Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Benarkah Ahok Seorang Superhero??

Apa siyy yang sudah dilakukan Ahok? Nyaris tidak ada!!! karyanya hanyalah proyek Kali Jodoh. Itupun juga karena mendengarkan pembisik-pembisik yang kebetulan punya ide briliant. Banyak orang mengira perubahan infrastruktur yang ada di Jakarta adalah hasil karyanya Ahok. Bullshit!! Bullshit!! Bullshit!!. Mulutnya pun bau sama seperti kata-kata yang sering dia ucapkan.

Orang Indonesia itu menganut budaya instant, tidak menghargai proses. Apa yang bisa dilakukan seorang Gubernur yang cuma menjabat selama 2 tahun ? Sehingga simsalabim muncul proyek MRT.

Orang-orang percaya Ahoklah yang membuat perubahan dan mengerjakan segala infrastruktur yang ada di DKI Jakarta sekarang ini. Orang-orang percaya bahwa proyek-proyek untuk transportasi di Jakarta itu datang serta-merta di saat Ahok jadi Gubernur. Mereka tidak tahu bahwa semua itu terjadi melalui proses yang lama dan panjang, dari sejak ide muncul, perencanaan, pembuatan masterplan dan lain-lain. Mereka orang-orang yang memuja Si Ahok memahami sesuatu terjadi secara instant. Padahal Ahok jadi Gubernur juga jabatan warisan dari Jokowi karena Gurbernur terpilih Jokowi kemudian terpilih menjadi Presiden. Bahkan dimulainya proyek Trans Jakarta dan proyek MRT itupun warisan pendahulu-pendahulunya. Trans Jakarta sudah dimulai sejak masa Gubernur Fauzi Bowo.

Kemacetan Jakarta itu sudah terjadi sejak tahun 80-an. Pada saat itu sarjana-sarjana Indonesia di Dinas Pekerjaan Umum sudah berpikir untuk menyelesaikan dan mengatasi permasalahan pertumbuhan lalu-lintas di DKI Jakarta. Pada tahun 80-an pembangunan jalan toll dan double-decker dilakukan di DKI. Sampai akhirnya proyek jalan toll double-decker yang ada masih juga tidak mengejar angka pertumbuhan lalu-lintas di DKI. Ide semula adalah menambah jalur-jalur double-decker di jalan-jalan protokol tapi dari berbagai pertemuan para Engineer di Kementerian PU di era 90-an itu akhirnya ingin meniru keberhasilan kota Bangkok. Selain jalan-jalan double decker Bangkok juga membuat MRT system. Kenapa kita meniru Bangkok? Bangkok menghadapi problema pertumbuhan lalu-lintas yang sangat pesat, malah lebih parah dibandingkan Jakarta. Angan-angan untuk memiliki MRT atau Mass Rapid Transport sudah sejak lama muncul di era Gubernur Sutiyoso. Dan berbagai opsi sistem Mass Rapid Transport yang terintegrasi untuk mengatasi masalah kemacetan Jakarta, termasuk Trans Jakarta, dibuat masterplan nya. Itu terjadi jauh sebelum orang mengenal mantan Bupati Belitung Basuki Tjahya Purnama. Ide Trans Jakarta di masa Fauzi Bowo sendiri muncul karena MRT diyakini akan memakan waktu sangat lama, multiyears project.

Kalau angan-angan pembangunan infrastruktur tarnsportasi DKI Jakarta MRT dan Trans Jakarta pada akhirnya terlaksana seharusnya yang mendapat kredit adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dialah presiden yang meletakkan dasar pembangunan berkesinambungan di seluruh Indonesia, melanjutkan perencanaan pembangunan masa-masa Soeharto. SBY yang berhasil meyakinkan kembali akan pertumbuhan ekonomi Indonesia kepada Dunia setelah proses reformasi politik, sehingga Indonesia bisa mendapatkan dukungan financial untuk pembangunan berbagai infrastruktur yang kita butuhkan. Disaat Dunia hilang kepercayaan kepada Indonesia akibat terjadinya korupsi di pemerintahan di akhir-akhir masa Presiden Soeharto. SBY melunasi hutang-hutang sebelumnya sehingga kita mendapatkan kepercayaan untuk kembali berhutang.

Di masa SBY kita memenangkan bidding penyelenggaraan Asian Games. Kita mendapatkan kepercayaan untuk menyelenggarakan sebuah even besar Asian Games pada tahun 2018, sebuah event yang menguras dana untuk persiapan infrastruktur. Dengan dana pinjaman luar negeri itulah kita mendapatkan dukungan financial membangun proyek MRT. Proyek MRT itu dipersiapkan untuk pelaksanaan Asian Games 2018. Begitu juga Proyek Terminal 3 Bandara Soeta. Bahkan Ground breaking Terminal 3 Ultimate Soeta juga terjadi di masa pemerintahan SBY. Dua proyek itu yang dijanjikan SBY saat melakukan bidding penyelenggaraan Asian Games 2018. Itulah fakta yang disembunyikan oleh pemerintahan Jokowi dan kroni-kroninya di Partai Banteng. Dan beruntung ketika Jokowi mulai menjabat sebagai Presiden Menteri PU yang dipilih adalah Menteri yang berintegritas, setidaknya proyek MRT dapat terlaksana, selamatlah Jokowi. Alhamdulillah. Meskipun tidak yakin juga proyek MRT bisa selesai ketika Asian Games berlangsung 2018 nanti. Itupun kesalahan dari Jokowi Gubernur saat itu yang mencoba mengutak-katik proyek MRT untuk diserahkan pelaksanaannya pada investor dari Malaysia, untung tidak terjadi.

