Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Jajanan praktis, bikin cake tanpa mixer

IMG_20170831_102519

Sejak tinggal sendiri aku pikir kalau ingin sekedar membuat kue untuk sendiri tentu tidak perlu membuat panganan yang ribet persiapannya. Apalagi sampai harus mengocok telur sendiri-sendiri, memisahkan bagian kuning dan putih, mengocok mentega sendiri. Selain terlalu banyak persiapan terakhirnya juga terlalu banyak yg harus dicuci kembali.

Maka aku jual sebagian peralatan dapur elektrikku termasuk mixer. Lagian mixerku juga tidak terlalu istimewa untuk tetap dipertahankan. Aku cuma sisakan food processor dan blender. Dan aku bereksperimen dengan membuat kue yg praktis tanpa mixer. Cemplang-cemplung kocok, panggang. Ya jadinya gitu dehūüėā. Tapi buat makan sendiri bukan untuk dijual, ya suka-suka aku. Yg penting, lembut, moist dan eatable.

Ini dia cara bikin cake labu madu praktis punyaku. Bahan-bahannya:

1 Labu madu yg kecil, 300 gram

6 sdm gula, sedikit garam, bubuk pala dan bubuk kayu manis

150 cc minyak sayur

8 sdm tepung terigu, plus sedikit untuk taburan cetakan

3 butir telur

Margarine untuk mengoles cetakan

Cara Membuat:

Siapkan loyang kue, oles margarine dan tepung, sisihkan. Parut labu menggunakan parutan keju pada wadah besar, masukkan kedalam blender. Tambahkan gula, minyak sayur dan bumbu-bumbu, garam, bubuk pala serta kayu manis. Mixed semua bahan dalam blender sampai labu halus dan semua bahan tercampur rata. Tuang kembali dalam wadah, aduk rata menggunakan whisker tepung terigunya sedikit demi sedikit hingga semua tepung tercampur rata, tambahkan telurnya satu persatu. Jika sdh tercampur rata tuang dalam cetakan. Panggang selama 40 menit pada suhu 180 derajat. This is it,… oalaaa, jadi deh cake labu tanpa mixer.

Adonan ini juga bisa menggunakan food processor, lebih praktis lagi, setelah adonan labu, gula dan minyak, tidak perlu dituang ke baskom dan memakai whisker. Bisa langsung tambahkan tepung, mixed, lalu tambahkan telur mixed lagi, adonan langsung jadi dan tuang ke cetakan untuk dipanggang.

Advertisements


Leave a comment

Kesasar

Ini tentang pengalaman menggunakan aplikasi GPS yang ada di HP buatan China.

Dua hari sebelum kejadian sempat ngobrol-ngobrol dengan teman kuliah yang kebetulan habis selesai seminar di Bali. Kita ketemuan hari Sabtu setelah program seminar selesai. Kita ngomong-ngomong ngalor-ngidul sambil makan ikan bakar di Serangan. Pembicaraanpun sampai ke soal teknologi masa kini. Betapa mudahnya kita sekarang ini bepergian dengan adanya aplikasi GPS di HP. Aku menimpali, “ada betulnya juga, tapi…”. Aku menambahkan bahwa tidak semua aplikasi GPS benar-benar akurat. Jika perangkatnya bagus maka saat kita masukkan alamat maka kita bisa sampai di koordinat tepat di depan alamat yang kita input. Dan jika perangkatnya kurang bagus maka koordinat bisa salah dan bisa saja GPS akan meminta kita untuk terjun dari overpass, hanya karena salah persepsi overpass sebagai persimpangan biasa. Karena kejadian itu pernah aku alami saat aku dan Hans menyewa mobil Ford Focus di German. Berbeda perangkat GPS yang ada pada mobil Mercedez, sangat akurat mengantarkan kita tepat hingga ke depan pintu masuk Lobby Hotel.

