Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Kampung Waerebo

Untuk mengademkan pikiranku dari hiruk pikuk politik dan kejadian di Jakarta aku ingin menyimpan dan membagikan kenangan indah jalan-jalan bersama teman-teman SMP ku. Kami jalan-jalan ke Flores, melakukan trekking ke negeri di atas awan, Kampung Waerebo. Perjalanan kami sebenarnya bukan cuma ke Waerebo melainkan ini adalah bagian Overland kami di Pulau Flores. Tapi tulisan ini khusus saya buat hanya tentang Waerebo saja. Karena perjalanan yang lumayan challenging buat kami. Melakukan trekking ke gunung layaknya perjalanan anak-anak muda. Semboyan kami “Life begun at Fifty” #MenolakTua.

 

Tepat saat berlangsungnya Pilkada DKI putaran yang ke-dua, tanggal 19 April, kami berangkat terbang menuju kota di ujung Barat Pulau Flores. Labuhan Bajo. Ini kali ke-dua saya dan teman-teman terbang ke sana. Lupakan Pilkada DKI, seorang teman yang warga DKI juga harus merelakan hak pilihnya terbuang demi perjalanan ke Waerebo, untung saja Anies-Sandi pilihannya menang telak atas Ahok sehingga dia tidak menyesal. Dari Labuhan Bajo kita akan memulai perjalanan kami kali ini. Sedikit ketar-ketir ketika penerbangan saya dengan Wings Air grup dari Lion Air yang terkenal sebagai raja delay. Untung tidak banyak terlambat kita hanya terlambat selama 1 jam. Jam 4 sore ketika akhirnya saya dan adik saya keluar dari area bagage claim Kedatangan Airport Komodo. Terlihat satu-satunya mobil Hi-Ace sewaan terparkir di ujung area penjemputan. Si Pinky sudah menanti kami semua.

Untuk menuju Waerebo kami terlebih dahulu harus bermalam di kota Ruteng, Ibu kota Kabupaten Manggarai. Karena dengan jadwal kedatangan pesawat kami tidak mungkin kami langsung menuju destinasi utama Waerebo. Malam itu kita menginap di Susteran Maria Berduka. Jalan menuju Ruteng cukup mulus dan kita bisa sampai Ruteng nyaris ketika Gerbang Susteran sudah mau ditutup. Yah, memang agak mepet waktunya, sampai suster berkali-kali menelpon tour guide kita Bu Dwi menanyakan kapan kita akan sampai di Susteran. Perlu diingat buat yang rencana menginap di sana, gerbang Susteran ditutup tepat jam 9 malam, aturan biara yang tidak bisa dikutak-katik. Kita sampai mepet jam 9 karena ketika si Pinky dipacu kencang oleh om Adel membuat kita sedikit syok dengan kelok Seribu dari Trans Flores Highway. Baru seperdelapan perjalanan menuju Ruteng 2 anggota trip sudah menunjukkan wajah pucat, hijau kebiru-biruan, akibat motion sickness. Dan kita harus berhenti beberapa kali untuk memberi kesempatan 2 orang teman kami menguras isi perutnya.

Pagi itu sebelum menuju Waerebo seharusnya kita menuju Cancar terlebih dahulu untuk melihat Sawah Lingko, akan tetapi berhubung Bu Dwi menjanjikan kita durian di Cancar yang lebih tepat dimakan sore hari maka kita skip acara ke Cancar pagi itu dan langsung menuju Waerebo. Apakah durian itu hanya untuk mengalihkan jadwal supaya tidak bertemu dengan group kedua, entahlah. Wrong decision. Mengecewakan. Karena waktu menyusun itinerary aku berharap sekali kita di Cancar saat pagi hari untuk mendapatkan foto-foto spiderweb ricefield Lingko berlatar langit biru dengan sawah hijaunya di kaki bukit.  Dan waktu itu cuaca sangatlah mendukung. Pagi yang dingin dan sejuk, serta langit biru cerah menyambut kami pagi hari ke-dua di Flores. Belum rejeki. Pemandangan langit biru sawah-sawah hijau membentang hanya terekam dalam ingatan. Itulah pemandangan yang terlihat selama perjalanan menuju Waerebo. Mungkinkah kita ini kelaparan? Jika melihat suburnya Indonesia rasanya aneh kalau sampai ada orang Indonesia yang mati karena kelaparan.

 

 

Kita berhenti di Waerebo Lodge milik bapak Martinus di desa Denge yang tempatnya di tepi pantai. Kita rehat untuk sholat dan makan siang. Obat kekecewaanku tidak bisa ke Cancar pagi hari itu adalah kesempatan untuk melihat tarian Caci di Denge. Kebetulan ada orang Denge yang punya hajat dan dia merayakannya dengan menyelenggarakan pesta dengan tari-tarian Caci. Sungguh beruntung kita karena ini bukanlah sebuah kegiatan acara budaya yang rutin. Pesta rakyat yang sangat natural dan tidak dibuat-buat. Senang bisa melihat atraksi tari Caci meski tidak begitu paham apa maksud dari tarian ini, dan kenapa orang dengan suka rela membiarkan tubuhnya didera dengan pecut. Mirip-mirip debus, orang-orang yang kena pecut seperti tidak merasakan sakit. Kata orang sana sih mereka sudah minum-minum sopi alias tuak sebelum dipecut.

