Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Benarkah Ahok Seorang Superhero??

Apa siyy yang sudah dilakukan Ahok? Nyaris tidak ada!!! karyanya hanyalah proyek Kali Jodoh. Itupun juga karena mendengarkan pembisik-pembisik yang kebetulan punya ide briliant. Banyak orang mengira perubahan infrastruktur yang ada di Jakarta adalah hasil karyanya Ahok. Bullshit!! Bullshit!! Bullshit!!. Mulutnya pun bau sama seperti kata-kata yang sering dia ucapkan.

Orang Indonesia itu menganut budaya instant, tidak menghargai proses. Apa yang bisa dilakukan seorang Gubernur yang cuma menjabat selama 2 tahun ? Sehingga simsalabim muncul proyek MRT.

Orang-orang percaya Ahoklah yang membuat perubahan dan mengerjakan segala infrastruktur yang ada di DKI Jakarta sekarang ini. Orang-orang percaya bahwa proyek-proyek untuk transportasi di Jakarta itu datang serta-merta di saat Ahok jadi Gubernur. Mereka tidak tahu bahwa semua itu terjadi melalui proses yang lama dan panjang, dari sejak ide muncul, perencanaan, pembuatan masterplan dan lain-lain. Mereka orang-orang yang memuja Si Ahok memahami sesuatu terjadi secara instant. Padahal Ahok jadi Gubernur juga jabatan warisan dari Jokowi karena Gurbernur terpilih Jokowi kemudian terpilih menjadi Presiden. Bahkan dimulainya proyek Trans Jakarta dan proyek MRT itupun warisan pendahulu-pendahulunya. Trans Jakarta sudah dimulai sejak masa Gubernur Fauzi Bowo.

Kemacetan Jakarta itu sudah terjadi sejak tahun 80-an. Pada saat itu sarjana-sarjana Indonesia di Dinas Pekerjaan Umum sudah berpikir untuk menyelesaikan dan mengatasi permasalahan pertumbuhan lalu-lintas di DKI Jakarta. Pada tahun 80-an pembangunan jalan toll dan double-decker dilakukan di DKI. Sampai akhirnya proyek jalan toll double-decker yang ada masih juga tidak mengejar angka pertumbuhan lalu-lintas di DKI. Ide semula adalah menambah jalur-jalur double-decker di jalan-jalan protokol tapi dari berbagai pertemuan para Engineer di Kementerian PU di era 90-an itu akhirnya ingin meniru keberhasilan kota Bangkok. Selain jalan-jalan double decker Bangkok juga membuat MRT system. Kenapa kita meniru Bangkok? Bangkok menghadapi problema pertumbuhan lalu-lintas yang sangat pesat, malah lebih parah dibandingkan Jakarta. Angan-angan untuk memiliki MRT atau Mass Rapid Transport sudah sejak lama muncul di era Gubernur Sutiyoso. Dan berbagai opsi sistem Mass Rapid Transport yang terintegrasi untuk mengatasi masalah kemacetan Jakarta, termasuk Trans Jakarta, dibuat masterplan nya. Itu terjadi jauh sebelum orang mengenal mantan Bupati Belitung Basuki Tjahya Purnama. Ide Trans Jakarta di masa Fauzi Bowo sendiri muncul karena MRT diyakini akan memakan waktu sangat lama, multiyears project.

Kalau angan-angan pembangunan infrastruktur tarnsportasi DKI Jakarta MRT dan Trans Jakarta pada akhirnya terlaksana seharusnya yang mendapat kredit adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dialah presiden yang meletakkan dasar pembangunan berkesinambungan di seluruh Indonesia, melanjutkan perencanaan pembangunan masa-masa Soeharto. SBY yang berhasil meyakinkan kembali akan pertumbuhan ekonomi Indonesia kepada Dunia setelah proses reformasi politik, sehingga Indonesia bisa mendapatkan dukungan financial untuk pembangunan berbagai infrastruktur yang kita butuhkan. Disaat Dunia hilang kepercayaan kepada Indonesia akibat terjadinya korupsi di pemerintahan di akhir-akhir masa Presiden Soeharto. SBY melunasi hutang-hutang sebelumnya sehingga kita mendapatkan kepercayaan untuk kembali berhutang.

