Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Stop pemberian gadget pada anak2

Perkembangan dunia electronic dan digital sepuluh tahun terakhir ini benar-benar luar biasa. Saat memasuki tahun 2000 kita memang telah memasuki era millenium. Perangkat elektronic mobile seperti hand phone, ipod, personal computer laptop, termasuk kamera digital sudah dimiliki kebanyakan orang, bisa dibilang separuh penduduk dunia memilikinya bahkan termasuk mereka yang tinggal dalam gubuk-gubuk di kawasan slump pun mengenal, memiliki, dan menggunakan. Mereka yang antre dan rebutan pembagian sembako gratis ada juga yang punya HP. Yang saya maksudkan adalah mereka yang secara ekonomi miskin pun tidak menjadi batasan untuk memiliki sedikitnya hand phone. Sementara kebutuhan utama makanan seperti nomor dua dan boleh didapat dengan mengemis.

Melihat kenyataan ini perasaan saya adalah antara senang dan prihatin. Senang karena teknologi yang dulunya di tahun 1960 -70-an hanya ada di film-film science fiction sekarang jadi kenyataan dan jadi bagian dari kehidupan sehari-hari kebanyakan orang. Senang karena teknologi komunikasi dan informatika berkembang pesat dan memajukan petani dan peternak di desa yang semula jauh dari jangkauan teknologi. Prihatin karena gaya hidup ini secara cepat diajarkan pada anak-anak. Yang saya prihatinkan adalah keadaan pembangunan karakter masyarakat Indonesia.

Kenapa harus prihatin? Bukannya saya anti dengan kemajuan jaman dan tidak ingin orang Indonesia untuk maju dan memahami teknologi tapi melihat kenyataan sosial yang ada saya rasa lebih baik orang Indonesia lebih bijaksana dalam menerapkan penggunaan perangkat electronic mobile atau biasa disebut gadget kepada anak-anak dibawah umur.

Kenyataan sosial yang saya lihat dari masyarakat Indonesia pada umumnya adalah kekurangan mereka dalam hal komunikasi secara lisan. Hal ini lebih tampak nyata disaat harus berdebat, merangkai kata yang santun sekaligus bisa dipahami disaat emosi akibat rasa marah. Saya prihatin melihat tindak anarkhis dan kekerasan yang semakin hari semakin tidak terkendali. Akibat ketidak-puasan masyarakat terhadap sistem yang berjalan di dalam masyarakat, mereka  ingin menyatakan protes dan ketidak setujuan mereka, mereka ingin menyampaikan ungkapan rasa marah dan emosi, mereka ingin merasa didengar.

Kemampuan komunikasi yang terbatas menyebabkan apa yang mereka ingin ungkapkan tidak dapat tersampaikan dengan baik. Akhirnya merasa gondok karena apa yang mereka rasakan dan mereka inginkan tidak tersampaikan. Pada saat masyarakat Indonesia merasa kesal maka yang terjadi adalah mereka berkumpul dengan orang-orang yang mengalami keadaan yang sama, dengan demikian mereka merasa mendapatkan dukungan dan menjadi berani, kemudian bentuk ungkapan emosi mereka adalah dengan tindakan dan perbuatan pemaksaan kehendak dengan kekerasan, bukan dengan ungkapan kata-kata yang berani dan tajam untuk mengubah keadaan.

Saya perhatikan banyak anak-anak Indonesia tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dalam bahasa daerah masing-masing maupun dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris kalau mereka tinggal dilingkungan yang berbahasa Inggris. Biasanya orang Indonesia suka sakit hati kalau saya banding-bandingkan dengan orang bule, tapi apa yang akan saya ungkapkan kali ini adalah fakta. Saya sering berinteraksi dengan orang bule (kebanyakan dari Eropa), melihat sendiri dan bisa membandingkan keadaan di Indonesia dan diluar Indonesia. Saya sering berbicara atau menanyakan hal-hal apa saja dengan anak-anak berumur dibawah 9 tahun dari kenalan orang bule. Mereka ini dengan lancar bercakap-cakap dengan kenalan orang tuanya. Dengan menggunakan bahasa daerah mereka ataupun dengan bahasa Inggris saat berkomunikasi dengan saya. Saya benar-benar kagum dengan gaya bicara mereka yang tidak canggung, santun dan nampak sejajar dengan orang dewasa. Dan tidak demikian halnya ketika saya coba berkomunikasi dengan anak-anak dari kenalan keluarga Indonesia, tetangga dan kenalan-kenalan lain. Hanya sedikit sekali anak keluarga Indonesia yang sanggup berkomunikasi dengan baik,