Tepat dua hari setelah obrolan dengan teman itu aku berkesempatan merasakan pahitnya aplikasi GPS dari HP teman. Waktu itu teman ku Fani ngajakin pergi ke sebuah tempat wisata Hot Spring di kawasan Kintamani. Sebagai orang yang sudah lumayan sering keluyuran di Pulau Bali tahu lah kalau dari sekitar Denpasar Timur mau ke Kintamani kita jalannya ke Gianyar dulu lalu ke Bangli. Lanjut terus ke Utara arah Kintamani. Hanya saja aku belum pernah ke Hot Springnya itu. Makanya ketika berangkat dari rumahku di daerah Lembeng jalan bypass Ida Bagus Mantra kita masukan alamat destinasi untuk menuju Hot Spring.

Awal perjalanan aku menggunakan rute bypass arah Ketewel dari Lembeng, so far siy okey. Mulai simpang Ketewel aku menggunakan rute Pasar Sukawati menuju Gianyar Center alias Pusat Kota Gianyar. Sang GPS mulai aneh, dia seolah-olah menyuruhku kembali ke arah Selatan, kembali ke bypass. Aku abaikan, Fani memutuskan untuk menghilangkan suara perintah pada GPS, dengan harapan jika sampai Gianyar GPS akan menyesuaikan. Aku lanjut terus Pasar Sukawati ke Utara ke Kapten Dipta Square lalu ke Timur jalan arah Klungkung lalu ke kiri masuk Jalan Pegesangan menuju Bangli. Dari Bangli lalu ambil jalan yang menuju Kintamani dan masuklah ke jalan Nusantara menuju Kintamani. Sampai di situ karena merasa sudah menuju destinasi ke Kintamani maka aku minta Fani untuk menghidupkan kembali suara perintah GPS. Akhirnya GPS sudah memahami rute posisiku, rute jalan Nusantara, oke sesuai pikirku. Akupun mulai percaya dan mulai ngikutin instruksi dari GPS.

Nggak berapa lama di jalan Nusantara GPS minta aku untuk ambil jalan ke kanan ketika ada simpang tiga, lurus ke Kintamani dan ke kanan ke Besakih. Aku ikutin ambil jalan ke kanan. Dari situ aku mulai melihat ketidak sesuaian antara rambu penunjuk dan GPS. Kalau dari rambu penunjuk Kintamani jalan yg lurus. Tapi di situ aku masih trust dengan GPS, pikirku dan aku bilang ke Fani, mungkin GPS nya lebih tahu jalan yg langsung ke lokasi. Yang terasa aneh adalah jalan yang kita ikuti itu bukan jalan raya utama melainkan jalan penghubung biasa, jalan kecil antar desa. Masih legowo, dan nggak ngajak berantem si mbak GPS. Pikirku, ah mungkin jalan ini lebih cepat sampai. Setelah sekitar 10 kilometer mengikuti jalan itu tahu-tahu kita berada di jalan raya utama. Berdasar kontur aku masih percaya jalan itu menuju ke arah Gunung Batur, karena jalan nya naik terus. Di belakang jalan menuju arah Semarapura. Oh pantesan tadi GPS minta kembali ke bypass, mungkin dari bypass jalannya lebih baik. Kita lanjut terus. Kita jalan menyusuri lereng gunung naik tapi keanehan yang aku utarakan ke Fani jalan selanjutnya kok kita menuju arah menuruni gunung. That’s not possible. Tapi aku pasrah, ya sudahlah kita ikuti saja apa maunya GPS.

Lama-lama makin aneh jalan yang kita lalui. Itu kita sadari. Jalannya jalan yang seolah-olah ke antah berantah. Jalan kecil, seperti jalan-jalan pelosok di kawasan Bali Bagian Timur. Jalan aspal tapi sangat sempit, jika ada mobil berpapasan maka kita harus mepet ke pinggir dan satu ban keluar jalur dari jalan aspal. Apalagi bila berpapasan dengan mobil truk. taking over almost impossible. Lebih gila lagi jalan di tengah hutan ini se-olah jalan yang baru dirintis. Jalan penghubung desa yang baru mulai dilebarkan. Aku ngikutin mobil Daihatsu Taft yang ada di depan, karena serem juga kalau sendirian di tengah hutan belantara. Sampai di suatu tempat akhirnya mobil Daihatsu itu memperlambat jalannya seolah ragu, kemudian dia berhenti sama sekali. Kemudian kita cek HP ternyata tidak ada sinyal. Karena ada mobil lain yang di belakang maka aku dan Fani putuskan untuk lanjut terus. Karena merasa tidak sendiri di tengah hutan.