Di masa SBY kita memenangkan bidding penyelenggaraan Asian Games. Kita mendapatkan kepercayaan untuk menyelenggarakan sebuah even besar Asian Games pada tahun 2018, sebuah event yang menguras dana untuk persiapan infrastruktur. Dengan dana pinjaman luar negeri itulah kita mendapatkan dukungan financial membangun proyek MRT. Proyek MRT itu dipersiapkan untuk pelaksanaan Asian Games 2018. Begitu juga Proyek Terminal 3 Bandara Soeta. Bahkan Ground breaking Terminal 3 Ultimate Soeta juga terjadi di masa pemerintahan SBY. Dua proyek itu yang dijanjikan SBY saat melakukan bidding penyelenggaraan Asian Games 2018. Itulah fakta yang disembunyikan oleh pemerintahan Jokowi dan kroni-kroninya di Partai Banteng. Dan beruntung ketika Jokowi mulai menjabat sebagai Presiden Menteri PU yang dipilih adalah Menteri yang berintegritas, setidaknya proyek MRT dapat terlaksana, selamatlah Jokowi. Alhamdulillah. Meskipun tidak yakin juga proyek MRT bisa selesai ketika Asian Games berlangsung 2018 nanti. Itupun kesalahan dari Jokowi Gubernur saat itu yang mencoba mengutak-katik proyek MRT untuk diserahkan pelaksanaannya pada investor dari Malaysia, untung tidak terjadi.

Benar-benar hebat media elektronik di Indonesia ini, berhasil mencuci otak nyaris separuh orang Indonesia sehingga mempercayai Ahok bak seorang Superhero. Terlihat begitu banyaknya orang-orang yang terhipnotis yang menyatakan cintanya pada Ahok dengan mengirim karangan bunga disaat kalah Pilkada. Kata-kata baper melepas kepergiannya ke penjara bersliweran di laman Facebook ketika mendapat vonis 2 tahun penjara akibat mulut baunya salah ngomong soal Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu. Kalau seseorang tahu rasa malu seharusnya menyatakan penghargaan atas apa yang dikerjakan pendahulunya. Tidak mungkin kan Sutiyoso atau Fauzi Bowo terus mengaku-ngaku, “…eh itu proyek gue loh…”. Memangnya mbok Banteng yang ketika SBY meresmikan Jembatan Suramadu terus Si Mbok Banteng tiba-tiba berbicara di depan wartawan: “proyek Suramadu itu direncanakan di jaman saya loh…”. Padahal saat itupun SBY tidak mempersoalkan itu proyek siapa, hanya memulai ground breakingnya, membangun kemudian meresmikan proyeknya.

Semoga suatu saat orang bisa melihat bahwa seorang pecundang adalah pecundang.

Advertisements


Leave a comment

Menteri Favorite di Kabinet Kerja

Kabinet baru pemerintahan Jokowi baru saja dibentuk dan diumumkan. Sosial Media heboh membicarakan menteri-menteri kabinet Jokowi ini terlebih karena ada beberapa kejutan di dalam daftar nama yang diumumkan. Ada dua menteri favorite dalam Kabinet Kerja yang banyak dibicarakan di sosial media, Anis Baswedan dan Susi Pudjiastuti. Sama-sama orang hebat dan pekerja keras, hanya bedanya yang satu Sekolah Tinggi dengan nilai excelent dan yang satu hanya tamat Sekolah Menengah. Ibu Susi Pudjiastuti yang hanya tamat Sekolah Menengah Pertama ditambah tampilan luarnya yang uncommon paling banyak dibicarakan orang. Orang sibuk menilai, mencaci atau memuji setinggi langit.

Ada fenomena baru yang terjadi di masyarakat, sebelumnya masyarakat acuh tak acuh dengan pilihan menteri di dalam Kabinet tapi saat ini masyarakat begitu menaruh perhatian pada siapa-siapa saja yang terpilih. Orang-orang ramai berkomentar soal latar belakang kehidupan para menteri-menteri baru, tapi sebenarnya banyak orang tidak melihat lebih jauh pekerjaan dan tugas menteri itu sendiri. Orang hanya sibuk menilai pribadi dan karakter para menteri.

Tugas Kementerian adalah membuat regulasi, membuat aturan main, menentukan kebijakan, menstimulasi, memberikan insentif. Kementerian adalah pengguna anggaran. Menteri membuat program kerja kemudian mengajukan anggaran untuk kementeriannya. Anggaran yang diajukan itu harus tepat sasaran apa saja yang harus distimulasi, dan siapa-siapa saja yang bisa diberikan insentif supaya semua bisa memicu laju tumbuh ekonomi di masyarakat, sehingga terjadi perkembangan dan pertumbuhan di masyarakat, bangsa menjadi makmur dan sejahtera. Seorang Menteri adalah operator yang memberlakukan sebuah aturan main yang adil untuk semua warga negara, bukan hanya untuk kelompok tertentu. Jika aturan main fair dan kebijakannya tepat maka rakyat tentunya merasa tenang. Sebuah catatan dari ‘temen gue’ di sosmed, dia menambahkan bahwa sebenarnya regulasi sudah banyak dan cukup bagus tapi belum ada Menteri yang mampu mengawasi dan mengontrol pelaksanaan di lapangan tanpa punya kepentingan pribadi/kelompok. Dan rasanya betul sekali, implementasi dari regulasi, kebijakan, dan aturan main, juga bagian penting dari tugas menteri.

