aku kepengen jalan-jalan yang sedikit ngeri-ngeri sedap. Maksudnya ngeri-ngeri sedap disini adalah seperti, ke laut, snorkling, kalau perlu belajar surfing, trekking, jalan-jalan ke gunung, yang buat manula mungkin agak beresiko. Resiko terhadap kesehatan, seperti masuk angin, encok, nyeri lutut dan lain-lain. Eh, tapi nanti dulu, usia 50-an itu termasuk manula atau setengah baya ya? Cari teman jalan yang asyik dengan selera destinasi yang sama seperti keinginanku itu tidak mudah.

Iya tidak mudah tapi keinginanku begitu kuat akhirnya aku berhasil mengumpulkan teman-teman yang di atas rata-rata. Aku mulai persis ketika aku berusia 50 tahun, buah dari kegagalanku berangkat ke Australia yang aku impikan sebagai selebrasi memasuki usia 50. Sebagai gantinya aku berikrar untuk jalan-jalan di Indonesia saja. Oktober 2014 ketika hatiku hancur tidak jadi ke Australia, aku mengumpulkan beberapa teman SMP ku, yg berhasil aku bujuk untuk jalan-jalan keliling Bali. Ningrum, Mia dan Endang. Trip akhirnya terlaksana pada bulan April – Mei 2015. Dengan mobil kita berempat keliling ke Bali Barat, Singaraja, Kintamani. Waktu itu masih ditemani Hans suamiku. Meskipun sepanjang perjalanan aku setir sendiri sebenarnya yang membuatku kurang confidence traveling dengan mobil adalah kemampuanku dalam menghadapi kendala kerusakan mobil. Adanya pria membuat aku lebih pede. Meskipun kondisi Hans tidak sehat tapi setidaknya pengetahuannya bisa membantu, itu yang aku pikirkan. Dan betul juga dengan instingku, waktu di Kintamani kita mengalami problem dengan ban kempes. Entahlah apa memang orang Bali baik hati atau karena ada bule banyak yang nolongin untuk ganti ban. Bukan persoalan mudah karena mobil sewaanku banyak hal yg tidak berfungsi normal.

Dari situ membangkitkan semangatku untuk mencari destinasi yang agak jauh. Masih dengan teman-teman lama alumni SMP sebelumnya aku merencanakan trip ke Flores. Misiku dari awal memang ke Indonesia Timur sebagai pengganti trip Australia yang gagal itu. Labuhan Bajo dan Taman Nasional Komodo adalah destinasi berikutnya. Sepanjang 2015 kita membicarakan trip ini. Menetapkan time frame dan budget. Bujuk rayuku berhasil mempengaruhi 9 teman untuk ikut dalam boat trip yang pelaksanaannya sekali lagi akhir bulan April, tahun 2016. Alasan kenapa trip sekitar bulan itu karena cuaca bersahabat pada saat memasuki musim panas. Dan selalu ada hari libur karena beberapa teman masih aktif bekerja. Bukan pengangguran seperti aku.

Ajaib ternyata dua trip itu menimbulkan antusiasme untuk jalan-jalan ngeri-ngeri sedap di antara teman-temanku. Masih di tahun 2016 nggak tanggung-tanggung kita naik ke Ijen. Trekking menanjak 3 kilometer menuju kawah Ijen. Sebagian besar malah melakukan rafting dulu di Songa sebelum jalan menanjak ke Ijen. Itu sih gila. Aku tidak ikut rafting karena teknis keberangkatan yang tidak memungkinkan. Mereka start dari Surabaya dan aku dari Denpasar. Aku tidak mau bergabung dengan mereka karena budgetku akan membengkak kalau aku ikut berangkat dari Surabaya, sementara dari Denpasar ke Banyuwangi sebagai titik pendakianku ke Ijen hanya 3 jam perjalanan darat dari Denpasar. Belum lagi target pendakianku adalah sisi utara bibir kawah yang total jarak perjalanan trekkingnya 4.5 kilometer sehingga PP menjadi 9 kilometer. Dibanding biaya sebesar 4.5 juta yang aku butuhkan termasuk tiket pesawat dan hotel jika start dari Surabaya, aku cuma habis dana sebesar 1.7 juta dari arah Denpasar.

Moral cerita dari tulisan ini adalah, harus ada seseorang yang menjadi penggerak untuk memulai sesuatu. Tidak ada kata terlambat untuk jalan-jalan jenis “bukan jalan-jalan cantik” untuk kaum usia pertengahan seperti kami. Dan Next Trip kami berikutnya di tahun 2017 ini Insyaa Allah trekking ke Kampung Waerebo dan Flores Overland.


