Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


2 Comments

Made in Thailand

Masih melanjutkan persoalan krisis usia pertengahan kali ini menyangkut tentang body transformation. Obrolan di grup berlanjut, kali ini gantian aku yang tanya, ‘apakah pria jadi bernafsu ketika melihat boobs dan bokong indah wanita?’. Jawabannya benar-benar membuat galau wanita paruh baya pada umumnya karena wanita yang sudah tidak punya boobs dan bokong indah pasti merasa sudah tidak diinginkan lagi.

Seorang wanita yang sudah mendekati paruh baya tubuhnya sudah tidak sekencang dulu lagi. Tubuh yang tambun saat hamil kemudian diet yang ketat sesudahnya, tubuh jadi melar mengkerut secara drastis, ditambah kurang olah raga otot-ototpun menghilang terutama otot yang menyangga payudara supaya tetap tegak menantang. Tummy and tuck, operasi pasang boobs di Thailand rasanya perlu didukung untuk meningkatkan kepercayaan diri seorang wanita, suami yang mampu membiayai seharusnya juga mensupport demi kesenangannya juga dan keluarga tetap harmonis.

Aku sendiri belum perlu dan bersyukur meski tidak suka pakai beha masih bisa bangga kalau teman-teman sesama wanita seusia melirik bentuk tubuhku. Lagi pula bagaimana mungkin aku melakukan tummy and tuck jika lihat gerbang rumah sakit dan jarum suntik saja aku sudah lari sipat kuping seperti kucing kecil yang takut dengan kucing garong. Memikirkan small operation pakai laser untuk buang kutil saja bikin aku keringat dingin apalagi mau menghadapi scapel, pisau operasi. Tapi untuk wanita yang memerlukan dan mampu melewati kesakitan pasca operasi tidak ada salahnya. Saran dari teman-teman yang sudah melakukan : ‘jangan lihat rumah sakitnya tapi carilah dokter yang benar-benar ahli dan pekerjaannya bisa dipertanggung jawabkan supaya tidak kecewa, jangan sampai maunya jadi bagus malah jadi bencana’.

 

Advertisements


Leave a comment

Mid aged crisis

Sudah lama mau nulis jurnal tentang hal ini sejak aku sendiri memasuki usia setengah abad, judul draft tulisan inipun sudah lebih dari setahun ada dalam kotak draft tapi tidak pernah publish malah konsep serta ide awal jadi lupa sama sekali. Teringat kembali untuk menulis jurnal krisis usia pertengahan ini gara-gara seorang teman cowok yang usianya sepantaran menanyakan, ‘apakah wanita akan bernafsu ketika melihat pria yang ganteng?’. Entah apa yang ada dalam benak dia sehingga dia menanyakan hal itu.

Dalam hati geli juga baca pertanyaan dia di grup Whatsapp, tapi tidak ada pertanyaan lebih lanjut kenapa dia bertanya seperti itu. Karena obrolan lewat grup selalu pendek-pendek dan sering tidak fokus, masing-masing member punya pemikiran berbeda-beda sehingga ada berbagai komentar ketika menanggapi suatu pertanyaan. Dalam hati menebak-nebak, apa dia sudah merasa tidak ganteng lagi? Usia pertengahan untuk seorang pria umumnya rambut di kepala mulai menipis dan perut buncit, mungkin dia galau merasa sudah tidak diinginkan lagi.

Usia setengah abad apa yang aku alami dan rasakan seperti kembali memasuki situasi usia-usia remaja belasan tahun. Muncul keinginan untuk melakukan sesuatu yang berbeda, tapi juga ada ketakutan untuk out of the box. Seperti sedang berdiri di persimpangan jalan, persoalan menjadi lebih complex karena sudah menikah, tidak sendiri lagi, meski sudah tidak pernah berhubungan sex. Timbul pertanyaan dalam hati apakah aku masih menarik dan diinginkan pria. Kemudian muncul keinginan mengembalikan kulit dan bentuk tubuh seperti remaja lagi, ingin mempercantik diri. Apakah pria juga mengalami ketakutan yang sama?

Demi men-support dan menyenangkan hati teman masa kecilku itu supaya tidak galau maka aku bilang kalau dia adalah pria idaman semua wanita. Dan faktanya bisa dibilang memang demikian.