Pada dasarnya kita tidak bisa bicara sekarang manakah yang lebih hebat dan mana yang lebih baik pekerjaannya, kita harus menunggu untuk melihat kerja nyata dari menteri-menteri baru pemerintahan RI itu. Semoga para menteri itu memang bisa bekerja dengan baik dan tidak disorientasi setelah memasuki jabatan dan kedudukan tinggi sebagai menteri.


Leave a comment

Surat terbuka untuk Presiden Jokowi

Bapak Jokowi yg terhormat,

Melalui surat ini saya ingin menyampaikan apa yang saya pikirkan mengenai negara ini, pengharapan saya kepada bapak di dalam memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya termasuk orang yg tidak ikut memilih pada pilpres tahun ini, terus terang saya golput karena kedua calon presiden yang ada pada saat pilpres 2014 tidak sesuai dengan pilihan hati saya. Saya tidak bisa menetapkan pilihan saya hingga saat terakhir diadakannya Pilpres. Sebenarnya saya melihat ‘sepertinya’ bapak orang baik tapi sayang partai yg mengusung bapak adalah partai yg ketika mendapat kesempatan memimpin negeri ini kebijakan2 yg dibuat masa itu saya nilai gagal. Saya yang dulunya adalah pendukung Ibu Mega merasa kecewa yang sangat berat dengan partai PDIP. Itu yang membuat saya ragu untuk memilih bapak. Saya kurang yakin bahwa bapak bisa bekerja sendiri dalam membuat kebijakan. Bagaimanapun partai pengusung adalah team work anda. Yang saya ingat sampai sekarang kegagalan utama masa pemerintahan PDIP Ibu Mega adalah lemahnya keamanan negara, sehingga terjadi serangan2 bom yang katanya ulah “teroris”. Bom Bali, bom JW Marriot, bom di kedutaan Australia, semua terjadi di masa ibu Mega. Pemboman dan ancaman pemboman oleh pengacau keamanan terjadi dimana-mana. Gangguan keamanan yang membuat perekonomian menjadi kacau. Lemahnya keamanan negara bukan hanya menimbulkan kekacauan ekonomi melainkan juga terjadi kekacauan sosial dan budaya dengan munculnya kebencian pada umat agama yang satu dengan lainnya. Sisa2 peninggalan masa itupun banyak kita lihat di sekitar kita. Gedung2 yg dijaga dengan sistem sekuriti yg sangat ketat karena ketakutan bahwa satu diantara kita orang Indonesia akan meledakkan bangunan itu. Sistem keamanan yg dilakukan masing2 pribadi karena ketidak percayaan bahwa negara bisa menyelengggarakan sistem keamanan yang lebih baik. Semua itu karena intel tidak bisa menemukan sumber, potensi dan asal muasal gangguan keamanan negara dan mencegahnya lebih awal sebelum hal itu terjadi. Seolah-olah ancaman bisa datang dari siapa saja dari orang-orang yang lalu-lalang, sehingga masing2 pribadi yang merasa perlu harus menyelenggarakan sendiri2 sistem keamanan. Dunia luarpun akhirnya menilai bahwa negara ini bukan negara yang aman. Saat ini bapak sudah dipilih oleh sebagian besar dari saudara2 saya sebangsa dan se tanah air. Dan PDIP kembali menjadi ‘leading party’ 5 tahun ke depan. Saya cuma berharap bahwa keamanan negara pada pemerintahan PDIP Jokowi lebih baik daripada di masa Ibu Mega. Yang paling dibutuhkan oleh rakyat dalam sebuah negara adalah keamanan, ketenangan dan kedamaian. Dengan keadaan negara yang aman dari berbagai gangguan keamanan baik dari luar maupun dalam negeri maka masyarakatpun akan tenang dalam bekerja dan berusaha. Keadaan perekonomian pun menjadi stabil. Pemerintahan Demokrat Bapak SBY berhasil meningkatkan keamanan negara saya berharap pada masa pemerintahan Bapak JKW bisa sedikitnya mempertahankan apa yang sdh dikerjakan oleh Bapak SBY, dan jauh lebih baik lagi jika lebih ditingkatkan.

