Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Jalan Bareng ala Manula

Nyari teman untuk jalan bareng rame-rame di usia manula sudah tidak seperti waktu mahasiswa dulu, persoalannya berbeda. Dulu waktu mahasiswa kendalanya adalah uang saku, keuangan cekak. Tapi teman jalan bejibun. Asyik-asyik aja.

Ada perasaan ingin melakukan apa yang dulu belum sempat aku lakukan ketika mahasiswa. Ini bagian dari gejolak mid-age crisis yang aku alami. Aku kepengen jalan-jalan yang sedikit ngeri-ngeri sedap. Maksudnya ngeri-ngeri sedap disini adalah seperti, ke laut, snorkling, kalau perlu belajar surfing, trekking, jalan-jalan ke gunung, yang buat manula mungkin agak beresiko. Resiko terhadap kesehatan, seperti masuk angin, encok, nyeri lutut dan lain-lain. Eh, tapi nanti dulu, usia 50-an itu termasuk manula atau setengah baya ya? Cari teman jalan yang asyik dengan selera destinasi yang sama seperti keinginanku itu tidak mudah.

Iya tidak mudah tapi keinginanku begitu kuat akhirnya aku berhasil mengumpulkan teman-teman yang di atas rata-rata. Aku mulai persis ketika aku berusia 50 tahun, buah dari kegagalanku berangkat ke Australia yang aku impikan sebagai selebrasi memasuki usia 50. Sebagai gantinya aku berikrar untuk jalan-jalan di Indonesia saja. Oktober 2014 ketika hatiku hancur tidak jadi ke Australia, aku mengumpulkan beberapa teman SMP ku, yg berhasil aku bujuk untuk jalan-jalan keliling Bali. Ningrum, Mia dan Endang. Trip akhirnya terlaksana pada bulan April – Mei 2015. Dengan mobil kita berempat keliling ke Bali Barat, Singaraja, Kintamani. Waktu itu masih ditemani Hans suamiku. Meskipun sepanjang perjalanan aku setir sendiri sebenarnya yang membuatku kurang confidence traveling dengan mobil adalah kemampuanku dalam menghadapi kendala kerusakan mobil. Adanya pria membuat aku lebih pede. Meskipun kondisi Hans tidak sehat tapi setidaknya pengetahuannya bisa membantu, itu yang aku pikirkan. Dan betul juga dengan instingku, waktu di Kintamani kita mengalami problem dengan ban kempes. Entahlah apa memang orang Bali baik hati atau karena ada bule banyak yang nolongin untuk ganti ban. Bukan persoalan mudah karena mobil sewaanku banyak hal yg tidak berfungsi normal.

Dari situ membangkitkan semangatku untuk mencari destinasi yang agak jauh. Masih dengan teman-teman lama alumni SMP sebelumnya aku merencanakan trip ke Flores. Misiku dari awal memang ke Indonesia Timur sebagai pengganti trip Australia yang gagal itu. Labuhan Bajo dan Taman Nasional Komodo adalah destinasi berikutnya. Sepanjang 2015 kita membicarakan trip ini. Menetapkan time frame dan budget. Bujuk rayuku berhasil mempengaruhi 9 teman untuk ikut dalam boat trip yang pelaksanaannya sekali lagi akhir bulan April, tahun 2016. Alasan kenapa trip sekitar bulan itu karena cuaca bersahabat pada saat memasuki musim panas. Dan selalu ada hari libur karena beberapa teman masih aktif bekerja. Bukan pengangguran seperti aku.

Ajaib ternyata dua trip itu menimbulkan antusiasme untuk jalan-jalan ngeri-ngeri sedap di antara teman-temanku. Masih di tahun 2016 nggak tanggung-tanggung kita naik ke Ijen. Trekking menanjak 3 kilometer menuju kawah Ijen. Sebagian besar malah melakukan rafting dulu di Songa sebelum jalan menanjak ke Ijen. Itu sih gila. Aku tidak ikut rafting karena teknis keberangkatan yang tidak memungkinkan. Mereka start dari Surabaya dan aku dari Denpasar. Aku tidak mau bergabung dengan mereka karena budgetku akan membengkak kalau aku ikut berangkat dari Surabaya, sementara dari Denpasar ke Banyuwangi sebagai titik pendakianku ke Ijen hanya 3 jam perjalanan darat dari Denpasar. Belum lagi target pendakianku adalah sisi utara bibir kawah yang total jarak perjalanan trekkingnya 4.5 kilometer sehingga PP menjadi 9 kilometer. Dibanding biaya sebesar 4.5 juta yang aku butuhkan termasuk tiket pesawat dan hotel jika start dari Surabaya, aku cuma habis dana sebesar 1.7 juta dari arah Denpasar.