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas masalah yang lagi diperdebatkan mengenai tanda dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP yang lagi rame di Medsos.

Jadi sebenarnya siapa yang ERROR? Bapak supir taxi atau si Pak Polisi? Kemarin di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (Hmmm… mudah-mudahan tidak salah menyebut nama, nanti saya re-check kembali) tidak bisa menjawab secara gamblang karena katanya dia tidak melihat kasusnya secara langsung di lapangan. Bapak Kompolnas itu kemudian mengatakan bahwa kalau ada perdebatan sebaiknya diperdebatkan di pengadilan. Tapi siapa yang percaya pengadilan kasus-kasus lalu lintas. Pada kenyataannya di pengadilan tidak ada proses pengadilan yang adil. Yang ada hanya proses ketok palu. Pada akhirnya hanyalah situasi berbeli-belit yang menyusahkan, ongkos yang lebih mahal dan waktu terbuang.

Seorang Kompolnas seharusnya bisa menjelaskan bedanya dilarang PARKIR dan dilarang STOP. Apa sebenarnya kriteria dilarang PARKIR dan apa kriteria dilarang STOP. Parkir, berarti pengendara mobil meletakkan kendaraannya di tempat dan lokasi tertentu, pengendara mematikan mesin, dan meninggalkan kendaraan dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan Stop, atau berhenti berarti kendaraan diletakkan pada tempat dan lokasi tertentu, mesin kendaraan bisa masih hidup atau dimatikan, pengendara masih berada di dalam kendaraan atau tidak jauh dari kendaraan, waktu berlangsungnya kegiatan atau durasi kendaraan berhenti adalah singkat, maka ini disebut sebagai STOP atau berhenti. Yang membedakan antara STOP dan PARKIR adalah durasinya. Inilah yang harus dibedakan. Selama ini tidak ada kriteria jelas durasi waktu antara yang disebut sebagai STOP dan PARKIR.

Saya sendiri sebenarnya meskipun sudah 32 tahun memiliki SIM juga jadi ikut-ikutan bingung menjelaskan berapa lama durasi yang dikatakan STOP atau berhenti sehingga berbeda dengan kriteria PARKIR. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya apa kriteria dilarang PARKIR dan dilarang STOP kalau di negaranya. Jawabanya ternyata lebih lugas dari seorang Kompolnas. Yang dimaksud dengan STOP itu artinya berhenti selama 0 sampai 10 menit. Sedangkan kendaraan berhenti lebih dari 10 menit artinya kendaraan itu diparkir. Jadi jika supir menghentikan kendaraan sementara ada larangan parkir maka masih diperbolehkan selama kendaraan berada di lokasi tersebut tidak lebih dari 10 menit. Jadi misalkan kita sedang berkendaraan tiba-tiba mendapatkan panggilan telephone penting dari telephone genggam dan kita ingin mengangkatnya, kemudian kita menghentikan kendaraan sementara ada tanda dilarang PARKIR kita bisa berhenti atau STOP di tempat itu selama tidak lebih dari 10 menit.

Jadiiiiii…. hehehe tidak salah Polisi lalu lintas Indonesia memang pantas dibully soal kasus penilangan seorang supir taxi yang berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Tidak salah kalau ada yang bilang Polisi Indonesia sama dengan Polisi dari hutan.


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas soal kasus seorang supir taxi yang ditilang karena berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Jadi siapa sebenarnya yang ERROR? Si supir taxi atau Pak Polisinya.

Semalam di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (mudah-mudahan tidak salah nulis nama, nanti saya re-check kembali) ketika ditanya tanggapannya mengenai kasus ini tidak bisa menjawab karena dia tidak melihat sendiri situasinya di lapangan. Kemudian dia melanjutkan jika ada perdebatan sebaiknya dibawa ke pengadilan. Tapi siapa yang percaya dengan pengadilan lalu lintas? Berdasarkan pengalaman pribadi pengadilan lalu lintas bukanlah sebuah proses pengadilan yang adil melainkan hanya sebuah proses ketok palu. Pada akhirnya pengadilan hanyalah sebuah proses yang lebih berbeli-belit yang memakan waktu dan ongkos yang lebih besar dibandingkan dengan tilang.