Leave a comment

Sedekah Ramadhan

Maksud baik kok dihalangi, itu pikiran orang ketika aku bilang sebaiknya tidak membiasakan memberikan uang kepada anak-anak di kampung-kampung. Sepertinya mungkin aku ini orang yang paling sadis di Dunia, tidak punya empati dan kasih sayang. Biarlah orang melihatnya aku ini pelit, nggak pernah sedekah dan tidak pernah bantu saudara-saudaranya. Wes ben wae, tidak perlu diklarifikasi, Gusti Allah mboten sare, wong ndak dapet pengakuan juga ndak apa. Biarlah orang men-judge aku seperti apa yang mereka lihat. Aku tidak peduli apa kata orang, aku peduli dengan menjadikan orang lebih mulia.

Seperti biasa bulan ramadhan seperti sekarang orang berlomba-lomba bagi sedekah. Which is good, jka dipandang dari sudut agama. Penukaran uang receh di Bank seperti acara yang wajib selama bulan puasa dan menjelang Hari Raya Id. Sampai-sampai Bank perlu memberikan pengumuman jadwal penukaran uang kecil. Kebiasaan memberikan donasi kepada kamu miskin dan dhuafa dengan membagi secara langsung berupa uang seperti sebuah tradisi buat bangsa ini. Orang-orang kaya di negara ini seperti membutuhkan pengakuan untuk perbuatan baiknya. Yang memberi sangat bahagia jika bisa membagikan uang kepada sebanyak-banyaknya kaum miskin, apalagi jika melihat orang-orang berebutan untuk mendapatkan uang sedekah. Bahkan beberapa kasus yang terjadi sebelumnya hingga memakan korban jiwa. They looks like animal more than human, ketika saling berebut. Mereka yang berebut sedekah seperti hewan yang hanya memakai insting mereka yang mengatakan: uang, uang, uang. Mereka harus mendapatkan uang sedekah itu lebih dari sekitarnya, ketimbang berpikir rasional, apalagi berpikir untuk sabar menunggu sampai uang diberikan ke tangan mereka. Wanita dewasa, tua, dan muda. Semua berebut, saling dorong saling sikut dan anak-anak menjerit menangis tergencet sana sini. Uang sedekah yang diperebutkan nilainya hanya sebesar 15.000,- sampai 20.000,-.

Apakah tidak ada cara lain untuk memberikan donasi? Haruskah disaksikan orang banyak dan beritanya harus sampai muncul di tivi karena ada orang yang mati lemas dan terinjak-injak hanya untuk memberi sedekah. Yang disalahkan selalu mereka yang berebut sedekah bukannya orang-orang kaya yang butuh pengakuan itu. Tidak adakah cara memberi sedekah yang memuliakan mereka yang diberi, meskipun mereka hanyalah kaum dhuafa dan fakir miskin? Orang-orang miskin itu seperti hewan karena mereka tidak cukup pengetahuan, mereka miskin, bodoh dan tidak beradab. Menjadikan mereka manusia yang beradab dan bermartabat adalah dengan memberikan mereka pengetahuan. Mengajari mereka juga dengan cara memperlakukan mereka secara beradab dan bermartabat. Tidak menjadikan tetap bodoh seperti hewan, menumbuhkan insting mereka untuk mengemis dan meminta-minta.

Sering aku melihat orang senang sekali memberikan uang seribu dua ribu kepada orang miskin tapi sering pelit ketika memberikan pengetahuan kepada orang lain bagaimana caranya dia mencari kekayaan. Ada orang yang pelit bahkan untuk hal-hal kecil seperti berbagi trik dan pengetahuan untuk membuat kue misalnya. Meskipun banyak juga orang yang beramal dengan ilmunya dengan menulis blog-blog berisi pengetahuan yang bermanfaat. Amal berupa pengetahuan itu lebih panjang ketimbang sedekah uang seribu dua ribu. Apalagi jika pengetahuan itu bisa membuat orang lain menggunakannya untuk mencari nafkah sehingga hidupnya menjadi lebih baik.

Sedekah bukan cuma uang seribu dua ribu perak, pengetahuan dan menjadikan orang lain lebih mulia adalah sedekah yang tidak ada habisnya. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal untuk mereka yang mau berbagi pengetahuan. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.


Leave a comment

Teknologi Tepat Guna

Sebenarnya apa sih itu ‘teknologi tepat guna‘?. Pada kenyataannya banyak orang tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun sudah sekolah tinggi.

