Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Never too old to learn

Sudah lama aku berangan-angan untuk belajar surfing. Sebenarnya aku juga sudah sering surfing tapi yang aku lakukan adalah windsurfing. Surfing di ombak dan Windsurfing adalah genre yang berbeda. Yang disebut surfing dalam watersport di dalam perkembangannya tumbuh menjadi beberapa cabang. Surfing di laut awal-awalnya hanya menggunakan sebilah papan luncur disebut sebagai Surfing. Pada perkembangannya kemudian sailing, aka menggunakan layar, dan berselancar di atas papan selancar disebut sebagai windsurfing. Lalu ada pula watersport dengan sebutan Kitesurfing. Yang disebut Kitesurfing adalah surfing menggunakan papan selancar dengan bantuan kite, atau layangan, meski bentuknya bukan seperti layangan tradisional, papan untuk luncurannya juga lebih mendekati bentuk papan wakeboarding. Itulah olah raga Surfing, masih banyak macam surfing-surfing yang lain. Selama ini aku windsurfing di open water tapi kondisi flat water, riding the small dune in the wave tapi belum berani benar-benar bermain-main ombak.

Meski sering membicarakan niat untuk belajar surfing, tadinya angan-angan ini cuma sekedar wacana saja. Berangan-angan untuk membuat progress pada kemampuan windsurfku, to the next level, untuk wave riding atau wave sailing seperti Jason Polakov. Windsurfing dengan bermain-main dengan ombak di laut berselancar di bibir ombak. Kemampuan bermain di ombak sudah termasuk sebagai advance windsurfer, berarti di atas level 5. Tapi sepertinya aku cuma omdo, dan tidak pernah benar-benar berusaha untuk mewujudkan angan-anganku, sampai beberapa hari lalu tiba-tiba aku mendapatkan tawaran free lesson dari Ripcurl School of Surf yang di Legian. Dasar mental gratisan hahaha. Terima kasih Ripcurl.

Saat saya tulis ini sedang berlangsung program sertifikasi instruktur untuk surfing di RSOS Legian Bali, dan mereka memberikan free lesson pada yang berminat belajar surfing untuk peserta program sertifikasi itu. Tanpa pikir panjang saya mengajukan diri menjadi model student. Belakangan setelah mendaftar sebenarnya aku agak sedikit minder juga karena pendaftar-pendaftar lain ternyata semuanya muda-muda. Aku satu-satunya yang sudah oma-oma. Malu juga kalau nggak nyampe otak ini untuk menangkap semua instruksi pengajar meski cuma sekedar belajar surfing. Kasihan juga kan yang lagi mengejar sertifikasi, big challenge ngajarin orang yang sudah dedel otaknya.

Akhirnya never too old to learn, hanya butuh komitmen untuk hadir di kelas, dan selebihnya semesta mendukung. Mendapatkan instruktur yang baik memungkinkan aku mendapatkan ombak pertamaku. Meski masih jauh perjalananku untuk menjadi wave rider.

 

Advertisements


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas masalah yang lagi diperdebatkan mengenai tanda dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP yang lagi rame di Medsos.

Jadi sebenarnya siapa yang ERROR? Bapak supir taxi atau si Pak Polisi? Kemarin di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (Hmmm… mudah-mudahan tidak salah menyebut nama, nanti saya re-check kembali) tidak bisa menjawab secara gamblang karena katanya dia tidak melihat kasusnya secara langsung di lapangan. Bapak Kompolnas itu kemudian mengatakan bahwa kalau ada perdebatan sebaiknya diperdebatkan di pengadilan. Tapi siapa yang percaya pengadilan kasus-kasus lalu lintas. Pada kenyataannya di pengadilan tidak ada proses pengadilan yang adil. Yang ada hanya proses ketok palu. Pada akhirnya hanyalah situasi berbeli-belit yang menyusahkan, ongkos yang lebih mahal dan waktu terbuang.

Seorang Kompolnas seharusnya bisa menjelaskan bedanya dilarang PARKIR dan dilarang STOP. Apa sebenarnya kriteria dilarang PARKIR dan apa kriteria dilarang STOP. Parkir, berarti pengendara mobil meletakkan kendaraannya di tempat dan lokasi tertentu, pengendara mematikan mesin, dan meninggalkan kendaraan dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan Stop, atau berhenti berarti kendaraan diletakkan pada tempat dan lokasi tertentu, mesin kendaraan bisa masih hidup atau dimatikan, pengendara masih berada di dalam kendaraan atau tidak jauh dari kendaraan, waktu berlangsungnya kegiatan atau durasi kendaraan berhenti adalah singkat, maka ini disebut sebagai STOP atau berhenti. Yang membedakan antara STOP dan PARKIR adalah durasinya. Inilah yang harus dibedakan. Selama ini tidak ada kriteria jelas durasi waktu antara yang disebut sebagai STOP dan PARKIR.