Tidak beberapa lama kita mulai memasuki wilayah peradaban. Mulai ada rumah-rumah kampung. Sebagian besar rumah seperti mendapat bantuan, rumah gubug menjadi rumah dengan dinding batako yang seolah baru direnovasi secara bersamaan. ¬†Entah apa nama jalannya aku perhatikan ada rambu yang menunjukan jalan menuju arah Tianyar. Aku sama sekali tidak tahu dimana letak Tianyar dalam peta, jalan itu juga menunjukkan arah ke Kubu. Dari vegetasi tumbuhan yang ada di kiri-kanan jalan dari hutan mulai beralih ke vegetasi semak daerah yang kurang hujan. Akhirnya kita tiba di jalan raya utama. Lihat kiri kanan kok seperti jalanan pantai Utara Bali. Mulai bertanya-tanya kok kita seperti di jalanan pinggir pantai? Mulai merasa miris. Ah, mungkin itu bukan laut Utara tapi Danau Batur. Hahaha. Dilema antara rasa miris dan berharap-harap cemas. Tapi toh masih mempercayakan perjalanan sama petunjuk GPS. Belokan terakhir ke kanan. Then…. ooaalaa you are arrive at destination. But what???? ZONK!!!!! Kitapun ketawa ngakak dengan rasa miris, dan seribu tanya dalam kepala, where we are now????

Akhirnya kitapun kembali ke jalan raya, dan kita mengambil jalan lanjutan dari yang tadi. It is clear kita ada di jalan raya antara Singaraja dan Tulamben. Akhirnya kita pergi cari restauran untuk refreshing dan mendinginkan kepala. Ya inilah testemoni mengenai aplikasi GPS di dalam HP buatan China. Missed Leading… wkwkwkwk.

Happy Ending-nya kita putuskan untuk pergi ke Taman Ujung di Amlapura. Kali ini aku lebih percaya sama offline peta buatan Periplus.


Leave a comment

Aku Rindu Tanah Sumba

Sudah waktunya untuk mulai merencanakan destinasi perjalanan selanjutnya. Tukang jalan memang sering sakau kalau berdiam lama-lama. Hiburan di luar rumah seperti ke mall, nonton film, atau pesta-pesta tidak nendang kalau dalam istilah tukang makan. Lebih baik berdiam diri di rumah dari pada menhambur-hamburkan uang untuk hiburan-hiburan semacam itu. Membeli baju pesta, pergi kuliner2 yang tidak autentik meskipun rasanya tidaklah buruk kurang ada sensasinya ketika tidak dinikmati di tempat asalnya. Ada ekstasi yang meningkatkan kimia tubuh saat membuka Lonely Planet, ataupun browsing destinasi. Ada perasaan harap-harap cemas ketika berburu tiket, book penginapan dan memikirkan bagaimana cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kemudian berangan-angan dan penuh harap seindah apa tempat yang akan dikunjungi. Bagaimana orang-orangnya, makanannya, aroma tanahnya, berbagai pertanyaan memenuhi benak.

Dari jalan-jalan bersama dengan beberapa teman selama ini memunculkan kesimpulan bahwa wanita mempunyai kecemasan yang lebih tinggi ketika akan melakukan perjalanan. Mereka cenderung memilih perjalanan yang diatur oleh penyedia jasa dan organizer trip, ketimbang perjalanan yang sifatnya wanderlust alias ngebolang. Ini terbukti ketika pembicaraan masuk pada rencana trip ke Sumba.