Selanjutnya disamping keamanan, ketenangan dan kedamaian, masyarakat membutuhkan KESEMPATAN. Untuk dapat menghidupi diri sendiri dan keluarga masing2 penduduk negeri ini membutuhkan KESEMPATAN. Kesempatan yang diberikan negara untuk masyarakatnya. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak hingga meningkatkan taraf hidupnya. Kesempatan untuk berusaha, diberbagai bidang; berdagang, memproduksi barang, bertani, berternak dll.

Dalam isi kampanye Bapak, yang Bapak janjikan dalam memberikan kesempatan pendidikan adalah akan diberikannya Kartu Pintar. Siapa yang akan mendapatkan kartu pintar? Orang miskin jawabannya. Bagaimana membedakan orang miskin dan hampir miskin? Bapak menyelamatkan orang miskin tapi masyarakat hampir miskin yang jumlahnya lebih besar malah justru terjerumus dalam kemiskinan dan tidak ada yang menolong. Bagaimana jika ada yang sudah mendapatkan kesempatan dan berbagai kemudahan dengan kartu pintar ternyata tidak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang layak? Menyelamatkan bangsa kenapa harus pilih-pilih? Bagaimana mungkin, satu wilayah mendapatkan kemudahan pendidikan sementara wilayah yang lain tidak, hanya karena belum bisa membagikan kartunya. Dan pertanyaan lain, Kartu di wilayah yang satu apakah berlaku di wilayah lain? Jika orang-orang berkemampuan ingin mendapatkan yang lebih itu di luar fasilitas negara, tapi standard pendidikan minimum, itulah yang harus diberikan negara untuk semua generasi muda anak-anak bangsa guna meningkatkan pengetahuan, kebisaan, dan keahlian. Perataan pendidikan, tanpa pilih memilih tentunya lebih sederhana, praktis dan tanpa anggaran membuat kartu.