Sebenarnya tidak perlu ada perdebatan jika jelas apa kriteria dari tanda dilarang PARKIR dan apa kriteria dari tanda dilarang STOP atau berhenti. Sebuah kendaraan itu disebut PARKIR jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat ataupun berada jauh meninggalkan kendaraan, dengan waktu tidak terbatas. Sedangkan sebuah kendaraan itu disebut STOP jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat dengan kendaraan, dalam waktu yang terbatas. Jadi yang membedakan antara PARKIR dan STOP atau berhenti adalah durasi atau jangka waktu kendaraan itu berhenti.

Saya sendiri sudah memiliki SIM selama lebih 32 tahun sejak SIM Roda Dua pertama saya, terus terang ketika ditanya apa bedanya STOP dan PARKIR dan berapa durasinya saya juga jadi ikutan bingung menjawabnya. Saya coba tanya teman-temanpun ternyata tidak ada yang bisa menjawab juga. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya. Di negara dia di Austria apa beda tanda lalu lintas dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP. Dia menjawab dengan lugas bahwa kendaraan disebut STOP jika berhenti antara 0 sampai dengan 10 menit sedangkan kendaraan disebut PARKIR jika berhenti lebih dari 10 menit ke atas hingga tidak terbatas. Sebagai contohnya seorang supir disebut berhenti atau STOP di pinggir jalan jika seseorang sedang berkendaraan kemudian ada panggilan telephone penting dari mobilephone dan dia ingin mengangkat telepon untuk berbicara sementara dia tidak memiliki perangkat earphone ataupun bluetooth sehingga harus berbicara langsung melalui telephone kemudian dia berhenti di tepi jalan sementara ada tanda larangan PARKIR maka dia dapat menghentikan kendaraan di tempat tersebut selama tidak melebihi batas waktu yaitu 10 menit. Dalam hal ini supir STOP dan tidak meninggalkan kendaraan. Contoh lain adalah jika seseorang berkendaraan di depan pintu keberangkatan Bandara yang bertuliskan dilarang PARKIR sementara dia harus menghentikan kendaraan karena dia akan menurunkan penumpang, dia boleh menghentikan kendaraan di tempat tersebut, sementara dia juga dapat mematikan mesin dan keluar dari kendaraan, selama proses kejadian tersebut tidak melebihi batas waktu 10 menit maka proses itu termasuk kategori STOP atau berhenti dan bukan termasuk PARKIR.

Jadiiii… hehehe, pantaslah kalau Polisi Indonesia dibully karena kasus itu. Seorang Kompolnas saja tidak bisa menjawab dengan tegas. Polisi Indonesia memang Polisi dari hutan.


Leave a comment

Asean Economic Community

1 Januari 2016 adalah tanda dimulainya perjanjian masyarakat ekonomi Asean. Sebenarnya apalah saya ini, membicarakan perihal ekonomi, pembicaraan tingkat tinggi kaum politisi seperti ini. Hanya niat memberikan sumbangsih sebuah pemikiran demi selamatnya bangsa ini menghadapi perkembangan kehidupan di masa depan dengan tatanan ekonomi yang baru ini. Instingku mengatakan bangsa Indonesia akan menghadapi tantangan yang semakin berat, dikarenakan sebagian besar oleh sikap, sifat dan cara berpikir kita sendiri. Tingkah polah kita, baik itu orang-orang yang menjadi penyelenggara negara (saya lebih suka menyebut seperti ini, dari pada menyebut sebagai pemerintah apalagi sebutan sebagai penguasa, membuat aura yang tidak baik), maupun sebagian besar masyarakat kita.

Negara ini sangat besar, wilayah maupun jumlah penduduknya. Tapi dalam menjalankannya bisa dibayangkan seperti sebuah angkutan omprengan. Jalan dengan sebuah tujuan ya dengan trayek tertentu, tapi ya begitulah seperti Metromini asal terangkut selamat Alhamdulillah tidak ya emang gue pikirin, acak kadut kata orang, bandingkan dengan sebuah angkutan seperti sebuah maskapai penerbangan Singapore Airline. Semua ini bukanlah salah yang duduk sebagai penyelenggara negara semata, tapi memang begitulah kita. Orang-orang yang menjabat sebagai penyelenggara negara kan dari kita-kita juga, orang-orang yang kebetulan mempunyai keberuntungan terpilih untuk ada pada posisi itu. Tapi itulah cerminan kita semua begitulah keadaan masyarakat kita.