Baiklah demi orang-orang yang takut kesasar, takut salah kostum karena tidak tahu mau kemana dan mau ngapain saja, serta takut bajunya muncul dua kali pada hari yang berbeda saat foto session selama perjalanan, maka aku yang hobby trip planner dan sudah aku proklamirkan diriku sebagai trip consultant maka aku akan susun rencana perjalanan ke Sumba. Seperti yang sudah-sudah aku bahkan lebih paham bagaimana mengkutak-katik itinerary supaya mendapatkan rute perjalanan yang paling efisien dan effektif dibandingkan orang-orang yang katanya trip organizer.

Strategi Trip Sumba.

Kekurangan yang juga merupakan kelebihannya dari pulau Sumba adalah masih jarang manusia dan penginapan tidak tersedia di semua tempat. Itu bukanlah masalah, ini lah traveling, kita harus cari akal mengatasi berbagai kondisi yang ada. Karena belum mendapatkan guide dengan mobil yang mengantar dari awal perjalanan di kota Tambolaka hingga akhir perjalanan di kota Waingapu maka kali ini aku harus memikirkan strategi persewaan mobil yang diambil dari masing-masing kota yang menjadi homebase selama trip. Ada tiga kota dimana tersedia akomodasi selama di Pulau Sumba, yaitu Tambolaka, Waikabubak dan Waingapu. Berikut rencana perjalanan kami yang akan datang untuk ke Pulsu Sumba:

Day 1, Car #1 ambil sewa dari kota Tambolaka.

Direncanakan menggunakan pesawat yang mendarat di Tambolaka sekitar jam 11 siang. Meeting dengan driver sekaligus guide dan kendaraan Car#1 di Bandara Tambolaka. Langsung acara makan siang lanjut dengan trip ke arah wilayah Kodi, yaitu Laguna/Danau Weekuri, Pantai Mandorak dan Pantai Pero. Bisa dihilangkan salah satu antara pantai Mandorak dan pantai Pero jika kondisi memungkinkan untuk berenang di Laguna/Danau Weekuri. Selanjutnya kembali ke Tambolaka, untuk stay di kota ini. Penginapan Melati Air Con dan Fan. (Jangan lupa book untuk makan malam di penginapan).

Day 2, Car #1 masih menggunakan mobil dari Tambolaka. Pagi BF dan cek out, dan trip hari ke2 menuju arah jalur ke Waikabubak. Rencana mengunjungi Desa Adat Tarung dan Desa Prai Ijing, makan siang di Waikabubak dan menuju pantai Malangdong dan pantai Bwana. Car #1 selesai kontrak dengan mengantar ke penginapan di Marosi. Book makan malam di penginapan

Day 3, Car #2 ambil sewa dari hotel di Marosi tujuannya trip hari ini ke Air Terjun Lapopu dan dalam perjalanan menuju Waingapu singgah di Bukit Wairinding. Mobil mengantar ke hotel Tanto di Waingapu. Makan pagi dari hotel, makan siang lunch box dari Waikabubak dan book makan malam di Hotel Waingapu.

Day 4, Car #3 ambil sewa mobil dari Waingapu. Trip hari ke 4 sekitar Waingapu. Desa Adat Rende, menuju Melolo melihat savanah dan kuda2 liar dan selanjutnya menuju Air Terjun  Waimarang. Masih bermalam di hotel Tanto Waingapu. Makan siang lunch box dari Waingapu dan makan malam book di hotel Tanto.

Day 5, Car #3 Pagi-pagi sekali jika memungkinkan mengunjungi pantai Walakiri. Skip belanja oleh-oleh. Dan hari ini trip berakhir dan mobil mengantar ke Bandara Waingapu, paling ideal jika penerbangan di atas jam 1 siang.

 

Demikian rencana perjalananku yang akan datang. Insyaa Allah aku bisa melampiaskan rasa rinduku pada tanah Sumba.


