Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


2 Comments

Pekerja Anak

Anak-anak dibawah umur tidak boleh dipekerjakan. Di negara miskin dan tengah berkembang seperti Indonesia banyak sekali anak-anak dipekerjakan. Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa mempekerjakan anak dibawah umur sebagai hal yang dilarang, alias tidak boleh, dan orang yang melanggar hal ini akan mendapatkan sangsi hukum.

Pada kenyataannya sangat sulit diterapkan peraturan tersebut. Kita menolak mempekerjakan anak-anak tapi di sisi lain keluarga-keluarga miskin dengan jumlah anak yang besar tidak mampu menghidupi anak-anak mereka apalagi menyekolahkan untuk membekali mereka dengan pendidikan. Satu-satunya cara membekali mereka agar dapat survive dalam kehidupan yang keras dan kejam adalah dengan mengajari mereka bekerja. Dengan cara  terjun langsung bekerja mereka mendapatkan pendidikan dan pengalaman secara langsung tanpa berlama-lama duduk dibangku sekolah.

Dalam kehidupan orang Jawa ada istilah ‘ngenger’, yaitu keluarga yang tidak mampu akan menitipkan anak mereka pada keluarga yang mampu memberi makan mereka dengan syarat harus mengikuti perintah dari orang tua yang diikuti dan membantu segala kegiatan yang ada dalam rumah tangga yang diikuti.  Seperti anak sendiri.  ‘Ngenger’ ini dulunya sering dilakukan hanya dalam lingkup keluarga saja. Tapi lama-lama dengan semakin individualisnya kehidupan masyarakat Indonesia dan semakin susah dan kejamnya kehidupan tidak lagi banyak keluarga yang bersedia ditumpangi atau mendapat tambahan beban anggota keluarga.

Ada yang perlu kita ketahui yaitu bahwa keluarga yang miskin maka akan menghasilkan juga anak-anak yang nantinya setelah dewasa juga membentuk keluarga yang miskin. Akses pendidikan sulit bagi keluarga miskin, maka tanpa adanya pendidikan akan sangat sulit juga dalam trah keluarga itu untuk bangkit dari kemiskinan. Tentunya di antara keluarga mereka sangat sulit untuk saling tolong menolong. Untuk menghidupi anak-anak sendiri saja sudah susah kalau harus ditambah lagi dengan keponakan-keponakan pasti berat. Jadi tradisi ‘ngenger’ dalam keluarga tidak bisa lagi terbentuk. Satu-satunya jalan adalah dengan mencari keluarga-keluarga kaya diluar lingkungan keluarga sendiri. Maka anak-anak yang sudah bisa dilepas tidak nyusu orang tuanya lagi dikirim pada keluarga kaya untuk bantu-bantu dirumah.

Perkembangan kemudian banyak orang yang menyalah gunakan, istilah kerennya ‘abusing’, kondisi tersebut dengan memanfaatkan anak-anak, mempekerjakan mereka dengan tujuan untuk mengeluarkan upah yang minim, alasannya anak-anak tersebut tidak punya pendidikan dan pengalaman.

Pekerja anak atau anak-anak yang terpaksa dipekerjakan karena orang tua mereka tidak mampu membiayai hanya terjadi di negara-negara miskin. Maka kalau kita ingin mengatasi persoalan mengenai pekerja anak ini maka terlebih dahulu kita harus mengatasi kemiskinan di dalam masyarakat. Untuk mengatasi kemiskinan dalam masyarakat tentunya dengan mengurangi  jumlah masyarakat miskin. Mampukah negara kita ini membiayai penuh satu generasi saja keluarga-keluarga yang miskin di Indonesia ini supaya generasi berikutnya mereka mampu bangkit dari kemiskinan?

Jika masyarakat tidak miskin maka tidak akan perlu anak-anak pergi bekerja. Anak-anak bisa menikmati masa kanak-kanak mereka dan duduk dibangku sekolah belajar dengan tenang. Menjadi anak-anak yang bahagia menimba pengetahuan untuk bekal hidup tanpa ada tekanan.

Advertisements


Leave a comment

Konsep Halal dan Haram

Baca di internet sebuah tulisan berita tentang pameran makanan halal. Dalam tulisan itu si wartawan menulis kutipan yang mengatakan bahwa, “Sholat dan doa kita tidak akan diterima Allah jika ada makanan yang haram di perut kita”.  Kalimat ini sungguh menggelitik saya untuk menuliskan apa yang menjadi konsep makanan halal dan haram dalam pemikiran saya. Entah kyai mana yang mengajarkan itu, atau saya kira pengutip kata-kata itu mempunyai pengertian dan konsep yang salah dalam memaknainya. Kalimat itu sungguh menyesatkan dan membodohkan publik kalau kita bicara soal makanan. Tapi kalau kita bicara persoalan harta yang halal dan haram cara mendapatkannya barulah pas. Tapi jika kita membicarakan soal jenis makanan yang kita makan tentulah kalimat itu tidak pas.