Saya sendiri sebenarnya meskipun sudah 32 tahun memiliki SIM juga jadi ikut-ikutan bingung menjelaskan berapa lama durasi yang dikatakan STOP atau berhenti sehingga berbeda dengan kriteria PARKIR. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya apa kriteria dilarang PARKIR dan dilarang STOP kalau di negaranya. Jawabanya ternyata lebih lugas dari seorang Kompolnas. Yang dimaksud dengan STOP itu artinya berhenti selama 0 sampai 10 menit. Sedangkan kendaraan berhenti lebih dari 10 menit artinya kendaraan itu diparkir. Jadi jika supir menghentikan kendaraan sementara ada larangan parkir maka masih diperbolehkan selama kendaraan berada di lokasi tersebut tidak lebih dari 10 menit. Jadi misalkan kita sedang berkendaraan tiba-tiba mendapatkan panggilan telephone penting dari telephone genggam dan kita ingin mengangkatnya, kemudian kita menghentikan kendaraan sementara ada tanda dilarang PARKIR kita bisa berhenti atau STOP di tempat itu selama tidak lebih dari 10 menit.

Jadiiiiii…. hehehe tidak salah Polisi lalu lintas Indonesia memang pantas dibully soal kasus penilangan seorang supir taxi yang berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Tidak salah kalau ada yang bilang Polisi Indonesia sama dengan Polisi dari hutan.


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas soal kasus seorang supir taxi yang ditilang karena berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Jadi siapa sebenarnya yang ERROR? Si supir taxi atau Pak Polisinya.

Semalam di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (mudah-mudahan tidak salah nulis nama, nanti saya re-check kembali) ketika ditanya tanggapannya mengenai kasus ini tidak bisa menjawab karena dia tidak melihat sendiri situasinya di lapangan. Kemudian dia melanjutkan jika ada perdebatan sebaiknya dibawa ke pengadilan. Tapi siapa yang percaya dengan pengadilan lalu lintas? Berdasarkan pengalaman pribadi pengadilan lalu lintas bukanlah sebuah proses pengadilan yang adil melainkan hanya sebuah proses ketok palu. Pada akhirnya pengadilan hanyalah sebuah proses yang lebih berbeli-belit yang memakan waktu dan ongkos yang lebih besar dibandingkan dengan tilang.

Sebenarnya tidak perlu ada perdebatan jika jelas apa kriteria dari tanda dilarang PARKIR dan apa kriteria dari tanda dilarang STOP atau berhenti. Sebuah kendaraan itu disebut PARKIR jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat ataupun berada jauh meninggalkan kendaraan, dengan waktu tidak terbatas. Sedangkan sebuah kendaraan itu disebut STOP jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat dengan kendaraan, dalam waktu yang terbatas. Jadi yang membedakan antara PARKIR dan STOP atau berhenti adalah durasi atau jangka waktu kendaraan itu berhenti.

Saya sendiri sudah memiliki SIM selama lebih 32 tahun sejak SIM Roda Dua pertama saya, terus terang ketika ditanya apa bedanya STOP dan PARKIR dan berapa durasinya saya juga jadi ikutan bingung menjawabnya. Saya coba tanya teman-temanpun ternyata tidak ada yang bisa menjawab juga. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya. Di negara dia di Austria apa beda tanda lalu lintas dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP. Dia menjawab dengan lugas bahwa kendaraan disebut STOP jika berhenti antara 0 sampai dengan 10 menit sedangkan kendaraan disebut PARKIR jika berhenti lebih dari 10 menit ke atas hingga tidak terbatas. Sebagai contohnya seorang supir disebut berhenti atau STOP di pinggir jalan jika seseorang sedang berkendaraan kemudian ada panggilan telephone penting dari mobilephone dan dia ingin mengangkat telepon untuk berbicara sementara dia tidak memiliki perangkat earphone ataupun bluetooth sehingga harus berbicara langsung melalui telephone kemudian dia berhenti di tepi jalan sementara ada tanda larangan PARKIR maka dia dapat menghentikan kendaraan di tempat tersebut selama tidak melebihi batas waktu yaitu 10 menit. Dalam hal ini supir STOP dan tidak meninggalkan kendaraan. Contoh lain adalah jika seseorang berkendaraan di depan pintu keberangkatan Bandara yang bertuliskan dilarang PARKIR sementara dia harus menghentikan kendaraan karena dia akan menurunkan penumpang, dia boleh menghentikan kendaraan di tempat tersebut, sementara dia juga dapat mematikan mesin dan keluar dari kendaraan, selama proses kejadian tersebut tidak melebihi batas waktu 10 menit maka proses itu termasuk kategori STOP atau berhenti dan bukan termasuk PARKIR.

