Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Boemboe Dapoer

Kalau Hans (my hubby), yang membuat dia kangen dengan negaranya adalah aroma „fresh brown bread“….roti gandum berwarna coklat berbentuk bulat yang permukaannya keputih-putihan oleh taburan tepung terigu, khas makanan penduduk pegunungan Alpine.

Nah kalau aku, yang bikin kangen kampoeng halaman adalah boemboe dapoer segar serta cita rasa masakan Indonesia.

Begitulah aroma yang datang dari dapoer selalu membuat semua orang rindu akan kampoeng halamannya.

Advertisements


Leave a comment

Priok berdarah.

14 April terjadi bentrok SatPol PP dengan masyarakat sekitar Koja karena menolak daerahnya dibenahi.

Ini sebuah pemikiranku untuk kasus-kasus semacam. Saat pembenahan dilaksanakan untuk kepentingan yang lebih besar terjadi penolakan dari masyarakat yang jadi korban. Penataan memang harus selalu ada korban. Perumpamaan kita menata sebuah taman bunga yang sudah tumbuh liar tidak beraturan maka akan ada tanaman yang menjadi korban dipotong, dicabut, dibuang sementara yang masih layak mungkin direlokasi ditanam kembali di dalam pot atau ditempat lain. Itu adalah tuntutan dari sebuah kerapihan dan keindahan.

Begitu juga dengan „pengembangan wilayah“, dalam sebuah penataan lingkungan terlebih lagi bila sebuah wilayah telah tumbuh tanpa melalui sebuah penetapan master plan maka pertumbuhan akan bergerak sesukanya. Akibatnya terjadi tumpang tindih kepentingan. Dan terjadilah perebutan wilayah seperti yang terjadi di Koja.

Terus bagaimana kita menghadapi kasus-kasus seperti ini dalam sebuah penataan kota. Demi kehormatan pemerintah dan demi tegaknya HAM yang dituntut masyarakat yang semakin demanding maka harus dicari penyelesaian yang paling arif.

Indonesia itu negara yang luas. Pelabuhan bukan hanya ada di Jakarta dan bukan hanya Sunda Kelapa dan Tanjung Priok dan Koja saja. Kawasan Industri semakin bergerak ke arah Timur. Masih banyak wilayah yang bisa dikembangkan. Bikin Master Plan yang sebaik-baiknya. Kosongkan sebuah wilayah buat perencanaan untuk jangka panjang hingga kebutuhan 50 tahun mendatang. Tidak bisa dibikin lebih lebar pelabuhan peti kemas yang ada di Koja ya buat ditempat lain misalnya di Bekasi, di Cirebon, Di Tegal, di Semarang atau Surabaya sekalian.

Apabila ada masyarakat yang menolak apabila wilayah itu ditata dibenahi dan dikembangkan dengan dasar tata kota yang baik maka tinggalkan daerah tersebut cari wilayah yang masih kosong dan bisa ditata. Tinggalkan masyarakat yang anti terhadap kemajuan. Masyarakat yang egois dan hanya mementingkan kepentingan kelompoknya bukan kepentingan bangsa dan negara.

Teori pengembangan wilayah dan tata kota apabila sebuah infrastruktur terbentuk maka wilayah itu akan tumbuh dan berkembang. Sebagai contoh yang ada didalam kota Jakarta sendiri, jalan terusan Simpruk pada mulanya seperti wilayah Jakarta pinggiran meski berada di tengah kota dan dekat dengan Senayan. Begitu jalan tersebut diperbaiki diperlebar dan menjadi jalan alternatif dari Jakarta Barat menuju Jakarta Selatan selain Senayan maka lambat laun daerah itu berkembang bahkan hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Jika masyarakat Koja menolak ditata wilayahnya, tidak mau berkorban untuk kepentingan yang lebih besar bagi pembangunan kota Jakarta, leave them alone, kembangkan wilayah lainnya. Berikan kemajuan pada masyarakat yang mau berkorban atau tempat yang sama sekali baru kosong sehingga tidak ada tumpang tindih kepentingan. Tempat yang telah tertata baik bisa ditawarkan kepada mereka yang mau menempati wilayah yang sama sekali baru itu dengan diberikan insentif, sementara bagi yang menolak digusur (bahasa kasarnya) tidak perlulah dilakukan pemaksaan. Punishment bisa dengan bentuk yang lain seperti tidak adanya anggaran pembangunan. Toh mereka tidak menghendakinya.


