Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Sedekah Ramadhan

Maksud baik kok dihalangi, itu pikiran orang ketika aku bilang sebaiknya tidak membiasakan memberikan uang kepada anak-anak di kampung-kampung. Sepertinya mungkin aku ini orang yang paling sadis di Dunia, tidak punya empati dan kasih sayang. Biarlah orang melihatnya aku ini pelit, nggak pernah sedekah dan tidak pernah bantu saudara-saudaranya. Wes ben wae, tidak perlu diklarifikasi, Gusti Allah mboten sare, wong ndak dapet pengakuan juga ndak apa. Biarlah orang men-judge aku seperti apa yang mereka lihat. Aku tidak peduli apa kata orang, aku peduli dengan menjadikan orang lebih mulia.

Seperti biasa bulan ramadhan seperti sekarang orang berlomba-lomba bagi sedekah. Which is good, jka dipandang dari sudut agama. Penukaran uang receh di Bank seperti acara yang wajib selama bulan puasa dan menjelang Hari Raya Id. Sampai-sampai Bank perlu memberikan pengumuman jadwal penukaran uang kecil. Kebiasaan memberikan donasi kepada kamu miskin dan dhuafa dengan membagi secara langsung berupa uang seperti sebuah tradisi buat bangsa ini. Orang-orang kaya di negara ini seperti membutuhkan pengakuan untuk perbuatan baiknya. Yang memberi sangat bahagia jika bisa membagikan uang kepada sebanyak-banyaknya kaum miskin, apalagi jika melihat orang-orang berebutan untuk mendapatkan uang sedekah. Bahkan beberapa kasus yang terjadi sebelumnya hingga memakan korban jiwa. They looks like animal more than human, ketika saling berebut. Mereka yang berebut sedekah seperti hewan yang hanya memakai insting mereka yang mengatakan: uang, uang, uang. Mereka harus mendapatkan uang sedekah itu lebih dari sekitarnya, ketimbang berpikir rasional, apalagi berpikir untuk sabar menunggu sampai uang diberikan ke tangan mereka. Wanita dewasa, tua, dan muda. Semua berebut, saling dorong saling sikut dan anak-anak menjerit menangis tergencet sana sini. Uang sedekah yang diperebutkan nilainya hanya sebesar 15.000,- sampai 20.000,-.

Apakah tidak ada cara lain untuk memberikan donasi? Haruskah disaksikan orang banyak dan beritanya harus sampai muncul di tivi karena ada orang yang mati lemas dan terinjak-injak hanya untuk memberi sedekah. Yang disalahkan selalu mereka yang berebut sedekah bukannya orang-orang kaya yang butuh pengakuan itu. Tidak adakah cara memberi sedekah yang memuliakan mereka yang diberi, meskipun mereka hanyalah kaum dhuafa dan fakir miskin? Orang-orang miskin itu seperti hewan karena mereka tidak cukup pengetahuan, mereka miskin, bodoh dan tidak beradab. Menjadikan mereka manusia yang beradab dan bermartabat adalah dengan memberikan mereka pengetahuan. Mengajari mereka juga dengan cara memperlakukan mereka secara beradab dan bermartabat. Tidak menjadikan tetap bodoh seperti hewan, menumbuhkan insting mereka untuk mengemis dan meminta-minta.

Sering aku melihat orang senang sekali memberikan uang seribu dua ribu kepada orang miskin tapi sering pelit ketika memberikan pengetahuan kepada orang lain bagaimana caranya dia mencari kekayaan. Ada orang yang pelit bahkan untuk hal-hal kecil seperti berbagi trik dan pengetahuan untuk membuat kue misalnya. Meskipun banyak juga orang yang beramal dengan ilmunya dengan menulis blog-blog berisi pengetahuan yang bermanfaat. Amal berupa pengetahuan itu lebih panjang ketimbang sedekah uang seribu dua ribu. Apalagi jika pengetahuan itu bisa membuat orang lain menggunakannya untuk mencari nafkah sehingga hidupnya menjadi lebih baik.

Sedekah bukan cuma uang seribu dua ribu perak, pengetahuan dan menjadikan orang lain lebih mulia adalah sedekah yang tidak ada habisnya. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal untuk mereka yang mau berbagi pengetahuan. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.