Sayapun mempertanyakan persoalan kesempatan bekerja dan berusaha. Bapak menjawabnya dengan program Bapak yang Bapak sebut dengan revolusi mental para birokrat, ingin mempermudah segala bentuk birokrasi dan perijinan sehingga terbuka peluang usaha dan peluang pekerjaan. Di negara ini yang terjadi adalah sebuah penilaian bahwa jika seseorang akan memulai sebuah usaha, berdagang, menyediakan jasa atau memproduksi barang, maka orang itu adalah termasuk orang yang berkelebihan, bukan dinilai sebagai orang yang sedang berusaha untuk survive, menyelamatkan kehidupannya atau meningkatkan taraf hidupnya untuk bangkit dari keterpurukan, sehingga oleh PNS, mereka2 pegawai negara yang digaji dengan uang negara, mereka2 para birokrat dari tingkat kelurahan hingga ke dinas perijinan, seseorang yang membuka peluang usaha layak dijadikan sapi perah, ATM berjalan atau apapun istilahnya. Revolusi mental birokrat memang perlu, tapi tahukah Bapak bahwa birokrat bekerja mempersulit masyarakat yang mengajukan perijinan membuka peluang usaha bukan hanya mempergunakan SIFAT DAN PERILAKU, atau mentality mereka tapi juga dengan menggunakan aturan dan undang-undang yang ada? Contohnya, undang2 dan aturan jika seseorang dari kota Solo dengan kartu tanda penduduk kota Solo tidak mempunyai peluang dan kesempatan membuka usaha di DKI, hanya orang dgn KTP DKI bisa mengajukan ijin usaha di DKI, hanya orang dengan KTP Bali bisa mengajukan ijin usaha di Bali. Bapak pasti akan menjawab hal itu tidak benar. Saya setuju, tentu saja bisa, tapi dengan catatan. Bisa mengajukan ijin usaha jika melalui proses yang panjang dari tingkat RT, RW, Kelurahan hingga Kecamatan untuk sebuah kartu penduduk musiman, yg harus diperpanjang setiap 3 bulan. Bukan hanya DKI dengan aturan seperti itu, tapi terjadi di seluruh Indonesia. Penduduk propinsi yang satu tidak diakui di propinsi yang lain, kartu penduduk kota yang satu tidak dapat digunakan untuk mendapatkan fasilitas di kota yang lain bahkan terkadang untuk membuka rekening di Bank sekalipun. Penduduk Indonesia mempunyai KTP warga negara Indonesia tapi tidak berlaku di seluruh Indonesia. Undang2 dan aturan pendirian usaha juga masih menggunakan aturan2 Jaman Penjajahan Belanda. Aturan yang membatasi lokasi dan tempat ijin usaha berdasar ijin HO, sebuah aturan yang dibuat oleh VOC, aturan dari pemerintahan penjajah. Bagaimana bisa terjadi, aturan pemerintahan RI untuk bangsanya sendiri tapi menggunakan aturan penjajah? Orientasi dari aturan yang digunakan adalah untuk kepentingan pemerintah, bukan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. Semua aturan2 yang mempersulit perijinan masih ada dan digunakan. Semua kerumitan aturan sengaja dibuat sehingga orang tidak tahu harus mulai dari mana untuk melegalisasi usahanya. Pada akhirnya penduduk yang mau memulai usaha harus membayar mahal kepada Biro Jasa kroni-kroni birokrat. Bagi saya revolusi mental birokrat ini adalah OMONG KOSONG Bapak Jokowi yang paling besar. Bukannya saya mengharapkan sebuah negara tanpa aturan dan undang2, melainkan sebuah perubahan dari persoalan yang paling mendasar, bahwa pemerintah bukan penjajah. Bagi saya sebuah revolusi birokrasi adalah merubah semua aturan dan undang2, menggantinya dengan aturan dan undang2 yang sama sekali baru dengan orientasi untuk masyarakat, bangsa, semangat nasionalisme, dan ketertiban komunitas yang berkepentingan. Salah satu contohnya adalah jika Bapak bisa memerintahkan kepada seluruh pimpinan, kepala daerah, bahkan kepala suku, untuk merubah aturan bahwa pemegang KTP warga Indonesia bisa membuka peluang usaha, mengajukan ijin usaha dimanapun di seluruh wilayah Indonesia yang dikehendaki. Semua kepala daerah harus membuka kesempatan yang sebesar-besarnya untuk penduduk Indonesia yang berasal dari wilayah manapun di Indonesia. Satu penduduk satu KTP, SATU INDONESIA untuk semua warga negara Indonesia, tidak terkotak-kotak oleh kepentingan propinsi dan lokal. Administrasi pemerintahan juga menjadi lebih sederhana. Masyarakat yang ingin menciptakan lapangan pekerjaan sendiri membutuhkan aturan-aturan yang mendukung dan memudahkan dalam hal membuka peluang usaha, aturan yang bisa menjaga ketertiban diantara komunitas dalam usaha, tapi tidak membatasi kesempatan dalam memulai usahanya. Aturan yang menguntungkan semua pihak baik untuk pelaku usaha maupun konsumennya. Dan terpenting adalah aturan2 yang tidak ada lagi satupun celah yang bisa digunakan oleh mental birokrat yang paling buruk sekalipun untuk menjadikan pelaku usaha sebagai sapi perah. Itu yang lebih pantas untuk disebut sebagai revolusi birokrasi.

Semoga Bapak dapat memahami isi dari surat saya ini, apa yang saya bicarakan di dalam surat saya yang panjang lebar ini, dan dapat memaklumi mengapa saya meragukan kepemimpinan Bapak. Tapi dibalik keraguan itu ada pengharapan bahwa Bapak Jokowi Presiden RI ke 7 yang terhormat yang dipilih oleh lebih dari setengah masyarakat Indonesia, oleh saudara-saudara saya sebangsa dan setanah air, memang pribadi yang layak dan tepat untuk memimpin negeri ini karena berhasil mewujudkan apa yang menjadi gagasan dan harapan saya, harapan semua masyarakat Indonesia yang sependapat dengan saya tapi tidak mempunyai kemampuan untuk menyampaikannya. Apa yang saya ungkapkan ini karena saya menghargai dan mendukung siapapun yang menjadi pimpinan di negeri ini meskipun bukan pribadi yang menjadi favorite saya. Saya menunggu perubahan ini dalam 5 tahun ke depan masa pemerintahan Bapak. Terima kasih.

Salam hormat saya,

Henny Brunner


1 Comment

‘Kok seperti mau ikut ngatur negara’

Suatu hari ada teman kuliah di Undip, Henri Yap, yang posting status di lamannya di sebuah social media. Dia menulis komentarnya perkara urusan-urusan besar bangsa ini, problematika yang ada di Indonesia, yang setiap hari selalu saja ada isu-isu baru, persoalan yang memang menggelitik, suka bikin gemes, bikin pengen marah, juga bikin puyeng. Sebenarnya tidak ingat juga kasus apa yang dia tulis waktu itu. Yang menggelitik saya justru ada teman lain yang menanggapi di kolom komentar, ‘ngapain pagi-pagi sudah ngomong soal begituan, kok se-olah-olah kita ini mau ikut ngatur negara, dari pada pusing lebih baik nyari duit aja‘.

