Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Education is for the need of knowledge….

Untuk membantu masyarakat dalam mendapatkan pendidikan murah maka sekolah dan perguruan haruslah ditempatkan dimana pendidikan itu dibutuhkan dan bidang yang dipilih adalah sesuai dengan kebutuhan. Masyarakat kita masih bodoh dan tertinggal dalam bidang pengetahuan. Ini semua terkait dengan pola pikir kita yang salah. Pendidikan tinggi ada bukan untuk kebutuhan tapi untuk jabatan dan gengsi semata supaya kelihatan intelek. Ini semua pengaruh dari gaya kolonialisme yang tertanam dalam benak kita.

Dulu kala hanya orang-orang berpangkat, kepala daerah, bangsawan-bangsawan yang mengirim anaknya untuk belajar ke perguruan tinggi. Itu sebabnya perguruan tinggi berada di kota-kota besar saja. Pada kenyataannya masa sekarang kesadaran akan pentingnya pendidikan sebenarnya sudah ada pada sebagian besar masyarakat yang berpikiran maju, bahkan sampai ke desa-desa sebenarnya kesadaran itu sudah ada. Beberapa masyarakat desa yang berpikiran maju dan yang ingin maju, mengirim anak-anak mereka ke perguruan tinggi di kota demi pendidikan tinggi, bahkan apabila perlu dengan mengorbankan sawah dan ladang yang jadi penghidupan mereka. Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi.

Kembali mengenai kesalahan dalam kebijakan pendidikan tinggi di tanah air yang muncul bukan untuk kebutuhan akan pendidikan melainkan untuk gengsi dan pangkat semata. Salah satu yang saya anggap kesalahan adalah dalam hal pemilihan dan penetapan jurusan dan fakultas. Sebagai contoh, Universitas Diponegoro tidak memiliki jurusan Pertanian dan Industri Pertanian sebab Universitas Gajah Mada telah memiliki jurusan tersebut sebaliknya Undip memiliki jurusan Perikanan sementara UGM tidak. Hanya karena dua universitas ini berada pada rayon wilayah yang sama, menurut penetap kebijakan pendidikan tidaklah jauh antara Jateng dan DIY. Padahal untuk kebanyakan orang tentulah masalah mengirimkan anak mereka ke kota yg berbeda. Jadi kebijakan ini seolah bila ingin sekolah tinggi masyarakat dipaksa untuk pergi jauh ke kota tertentu, dalam arti hanya orang-orang dengan kemampuan finansial cukup yang bisa pergi sekolah. Tapi kadang kala kalau melihat jurusan dari pendidikan yang dituju bukanlah untuk orang-orang yang memang menaruh minat pada bidang tersebut. Pertanian, Peternakan, Perikanan, sejatinya yang menaruh minat dan bakat untuk bidang ini adalah mereka yang bukan orang kota. Mereka yang berminat pada bidang tersebut adalah mereka2 yang tentunya bergelut dibidang tersebut.

Semisal jurusan Mathematika, Kimia, Metalurgi, Nuklir dan bidang serta jurusan yang aneh-aneh dibuat dan didirikan untuk universitas di kota tidaklah masalah. Tapi, bidang-bidang pendidikan terapan seperti pertanian, peternakan, perikanan, serta industri nya tentunya lebih baik kalau dibuat dibanyak tempat dimana kebutuhan akan itu sangat diperlukan. Di kota-kota kecil, bahkan kalau perlu dibuat sebanyak-banyaknya diberbagai kota tanpa ada penghalang seperti jika Ambarawa memiliki fakultas pertanian boleh saja fakultas yang sama didirikan di kota Temanggung, Blora, Kudus, Pekalongan, Banjarnegara, dan lain-lain. Jika orang desa mau mendalami pertanian dan industri pertanian tidak perlu mereka harus pergi ke Yogya untuk sekolah di UGM. Begitu juga halnya dengan ilmu perikanan. Kenapa orang Yogya tidak boleh membentuk jurusan dan fakultas perikanan? Mestinya kota-kota seperti Pekalongan, Cirebon, Cilacap, Rembang dan Tuban dan semua kota pesisir dimana masyarakat hidup dari perikanan boleh saja mendirikan sekolah tinggi dan fakultas jurusan perikanan, kenapa hanya Undip? (sementara kuliahnyapun lebih banyak di Jepara).