Advertisements


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas masalah yang lagi diperdebatkan mengenai tanda dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP yang lagi rame di Medsos.

Jadi sebenarnya siapa yang ERROR? Bapak supir taxi atau si Pak Polisi? Kemarin di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (Hmmm… mudah-mudahan tidak salah menyebut nama, nanti saya re-check kembali) tidak bisa menjawab secara gamblang karena katanya dia tidak melihat kasusnya secara langsung di lapangan. Bapak Kompolnas itu kemudian mengatakan bahwa kalau ada perdebatan sebaiknya diperdebatkan di pengadilan. Tapi siapa yang percaya pengadilan kasus-kasus lalu lintas. Pada kenyataannya di pengadilan tidak ada proses pengadilan yang adil. Yang ada hanya proses ketok palu. Pada akhirnya hanyalah situasi berbeli-belit yang menyusahkan, ongkos yang lebih mahal dan waktu terbuang.

Seorang Kompolnas seharusnya bisa menjelaskan bedanya dilarang PARKIR dan dilarang STOP. Apa sebenarnya kriteria dilarang PARKIR dan apa kriteria dilarang STOP. Parkir, berarti pengendara mobil meletakkan kendaraannya di tempat dan lokasi tertentu, pengendara mematikan mesin, dan meninggalkan kendaraan dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan Stop, atau berhenti berarti kendaraan diletakkan pada tempat dan lokasi tertentu, mesin kendaraan bisa masih hidup atau dimatikan, pengendara masih berada di dalam kendaraan atau tidak jauh dari kendaraan, waktu berlangsungnya kegiatan atau durasi kendaraan berhenti adalah singkat, maka ini disebut sebagai STOP atau berhenti. Yang membedakan antara STOP dan PARKIR adalah durasinya. Inilah yang harus dibedakan. Selama ini tidak ada kriteria jelas durasi waktu antara yang disebut sebagai STOP dan PARKIR.

Saya sendiri sebenarnya meskipun sudah 32 tahun memiliki SIM juga jadi ikut-ikutan bingung menjelaskan berapa lama durasi yang dikatakan STOP atau berhenti sehingga berbeda dengan kriteria PARKIR. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya apa kriteria dilarang PARKIR dan dilarang STOP kalau di negaranya. Jawabanya ternyata lebih lugas dari seorang Kompolnas. Yang dimaksud dengan STOP itu artinya berhenti selama 0 sampai 10 menit. Sedangkan kendaraan berhenti lebih dari 10 menit artinya kendaraan itu diparkir. Jadi jika supir menghentikan kendaraan sementara ada larangan parkir maka masih diperbolehkan selama kendaraan berada di lokasi tersebut tidak lebih dari 10 menit. Jadi misalkan kita sedang berkendaraan tiba-tiba mendapatkan panggilan telephone penting dari telephone genggam dan kita ingin mengangkatnya, kemudian kita menghentikan kendaraan sementara ada tanda dilarang PARKIR kita bisa berhenti atau STOP di tempat itu selama tidak lebih dari 10 menit.

Jadiiiiii…. hehehe tidak salah Polisi lalu lintas Indonesia memang pantas dibully soal kasus penilangan seorang supir taxi yang berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Tidak salah kalau ada yang bilang Polisi Indonesia sama dengan Polisi dari hutan.


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas soal kasus seorang supir taxi yang ditilang karena berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Jadi siapa sebenarnya yang ERROR? Si supir taxi atau Pak Polisinya.

Semalam di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (mudah-mudahan tidak salah nulis nama, nanti saya re-check kembali) ketika ditanya tanggapannya mengenai kasus ini tidak bisa menjawab karena dia tidak melihat sendiri situasinya di lapangan. Kemudian dia melanjutkan jika ada perdebatan sebaiknya dibawa ke pengadilan. Tapi siapa yang percaya dengan pengadilan lalu lintas? Berdasarkan pengalaman pribadi pengadilan lalu lintas bukanlah sebuah proses pengadilan yang adil melainkan hanya sebuah proses ketok palu. Pada akhirnya pengadilan hanyalah sebuah proses yang lebih berbeli-belit yang memakan waktu dan ongkos yang lebih besar dibandingkan dengan tilang.