Dari Denge kita diantar Si Pinky sampai di kaki bukit dan lanjut dengan ojek menuju Pos 1 pendakian ke Kampung Waerebo. Latihan fisik selama berbulan-bulan membantu aku untuk melakukan pendakian cukup mudah. Aku bisa mengatur nafas dengan baik melewati jalan-jalan menanjak. Capek? ya pastilah. Sering berhenti untuk mengatur nafas dan minum. Aku harus minum banyak-banyak karena keringat yang keluar juga banyak sekali. Menuju Waerebo kita melalu jalan setapak melingkari bukit, jalan dengan pepohonan yang lebat menghutan, tebing di satu sisi dan ngarai di sisi lain. Jalan setapak yang cukup licin tetapi tongkat dari kayu, stick buat mengecat dinding dan sepatu trail runnerku berfungsi dengan baik. 45 Menit aku bisa mencapai Pos 2. Dan menjelang senja akhirnya kita diterima pemuka adat Bapak Alex di Rumah Gendang.

DSC01249.JPG

Rasa syukur karena akhirnya tercapai keinginan dan harapanku untuk melakukan perjalanan ke destinasi impianku. Teman-teman yang bersamaku saat itu yang benar-benar membuat rasa bahagiaku seperti berlipat ganda. Setelah menikmati makan malam dan secangkir kopi Waerebo malam itu kita habiskan bercanda di luar MBaru Ngiang sambil memandang langit yang kadang cerah kadang berawan. Ketika awan berlalu kita bisa melihat taburan bintang dilangit dan bagian galaksi kita. Di arah Selatan kita bisa melihat rasi bintang Crux alias Gubung Penceng malam itu. Menjelang jam 12 malam baru kita beranjak ke dalam untuk istirahat. Damainya suasana desa yang dingin, orang-orang yang ramah, bahkan anjing dan kucing di situ juga sangat ramah. Ketahuilah, hewan-hewan itu selalu menggambarkan bagaimana orang-orang di sekitarnya. Jika suatu kampung orang-orangnya ramah dan tidak curigaan, maka anjing-anjing dan kucing-kucingnya pun demikian juga, pasti ramah dan tidak curigaan.

 

Advertisements


Leave a comment

Ke Luar Negeri

Selesai baca tulisan Rhenald Kasali jadi ingat masa kecil. Dulu waktu aku kecil, bapakku sering dapat oleh-oleh dari kenalan-kenalannya di kapal tanker. Waktu itu tahun 60-an – 70-an kami masih tinggal di Balikpapan. Belum ada mall, yang namanya kaus kaki atau sepatu saja masih susah cari di toko meski sebagai pegawai perusahaan minyak duit banyak. Nah oleh-oleh dari kenalan-kenalan bapak itu bermacam-macam, kadang ibu dapet payung dari Jepang, majalah Burda, atau bapak dapat 1 box rokok Lucky Strike, kadang kita dapat coklat yang isinya cheery liquor, kita juga dapat permainan lego, pokoknya barang-barang yang tidak ada di Indonesia pada masa itu. Bapak bilang barang-barang itu dari luar negeri. Akupun sering tanya sama bapak, ‘Pak, seperti apa siy luar negeri itu’… ‘yuk, kita jangan ke Jawa melulu setiap liburan, mbok sekali-sekali kita ke luar negeri’. ‘Hush, kamu pikir murah ke luar negeri itu’, begitu jawab bokap.

Tapi, aku tidak pernah berhenti untuk mengatakan kepada semua kenalan orang tuaku kalau mereka tanya, ‘apa cita-cita kamu kalau besar nanti?’. Aku selalu jawab ‘aku pengen ke luar negeri’. Waktu itu umurku masih sekitar 5 tahunan. Tentu saja para orang tua tertawa geli mendengar jawaban aku itu. Terus ibu akan menjelaskan kalau aku sebenarnya ingin jadi desainer karena hobby aku menggambar. Ketika sedikit bertambah umurku meskipun kadang aku mengatakan lain mengenai cita-citaku, dalam hati aku masih menyimpan bahwa aku ingin pergi melihat negara-negara lain, ke ‘LUAR NEGERI’.

Akhirnya keinginanku itu terwujud. Tahun 1995 setelah kira-kira hampir satu tahun bekerja di Jakarta, Tuhan mewujudkan mimpiku itu. Sebagai bonus penjualan satu kontainer geomembrane aku mendapat hadiah pergi ke Inggris selama satu minggu. Pertama kali ke luar negeri, seorang diri, berbagai perasaan bercampur jadi satu, antusias, gairah, tapi juga takut dan tegang, bagaimana kalau aku tidak bisa berbicara bahasa mereka, itu yang aku pikirkan. Sebelum berangkat aku kursus kilat conversation selama 3 bulan. Waktu pulang dari Inggris teman-teman yang punya mimpi sama ingin bisa pergi ke luar negeri, tapi waktu itu belum kesampaian, antusias menanyakan pengalaman ku selama di luar negeri, jawabanku: ‘aku ke Inggris, aku ngomong bahasa Inggris, tapi orang Inggris kok nggak ngerti ya’…

Bahasa Inggrisku tentu saja dengan dialek Jawa karena aku orang Jawa, begitulah kira-kira logisnya. Dalam perjalanan ke Inggris sempat mampir di Hongkong, alamak repotnya berbicara bahasa Inggris dengan orang Chinese, kadang ada rasa putus asa, pengen nangis, tapi aku bukan orang yang menyerah pada keadaan. Dan sekarang pergi ke luar negeri bukan hal yang menegangkan, aku sudah ke berbagai negara di Eropa seperti Belanda, German, Perancis, Swiss, Austria, negara di Afrika, Libya dan Tunisia, negara-negara Asean tentunya, dan…. juga menikah dengan orang luar negeri. Jangan takut soal bahasa, tidak perlu mahir, bahasa bukan sebuah hambatan yang menghalangi kita agar tidak pergi ke luar negeri.