Leave a comment

Never too old to learn

Sudah lama aku berangan-angan untuk belajar surfing. Sebenarnya aku juga sudah sering surfing tapi yang aku lakukan adalah windsurfing. Surfing di ombak dan Windsurfing adalah genre yang berbeda. Yang disebut surfing dalam watersport di dalam perkembangannya tumbuh menjadi beberapa cabang. Surfing di laut awal-awalnya hanya menggunakan sebilah papan luncur disebut sebagai Surfing. Pada perkembangannya kemudian sailing, aka menggunakan layar, dan berselancar di atas papan selancar disebut sebagai windsurfing. Lalu ada pula watersport dengan sebutan Kitesurfing. Yang disebut Kitesurfing adalah surfing menggunakan papan selancar dengan bantuan kite, atau layangan, meski bentuknya bukan seperti layangan tradisional, papan untuk luncurannya juga lebih mendekati bentuk papan wakeboarding. Itulah olah raga Surfing, masih banyak macam surfing-surfing yang lain. Selama ini aku windsurfing di open water tapi kondisi flat water, riding the small dune in the wave tapi belum berani benar-benar bermain-main ombak.

Meski sering membicarakan niat untuk belajar surfing, tadinya angan-angan ini cuma sekedar wacana saja. Berangan-angan untuk membuat progress pada kemampuan windsurfku, to the next level, untuk wave riding atau wave sailing seperti Jason Polakov. Windsurfing dengan bermain-main dengan ombak di laut berselancar di bibir ombak. Kemampuan bermain di ombak sudah termasuk sebagai advance windsurfer, berarti di atas level 5. Tapi sepertinya aku cuma omdo, dan tidak pernah benar-benar berusaha untuk mewujudkan angan-anganku, sampai beberapa hari lalu tiba-tiba aku mendapatkan tawaran free lesson dari Ripcurl School of Surf yang di Legian. Dasar mental gratisan hahaha. Terima kasih Ripcurl.

Saat saya tulis ini sedang berlangsung program sertifikasi instruktur untuk surfing di RSOS Legian Bali, dan mereka memberikan free lesson pada yang berminat belajar surfing untuk peserta program sertifikasi itu. Tanpa pikir panjang saya mengajukan diri menjadi model student. Belakangan setelah mendaftar sebenarnya aku agak sedikit minder juga karena pendaftar-pendaftar lain ternyata semuanya muda-muda. Aku satu-satunya yang sudah oma-oma. Malu juga kalau nggak nyampe otak ini untuk menangkap semua instruksi pengajar meski cuma sekedar belajar surfing. Kasihan juga kan yang lagi mengejar sertifikasi, big challenge ngajarin orang yang sudah dedel otaknya.

Akhirnya never too old to learn, hanya butuh komitmen untuk hadir di kelas, dan selebihnya semesta mendukung. Mendapatkan instruktur yang baik memungkinkan aku mendapatkan ombak pertamaku. Meski masih jauh perjalananku untuk menjadi wave rider.

 


Leave a comment

Kampung Waerebo

Untuk mengademkan pikiranku dari hiruk pikuk politik dan kejadian di Jakarta aku ingin menyimpan dan membagikan kenangan indah jalan-jalan bersama teman-teman SMP ku. Kami jalan-jalan ke Flores, melakukan trekking ke negeri di atas awan, Kampung Waerebo. Perjalanan kami sebenarnya bukan cuma ke Waerebo melainkan ini adalah bagian Overland kami di Pulau Flores. Tapi tulisan ini khusus saya buat hanya tentang Waerebo saja. Karena perjalanan yang lumayan challenging buat kami. Melakukan trekking ke gunung layaknya perjalanan anak-anak muda. Semboyan kami “Life begun at Fifty” #MenolakTua.

 

Tepat saat berlangsungnya Pilkada DKI putaran yang ke-dua, tanggal 19 April, kami berangkat terbang menuju kota di ujung Barat Pulau Flores. Labuhan Bajo. Ini kali ke-dua saya dan teman-teman terbang ke sana. Lupakan Pilkada DKI, seorang teman yang warga DKI juga harus merelakan hak pilihnya terbuang demi perjalanan ke Waerebo, untung saja Anies-Sandi pilihannya menang telak atas Ahok sehingga dia tidak menyesal. Dari Labuhan Bajo kita akan memulai perjalanan kami kali ini. Sedikit ketar-ketir ketika penerbangan saya dengan Wings Air grup dari Lion Air yang terkenal sebagai raja delay. Untung tidak banyak terlambat kita hanya terlambat selama 1 jam. Jam 4 sore ketika akhirnya saya dan adik saya keluar dari area bagage claim Kedatangan Airport Komodo. Terlihat satu-satunya mobil Hi-Ace sewaan terparkir di ujung area penjemputan. Si Pinky sudah menanti kami semua.