Jadiiii… hehehe, pantaslah kalau Polisi Indonesia dibully karena kasus itu. Seorang Kompolnas saja tidak bisa menjawab dengan tegas. Polisi Indonesia memang Polisi dari hutan.


Leave a comment

Tinggal di Perbatasan

Tidak terbayangkan kalau saya harus tinggal di daerah perbatasan Indonesia dengan negara lain, jangankan dengan negara lain perbatasan antar kota saja sudah masalah. Kehidupan masa kini sudah tidak bisa lepas dari kebutuhan akses telpon seluler dan internet, dan tinggal di daerah perbatasan adalah bagian lokasi yang selalu tertinggal dari kemajuan. Termasuk daerah-daerah perbatasan antara dua kota seperti antara kota Denpasar dan kota Gianyar.

Tinggal di perbatasan mencari sinyal 3G  /HSPA untuk akses internet yang tidak lelet merupakan sebuah perjuangan. Harus berjuang mencari kesana kemari dan juga harus berani malu. Diantaranya nongkrong internetan di depan minimarket yang akses internetnya bagus. Di daerah saya di dekat jalan raya Bypass Ida Bagus Mantra akses internetnya bagus. Tapi beberapa meter saja dari tepi jalan akses 3G sudah tidak ada, cuma dapat akses 2G yang sangat terbatas. Rumah tinggal saya sebenarnya tidak terlalu jauh masuk kedalam tapi tidak dapat sinyal. Jadi tidak bisa blogging atau sekedar main di jaringan social network. Jangankan akses internet untuk akses telephone selular saja juga terbatas, tidak semua sinyalnya bagus. Di rumah sebenarnya ada land telephone dan bisa pasang Speedy. Di jalan Bypass tidak jauh juga terpampang baliho iklan Speedy yang sangat besar, tapi waktu saya datang ke Telkom untuk pasang internet di rumah jawabnya untuk daerah saya masih waiting list. 😦

Mini market dekat rumah itu adanya di Bypass Ida Bagus Mantra. Beruntung mini market ini termasuk sangat baik, menyediakan kursi-kursi dan payung dibagian teras untuk pelanggannya. Karena tinggal di kompleks yang tidak jauh jadi pegawai minimarket tersebut sudah cukup mengenal saya. Masih bisa bermuka tebal dan berani malu untuk duduk-duduk di tempat itu sambil buka laptop meski tidak sedang belanja apa-apa di mini marketnya. Teman-teman dan tetangga-tetangga saja yang suka ngledekin. Kendala lain adalah waktunya terbatas, cuma selama baterai masih on. Kalau hujan dan angin juga tidak bisa internetan, dan kalau lagi di tengah-tengah meng-akses internet ternyata hujan berangin ya terpaksa harus minggir cari tempat berteduh.


Leave a comment

Sampah, sampah, sampah

Image

Ya lagi-lagi bicara sampah yang bertebaran dimana-mana. Orang Indonesia memang jorok, lebih tepat lagi tolol untuk urusan mengelola sampah. Tidak punya solusi bagaimana cara mengatasi sampah yang terus menggunung. Orang Bali dulu kala sangat arif terhadap lingkungan tapi budaya itu sudah luntur dan tergerus oleh jaman. Tidak beda antara orang Bali dan orang Jakarta, sama saja, kali dan sungai, tukad dan yeh adalah tempat buangan sampah.

Sering di Bali diadakan kegiatan ‘Beach Cleaning Day’, kegiatan memunguti sampah di pantai oleh berbagai organisasi masyarakat sebagai bentuk kepedulian mereka pada lingkungan. Terus terang saya angkat topi pada mereka yang mau kerja keras memunguti sampah di pantai itu. Mereka adalah orang-orang yang sungguh baik hati dan sangat peduli. Tapi maaf harus saya katakan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah kerja keras, bukan kerja pintar. Seharian mereka memunguti sampah beberapa jam selanjutnya kembali sampah menumpuk ketika air pasang dan kemudian surut kembali. Orang-orang yang peduli itu membuat reklame besar-besar dan berkampanye untuk membersihkan pantai semata. Tapi apa yang mereka lakukan hanya peduli dan bukan solusi. Solusinya adalah memelihara daerah aliran sungai dan menghindarinya dari pembuangan sampah apapun, padat maupun cair.