Sebenarnya tidak perlu ada perdebatan jika jelas apa kriteria dari tanda dilarang PARKIR dan apa kriteria dari tanda dilarang STOP atau berhenti. Sebuah kendaraan itu disebut PARKIR jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat ataupun berada jauh meninggalkan kendaraan, dengan waktu tidak terbatas. Sedangkan sebuah kendaraan itu disebut STOP jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat dengan kendaraan, dalam waktu yang terbatas. Jadi yang membedakan antara PARKIR dan STOP atau berhenti adalah durasi atau jangka waktu kendaraan itu berhenti.

Saya sendiri sudah memiliki SIM selama lebih 32 tahun sejak SIM Roda Dua pertama saya, terus terang ketika ditanya apa bedanya STOP dan PARKIR dan berapa durasinya saya juga jadi ikutan bingung menjawabnya. Saya coba tanya teman-temanpun ternyata tidak ada yang bisa menjawab juga. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya. Di negara dia di Austria apa beda tanda lalu lintas dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP. Dia menjawab dengan lugas bahwa kendaraan disebut STOP jika berhenti antara 0 sampai dengan 10 menit sedangkan kendaraan disebut PARKIR jika berhenti lebih dari 10 menit ke atas hingga tidak terbatas. Sebagai contohnya seorang supir disebut berhenti atau STOP di pinggir jalan jika seseorang sedang berkendaraan kemudian ada panggilan telephone penting dari mobilephone dan dia ingin mengangkat telepon untuk berbicara sementara dia tidak memiliki perangkat earphone ataupun bluetooth sehingga harus berbicara langsung melalui telephone kemudian dia berhenti di tepi jalan sementara ada tanda larangan PARKIR maka dia dapat menghentikan kendaraan di tempat tersebut selama tidak melebihi batas waktu yaitu 10 menit. Dalam hal ini supir STOP dan tidak meninggalkan kendaraan. Contoh lain adalah jika seseorang berkendaraan di depan pintu keberangkatan Bandara yang bertuliskan dilarang PARKIR sementara dia harus menghentikan kendaraan karena dia akan menurunkan penumpang, dia boleh menghentikan kendaraan di tempat tersebut, sementara dia juga dapat mematikan mesin dan keluar dari kendaraan, selama proses kejadian tersebut tidak melebihi batas waktu 10 menit maka proses itu termasuk kategori STOP atau berhenti dan bukan termasuk PARKIR.

Jadiiii… hehehe, pantaslah kalau Polisi Indonesia dibully karena kasus itu. Seorang Kompolnas saja tidak bisa menjawab dengan tegas. Polisi Indonesia memang Polisi dari hutan.


Leave a comment

Education is for the need of knowledge….

Untuk membantu masyarakat dalam mendapatkan pendidikan murah maka sekolah dan perguruan haruslah ditempatkan dimana pendidikan itu dibutuhkan dan bidang yang dipilih adalah sesuai dengan kebutuhan. Masyarakat kita masih bodoh dan tertinggal dalam bidang pengetahuan. Ini semua terkait dengan pola pikir kita yang salah. Pendidikan tinggi ada bukan untuk kebutuhan tapi untuk jabatan dan gengsi semata supaya kelihatan intelek. Ini semua pengaruh dari gaya kolonialisme yang tertanam dalam benak kita.

Dulu kala hanya orang-orang berpangkat, kepala daerah, bangsawan-bangsawan yang mengirim anaknya untuk belajar ke perguruan tinggi. Itu sebabnya perguruan tinggi berada di kota-kota besar saja. Pada kenyataannya masa sekarang kesadaran akan pentingnya pendidikan sebenarnya sudah ada pada sebagian besar masyarakat yang berpikiran maju, bahkan sampai ke desa-desa sebenarnya kesadaran itu sudah ada. Beberapa masyarakat desa yang berpikiran maju dan yang ingin maju, mengirim anak-anak mereka ke perguruan tinggi di kota demi pendidikan tinggi, bahkan apabila perlu dengan mengorbankan sawah dan ladang yang jadi penghidupan mereka. Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi.