Untuk menuju Waerebo kami terlebih dahulu harus bermalam di kota Ruteng, Ibu kota Kabupaten Manggarai. Karena dengan jadwal kedatangan pesawat kami tidak mungkin kami langsung menuju destinasi utama Waerebo. Malam itu kita menginap di Susteran Maria Berduka. Jalan menuju Ruteng cukup mulus dan kita bisa sampai Ruteng nyaris ketika Gerbang Susteran sudah mau ditutup. Yah, memang agak mepet waktunya, sampai suster berkali-kali menelpon tour guide kita Bu Dwi menanyakan kapan kita akan sampai di Susteran. Perlu diingat buat yang rencana menginap di sana, gerbang Susteran ditutup tepat jam 9 malam, aturan biara yang tidak bisa dikutak-katik. Kita sampai mepet jam 9 karena ketika si Pinky dipacu kencang oleh om Adel membuat kita sedikit syok dengan kelok Seribu dari Trans Flores Highway. Baru seperdelapan perjalanan menuju Ruteng 2 anggota trip sudah menunjukkan wajah pucat, hijau kebiru-biruan, akibat motion sickness. Dan kita harus berhenti beberapa kali untuk memberi kesempatan 2 orang teman kami menguras isi perutnya.

Pagi itu sebelum menuju Waerebo seharusnya kita menuju Cancar terlebih dahulu untuk melihat Sawah Lingko, akan tetapi berhubung Bu Dwi menjanjikan kita durian di Cancar yang lebih tepat dimakan sore hari maka kita skip acara ke Cancar pagi itu dan langsung menuju Waerebo. Apakah durian itu hanya untuk mengalihkan jadwal supaya tidak bertemu dengan group kedua, entahlah. Wrong decision. Mengecewakan. Karena waktu menyusun itinerary aku berharap sekali kita di Cancar saat pagi hari untuk mendapatkan foto-foto spiderweb ricefield Lingko berlatar langit biru dengan sawah hijaunya di kaki bukit.  Dan waktu itu cuaca sangatlah mendukung. Pagi yang dingin dan sejuk, serta langit biru cerah menyambut kami pagi hari ke-dua di Flores. Belum rejeki. Pemandangan langit biru sawah-sawah hijau membentang hanya terekam dalam ingatan. Itulah pemandangan yang terlihat selama perjalanan menuju Waerebo. Mungkinkah kita ini kelaparan? Jika melihat suburnya Indonesia rasanya aneh kalau sampai ada orang Indonesia yang mati karena kelaparan.

 

 

Kita berhenti di Waerebo Lodge milik bapak Martinus di desa Denge yang tempatnya di tepi pantai. Kita rehat untuk sholat dan makan siang. Obat kekecewaanku tidak bisa ke Cancar pagi hari itu adalah kesempatan untuk melihat tarian Caci di Denge. Kebetulan ada orang Denge yang punya hajat dan dia merayakannya dengan menyelenggarakan pesta dengan tari-tarian Caci. Sungguh beruntung kita karena ini bukanlah sebuah kegiatan acara budaya yang rutin. Pesta rakyat yang sangat natural dan tidak dibuat-buat. Senang bisa melihat atraksi tari Caci meski tidak begitu paham apa maksud dari tarian ini, dan kenapa orang dengan suka rela membiarkan tubuhnya didera dengan pecut. Mirip-mirip debus, orang-orang yang kena pecut seperti tidak merasakan sakit. Kata orang sana sih mereka sudah minum-minum sopi alias tuak sebelum dipecut.

