Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Tawuran antar pelajar sebenarnya bisa dicegah, mari berikan mereka aktifitas yg positif

Pelajar tawuran semakin sering terjadi. Kenapa? Anak usia belasan yang baru gede mempunyai energi berlebih yang perlu disalurkan. Ini adalah satu contoh dari seseorang yang aku kenal bagaimana dia melakukan sesuatu bagi anak-anak disekitarnya. Aku benar-benar salut dengan Bapak satu itu semoga lebih banyak lagi orang yang punya pemikiran seperti dia.

Seperti biasa setiap liburan ke Bali kita pasti mampir ketempat teman-teman windsurfing kami. Teman-teman kita di Bali ini adalah orang-orang yang punya usaha tempat persewaan peralatan windsurf. Untuk sekedar say hello dan melihat perkembangan usaha kecil mereka. Daerah sekitar Sanur dan Nusa Dua ada beberapa tempat persewaan alat windsurf. Tempat persewaan yang dikelola orang-orang lokal pengusaha micro di pantai Sanur hanya ada satu yang agak lumayan kondisinya. Yang aku maksud disini adalah tempat persewaan diluar tempat yang dikelola oleh hotel dan kepunyaan Oka Sulaksana si juara nasional.

Kami suka bergaul dengan mereka yang menyewakan alat-alat windsurf, karena kita sepaham, mencintai dunia windsurfing. Sebagai orang yang tidak tinggal tetap di Bali kita tidak begitu menguasai kondisi perairannya maka kita perlu ngobrol dengan teman-teman kita ini soal cuaca, angin dan pasang surut. Meskipun informasi bisa dicari di web tapi bertanya kondisi sebenarnya dengan orang setempat juga perlu. Juga obrolan lainnya yang menyangkut windsurf terutama yang menjadi perhatian suami-ku adalah karena pengusaha-pengusaha micro ini peralatan yang mereka sewakan adalah alat-alat hasil refurbishment barang second mungkin triple bahkan quadriple hand. Bisa dibilang banyak yang sudah tidak layak kondisinya. Maka kita juga membagi pengetahuan bagaimana agar perlatan mereka layak pakai.

Suatu hari kita diberi tahu salah satu teman windsurfing kami tempat anak-anak Bali berlatih windsurf, maka kita berangkat ketempat tersebut di ujung Utara wilayah Sanur. Kita ketemu dengan Kenji, Sasha, Putu dan Kadek serta beberapa anak lain baru selesai berlatih. Anak-anak ini adalah anak-anak asuhan pak Wayan Sewiko. Ada beberapa anak usia awal belasan yang sering keluyuran di sekitar lingkungan tempat pak Wayan. Kehidupan dan lingkungan yang kurang baik untuk perkembangan anak-anak memanggil pak Wayan untuk bertindak. Anak-anak asuhan pak Wayan adalah anak-anak yang meski orang tuanya ada tapi entah kenapa anak-anak ini kurang diperhatikan oleh orang tuanya mungkin karena sibuk bekerja.

Dengan adanya hotel-hotel di sepanjang pantai pantai di Bali maka muncul juga cafe-cafe dan bar di dekatnya sebagai bagian dari industri wisata. Kehidupan malam dan alkohol bukan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan anak-anak. Tapi apa mau dikata begitulah adanya kehidupan di Bali sebagai tempat tujuan wisata. Windsurfing adalah darah daging bagi pak Wayan dan dia sangat mencintai windsurf. Peralatan miliknya sudah uzur seperti usianya dan kadang-kadang saja laku untuk disewakan tapi dibuang sayang. Karena kasihan dan takut anak-anak memasuki usia remaja yang sering keluyuran disekitarnya itu terbawa arus dengan lingkungan yang kurang baik maka pak Wayan merelakan peralatan windsurfingnya yang sudah tua dipakai bermain oleh anak-anak.