Kembali mengenai kesalahan dalam kebijakan pendidikan tinggi di tanah air yang muncul bukan untuk kebutuhan akan pendidikan melainkan untuk gengsi dan pangkat semata. Salah satu yang saya anggap kesalahan adalah dalam hal pemilihan dan penetapan jurusan dan fakultas. Sebagai contoh, Universitas Diponegoro tidak memiliki jurusan Pertanian dan Industri Pertanian sebab Universitas Gajah Mada telah memiliki jurusan tersebut sebaliknya Undip memiliki jurusan Perikanan sementara UGM tidak. Hanya karena dua universitas ini berada pada rayon wilayah yang sama, menurut penetap kebijakan pendidikan tidaklah jauh antara Jateng dan DIY. Padahal untuk kebanyakan orang tentulah masalah mengirimkan anak mereka ke kota yg berbeda. Jadi kebijakan ini seolah bila ingin sekolah tinggi masyarakat dipaksa untuk pergi jauh ke kota tertentu, dalam arti hanya orang-orang dengan kemampuan finansial cukup yang bisa pergi sekolah. Tapi kadang kala kalau melihat jurusan dari pendidikan yang dituju bukanlah untuk orang-orang yang memang menaruh minat pada bidang tersebut. Pertanian, Peternakan, Perikanan, sejatinya yang menaruh minat dan bakat untuk bidang ini adalah mereka yang bukan orang kota. Mereka yang berminat pada bidang tersebut adalah mereka2 yang tentunya bergelut dibidang tersebut.

Semisal jurusan Mathematika, Kimia, Metalurgi, Nuklir dan bidang serta jurusan yang aneh-aneh dibuat dan didirikan untuk universitas di kota tidaklah masalah. Tapi, bidang-bidang pendidikan terapan seperti pertanian, peternakan, perikanan, serta industri nya tentunya lebih baik kalau dibuat dibanyak tempat dimana kebutuhan akan itu sangat diperlukan. Di kota-kota kecil, bahkan kalau perlu dibuat sebanyak-banyaknya diberbagai kota tanpa ada penghalang seperti jika Ambarawa memiliki fakultas pertanian boleh saja fakultas yang sama didirikan di kota Temanggung, Blora, Kudus, Pekalongan, Banjarnegara, dan lain-lain. Jika orang desa mau mendalami pertanian dan industri pertanian tidak perlu mereka harus pergi ke Yogya untuk sekolah di UGM. Begitu juga halnya dengan ilmu perikanan. Kenapa orang Yogya tidak boleh membentuk jurusan dan fakultas perikanan? Mestinya kota-kota seperti Pekalongan, Cirebon, Cilacap, Rembang dan Tuban dan semua kota pesisir dimana masyarakat hidup dari perikanan boleh saja mendirikan sekolah tinggi dan fakultas jurusan perikanan, kenapa hanya Undip? (sementara kuliahnyapun lebih banyak di Jepara).

Akibat dari pemikiran sekolah tinggi hanya untuk jabatan, gengsi dan nampak intelek semata, maka tidak jarang mahasiswa mengambil jurusan yang sebenarnya bukan bidang yang mereka minati. Ada berbagai bentuk dari kesalahan jurusan ini, terpaksa mengambil jurusan yang kosong dan sepi peminat karena jurusan yang mereka minati terbatas kursinya atau ingin memenuhi minatnya tapi tidak memiliki kemampuan finansial cukup untuk pergi ke kota lain, akhirnya kuliah jurusan apa saja yang penting kuliah. Ini termasuk mereka yang tidak punya kemampuan untuk dapat diterima di fakultas yang diminati. Akhirnya waktu dan dana terbuang percuma, padahal dana pendidikan tinggi di Indonesia tidaklah sedikit. Sementara pengetahuan masih jauh dari jangkauan.

 


Leave a comment

Stop pemberian gadget pada anak2

Perkembangan dunia electronic dan digital sepuluh tahun terakhir ini benar-benar luar biasa. Saat memasuki tahun 2000 kita memang telah memasuki era millenium. Perangkat elektronic mobile seperti hand phone, ipod, personal computer laptop, termasuk kamera digital sudah dimiliki kebanyakan orang, bisa dibilang separuh penduduk dunia memilikinya bahkan termasuk mereka yang tinggal dalam gubuk-gubuk di kawasan slump pun mengenal, memiliki, dan menggunakan. Mereka yang antre dan rebutan pembagian sembako gratis ada juga yang punya HP. Yang saya maksudkan adalah mereka yang secara ekonomi miskin pun tidak menjadi batasan untuk memiliki sedikitnya hand phone. Sementara kebutuhan utama makanan seperti nomor dua dan boleh didapat dengan mengemis.