Bisa jadi mereka malu untuk berbicara dengan orang dewasa yang bukan keluarga mereka. Tapi itu juga sebenarnya adalah kekurangan yang harus dikoreksi oleh orang tua pada anak-anak mereka. Anak-anak harus dibiasakan untuk mengenal teman-teman dekat ayah dan ibunya. Anak-anak harus dibiasakan untuk berbicara atau menanyakan hal-hal yang penting dengan cara yang santun. Para guru di sekolah harus mengajarkan anak-anak untuk berani berdiri di depan kelas dan bercerita. Jaman dahulu kala saat saya di Sekolah Dasar saya ingat untuk maju ke depan kelas dan berbicara, bercerita atau menyanyi adalah sebuah beban berat bagi saya dan juga teman-teman saya. Ada teman yang memejamkan mata saat disuruh untuk menyanyi didepan kelas. Ada teman yang berbicara sangat lirih sehingga tidak ada yang bisa mendengar suaranya, sampai ada juga seorang teman yang hanya diam tidak bersuara berdiri membelakangi teman-temannya. Apakah anda mau mengakui keadaan ini? Jawabannya terserah kepada anda. Masing-masing bangsa berbeda sifat dan karakternya. Tapi jika kita ingin merubah karakter bangsa menjadi lebih baik mengapa tidak kita meniru hal yang baik dari suatu bangsa tertentu.

Mungkin ada yang protes, siapa bilang bahwa di Eropa tidak ada demonstrasi yang berakhir dengan kekerasan dan anarkhis? Ada. Tapi yang jelas tidak sesering yang terjadi di Indonesia. Atau ada juga yang menganggap saya berlebihan dalam mengkaitkan kemampuan komunikasi dengan kebangkitan teknologi. Sekali lagi bukan menghalangi atau tidak suka dengan kemajuan tapi alangkah baiknya kalau kita mengasah kemampuan komunikasi lisan terlebih dahulu sebelum berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang yang jauh dari jangkauan di dalam dunia maya, terutama pada anak-anak. Chatting dan sms sanggup membuat seseorang menjadi autis, melupakan sekelilingnya sibuk sms, chatting, membuat komen atau merubah status dalam jejaring sosial, nah apa jadinya kalau anak-anak sejak dini sudah dibuat menjadi autis.

Permainan dan game dalam komputer lebih berbahaya lagi karena anak-anak hanya akan mengenal dan mempelajari karakter-karakter yang ada dalam games. Mereka juga belajar dan mengikuti pola pikir yang ada dalam permainan komputer tersebut. Games-games yang dibuat juga semakin lama semakin canggih dan menyeramkan. Sudah bukan jamannya lagi games-games seperti Tetris, Digger, Pacman, Super Mario brothers, dll. Saat ini banyak games yang tidak pantas untuk anak-anak sudah diakses oleh mereka. Games yang isinya peperangan, perkelahian sadis, menembak, membunuh, menghancurkan sesuatu, suaranya dibuat dahsyat ditambah dengan adegan darah berhamburan dan berceceran.

Maraknya penggunaan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter mengajarkan anak-anak berbuat palsu dan curang. Anak-anak sebenarnya tidak akan di approve dalam membuat account Facebook tapi apa yang terjadi mereka memalsukan tahun kelahiran mereka supaya di approve. Orang tuanya bukannya melarang tapi malah bangga bahwa anak-anak mereka tidak gaptek dan bisa mencurangi pengelola situs tersebut. Maka kalau ada penyimpangan akibat pemakaian Facebook pada anak-anak dibawah umur yang patut disalahkan adalah orang tua mereka sendiri.

Kalau saja orang tua memberikan anak-anak mereka lebih banyak aktifitas di luar rumah, olah raga, sekedar jalan-jalan, bersepeda, berkemah, outbound, mendekatkan diri dengan alam, maka akan berkurang waktu mereka untuk bermain Play Station, komputer game dan Facebook. Disaat beraktifitas diluar rumah bersama orang tuanya maka anak-anak juga mempunyai lebih banyak waktu untuk berbicara dengan orang tua. Dan apabila aktifitas out door dilakukan dengan keluarga ataupun kenalan-kenalan orang tuanya maka akibatnya anak-anak juga terbiasa berkomunikasi dengan orang dewasa.

Kemampuan komunikasi lisan dan berdebat akan melahirkan pribadi yang berani namun santun dan jauh dari kekerasan karena rasa marah dan emosi tersalurkan.