Apa jadinya kalau kebanyakan masyarakat apatis dan cuek bahkan tidak tahu menahu persoalan-persoalan besar bangsa ini?

Tapi itulah yang terjadi di Indonesia. Sistem demokrasi kita ini terbalik-balik. Posisi ‘government‘ atau kalau di dalam Bahasa Indonesia terjemahannya ‘pemerintah’, justru adalah pihak yang tertinggi di dalam struktur negara, meskipun katanya dipilih oleh rakyat. Mereka, orang-orang yang duduk di parlemen sebagai wakil rakyat pada umumnya tuli dan buta persoalan bangsa, mereka tidak bisa menangkap dan mendengar apa yang sedang bergejolak di dalam masyarakat. Akibatnya mereka tidak bisa membuat kebijakan dan aturan yang sesuai dengan keadaan yang aktual. Rakyat ketakutan kalau harus berhadapan dengan pemerintah, rakyat berharap belas kasihan pemerintah, bukan sebagai pihak yang mempunyai kuasa untuk mengarahkan kebijakan negara.

Ini yang menurut saya perlu diluruskan. Soal kedudukan rakyat di dalam sebuah negara demokrasi.

Di negara maju yang menggunakan sistem pemerintahan demokrasi, maka kedudukan masyarakat dan rakyat itu adalah dalam posisi yang tertinggi. Artinya rakyatlah yang mengatur negara ini. Dan kedudukan society dan people power itu adalah menurut keadaan yang sebenarnya, rakyatlah yang mengatur negara, pemerintah itu adalah abdi negara, dibayar diberi gaji supaya apa yang dikehendaki rakyat dan society dapat berjalan dengan baik. Tugas wakil-wakil rakyat dalam parlemen adalah mengamati, mendengarkan dan mengangkat isu-isu yang beredar di dalam masyarakat, untuk kemudian menganalisanya dan merumuskannya di dalam aturan dan kebijakan dari perkembangan isu-isu yang ada tersebut. Parlemen bekerja untuk terus mendengarkan isu-isu dan problematika di dalam masyarakat dan society, bekerja dan berpikir untuk menganalisanya, merumuskannya dan menentukan kebijakan. Sesudahnya adalah tugas pemerintahan dan keamanan untuk menjalankan aturan dan kebijakan yang merupakan amanat dari parlemen/ wakil rakyat. Pemerintah, mereka hanyalah abdi dan pekerja yang memastikan bahwa kebijakan dan ketetapan yang sudah dirumuskan bersama oleh wakil rakyat di dalam parlemen bisa berlangsung lancar dan tertib.

Maka dengan demikian masyarakat memang harus tanggap. Masyarakat harus cerdas memikirkan nasib mereka. Masyarakat harus paham persoalan apa yang sedang terjadi di masyarakat. Masyarakat lah yang harus mengangkat isu-isu dan persoalan, diusulkan, agar dibicarakan dalam pertemuan wakil-wakil rakyat. Kalau masyarakat apatis, cuek, bahkan tidak tahu keadaan diri masyarakat dan society nya itu bagaimana mereka bisa mengatasi persoalan-persoalan dalam negara ini. Kalau ada yang berbicara mengenai urusan-urusan besar negara ini berarti mereka berpikir untuk kepentingan masyarakat dan society. Bukan berarti ingin mengambil peran sebagai pemerintah. Memang rakyatlah yang mengatur negara ini di dalam negara demokrasi, dan bukan pemerintah.


Leave a comment

Hugo Chavez

Berguguran satu demi satu pemimpin dunia yang hebat, presiden Venezuela Hugo Chavez akan dimakamkan Jum’at 8 Maret lalu.

Waktu dia baru jadi presiden lihat tampangnya kayaknya enggak banget deh nih orang, ramalan aku dia adalah model pemimpin korup seperti layaknya pemimpin2 dari negera-negara ‘terbelakang’ (kebalikan dari negara ‘maju’). Tapi ternyata tidak. Waktu lihat langkah-langkah dia me-nasionalisasi perusahaan-perusahaan pertambangan asing yang ada di negaranya syok juga dengarnya, dalam hati aku berpikir wah bakal perang nih Venezuela dengan USA, entah gimana caranya ternyata nggak berani tuh USA. Nampak sekali kalau USA sangat menginginkan kematian si Chavez, tapi cuma berani berkoar-koar nyumpahin dia. Chavez pun tahu nyawanya terancam, tapi dia tetap berani menghadapi resiko itu demi perbaikan ekonomi bangsanya.Nyatanya banyak pemimpin negara-negara lain yang lebih berpihak pada Venezuela, baik secara terang-terangan maupun tidak.