Moral cerita dari tulisan ini adalah, harus ada seseorang yang menjadi penggerak untuk memulai sesuatu. Tidak ada kata terlambat untuk jalan-jalan jenis “bukan jalan-jalan cantik” untuk kaum usia pertengahan seperti kami. Dan Next Trip kami berikutnya di tahun 2017 ini Insyaa Allah trekking ke Kampung Waerebo dan Flores Overland.

Advertisements


3 Comments

Packing Guide for Holiday

SONY DSC

Live aboard around Komodo National Park

Masih teringat dengan episode persiapan sebelum Komodo Trip, rupanya beberapa teman kesulitan membayangkan what to bring and what to wear.

Acara waktu itu adalah trip dengan kapal, island hoping, melihat beberapa pulau di sekitar Taman Nasional Komodo. Kegiatan selama perjalanan adalah snorkling di sekitar pulau dan trekking di bukit-bukit yang lumayan menantang, dengan bonus view yang luar biasa dari puncak bukit.

Grup WA untuk trip berhari-hari membahas pertanyaan: Untuk berenang di laut pakai apa? Untuk snorkling pakai apa? Nanti trekking pakai apa?

Kebanyakan teman-teman grupku nge-trip lebih memikirkan mau pakai baju apa dan membawa sekian banyak baju plus perlengkapan ini itu for beauty ketimbang memikirkan fungsi. Sehingga karena mendengar saran-saran harus bawa perlengkapan untuk trekking, untuk berenang, untuk snorkling, untuk foto-foto selfie, akibatnya list barang bawaan jadi panjang sekali. Untuk trip 5 hari membawa 5 stel baju, ditambah peralatan kamera, charger dan cable extension, trekking dan snorkling gear.

Bawaan pasti cukup banyak untuk semua kegiatan tetapi aku pilah pilih untuk membawa sesedikit mungkin dengan memfokuskan bawaan pada fungsinya.

 

Pakaian dan toiletries yang harus dipack.

Untuk pakaian selalu mixed and match. Pakaian sehari-hari aku cukup membawa 1 celana panjang yang dipakai untuk berangkat. 1 Celana pendek jeans. Dengan  bikini merangkap untuk underwear sehari-hari jadi tidak perlu lagi bawa beha, cuma panties saja. Blus atasan yang tipis sehingga udara bebas mengalir dan juga kaos-kaos tanpa lengan yang airy ketimbang baju-baju berlengan panjang untuk dipadu dengan short jeans. 1 Jacket dengan hood untuk situasi angin kencang saat perjalanan di kapal. Dua pasang kaos kaki untuk dipakai bergantian. Scarf atau selendang, bisa sebagai assesories bisa sebagai shawl bila cuaca berubah.

Untuk toiletries sebenarnya sunlotion itu tidak terlalu penting. Kebanyakan orang terpengaruh dengan pendapat bahwa sunlotion itu adalah benda sangat penting ketika bermandi matahari, padahal tidak. Buatku sering kali sunlotion justru mengganggu, karena sering menyebabkan pedih di mata. Untuk di badan yang sangat penting itu justru rashguard. Yang 100% melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Kecuali jika hanya menggunakan bikini di udara terbuka maka perlu menggunakan sun lotion. Orang Indonesia kebanyakan tidak pamer-pamer tubuh dengan bikini dan kulit terpapar matahari. Jika menggunakan rashguard maka tidak perlu lagi sunlotion. Rashguard adalah bahan T-shirt yang didesign untuk memantulkan sinar matahari, maka bahan rashguard bisa dilihat berbeda dengan T-shirt polester, cenderung shiny.