Leave a comment

Ignorance dan antisocial.

Siapa bilang orang Indonesia itu murah senyum dan ramah tamah. Masih percaya dengan pernyataan itu? Aku rasa itu hanyalah brain washing yang tertulis dalam materi pelajaran PMP. Mungkin kamu balas menjawab : Ah, orang asing turis manca negara juga bilang kalau bangsa Indonesia itu bangsa yang ramah tamah dan murah senyum.

Apa iya? Coba aja lihat kalau ada orang Indonesia ketemu orang asing yang tidak bisa Bahasa Indonesia sering kali jika terjadi kendala bahasa orang Indonesianya bibirnya akan melebar dari pipi kiri hingga pipi kanan karena nggak paham dan dalam hati mentertawakan kok bule ini nyerocos terus padahal kita nggak paham.

Percayalah, orang Eropa itu mereka itu dididik untuk belajar bicara dengan bahasa yang santun mereka tahu kelakuan kita itu Cuma tidak tega aja mengatakannya maka dibilanglah kita itu murah senyum.

Kenyataan yang ada sebenarnya orang Indonesia itu sifatnya ignorance dan antisocial. Mungkin kamu akan bilang aku orang yang skeptisme atau bahkan menganggap aku orang yang suka menjelek-jelekkan bangsa sendiri.

Mau contoh? Lihatlah toilet-toilet yang ada ditempat umum atau mungkin yang dekat saja yang ada di perkantoran. Entah karena kebiasaan kalau kebelakang harus ngongkong alias jongkok dengan toilet model Turki maka waktu ketemu toilet model Italy/Romawi yang model duduk tetap aja jongkok. Atau menganggap ah ini toilet umum pasti jorok nggak bersih dudukannya. Tapi apa akibatnya dengan satu orang jongkok diatas toilet duduk itu? Pasti dudukan toilet jadi kotor karena nongkrong diatasnya berikut dengan sandal atau sepatunya. Inilah salah satu sifat antisocial. Yang penting AKU peduli amat dengan orang lain yang akan memakai toilet itu sesudahnya. Satu orang nongkrong maka diikuti oleh yang lain-lain selama belum dibersihkan oleh petugas maintenance.

Seringkali ada orang yang mengatakan : Peraturan itu ada untuk dilanggar. Seperti halnya larangan merokok ditempat-tempat umum yang diterapkan di Jakarta. Nyatanya belum bisa berjalan sepenuhnya. Masih banyak orang yang merokok seenaknya di tempat yang tidak boleh merokok. Selama tidak ada yang menegur cuek aja. Cuek adalah salah satu dari sifat ignorance, menganggap sebuah aturan dan himbauan itu tidak ada. Dan bukan Cuma larangan merokok saja yang di IGNORE masih banyak yang lain.

Ada lagi contoh lain sifat-sifat antisocial dari orang Indonesia: Suatu hari ada tanah longsor disuatu daerah dipinggiran kota yang jauh dari mana-mana. Akibat longsoran tanah tersebut maka jalur jalan yang vital tertimbun tanah sehingga susah dilalui bahkan memutuskan jalur transportasi. Masyarakat sekitar dengan alasan sudah bekerja keras membersihkan timbunan tanah memalak setiap kendaraan yang lewat. Alasannya sebagai timbal balik. Sifat social bukan selalu dengan cara membagi-bagikan uang kecil kepada fakir miskin. Tapi bisa juga dengan amal alias perbuatan yang lain.

Kalau kamu memudahkan jalan orang lain maka jalanmu juga akan dimudahkan. Singkirkanlah paku ditengah jalan jangan sampai ada orang yang tidak melihat terluka karena kakinya tertancap paku tersebut. Jangan meminta imbalan karena telah menyingkirkan paku tersebut, ini adalah satu perbuatan sosial = amal jariah.