Melihat kenyataan ini perasaan saya adalah antara senang dan prihatin. Senang karena teknologi yang dulunya di tahun 1960 -70-an hanya ada di film-film science fiction sekarang jadi kenyataan dan jadi bagian dari kehidupan sehari-hari kebanyakan orang. Senang karena teknologi komunikasi dan informatika berkembang pesat dan memajukan petani dan peternak di desa yang semula jauh dari jangkauan teknologi. Prihatin karena gaya hidup ini secara cepat diajarkan pada anak-anak. Yang saya prihatinkan adalah keadaan pembangunan karakter masyarakat Indonesia.

Kenapa harus prihatin? Bukannya saya anti dengan kemajuan jaman dan tidak ingin orang Indonesia untuk maju dan memahami teknologi tapi melihat kenyataan sosial yang ada saya rasa lebih baik orang Indonesia lebih bijaksana dalam menerapkan penggunaan perangkat electronic mobile atau biasa disebut gadget kepada anak-anak dibawah umur.

Kenyataan sosial yang saya lihat dari masyarakat Indonesia pada umumnya adalah kekurangan mereka dalam hal komunikasi secara lisan. Hal ini lebih tampak nyata disaat harus berdebat, merangkai kata yang santun sekaligus bisa dipahami disaat emosi akibat rasa marah. Saya prihatin melihat tindak anarkhis dan kekerasan yang semakin hari semakin tidak terkendali. Akibat ketidak-puasan masyarakat terhadap sistem yang berjalan di dalam masyarakat, mereka  ingin menyatakan protes dan ketidak setujuan mereka, mereka ingin menyampaikan ungkapan rasa marah dan emosi, mereka ingin merasa didengar.

Kemampuan komunikasi yang terbatas menyebabkan apa yang mereka ingin ungkapkan tidak dapat tersampaikan dengan baik. Akhirnya merasa gondok karena apa yang mereka rasakan dan mereka inginkan tidak tersampaikan. Pada saat masyarakat Indonesia merasa kesal maka yang terjadi adalah mereka berkumpul dengan orang-orang yang mengalami keadaan yang sama, dengan demikian mereka merasa mendapatkan dukungan dan menjadi berani, kemudian bentuk ungkapan emosi mereka adalah dengan tindakan dan perbuatan pemaksaan kehendak dengan kekerasan, bukan dengan ungkapan kata-kata yang berani dan tajam untuk mengubah keadaan.

Saya perhatikan banyak anak-anak Indonesia tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dalam bahasa daerah masing-masing maupun dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris kalau mereka tinggal dilingkungan yang berbahasa Inggris. Biasanya orang Indonesia suka sakit hati kalau saya banding-bandingkan dengan orang bule, tapi apa yang akan saya ungkapkan kali ini adalah fakta. Saya sering berinteraksi dengan orang bule (kebanyakan dari Eropa), melihat sendiri dan bisa membandingkan keadaan di Indonesia dan diluar Indonesia. Saya sering berbicara atau menanyakan hal-hal apa saja dengan anak-anak berumur dibawah 9 tahun dari kenalan orang bule. Mereka ini dengan lancar bercakap-cakap dengan kenalan orang tuanya. Dengan menggunakan bahasa daerah mereka ataupun dengan bahasa Inggris saat berkomunikasi dengan saya. Saya benar-benar kagum dengan gaya bicara mereka yang tidak canggung, santun dan nampak sejajar dengan orang dewasa. Dan tidak demikian halnya ketika saya coba berkomunikasi dengan anak-anak dari kenalan keluarga Indonesia, tetangga dan kenalan-kenalan lain. Hanya sedikit sekali anak keluarga Indonesia yang sanggup berkomunikasi dengan baik,