Dulu kala orang Bali memuja gunung-gunung yang tinggi seperti Gunung Agung. Karena keyakinan bahwa dari sanalah sumber kehidupan. Dari gunung yang ditumbuhi hutan lebat yang mengalirkan air pada sungai besar dan kecil. Sungai-sungai mengairi sawah-sawah, ladang dan kebun yang menumbuhkan padi dan sayur mayur sebagai sumber pangan dan kehidupan. Tapi sekarang, orang Bali menjual sawah dan ladang mereka kepada orang asing atau menyewakannya untuk hotel dan villa, terutama di Denpasar dan sekitarnya. Orang Bali tidak peduli lagi dengan sungai-sungai mereka apakah bisa untuk mengairi sawah atau tidak. ‘Jangan bilang yang buang sampah itu orang pendatang’. Seperti kebiasaan orang Bali sering menyalahkan pendatang dari Jawa. Tidak. Sampah yang bertebaran di pantai bukan sampah kiriman dari Jawa tapi dari sungai-sungai, yeh dan tukad di Bali sendiri. Dan yang buang sampah ke kali dan sungai itu orang Bali sendiri, orang lokal, orang-orang yang tinggal di Bali, bukan orang lain. Mereka sendiri yang justru mengajari para pendatang yang bahkan juga orang asli pulau Bali, hanya saja mereka datang dari berbagai pelosok pulau Bali seperti dari Karang Asem, Buleleng atau Negara. Justru pendatang dari jauh apalagi expat dan orang asing sangat memikirkan bagaimana sebaik-baiknya mengurangi pemakaian plastik supaya jangan banyak menumpuk jadi sampah. Karena mereka mencintai keindahan Bali, itu sebabnya mereka tinggal di Bali.

Tapi apa daya pantai-pantai yang indah sekarang sudah mulai rusak oleh perlakuan orang Bali terhadap sungai-sungai mereka. Sampah yang terbanyak bukan sampah karena turis buang sampah di pantai. Sampah yang ada di pantai datang dari sungai-sungai. Silahkan saja lihat dan periksa sendiri, jenis sampah yang ada bukan sampah plastik dari makanan para turis. Sampah-sampah yang bertebaran di pantai sangat beragam tapi bukan hal-hal yang berhubungan dengan keberadaan hotel-hotel dan turis ataupun kegiatan pariwisata, tapi berhubungan dengan kehidupan sehari-hari orang asli, penduduk lokal, orang yang tinggal di Bali, apakah itu pendatang dari Jawa atau orang Bali asli pendatang dari Negara, Buleleng, Karang Asem, Bangli dll.

Biang kerok sampah yang menumpuk di pantai datangnya dari semua sungai, tukad dan yeh yang mengalir ke pantai dan orang-orang lokal yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang mempunyai kebiasaan jorok menggelontorkan sampah ke sungai-sungai. Mereka yang lupa pada kearifan nenek moyang bahwa gunung yang mengalirkan air yang bersih di sungai-sungai hingga ke muaranya di pantai adalah sumber kehidupan. Mereka tidak tahu bahwa pantai yang indah akan tetap indah jika sungai-sungai mengalirkan air yang bersih. Mereka bahkan tidak tahu bahwa suatu saat orang tidak mau lagi pergi melihat Bali karena pantai-pantainya penuh sampah dan airnya berbau akibat sungai yang kotor, jorok dan jadi tempat buangan sampah manusia.

Orang Bali masih memuja Gunung Agung tapi melupakan ke-arifan dan makna dari apa yang mereka dan nenek moyang mereka yakini pada jaman dulu kala. Mereka pikir pantai-pantai berpasir putihlah sumber kehidupan di Bali sekarang ini. Ombak-ombak besar untuk berselancar dan hotel-hotel yang memberikan pekerjaan. Mereka lupa bahwa sungai-sungai dengan air bersih yang mengalir dari puncak gunung yang tinggi adalah sumber kehidupan, dulu maupun sekarang, tetap dan masih jadi sumber kehidupan. Meski sekarang orang Bali di Denpasar dan sekitarnya tidak lagi menggunakan sungai untuk sawah – ladang, tapi sebenarnya sungai masih jadi sumber kehidupan orang Bali, untuk sumber air bersih bagi hotel-hotel yang dibangun di sepanjang pantai dan juga untuk semua yang hidup dari pariwisata, dari pemandangan pantai yang mereka jual. Semua pantai dari Barat sampai ke Timur adalah muara dari begitu banyak sungai besar dan kecil, yeh dan tukad, yang mengalir ke Selatan dari gunung-gunung tinggi di Bali.