Untuk cream kulit buatku lebih penting adalah after sun lotion. Setelah terpapar matahari maka kulit membutuhkan cream untuk cooling down panas yang terserap di kulit. Juga untuk memperbaiki sel-sel kulit yang rusak. Untuk aku after sun lotion lebih baik dan lebih penting ketimbang sun lotion.

Untuk membersihkan diri, tooth paste dan sikat gigi yang bisa dilipat dan mandi cukup membawa shower gel yang bisa berfungsi sebagai shampoo dan soap, jadi tidak perlu membawa 2 jenis sabun untuk tubuh sendiri dan untuk rambut sendiri. Kan waktu perjalanan tidak lama hanya 6 hari maksimum. Handuk untuk mandi dan chamois untuk mengeringkan badan setelah berenang. Mungkin suatu saat perlu invest untuk handuk traveling yang tipis dengan daya serap tinggi tapi juga cepat kering.

 

Untuk snorkling dan kegiatan di pantai.

Bawaan yang penting tentunya peralatan snorkling, harus kita pikirkan apakah mau sewa atau membawa sendiri. Aku memilih untuk bawa sendiri, berdasar pengalaman sangat susah mendapatkan fins untuk ukuran kaki yang kecil, size 37-38. Karena dive center menggunakan size dan tipe yang berbeda. Tidak semua tempat liburan ada rental snorkling equipment.

Perlengkapan lain adalah celana pendek dengan bahan yang cepat kering, atau boardshort, dan kemudian rashguard, dengan underware bikini. Semua ini bisa dipakai selama trip dan selama dibutuhkan untuk main air.

Selain itu aku juga packing shorty wetsuit tebal 3mm untuk snorkling. Beruntung waktu itu aku bawa wetsuit karena suhu air di sekitar Pink Beach lumayan rendah, ice cold buat orang seperti aku yang biasa warmbath, mungkin sekitar 18 derajat. Buat yang biasa dan tahan dengan air dingin mungkin tidak perlu shorty wetsuit.

Selain rashguard dan board short yang tidak kalah penting adalah sarung pantai. Setelah basah-basah main air supaya tubuh berbalut bikini tidak terlalu expose maka sarung pantai digunakan sebagai cover up. Dan karena sudah memiliki booties maka aku pack juga bootties-ku just in case snorkling di pantai yang berkarang tajam.

 

Untuk kegiatan trekking.

Tidak perlu berinvestasi membeli sepatu trekking yang sophisticated. Yang penting memakai alas kaki yang nyaman dan mempunyai grip, alias cukup pakem dan bisa menahan kaki supaya tidak terpeleset dan melorot ketika melalui jalan berbatu-batu. Seperti dalam tulisan sebelumnya maka kita harus memilih teknologi yang tepat guna. Aku hanya membawa sandal gunung. Karena praktis bisa buat basah-basah ketika turun dari kapal dan sekaligus untuk trekking.

Untuk menahan panas matahari aku tidak perlu repot-repot dengan topi-topi lebar, karena berdasar pengalaman pakai topi lebar-lebar yang buat bergaya malah jadi bikin repot bawanya, buat aku cukup kain bandana sebagai penutup kepala.

 

Perlengkapan lain-lain.

Sepertinya rempong tapi untukku pisau, gunting, P3K dan obat-obatan ringan adalah barang-barang yang penting untuk dibawa ketika aktifitas outdoors.

 


Leave a comment

Teknologi Tepat Guna

Sebenarnya apa sih itu ‘teknologi tepat guna‘?. Pada kenyataannya banyak orang tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun sudah sekolah tinggi.

