Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Kawinan

Deket2 bulan syawal banyak undangan nikah kalau di Indonesia. Setidaknya aku dapat dua undangan nikah, satu dari temen dan satu lagi dari keponakan.

Nah, cuma sekedar cerita aja dari dua pernikahan itu. Yang satu gaya masa kini menurut saya dan yang satu gaya kedaerahan.

Pesta nikah dari masa ke masa ternyata terus berkembang dan berubah mengikuti jaman.

Jaman sekarang, masa kini, orang nikah pakai jasa ‘wedding planner’, pesta nikah di Bali atau di resort di pulau2, dengan undangan sangat terbatas dan privacy. Acara prosesi pernikahan yang disusun oleh wedding planner profesional memang benar-benar sakral dan syahdu sampai-sampai semua yang hadir berurai air mata. Mahal. Ya pastilah. Selain prosesinya yang tertata rapih juga pernak-pernik pernikahannya terencana dan tertata sangat indah karena kerja team wedding planner atau wedding organizer itu. Ini yang dipilih sama temen aku.

Beberapa waktu lalu orang ngadain pesta nikah gede-gede-an trus ngundang banyak tamu dan berharap setidaknya sebagian biaya pesta bisa ‘balik modal’ makanya kemudian muncul-lah tempat kotak sumbangan. Kalau semula orang kasih kado berupa hadiah-hadiah alat rumah tangga, souvenir, dan lain lain maka kemudian beralihlah bentuk kado berupa uang tunai yang dimasukkan kedalam kotak2 sumbangan yang ada di meja penerima tamu.

Aku sebenarnya sempat bingung juga memikirkan kado untuk temen aku itu. Karena pestanya dengan sedikit undangan itu. Kalau berupa uang nggak ada kenangan-kenangan untuk dia, menurut pemikiran kunoku, pertimbangan lain adalah mesti kasih berapa ya? karena undangan hanya sedikit meski kasih amplop sebesar 500 ribu yang menurut aku cukup besar uang segitu bakalan nggak sebanding dengan puluhan juta bahkan mungkin bisa mencapai 100 juta untuk pesta nikah ala artis Hollywood temen aku itu. Menurutmu????

Beda sama keponakan yang nikah ala kota kecil. Ini cuma istilah aku aja.

Pesta nikah keponakan aku yah masih dengan pola pikir lama yaitu mengundang keluarga dua belah pihak, mengundang teman-teman dan semua tetangga, tidak menggunakan wedding planner, kalaupun ada wedding organizer sifatnya hanya seperti event organizer membantu untuk mengatur keperluan pestanya seperti gedung, dekorasi, catering, peralatan sewa, perias dan tukang foto. Sementara prosesi tidak menjadi bagian dari tugas event organizer. Kalau jaman dulu yang mengatur prosesi pernikahan ada yang namanya ‘dukun manten’ dengan adanya EO masa kini maka DM jadi tergusur. Prosesi nikah ala ponakan aku jadi nggak lagi sakral, menyentuh dan syahdu karena tidak adanya DM ini. Semua acara terfokus pada ‘in the name of making pictures’.

Advertisements