Leave a comment

Bali Sanur Windsurfing

I found many information in the internet forum asking for windsurfing in Bali and people are telling people that there are some good wind in Bali but no windsurf facilities. Also, it is not one time tourist pass in front of our friend’s, Pedro, windsurf station comment : “Oo, I never know that there is windsurfing in Sanur”.

This is not true that there’s no windsurf in Bali. Windsurf in Bali start already since long time since the era of Robby Naish in the 70’s. Many local windsurfer admiring and fans of Robby Naish, at least they know when we are talking about him. And there’s Indonesian windsurfer, Oka Sulaksana, he is now almost 40 years old, he was very strong in South East Asian and Asian competition when he was young. But that’s it, and the developing of this sport in this country is very slow, this is correct. Yes, as a windsurfer and as an Indonesian I am not happy with this.

But it was long time ago when not much facilities to windsurf in Bali. These last two years around 2009 until this time 2011, there’s some changes, little bit development in windsurf community in Bali. With dedication to the sport we (me and my husband, thanks to him) run a windsurf shop in Sanur area called ‘Jump and Jibe’, where you can find complete equipment and accessories and repair parts. Pedro a guy from Flores, the other island in Indonesia, he was several years living in Japan, with his friends he start running a windsurf station at Mertasari beach called ‘Ocean Cowboys’, live up the beach with better and more modern equipment compare to several old crapy windsurf station in Sanur area.

I agree when people say windsurfing in Indonesia not developing very well compare to the potensi of the country. Our problem is there’s no support from Indonesian goverment to developing it. We found many Mistral One Design used in several rental place, coming from Porlasi, Indonesian Sailing Association, those stuff are used for the KONI (sport organization) before. It is true that boards for slalom, freeride, or wave sailing are really really hard to find. Okey a wave sailing board not really need in Bali, because the wind and good wave never come together. But slalom and freeride boards with medium to bigger size sails is needed. Our experience in importing stuff for our shop is we are robbed and pressed by the goverment, I think the situation is worse than during the Dutch colonial goverment. The import rules, the trading rules, the shop registration, the taxes, all are crazy. It is an antagony, and contra productive to the tourisme campaign made by the goverment and the Board of Tourisme.

Anyway, the aim of what I write now is to tell the world that Sanur – Bali can be one of your windsurf destination. And with all the troubles we have in developing windsurf in Indonesia you still can windsurf in Sanur Bali with good equipment and reasonable price. And when you need information about when and where to windsurf in Bali just call us in +62 812 814 959 34 or check our web site : www.jumpandjibe.com or email us at : info@jumpandjibe.com or jumpandjibe@gmail.com or our Facebook. We can arrange your windsurf tour or to help you make deal with Pedro’s windsurf station or to get contact direct to him. His place also a place for tourist information. This our shop looks like from outside, you wont missed it because it is on the main street in Sanur-Bali.


Leave a comment

Pencemaran di Kawasan Sanur Reef

Kebiasaan kami berdua, saya dan suami, adalah melakukan beach walking di dasar perairan Sanur Reef saat sore hari menjelang purnama atau setelah purnama karena air surut banyak sehingga berjalan kaki bisa dilakukan hingga ke mercu suar di ujung reef terluar, meski kita belum pernah melakukan jalan sampai ke mercu suar itu. Sambil melakukan beach walking kita mengamati makhluk-makhluk yang hidup di air dangkal seperti siput-siput, landak laut, timun laut, dan berbagai jenis bintang laut.

Terakhir kami mengamati perairan Sanur Reef adalah pada tanggal 20 Maret 2011 lalu. Betapa shock-nya kami saat melihat keadaan perairan di kawasan Sanur Reef ini. Kondisinya berbeda jauh dengan keadaan tiga bulan yang lalu apalagi dengan keadaan 6 bulan sebelumnya. Kondisi terakhir yang kami lihat, seaweed dan ganggang laut berkembang luar biasa pesat. Tidak ada lagi kawasan di Sanur Reef ini yang tidak tertutup oleh seaweed dan ganggang. Seluruh dasarnya full dipenuhi ganggang. Dan sebaliknya hewan-hewan perairan dangkal seperti timun laut, bintang laut, dan berbagai binatang lunak lain yang biasa saya lihat jumlahnya menurun sangat tajam.