Akibat dari pemikiran sekolah tinggi hanya untuk jabatan, gengsi dan nampak intelek semata, maka tidak jarang mahasiswa mengambil jurusan yang sebenarnya bukan bidang yang mereka minati. Ada berbagai bentuk dari kesalahan jurusan ini, terpaksa mengambil jurusan yang kosong dan sepi peminat karena jurusan yang mereka minati terbatas kursinya atau ingin memenuhi minatnya tapi tidak memiliki kemampuan finansial cukup untuk pergi ke kota lain, akhirnya kuliah jurusan apa saja yang penting kuliah. Ini termasuk mereka yang tidak punya kemampuan untuk dapat diterima di fakultas yang diminati. Akhirnya waktu dan dana terbuang percuma, padahal dana pendidikan tinggi di Indonesia tidaklah sedikit. Sementara pengetahuan masih jauh dari jangkauan.

 


Leave a comment

Membuka wawasan

Masyarakat, kehidupan manusia, selalu berubah dari waktu kewaktu, itu harus kita pahami. Tetapi terkadang saat kita membuat sebuah perubahan kita selalu dihadapkan pada nilai-nilai yg sudah ada. Sering orang mencibir dengan mengatakan bahwa sebuah perbuatan dinilai sebagai tidak mencerminkan budaya bangsa dan sebagainya. Sementara yang dikatakan budaya itu sendiri hanyalah berupa hal-hal yang selalu terjadi berulang-ulang di masa tertentu. Budaya-pun akan berubah dari waktu ke waktu.

Saya paling tidak sependapat dengan orang-orang yang suka men-judment orang lain dengan kata-kata, “…tidak pantas dilakukan…. tidak mencerminkan budaya bangsa… “. Saya sangat menghargai mereka yang melihat sesuatu hal yang tidak biasa sebagai sebuah perbedaan yang harus diterima. Karena bisa saja orang melakukan sesuatu yang tidak biasa itu sedang melakukan sebuah bentuk perubahan yang diinginkan orang tersebut.

Jika kita merasa sebuah perbuatan tidak baik tentunya janganlah diikuti tapi kalau memang baik boleh saja diikuti. Ketika kita mengikuti sebuah bentuk perbuatan maka jadilah apa yang namanya budaya terbentuk karena hal tersebut terjadi berulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang. Termasuk korupsi di Indonesia, diikuti, dilakukan berulang-ulang dan oleh banyak orang maka jadilah budaya ‘korupsi’.

Ketika para Obama-mania atau saya lebih suka menyebutnya sebagai Obama-followers terutama dikalangan politisi Indonesia ikut-ikutan meneriakkan kata-kata “perubahan”, tapi sebenarnya mereka tidak benar-benar memahami makna dari kata “perubahan” itu.

Bangsa kita memang berbeda dengan bangsa lain. Budaya kita memang berbeda dengan budaya bangsa lain. Banyak dari kita yang beranggapan budaya Timur itu lebih baik dari budaya Barat. Tidak juga. Contohnya ya korupsi itu. Budaya Barat tidak ada budaya korupsi, sementara di Timur (kecuali Timur jauh, Jepang dan Korea), korupsi adalah budaya.

Maka tidak perlu pengkotak-kotakan budaya, seperti Barat dan Timur, atau beranggapan adanya Westernisasi dan Arabisasi, dan menganggap satunya lebih baik dari yang lain. Sementara orang Arab juga belajar dari Barat. Kalau sebuah perbuatan memang baik dan layak ditiru maka biarkanlah berlangsung perubahan terjadi. Jika terjadi ada perbedaan kebiasaan selama hal itu tidak mengganggu ya biarkan saja. Memaklumi perbedaan berarti kita telah menambah wawasan kita dan ketika kita membuka diri untuk melakukan hal yang sama maka kita telah membuka wawasan kita.