Dari Denge kita diantar Si Pinky sampai di kaki bukit dan lanjut dengan ojek menuju Pos 1 pendakian ke Kampung Waerebo. Latihan fisik selama berbulan-bulan membantu aku untuk melakukan pendakian cukup mudah. Aku bisa mengatur nafas dengan baik melewati jalan-jalan menanjak. Capek? ya pastilah. Sering berhenti untuk mengatur nafas dan minum. Aku harus minum banyak-banyak karena keringat yang keluar juga banyak sekali. Menuju Waerebo kita melalu jalan setapak melingkari bukit, jalan dengan pepohonan yang lebat menghutan, tebing di satu sisi dan ngarai di sisi lain. Jalan setapak yang cukup licin tetapi tongkat dari kayu, stick buat mengecat dinding dan sepatu trail runnerku berfungsi dengan baik. 45 Menit aku bisa mencapai Pos 2. Dan menjelang senja akhirnya kita diterima pemuka adat Bapak Alex di Rumah Gendang.

DSC01249.JPG

Rasa syukur karena akhirnya tercapai keinginan dan harapanku untuk melakukan perjalanan ke destinasi impianku. Teman-teman yang bersamaku saat itu yang benar-benar membuat rasa bahagiaku seperti berlipat ganda. Setelah menikmati makan malam dan secangkir kopi Waerebo malam itu kita habiskan bercanda di luar MBaru Ngiang sambil memandang langit yang kadang cerah kadang berawan. Ketika awan berlalu kita bisa melihat taburan bintang dilangit dan bagian galaksi kita. Di arah Selatan kita bisa melihat rasi bintang Crux alias Gubung Penceng malam itu. Menjelang jam 12 malam baru kita beranjak ke dalam untuk istirahat. Damainya suasana desa yang dingin, orang-orang yang ramah, bahkan anjing dan kucing di situ juga sangat ramah. Ketahuilah, hewan-hewan itu selalu menggambarkan bagaimana orang-orang di sekitarnya. Jika suatu kampung orang-orangnya ramah dan tidak curigaan, maka anjing-anjing dan kucing-kucingnya pun demikian juga, pasti ramah dan tidak curigaan.

 


Leave a comment

No Title

Aku tidak tahu mau dikasih judul apa tulisan ini.

Ini hanya sekedar sedikit catatan ketika Hans meninggal dunia. Hans suamiku sudah lama menderita sakit kanker darah. Seperti tulisanku sebelumnya. Pada akhirnya dia sudah tidak berdaya lagi menghadapi sakitnya, Hans menghembuskan nafas terakhirnya pada 9 Maret 2017. Sebenarnya dia tidak meninggal karena leukemianya tapi karena sakit di lambung sebagai side effect dari Thalidomide serta diet yang buruk karena selera makan yang buruk. Tapi itu adalah destinasi terakhir dari setiap orang, rahasia Ilahi yang kita tidak tahu.

Air mata kesedihanku menyaksikan seseorang menuju akhir hidupnya bukan kesedihan karena ditinggal mati, melainkan air mata kesedihan mengingat Allah. Mengingat kematian itu sendiri.


Leave a comment

Jalan Bareng ala Manula

Nyari teman untuk jalan bareng rame-rame di usia manula sudah tidak seperti waktu mahasiswa dulu, persoalannya berbeda. Dulu waktu mahasiswa kendalanya adalah uang saku, keuangan cekak. Tapi teman jalan bejibun. Asyik-asyik aja.

Ada perasaan ingin melakukan apa yang dulu belum sempat aku lakukan ketika mahasiswa. Ini bagian dari gejolak mid-age crisis yang aku alami. Aku kepengen jalan-jalan yang sedikit ngeri-ngeri sedap. Maksudnya ngeri-ngeri sedap disini adalah seperti, ke laut, snorkling, kalau perlu belajar surfing, trekking, jalan-jalan ke gunung, yang buat manula mungkin agak beresiko. Resiko terhadap kesehatan, seperti masuk angin, encok, nyeri lutut dan lain-lain. Eh, tapi nanti dulu, usia 50-an itu termasuk manula atau setengah baya ya? Cari teman jalan yang asyik dengan selera destinasi yang sama seperti keinginanku itu tidak mudah.