Bisa jadi mereka malu untuk berbicara dengan orang dewasa yang bukan keluarga mereka. Tapi itu juga sebenarnya adalah kekurangan yang harus dikoreksi oleh orang tua pada anak-anak mereka. Anak-anak harus dibiasakan untuk mengenal teman-teman dekat ayah dan ibunya. Anak-anak harus dibiasakan untuk berbicara atau menanyakan hal-hal yang penting dengan cara yang santun. Para guru di sekolah harus mengajarkan anak-anak untuk berani berdiri di depan kelas dan bercerita. Jaman dahulu kala saat saya di Sekolah Dasar saya ingat untuk maju ke depan kelas dan berbicara, bercerita atau menyanyi adalah sebuah beban berat bagi saya dan juga teman-teman saya. Ada teman yang memejamkan mata saat disuruh untuk menyanyi didepan kelas. Ada teman yang berbicara sangat lirih sehingga tidak ada yang bisa mendengar suaranya, sampai ada juga seorang teman yang hanya diam tidak bersuara berdiri membelakangi teman-temannya. Apakah anda mau mengakui keadaan ini? Jawabannya terserah kepada anda. Masing-masing bangsa berbeda sifat dan karakternya. Tapi jika kita ingin merubah karakter bangsa menjadi lebih baik mengapa tidak kita meniru hal yang baik dari suatu bangsa tertentu.

Mungkin ada yang protes, siapa bilang bahwa di Eropa tidak ada demonstrasi yang berakhir dengan kekerasan dan anarkhis? Ada. Tapi yang jelas tidak sesering yang terjadi di Indonesia. Atau ada juga yang menganggap saya berlebihan dalam mengkaitkan kemampuan komunikasi dengan kebangkitan teknologi. Sekali lagi bukan menghalangi atau tidak suka dengan kemajuan tapi alangkah baiknya kalau kita mengasah kemampuan komunikasi lisan terlebih dahulu sebelum berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang yang jauh dari jangkauan di dalam dunia maya, terutama pada anak-anak. Chatting dan sms sanggup membuat seseorang menjadi autis, melupakan sekelilingnya sibuk sms, chatting, membuat komen atau merubah status dalam jejaring sosial, nah apa jadinya kalau anak-anak sejak dini sudah dibuat menjadi autis.

Permainan dan game dalam komputer lebih berbahaya lagi karena anak-anak hanya akan mengenal dan mempelajari karakter-karakter yang ada dalam games. Mereka juga belajar dan mengikuti pola pikir yang ada dalam permainan komputer tersebut. Games-games yang dibuat juga semakin lama semakin canggih dan menyeramkan. Sudah bukan jamannya lagi games-games seperti Tetris, Digger, Pacman, Super Mario brothers, dll. Saat ini banyak games yang tidak pantas untuk anak-anak sudah diakses oleh mereka. Games yang isinya peperangan, perkelahian sadis, menembak, membunuh, menghancurkan sesuatu, suaranya dibuat dahsyat ditambah dengan adegan darah berhamburan dan berceceran.

Maraknya penggunaan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter mengajarkan anak-anak berbuat palsu dan curang. Anak-anak sebenarnya tidak akan di approve dalam membuat account Facebook tapi apa yang terjadi mereka memalsukan tahun kelahiran mereka supaya di approve. Orang tuanya bukannya melarang tapi malah bangga bahwa anak-anak mereka tidak gaptek dan bisa mencurangi pengelola situs tersebut. Maka kalau ada penyimpangan akibat pemakaian Facebook pada anak-anak dibawah umur yang patut disalahkan adalah orang tua mereka sendiri.

Kalau saja orang tua memberikan anak-anak mereka lebih banyak aktifitas di luar rumah, olah raga, sekedar jalan-jalan, bersepeda, berkemah, outbound, mendekatkan diri dengan alam, maka akan berkurang waktu mereka untuk bermain Play Station, komputer game dan Facebook. Disaat beraktifitas diluar rumah bersama orang tuanya maka anak-anak juga mempunyai lebih banyak waktu untuk berbicara dengan orang tua. Dan apabila aktifitas out door dilakukan dengan keluarga ataupun kenalan-kenalan orang tuanya maka akibatnya anak-anak juga terbiasa berkomunikasi dengan orang dewasa.