Contohnya, saya dan beberapa teman sedang mempersiapkan trip ke Taman Nasional Komodo untuk bulan Mei yang akan datang, island hoping, dengan kegiatan hangout di kapal, trekking, snorkling dan keceh, main basah-basahan di pantai. Soal sepatu jadi diskusi yang panjang, mau bawa sepatu apa. Jiaahh lucu-lucu juga komentar teman-teman yang sebenarnya sekolahnya tinggi-tinggi tapi jarang main ke pantai. Mereka cukup bingung untuk memilih mau pakai alas kaki apa selama trip, apakah bawa sepatu ‘keds’, sneakers, sepatu sandal, sandal. Ada yang nanya ‘apa mesti bawa semua?’. Wah, hahahaha….kebayang bawaan isi koper mereka, padahal trip rencananya cuma 5 hari saja. Ketika saya tawarkan ide yang praktis dan efisien dengan bawaan barang yaitu cukup pakai satu saja sandal gunung, malah ada yang tanya buat apa sandal gunung? Aduuhhh!!. Padahal sandal gunung bisa buat trekking dan sekaligus buat main air di pantai, kalau merasa kaki kedinginan terutama selama di dalam pesawat karena memakai alas kaki terbuka cukup tambahkan kaos kaki. Dan secara fashionpun tidak masalah masih bisa juga dibuat fancy.

Teringat juga peristiwa puluhan tahun lalu, waktu masih muda, pertama kali trip keliling pulau Bali. Saya dan teman-teman menggunakan sebuah biro travel dengan Budi si guide kita waktu itu. Si Budi ini memakai sneakers untuk selama perjalanan. Mungkin takut kurang sopan dan kurang etis kalau dia memimpin tour cuma pakai alas kaki terbuka atau bahkan sandal, secara orang Indonesia mempunyai nilai-nilai kalau memakai sepatu lebih dihormati. Tapi akibatnya, ketika kita bersenang-senang di pantai Kuta dan Budi juga ikut-ikut keceh main air, sepatu si Budi somehow jadi basah. Karena acara trip padat sepanjang 2 minggu maka tidak ada waktu untuk Si Budi mengeringkan sepatunya. Sepanjang trip Budi memakai sepatu itu meskipun dalam keadaan basah. Dalam waktu 2 hari saja sepatunya jadi bau, bisa dibayangkan bau kaki, dan bau kaos kaki yang nggak dicuci. …Huweeek!. Dan jadilah sepanjang tour kita membully Budi dengan mengatai dia ‘Budi Si Sikil Mambu’, artinya Budi si kaki bau. Kasihan! Hahahaha.

Meskipun orang Indonesia yang sedikit agak tinggi pendidikannya suka sekali menulis atau berbicara dengan istilah-istilah yang berkesan Wah! seperti kata-kata ‘teknologi tepat guna’, sehingga orang awam yang pendidikan dasarnya cuma 9 tahun akan terkesan tapi pada kenyataannya penemuan teknologi sederhana berupa alas kaki, sandal, sepatu, sepatu sandal, sandal gunung, sneakers, ternyata cukup membuat orang yang berpendidikan tinggi sekalipun sulit untuk memilih mau menggunakan yang mana.


Leave a comment

Made in Thailand

Masih melanjutkan persoalan krisis usia pertengahan kali ini menyangkut tentang body transformation. Obrolan di grup berlanjut, kali ini gantian aku yang tanya, ‘apakah pria jadi bernafsu ketika melihat boobs dan bokong indah wanita?’. Jawabannya benar-benar membuat galau wanita paruh baya pada umumnya karena wanita yang sudah tidak punya boobs dan bokong indah pasti merasa sudah tidak diinginkan lagi.

Seorang wanita yang sudah mendekati paruh baya tubuhnya sudah tidak sekencang dulu lagi. Tubuh yang tambun saat hamil kemudian diet yang ketat sesudahnya, tubuh jadi melar mengkerut secara drastis, ditambah kurang olah raga otot-ototpun menghilang terutama otot yang menyangga payudara supaya tetap tegak menantang. Tummy and tuck, operasi pasang boobs di Thailand rasanya perlu didukung untuk meningkatkan kepercayaan diri seorang wanita, suami yang mampu membiayai seharusnya juga mensupport demi kesenangannya juga dan keluarga tetap harmonis.

Aku sendiri belum perlu dan bersyukur meski tidak suka pakai beha masih bisa bangga kalau teman-teman sesama wanita seusia melirik bentuk tubuhku. Lagi pula bagaimana mungkin aku melakukan tummy and tuck jika lihat gerbang rumah sakit dan jarum suntik saja aku sudah lari sipat kuping seperti kucing kecil yang takut dengan kucing garong. Memikirkan small operation pakai laser untuk buang kutil saja bikin aku keringat dingin apalagi mau menghadapi scapel, pisau operasi. Tapi untuk wanita yang memerlukan dan mampu melewati kesakitan pasca operasi tidak ada salahnya. Saran dari teman-teman yang sudah melakukan : ‘jangan lihat rumah sakitnya tapi carilah dokter yang benar-benar ahli dan pekerjaannya bisa dipertanggung jawabkan supaya tidak kecewa, jangan sampai maunya jadi bagus malah jadi bencana’.