Benar-benar hebat media elektronik di Indonesia ini, berhasil mencuci otak nyaris separuh orang Indonesia sehingga mempercayai Ahok bak seorang Superhero. Terlihat begitu banyaknya orang-orang yang terhipnotis yang menyatakan cintanya pada Ahok dengan mengirim karangan bunga disaat kalah Pilkada. Kata-kata baper melepas kepergiannya ke penjara bersliweran di laman Facebook ketika mendapat vonis 2 tahun penjara akibat mulut baunya salah ngomong soal Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu. Kalau seseorang tahu rasa malu seharusnya menyatakan penghargaan atas apa yang dikerjakan pendahulunya. Tidak mungkin kan Sutiyoso atau Fauzi Bowo terus mengaku-ngaku, “…eh itu proyek gue loh…”. Memangnya mbok Banteng yang ketika SBY meresmikan Jembatan Suramadu terus Si Mbok Banteng tiba-tiba berbicara di depan wartawan: “proyek Suramadu itu direncanakan di jaman saya loh…”. Padahal saat itupun SBY tidak mempersoalkan itu proyek siapa, hanya memulai ground breakingnya, membangun kemudian meresmikan proyeknya.

Semoga suatu saat orang bisa melihat bahwa seorang pecundang adalah pecundang.

Advertisements


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas soal kasus seorang supir taxi yang ditilang karena berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Jadi siapa sebenarnya yang ERROR? Si supir taxi atau Pak Polisinya.

Semalam di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (mudah-mudahan tidak salah nulis nama, nanti saya re-check kembali) ketika ditanya tanggapannya mengenai kasus ini tidak bisa menjawab karena dia tidak melihat sendiri situasinya di lapangan. Kemudian dia melanjutkan jika ada perdebatan sebaiknya dibawa ke pengadilan. Tapi siapa yang percaya dengan pengadilan lalu lintas? Berdasarkan pengalaman pribadi pengadilan lalu lintas bukanlah sebuah proses pengadilan yang adil melainkan hanya sebuah proses ketok palu. Pada akhirnya pengadilan hanyalah sebuah proses yang lebih berbeli-belit yang memakan waktu dan ongkos yang lebih besar dibandingkan dengan tilang.

Sebenarnya tidak perlu ada perdebatan jika jelas apa kriteria dari tanda dilarang PARKIR dan apa kriteria dari tanda dilarang STOP atau berhenti. Sebuah kendaraan itu disebut PARKIR jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat ataupun berada jauh meninggalkan kendaraan, dengan waktu tidak terbatas. Sedangkan sebuah kendaraan itu disebut STOP jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat dengan kendaraan, dalam waktu yang terbatas. Jadi yang membedakan antara PARKIR dan STOP atau berhenti adalah durasi atau jangka waktu kendaraan itu berhenti.

Saya sendiri sudah memiliki SIM selama lebih 32 tahun sejak SIM Roda Dua pertama saya, terus terang ketika ditanya apa bedanya STOP dan PARKIR dan berapa durasinya saya juga jadi ikutan bingung menjawabnya. Saya coba tanya teman-temanpun ternyata tidak ada yang bisa menjawab juga. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya. Di negara dia di Austria apa beda tanda lalu lintas dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP. Dia menjawab dengan lugas bahwa kendaraan disebut STOP jika berhenti antara 0 sampai dengan 10 menit sedangkan kendaraan disebut PARKIR jika berhenti lebih dari 10 menit ke atas hingga tidak terbatas. Sebagai contohnya seorang supir disebut berhenti atau STOP di pinggir jalan jika seseorang sedang berkendaraan kemudian ada panggilan telephone penting dari mobilephone dan dia ingin mengangkat telepon untuk berbicara sementara dia tidak memiliki perangkat earphone ataupun bluetooth sehingga harus berbicara langsung melalui telephone kemudian dia berhenti di tepi jalan sementara ada tanda larangan PARKIR maka dia dapat menghentikan kendaraan di tempat tersebut selama tidak melebihi batas waktu yaitu 10 menit. Dalam hal ini supir STOP dan tidak meninggalkan kendaraan. Contoh lain adalah jika seseorang berkendaraan di depan pintu keberangkatan Bandara yang bertuliskan dilarang PARKIR sementara dia harus menghentikan kendaraan karena dia akan menurunkan penumpang, dia boleh menghentikan kendaraan di tempat tersebut, sementara dia juga dapat mematikan mesin dan keluar dari kendaraan, selama proses kejadian tersebut tidak melebihi batas waktu 10 menit maka proses itu termasuk kategori STOP atau berhenti dan bukan termasuk PARKIR.

Jadiiii… hehehe, pantaslah kalau Polisi Indonesia dibully karena kasus itu. Seorang Kompolnas saja tidak bisa menjawab dengan tegas. Polisi Indonesia memang Polisi dari hutan.