Anak-anak binaannya kebanyakan duduk di bangku SMP semuanya dibawah usia 15 tahun. Club pak Wayan terbuka untuk anak-anak mana saja yang ingin dan berniat untuk belajar windsurf. Niat pak Wayan yang paling utama adalah memberikan kegiatan yang positif kepada anak-anak. Semua anak asuhan di clubnya diwajibkan untuk bersekolah dan tidak boleh menjadi anak jalanan, tidak boleh merokok, mencoba-coba alkohol apalagi narkotika. Pak Wayan cukup keras bertindak kalau ada yang melanggar dengan mengeluarkannya dari club tapi dalam hal melatih pak Wayan ternyata sangat santai dan membiarkan anak-anak just having fun di pantai. Dengan peralatan seadanya yang sudah direfurbish berulang-ulang anak-anak tetap saja menyukainya mungkin karena pak Wayan membiarkan mereka hanya bermain setiap usai jam sekolah dan kapan saja setiap mereka mempunyai waktu senggang. Windsurf memang harus dilakukan dengan santai, dan gembira. Pak Wayan boleh bangga, diantara anak-anak hasil binaannya sering merebut podium diajang kompetisi tingkat nasional.

Kalau ada yang ke Bali dan peduli dengan anak-anak asuhan pak Wayan ini maka mampirlah ke pantai ke tempat pak Wayan Sewiko yang tidak jauh dari museum Le Majuer. Atau perhatikan anak-anak disekitar kalian. Adakah yang lontang-lantung diluaran dan merasa jenuh bosan dengan lingkungannya. Pada usia belasan biasanya anak-anak sudah tidak suka bermain di rumah, mereka suka bermain di luaran. Jangan biarkan mereka terjerumus pada kehidupan jalanan, terlibat perkelahian dan tawuran apalagi alkohol dan obat bius. Berikan mereka kesempatan serta tempat bermain diluar rumah yang positif untuk membangun jiwa dan raganya.


Leave a comment

Pencurian Bayi dari RS Bersalin, kenapa bisa terjadi?

Beberapa waktu lalu ada berita tentang pencurian bayi baru berumur beberapa jam dari sebuah RS Bersalin di Jakarta. Kok bisa ya? Dari berita yang ditulis disebutkan bahwa pencuri bayi tersebut mengaku-aku sebagai perawat saat meminta bayi dari salah satu keluarga. Atas pencurian bayi tersebut pihak keluarga menyalahkan pihak rumah sakit karena banyak perawat di klinik bersalin tersebut yang tidak menggunakan seragam.

Saya sendiri melihat persoalan ini bukan dari seragamnya. Sudah pasti dan tidak bisa ditawar-tawar bahwa seorang perawat harus menggunakan seragam, tapi seragam itu tidak akan menghalangi niat buruk seseorang. Hanya sedikit memberikan hambatan tapi tidak akan menyurutkan. Kalau seseorang memang sudah berniat mencuri bayi tersebut, seberapalah arti harga seragam perawat dibanding harga bayinya, masih bisa ditiru dan dipalsukan, ya tidak? Nah kalau bayi saja bisa dicuri dari RS berarti peralatan dan perlengkapan rumah sakit yang mahal-mahal itu juga beresiko tinggi untuk dicuri juga sebenarnya.

Sebagai orang-orang Teknik Sipil yang bergelut di bidang bangunan mari kita telaah dari sudut pandang kita.  Puskesmas dan klinik di Indonesia seringkali tidak dibangun berdasarkan perencanaan yang matang. Coba saja perhatikan terutama RS yang kecil-kecil di daerah, klinik dan puskesmas. Banyak yang dibuat diatas bangunan dengan desain seperti bangunan kebanyakan bukan dengan perencanaan yang khusus berdasarkan peruntukkannya sebagai tempat layanan kesehatan. Bahkan tidak kurang bangunan dengan desain rumah tinggal disulap menjadi klinik.