Mereka adalah negara-negara tetangga Venezuela di Amerika bagian Selatan dan negara-negara Afrika. Rupanya Venezuela punya hubungan yang sangat baik dengan negara-negara tetangganya, seperti Colombia, Kuba, dan mungkin bangsa-bangsa di Amerika bagian Selatan juga sebenarnya muak dengan USA cuma tidak berani secara terang-terangan.

Tanpa dukungan bangsa lain Amerika Serikat pun bukan apa-apa. Bangsa Amerika maksud aku USA, yang merasa paling jago ini, sebenarnya tidak ada apa-apanya tanpa follower-followernya. Makanya bangsa kita ini seharusnya nggak perlu takut sama USA. Aku muak banget sama presiden-presiden Indonesia yang suka njilatin pantatnya presiden USA, bangsanya dikentutin di berakin juga diem aja. Sebagai pemimpin sebuah bangsa harus bisa membuat strategi kalau nggak cocok dan tidak baik untuk bangsa kita ya jangan diikutin. Kita harusnya bisa melihat keadaan kalau nggak nguntungin buat bangsa kita cuekin aja mereka. Kalau USA banyak followernya ya kita diam aja dulu tapi kalau nggak ada followernya dan lebih banyak yang berpihak ke kita ya berani untuk berdiri diatas prinsip-prinsip yang baik untuk bangsa kita.

Ada prinsip yang sama dengan aku dari pemimpin dunia yang satu ini ‘Gue baek ame loe, kalau loe juga baik ama gue’, begitu cara dia mengajarkan pada bangsanya dalam menghadapi bangsa Amerika Serikat atau USA.

Setelah kematian Hugo Chavez apakah USA berpikir sebagai kesempatan untuk merebut kembali apa-apa yang diambil Chavez? Yuk kita lihat aja. Kita cuma bisa jadi penonton, tapi banyak hal bisa kita pelajari dari apa yang terjadi disana. Dan kita lihat nanti 2014 kira-kira model presiden Indonesia kayak apa yang jadi kandidat di Pemilu. Semoga nanti ada orang-orang Indonesia yang punya kepercayaan diri serta punya nasionalisme yang kuat seperti Hugo Chavez untuk kandidat Pemilu 2014.

Kelemahan dari negara kita adalah negara-negara tetangga kita Philipina dan Australia adalah USA minded, sementara Malaysia dan Singapore adalah British minded, sementara keduanya Australia dan British adalah follower setia USA. Yang bisa bangsa kita andalkan adalah negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Taiwan. Dengan bangsa-bangsa tersebut kita harus membuat hubungan baik terutama dalam hal kerjasama militer.


3 Comments

Menuju RI 1 naik Komodo

Meskipun pengumuman pemenang N7W sudah ditetapkan 11.11.2011 jam 11:11 waktu Swiss yang lalu tapi saya tetap akan menentang dengan keras dan untuk selamanya tindakan pembohongan publik dengan vote sms yang memanipulasi rasa nasionalisme rakyat Indonesia. Memang nampak seperti menentang arus dengan menyuruh orang untuk tidak vote komodo untuk N7W. Tidak vote bukan berarti tidak nasionalis. Dan inilah alasan-alasan yang saya yakini lebih masuk akal dari pada mengikuti ajang vote N7W tersebut.

I don’t care who the F*** N7W. Kalau memang mereka mengganggap Taman Nasional Komodo dengan berbagai keistimewaannya layak sebagai salah satu N7W dan mereka memang dengan adil menilai semua kandidatnya ya silahkan saja. Yang menjadi alasan ketidak sukaan saya dengan ajang vote N7W yang ada di Indonesia adalah cara-cara pemenangannya. Ditambah adanya keterlibatan seorang politisi untuk pemenangannya.

Alasan P2K, yang nampak lebih tepatnya mempromosikan N7W ketimbang mempromosikan komodo, adalah demi kesejahteraan rakyat NTT. Kata mereka : jika Komodo dikenal luas di dunia melalui promosi N7W (padahal Komodo sudah dikenal di dunia sebelum N7W lahir) maka akan semakin banyak wisatawan yang datang ke Pulau Komodo dan ke NTT. Jika makin banyak wisatawan yang berdatangan maka makin sejahtera rakyat disana dikarenakan akan tercipta banyak lapangan pekerjaan.