Saya bukanlah seorang ahli agama tapi saya meyakini agama saya dan mencoba menjalankan dengan sebaik-baiknya apa yang mampu saya lakukan seperti apa yang diajarkan oleh agama saya agama Islam. Dalam agama Islam kita diperintahkan untuk makan makanan yang baik-baik saja. Itu semua bukan untuk Allah tapi untuk kebaikan diri kita sendiri. Kita juga diajarkan bahwa Allah itu adalah pemilik segalanya Dia tidak meminta sedikitpun dari hambaNya, semua yang Allah perintahkan kepada umat manusia adalah semata-mata untuk kebaikan manusia. Demikian juga makanan-makanan yang dinyatakan haram untuk kita memakannya, hal ini bukanlah untuk Allah melainkan karena makanan tersebut tidak baik bagi kesehatan kita.

Kenapa daging babi itu haram untuk dimakan, mungkin rasanya enak, tapi yang enak itu belum tentu baik. Ambil sekerat daging babi, daging sapi, daging unta, daging kambing, daging ayam, ikan, berbagai macam daging, letakkan di atas meja, diamkan saja dan perhatikan manakah yang lebih cepat membusuk. Daging babi itu kalau tidak cepat-cepat mengolahnya setelah disembelih akan cepat sekali busuk, paling cepat dari semua jenis daging hewan yang biasa dimakan manusia. Karenanya menghindarinya adalah yang terbaik. Kenapa alkohol itu haram? karena dalam alkohol apalagi yang dibuat sembarangan, sering terdapat kandungan bahan methanol yang sangat berbahaya, merusak syaraf otak, dan bisa menyebabkan kebutaan. Jadi jelas sekali apa-apa yang diharamkan oleh Allah itu karena memang tidak baik untuk tubuh dan kesehatan kita.

Didalam era modern ini makanan yang tidak halal semakin banyak, bisa jadi itu tidak haram hanya saja tidak halal, tidak baik bagi kesehatan manusia. Manusia bereksperimen dengan berbagai hal dengan mengubah berbagai bahan makanan dengan teknologi. Manusia mencoba merekayasa makanan dengan menambahkan zat-zat kimia ke dalam makanan, seperti pengawet kimia, anti jamur dan sebagainya, pewarna, pemanis buatan dan lain-lain. Apa yang manusia perbuat itu bukanlah membuat makanan menjadi lebih baik untuk dimakan tapi justru memperburuk. Dan kita memakan makanan yang tidak ada manfaatnya bagi tubuh kita. Ilmu manusia itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan ilmu Allah. Jadi sebaik-baik makanan itu ya yang se-natural mungkin seperti sayuran dan buah-buahan organik. Allah memerintahkan kita untuk memelihara binatang ternak dan menanami halaman dan kebun-kebun kita dan memakan apa-apa yang dihasilkannya.

Yang paling parah adalah apa yang terjadi di Indonesia seperti contohnya beras yang diberi pemutih. Beras yang kurang putih kurang disukai dan harganya lebih rendah maka pedagang yang jahat dan culas mengubah beras yang kurang putih dengan memberi bahan pemutih agar beras menjadi putih. Kalau mereka orang Islam sungguh mereka tidak tahu apa yang diajarkan oleh agamanya dan mereka sungguh jahat dengan membuat saudara-saudaranya sesama umat Muslim memakan makanan yang tidak halal. Bahan-bahan kimia yang untuk makanan saja kurang baik apalagi bahan kimia yang bukan untuk makanan. Bahan kimia yang bukan untuk makanan dalam akumulasi yang banyak akan merusak organ-organ dalam tubuh. Bayangkan orang yang membeli kadang tidak tahu kalau beras putih yang dibelinya ternyata mengandung pemutih. Tidak tahu bahwa mereka lama-lama akan menderita sakit karena memakan beras itu. Sungguh-sungguh mereka orang yang jahat, semoga mereka mendapatkan petunjuk.

Larangan memakan makanan haram bukanlah untuk kepentingan Allah tapi untuk kepentingan diri kita sendiri. Allah melarang kita untuk memakannya karena Dia mencintai umat Nya. Semoga tulisan konsep halal dan haram untuk makanan dari pemikiran saya ini bisa bermanfaat untuk yang membacanya, juga menghindarkan kita dari makanan-makanan yang haram dan tidak halal.