Iya tidak mudah tapi keinginanku begitu kuat akhirnya aku berhasil mengumpulkan teman-teman yang di atas rata-rata. Aku mulai persis ketika aku berusia 50 tahun, buah dari kegagalanku berangkat ke Australia yang aku impikan sebagai selebrasi memasuki usia 50. Sebagai gantinya aku berikrar untuk jalan-jalan di Indonesia saja. Oktober 2014 ketika hatiku hancur tidak jadi ke Australia, aku mengumpulkan beberapa teman SMP ku, yg berhasil aku bujuk untuk jalan-jalan keliling Bali. Ningrum, Mia dan Endang. Trip akhirnya terlaksana pada bulan April РMei 2015. Dengan mobil kita berempat keliling ke Bali Barat, Singaraja, Kintamani. Waktu itu masih ditemani Hans suamiku. Meskipun sepanjang perjalanan aku setir sendiri sebenarnya yang membuatku kurang confidence traveling dengan mobil adalah kemampuanku dalam menghadapi kendala kerusakan mobil. Adanya pria membuat aku lebih pede. Meskipun kondisi Hans tidak sehat tapi setidaknya pengetahuannya bisa membantu, itu yang aku pikirkan. Dan betul juga dengan instingku, waktu di Kintamani kita mengalami problem dengan ban kempes. Entahlah apa memang orang Bali baik hati atau karena ada bule banyak yang nolongin untuk ganti ban. Bukan persoalan mudah karena mobil sewaanku banyak hal yg tidak berfungsi normal.

Dari situ membangkitkan semangatku untuk mencari destinasi yang agak jauh. Masih dengan teman-teman lama alumni SMP sebelumnya aku merencanakan trip ke Flores. Misiku dari awal memang ke Indonesia Timur sebagai pengganti trip Australia yang gagal itu. Labuhan Bajo dan Taman Nasional Komodo adalah destinasi berikutnya. Sepanjang 2015 kita membicarakan trip ini. Menetapkan time frame dan budget. Bujuk rayuku berhasil mempengaruhi 9 teman untuk ikut dalam boat trip yang pelaksanaannya sekali lagi akhir bulan April, tahun 2016. Alasan kenapa trip sekitar bulan itu karena cuaca bersahabat pada saat memasuki musim panas. Dan selalu ada hari libur karena beberapa teman masih aktif bekerja. Bukan pengangguran seperti aku.

Ajaib ternyata dua trip itu menimbulkan antusiasme untuk jalan-jalan ngeri-ngeri sedap di antara teman-temanku. Masih di tahun 2016 nggak tanggung-tanggung kita naik ke Ijen. Trekking menanjak 3 kilometer menuju kawah Ijen. Sebagian besar malah melakukan rafting dulu di Songa sebelum jalan menanjak ke Ijen. Itu sih gila. Aku tidak ikut rafting karena teknis keberangkatan yang tidak memungkinkan. Mereka start dari Surabaya dan aku dari Denpasar. Aku tidak mau bergabung dengan mereka karena budgetku akan membengkak kalau aku ikut berangkat dari Surabaya, sementara dari Denpasar ke Banyuwangi sebagai titik pendakianku ke Ijen hanya 3 jam perjalanan darat dari Denpasar. Belum lagi target pendakianku adalah sisi utara bibir kawah yang total jarak perjalanan trekkingnya 4.5 kilometer sehingga PP menjadi 9 kilometer. Dibanding biaya sebesar 4.5 juta yang aku butuhkan termasuk tiket pesawat dan hotel jika start dari Surabaya, aku cuma habis dana sebesar 1.7 juta dari arah Denpasar.

Moral cerita dari tulisan ini adalah, harus ada seseorang yang menjadi penggerak untuk memulai sesuatu. Tidak ada kata terlambat untuk jalan-jalan jenis “bukan jalan-jalan cantik” untuk kaum usia pertengahan seperti kami. Dan Next Trip kami berikutnya di tahun 2017 ini Insyaa Allah trekking ke Kampung Waerebo dan Flores Overland.