Okey stop complaining, jadi kita harus bagaimana?

Kita harus menghadapi MEA ini dengan SADAR WISATA. Uupss… bukan hal baru ya sepertinya. Memang ini bukan hal baru tapi pada kenyataan implementasinya melenceng menurut saya. Dan apa hubungannya sadar wisata dengan MEA? Baiklah begini penjelasannya. Dengan adanya MEA ini banyak perusahaan-perusahaan besar yang shifting industrinya di lokasi-lokasi negara-negara dengan infrastruktur industri yang lebih baik dan lebih mendukung. Dan itu bukanlah Indonesia. Apa yang kita bisa buat supaya tetap ada lapangan pekerjaan bagi beratus-ratus juta manusia di negeri ini, melainkan dengan memanfaatkan apa yang Allah berikan kepada kita yaitu alam kita yang indah ini. Yaitu menjadikannya tempat-tempat untuk orang mencari kesenangan untuk cuci mata dan buang uang. Industri wisata akan jadi tempat gantungan hidup kita di masa-masa beberapa tahun ke depan.

Sadar wisata yang aku lihat di Indonesia ini justru berkecenderungannya adalah untuk mengeksploitasi sebuah lingkungan. Membangun sesuatu di suatu tempat yang kecenderungannya merubah keadaan lingkungannya. Menempatkan suatu fasilitas yang pada akhirnya justru merusak keindahan yang ada. Masyarakat yang didoktrin untuk sadar wisata seolah-olah berlomba-lomba memanfaatkan, contoh saja, sebuah kawasan pantai indah berpasir putih, membangun persis di bibir pantai, tempat berjualan, warung-warung, toko souvenir, dan lain-lain. Semua ingin memiliki tempat itu, tapi bukan sense of belonging dalam arti bahwa semua orang berhak untuk menikmati, melainkan rasa memiliki yang berkata saya berhak untuk memanfaatkan. Itulah yang saya sebutkan sebagai kecenderungan untuk eksploitasi ketimbang menjaganya.

Mau saya masyarakat yang sadar wisata itu seharusnya berlomba-lomba menjaga lingkungan tempat wisata itu. Berlomba-lomba menjadikan tempat tinggalnya supaya asri dan indah dilihat. Rumah tinggal mereka dibangun dengan sebuah karakter yang berorientasi pada keindahan, nyeni kalau kata orang. Tempat tinggal, lingkungan, cara hidup dibuat seindah mungkin, selaras dengan keindahan alam dan lingkungan yang ingin ditampilkan pada dunia luar. Jika ingin mendapatkan manfaat dari kunjungan wisatawan lakukanlah dengan cara yang tidak langsung pada lokasi-lokasi wisatanya. Karena lokasi wisata harus tetap seperti apa adanya, hanya dibuat lebih rapi, ditata, tentukan dimana orang bisa duduk santai, dimana orang bisa memarkir kendaraan, bangunan hanya berupa tempat parkir, bangku-bangku taman, promenade, dan tempat-tempat untuk buang sampah. Bukan dengan berebut lahan untuk mendirikan sesuatu di lokasi. Jika ingin berjualan bangunlah tempat berjualan, warung, cafe, apalagi penginapan harus berada pada radius yang cukup jauh.

Jadi kesimpulan dari tulisan ini adalah dalam menghadapi MEA peluang ekonomi kita adalah pariwisata. Bagaimana masyarakat mensikapinya adalah dengan menjaga apa yang indah supaya tetap indah. Membuat lingkungan anugerah Allah tempat yang indah menjadi semakin indah dengan cara hidup yang nyeni, berkelas dan berbudaya. Bagaimana kita memanfaatkannya secara nyata, atau menjadikannya uang, lakukanlah jual beli seperti biasa, tapi bukan langsung di tempat orang berkumpul melainkan dengan radius yang tidak mengganggu keindahan tempat wisata itu sendiri. Sementara penyelenggara negara harus membuat aturan dan tata tertib dengan konsep yang sejalan dengan itu semua.