Nah mengenai kasus di RS Bersalin yang sering kecolongan bayi itu kita harus lihat system yang ada pada Rumah Bersalin tersebut, bagaimana kondisi pembagian area dari bangunannya. Kenapa kok orang yang tidak berkepentingan bisa dengan mudahnya ‘blusak-blusuk’. Apalagi bayi yang dicuri baru berumur beberapa jam. Adakah pemisahan yang jelas antara Red Area (100% steril), area yang hanya boleh dilalui oleh staff RS saja (setengah steril), area yang boleh dimasuki publik hanya pada jam-jam bezoek saja, dan public area dimana out pasien, pengunjung dan siapa saja bebas berlalu-lalang diluar jam bezoek.

Logikanya bayi yang baru lahir harus diletakan pada ruang bayi atau biasa disebut ‘Nursery’ pada area maternity, pada jam-jam bezoek bayi yang baru lahir bisa dilihat oleh visitor hanya dari jendela besar. Bayi yang baru lahir sangat sensitif dan mudah tertular penyakit. Sehingga bayi yang baru lahir tidak boleh tercemar dengan lalu lalang orang luar yang bisa saja membawa berbagai macam kuman dan penyakit. Visitors (pem-bezoek atau pengunjung pasien) bisa bertemu dengan orang tua bayi tapi bayi sendiri hanya boleh dilihat dari jendela kaca lebar pada ruang bayi. Ada tirai penutup pada jendela besar terbuat dari kaca tertutup tersebut dan hanya dibuka saat jam berkunjung selebihnya ditutup.

Saat jam menyusui ibu si bayi yang dalam kondisi sehat dan mampu berjalan sendiri datang keruang menyusui atau dalam istilah bahasa Inggrisnya disebut sebagai breast feeding room yang dibuat di area Nursery. Breast feeding dilakukan saat diluar jam bezoek. Ada nurse station tersendiri di area Nursery yang bertanggung jawab dengan pasien bayi tersebut. Jika Ibu si Bayi tidak mampu turun dari tempat tidur dan berjalan maka bayi baru bisa dibawa pada ruang rawat si Ibu, itupun harus dilakukan oleh perawat dari bagian Nursery. Dilakukan juga pada saat jam-jam diluar jam berkunjung. Pasien ibu-ibu yang baru melahirkan sendiri hanya boleh dikunjungi sanak saudara dan teman pada jam-jam berkunjung. Diluar jam berkunjung semua orang harus keluar dari area perawatan pasien dan ijin khusus hanya diberikan pada keluarga terdekat, semua tercatat pada buku tamu bagian control dan keamanan.

System seperti itu yang seharusnya berlaku pada Maternity Unit disebuah rumah sakit ataupun Rumah Bersalin. Jadi menurut saya Departemen Kesehatan harusnya segera bertindak melakukan pengawasan dan pembenahan dengan adanya penyedia layanan kesehatan yang diluar standard tersebut. Dan juga jangan sampai terjadi RS dengan standard Puskesmas mengaku-aku sebagai RS berstandard International. Sementara seragam perawat sendiri yang berwarna putih itu mempunyai makna hygienic. Kalau dokter dan perawat tidak mengganti pakaiannya yang dipakai keluyuran diluaran (saat naik kendaraan umum misalnya) dengan pakaian seragam yang putih bersih dan steril saat mulai bekerja melayani pasien maka patut diragukan tingkat kebersihan dari RS-nya.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengetahuan yang saya dapat selama magang dan bekerja sebagai staf non permanent di perusahaan yang bergerak dibidang pengadaan dan perawatan alat-alat kesehatan, Hospital Engineering GmbH, Tripoli. Dan hanya sekedar untuk share apa yang saya pikirkan tentang kasus-kasus yang saya baca di koran dan untuk sekedar bahan omongan, kalau bermanfaat tentunya saya merasa senang tapi sekiranya mengganggu maka silahkan di skip saja jangan terlalu dipikirkan dan diambil hati. Terima kasih.