Tapi jika orang berduyun-duyun mendatangi TNK, seperti layaknya orang berwisata ke Pantai Kuta – Bali, akan mampukah lingkungan di TNK tetap bertahan asli seperti sediakala?

Logikanya, yang nyata-nyata akan terjadi, adalah semakin banyak orang yang ingin mengunjungi pulau tersebut maka semakin banyak pula fasilitas yang diinginkan. Semakin banyak fasilitas dibuat maka semakin banyak manusia diperlukan untuk mengelolanya. Sementara luas pulau Komodo tidak mungkin bertambah. Yang akan terjadi adalah perambahan dan penjarahan lahan serta sumber-sumber alam pulau-pulau di sekitarnya bahkan yang masuk dalam kawasan TNK. Kita lihat saja apa yang nanti akan terjadi.

P2K, Emmy Hafizd, Meutia Hafizd, Jusuf Kalla dkk kalau mereka memang sangat peduli dengan komodo dan kelestarian satwa langka ini kenapa tidak satupun dari mereka ada yang bertindak terhadap kasus matinya beberapa koleksi satwa Komodo sebagai imbas dari kekisruhan pengelolaan KBS (Kebun Binatang Surabaya). Tidak ada satupun dari P2K yang bereaksi bahkan hanya sedikit untuk berbicara didepan wartawan TV mengenai hal tersebut. Mereka sibuk sendiri dengan agenda mereka sendiri. Jelas bahwa agenda mereka adalah to become a hero, untuk menjadi beken dengan menunggangi kasus ketika rezim dan pemerintah saat ini menyatakan mundur dari ajang N7W.

Kalau JK memang sangat peduli dengan kesejahteraan rakyat NTT kenapa tidak dari dulu ketika dia masih menjabat sebagai wakil presiden. Apakah yang sudah dilakukan JK terhadap propinsi NTT ketika dia menjadi wakil presiden. Adakah transportasi yang memadai di „““Flores. Pernahkah dia, JK, melakukan perjalanan darat dari Maumere menuju Labuhan Bajo? Melalui ‘Trans-Flores Highway’. Adakah penerbangan pesawat langsung dari Maumere ke Labuhan Bajo ataupun juga dari Kupang sebagai ibukota NTT ke Labuhan Bajo?

Ada penerbangan Denpasar – Labuhan Bajo dan ada penerbangan Denpasar – Maumere. Tapi masuk akal nggak kalau mau terbang dari Maumere ke Labuhan Bajo atau sebaliknya harus melalui Denpasar – P.Bali? Atau lebih gila lagi terbang Maumere – Kupang dulu lalu Kupang – Bima dan selanjutnya melalui ferry dari Sape di Sumbawa ke Komodo ataupun Labuhan Bajo.

Jika sesuai analisa P2K bahwa popularitas Komodo di dunia akan memakmurkan rakyat NTT maka seharusnya sudah ada hubungan perekonomian, komunikasi dan transportasi yang nyata antara Labuhan Bajo sebagai gerbang utama TNK dengan wilayah-wilayah lain di NTT. Kenyataannya tidak. Yang ada sekarang hubungan komunikasi, perekonomian dan transportasi adalah melalui Denpasar – Bali dan tidak melibatkan kabupaten-kabupaten lain di NTT. Bahkan ada gosip Ruteng dan kabupaten Manggarai sedang mewacanakan pembentukan propinsi Ruteng terpisah dari NTT. Jika ini benar terjadi lalu kapan rakyat NTT sejahtera?

Mensejahterakan rakyat NTT bukan dengan meng-eksploitasi Komodo apalagi TNK yang mengancam konservasi satwa Komodo itu sendiri. Kesejahteraan rakyat NTT seharusnya dengan menciptakan hubungan komunikasi, perekonomian dan transportasi dari kabupaten di NTT satu dengan lainnya. Pulau Flores jauh lebih luas dari pulau Bali. Potensi wisata di ‘Cabo da Flores’ yang artinya ‘Cape of Flowers’, sangatlah banyak baik pemandangan alamnya maupun budayanya, diantaranya: Kelimutu, Riung, dan Bajawa. Ini dulu yang dieksploitasi serta menyediakan infrastruktur berupa jalan yang memadai (the real Trans-Flores highway, seperti jalan tol Jakarta – Bandung), listrik, dan air bersih. Jika infrastruktur jalan, listrik dan air bersih tersedia maka industri wisata akan tumbuh dengan subur di sana dan tercipta banyak lapangan kerja.