Kemampuan komunikasi lisan dan berdebat akan melahirkan pribadi yang berani namun santun dan jauh dari kekerasan karena rasa marah dan emosi tersalurkan.


2 Comments

Pekerja Anak

Anak-anak dibawah umur tidak boleh dipekerjakan. Di negara miskin dan tengah berkembang seperti Indonesia banyak sekali anak-anak dipekerjakan. Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa mempekerjakan anak dibawah umur sebagai hal yang dilarang, alias tidak boleh, dan orang yang melanggar hal ini akan mendapatkan sangsi hukum.

Pada kenyataannya sangat sulit diterapkan peraturan tersebut. Kita menolak mempekerjakan anak-anak tapi di sisi lain keluarga-keluarga miskin dengan jumlah anak yang besar tidak mampu menghidupi anak-anak mereka apalagi menyekolahkan untuk membekali mereka dengan pendidikan. Satu-satunya cara membekali mereka agar dapat survive dalam kehidupan yang keras dan kejam adalah dengan mengajari mereka bekerja. Dengan cara  terjun langsung bekerja mereka mendapatkan pendidikan dan pengalaman secara langsung tanpa berlama-lama duduk dibangku sekolah.

Dalam kehidupan orang Jawa ada istilah ‘ngenger’, yaitu keluarga yang tidak mampu akan menitipkan anak mereka pada keluarga yang mampu memberi makan mereka dengan syarat harus mengikuti perintah dari orang tua yang diikuti dan membantu segala kegiatan yang ada dalam rumah tangga yang diikuti.  Seperti anak sendiri.  ‘Ngenger’ ini dulunya sering dilakukan hanya dalam lingkup keluarga saja. Tapi lama-lama dengan semakin individualisnya kehidupan masyarakat Indonesia dan semakin susah dan kejamnya kehidupan tidak lagi banyak keluarga yang bersedia ditumpangi atau mendapat tambahan beban anggota keluarga.

Ada yang perlu kita ketahui yaitu bahwa keluarga yang miskin maka akan menghasilkan juga anak-anak yang nantinya setelah dewasa juga membentuk keluarga yang miskin. Akses pendidikan sulit bagi keluarga miskin, maka tanpa adanya pendidikan akan sangat sulit juga dalam trah keluarga itu untuk bangkit dari kemiskinan. Tentunya di antara keluarga mereka sangat sulit untuk saling tolong menolong. Untuk menghidupi anak-anak sendiri saja sudah susah kalau harus ditambah lagi dengan keponakan-keponakan pasti berat. Jadi tradisi ‘ngenger’ dalam keluarga tidak bisa lagi terbentuk. Satu-satunya jalan adalah dengan mencari keluarga-keluarga kaya diluar lingkungan keluarga sendiri. Maka anak-anak yang sudah bisa dilepas tidak nyusu orang tuanya lagi dikirim pada keluarga kaya untuk bantu-bantu dirumah.

Perkembangan kemudian banyak orang yang menyalah gunakan, istilah kerennya ‘abusing’, kondisi tersebut dengan memanfaatkan anak-anak, mempekerjakan mereka dengan tujuan untuk mengeluarkan upah yang minim, alasannya anak-anak tersebut tidak punya pendidikan dan pengalaman.

Pekerja anak atau anak-anak yang terpaksa dipekerjakan karena orang tua mereka tidak mampu membiayai hanya terjadi di negara-negara miskin. Maka kalau kita ingin mengatasi persoalan mengenai pekerja anak ini maka terlebih dahulu kita harus mengatasi kemiskinan di dalam masyarakat. Untuk mengatasi kemiskinan dalam masyarakat tentunya dengan mengurangi  jumlah masyarakat miskin. Mampukah negara kita ini membiayai penuh satu generasi saja keluarga-keluarga yang miskin di Indonesia ini supaya generasi berikutnya mereka mampu bangkit dari kemiskinan?

Jika masyarakat tidak miskin maka tidak akan perlu anak-anak pergi bekerja. Anak-anak bisa menikmati masa kanak-kanak mereka dan duduk dibangku sekolah belajar dengan tenang. Menjadi anak-anak yang bahagia menimba pengetahuan untuk bekal hidup tanpa ada tekanan.