Air laut di kawasan Serangan channel dan Sanur Reef akhir-akhir ini memang keruh luar biasa, bukan cuma keruh tapi sudah berwarna ke coklatan. Sampah seperti biasa tetap banyak mengambang dan terbawa arus, mulai dari sampah bekas sembahyang seperti tatakan sesaji dari daun janur kering, potongan kayu dan bambu, plastik-plastik kemasan makanan ringan dan kantong plastik, sedotan, gelas, botol plastik dan kaleng aluminium bekas minuman ringan, hingga binatang mati serta serpihan janin hasil aborsi. Tapi yang paling mengganggu jika sedang melakukan watersport dan sunbathing di Sanur beach dan Mertasari beach adalah bau menyengat yang terbawa angin dari arah Serangan Channel, bau busuk menyengat aroma sampah, seperti bau amoniak. Bau ini sudah pasti berasal dari TPA Suwung. Tapi saya tidak tahu pasti apakah air keruh di perairan Sanur reef ini diakibatkan leakage (cairan hitam yang terbentuk pada timbunan sampah) dari TPA atau diakibatkan hujan yang membawa material lumpur dan mengotori perairan, karena tukad-tukad dan saluran-saluran seewage (pembuangan air kotor) di daerah Denpasar Timur banyak yang bermuara di Serangan Channel dan arus pasang-surut memudahkan penyebaran keseluruh kawasan Sanur Reef.

Pertumbuhan ganggang dan seaweed yang sangat pesat memang ada hubungannya dengan penurunan kualitas air laut. Saya belum tahu apakah pemerintah Bali dan Denpasar khususnya mengetahui kondisi ini. Yaitu pencemaran air laut luar biasa yang sedang terjadi. Maksud saya menceritakan dan menyebarkannya ke publik adalah untuk memanggil para pecinta lingkungan, orang-orang yang bergerak dalam penyelamatan lingkungan dan pemerintah Denpasar untuk mengetahuinya dan berusaha mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mencegah kerusakan masive lingkungan di kawasan Sanur Reef. Dan pertanyaan saya mau dibawa kemana pariwisata kawasan Sanur?

NOTE :
Yang saya harap dilakukan oleh pengamat, pecinta dan penyelamat lingkungan serta pemerintah adalah :

  1. Menguji dan menganalisa kadar pencemaran air laut yang sedang terjadi di dalam perairan Sanur Reef terutama tempat dimana digunakan untuk watersport dan kegiatan pariwisata. Serta mencari darimana asal pencemarannya.
  2. Mengambil tindakan seperti membuat area pengolahan air limbah di muara seewage sebelum air dialirkan dan dibuang ke laut.
  3. Me-review kembali keputusan menggunakan kawasan Suwung sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan merencanakan system sanitary landfill di area lain yang tidak berada di lokasi dengan muka air tanah yang tinggi, apalagi daerah rawa-rawa, pada saat air pasang air laut naik masuk jauh kedaratan dan pada saat surut membawa sebagian sampah ketengah laut.

Hal-hal kecil yang bisa dilakukan semua orang adalah :

  • Memisahkan sampah plastik dan sampah organik, sehingga memudahkan pemulung mengambil barang-barang yang bisa di recycle.
  • Mengurangi pemakaian bahan-bahan dengan kemasan isi ulang, karena kemasannya tidak bisa di recycle.
  • Membeli shampoo, sabun cair, pembersih, pewangi dan deterjen dengan kemasan yang besar sekaligus terutama untuk keluarga sangat memungkinkan, jangan dengan kemasan kecil-kecil berupa sachet sehingga mengurangi sampah kemasannya.
  • Mintalah kopi dan teh yang disajikan di dalam cangkir porselen, dan makanan pun dengan piring porselen jika sedang hangout di café dan resto, bukan dengan gelas, piring serta sendok dari kertas karton berlilin, plastik atau styrofoam maupun sedotan plastik. Dan menurut saya kopi dan teh jauh lebih nikmat bila menggunakan cangkir porselen. Makan pun lebih nikmat diatas piring kaca atau porselen dengan sendok garpu logam dari pada makan pakai barang-barang terbuat dari plastik.