Contohnya, saya dan beberapa teman sedang mempersiapkan trip ke Taman Nasional Komodo untuk bulan Mei yang akan datang, island hoping, dengan kegiatan hangout di kapal, trekking, snorkling dan keceh, main basah-basahan di pantai. Soal sepatu jadi diskusi yang panjang, mau bawa sepatu apa. Jiaahh lucu-lucu juga komentar teman-teman yang sebenarnya sekolahnya tinggi-tinggi tapi jarang main ke pantai. Mereka cukup bingung untuk memilih mau pakai alas kaki apa selama trip, apakah bawa sepatu ‘keds’, sneakers, sepatu sandal, sandal. Ada yang nanya ‘apa mesti bawa semua?’. Wah, hahahaha….kebayang bawaan isi koper mereka, padahal trip rencananya cuma 5 hari saja. Ketika saya tawarkan ide yang praktis dan efisien dengan bawaan barang yaitu cukup pakai satu saja sandal gunung, malah ada yang tanya buat apa sandal gunung? Aduuhhh!!. Padahal sandal gunung bisa buat trekking dan sekaligus buat main air di pantai, kalau merasa kaki kedinginan terutama selama di dalam pesawat karena memakai alas kaki terbuka cukup tambahkan kaos kaki. Dan secara fashionpun tidak masalah masih bisa juga dibuat fancy.

Teringat juga peristiwa puluhan tahun lalu, waktu masih muda, pertama kali trip keliling pulau Bali. Saya dan teman-teman menggunakan sebuah biro travel dengan Budi si guide kita waktu itu. Si Budi ini memakai sneakers untuk selama perjalanan. Mungkin takut kurang sopan dan kurang etis kalau dia memimpin tour cuma pakai alas kaki terbuka atau bahkan sandal, secara orang Indonesia mempunyai nilai-nilai kalau memakai sepatu lebih dihormati. Tapi akibatnya, ketika kita bersenang-senang di pantai Kuta dan Budi juga ikut-ikut keceh main air, sepatu si Budi somehow jadi basah. Karena acara trip padat sepanjang 2 minggu maka tidak ada waktu untuk Si Budi mengeringkan sepatunya. Sepanjang trip Budi memakai sepatu itu meskipun dalam keadaan basah. Dalam waktu 2 hari saja sepatunya jadi bau, bisa dibayangkan bau kaki, dan bau kaos kaki yang nggak dicuci. …Huweeek!. Dan jadilah sepanjang tour kita membully Budi dengan mengatai dia ‘Budi Si Sikil Mambu’, artinya Budi si kaki bau. Kasihan! Hahahaha.

Meskipun orang Indonesia yang sedikit agak tinggi pendidikannya suka sekali menulis atau berbicara dengan istilah-istilah yang berkesan Wah! seperti kata-kata ‘teknologi tepat guna’, sehingga orang awam yang pendidikan dasarnya cuma 9 tahun akan terkesan tapi pada kenyataannya penemuan teknologi sederhana berupa alas kaki, sandal, sepatu, sepatu sandal, sandal gunung, sneakers, ternyata cukup membuat orang yang berpendidikan tinggi sekalipun sulit untuk memilih mau menggunakan yang mana.


2 Comments

Made in Thailand

Masih melanjutkan persoalan krisis usia pertengahan kali ini menyangkut tentang body transformation. Obrolan di grup berlanjut, kali ini gantian aku yang tanya, ‘apakah pria jadi bernafsu ketika melihat boobs dan bokong indah wanita?’. Jawabannya benar-benar membuat galau wanita paruh baya pada umumnya karena wanita yang sudah tidak punya boobs dan bokong indah pasti merasa sudah tidak diinginkan lagi.

Seorang wanita yang sudah mendekati paruh baya tubuhnya sudah tidak sekencang dulu lagi. Tubuh yang tambun saat hamil kemudian diet yang ketat sesudahnya, tubuh jadi melar mengkerut secara drastis, ditambah kurang olah raga otot-ototpun menghilang terutama otot yang menyangga payudara supaya tetap tegak menantang. Tummy and tuck, operasi pasang boobs di Thailand rasanya perlu didukung untuk meningkatkan kepercayaan diri seorang wanita, suami yang mampu membiayai seharusnya juga mensupport demi kesenangannya juga dan keluarga tetap harmonis.

Aku sendiri belum perlu dan bersyukur meski tidak suka pakai beha masih bisa bangga kalau teman-teman sesama wanita seusia melirik bentuk tubuhku. Lagi pula bagaimana mungkin aku melakukan tummy and tuck jika lihat gerbang rumah sakit dan jarum suntik saja aku sudah lari sipat kuping seperti kucing kecil yang takut dengan kucing garong. Memikirkan small operation pakai laser untuk buang kutil saja bikin aku keringat dingin apalagi mau menghadapi scapel, pisau operasi. Tapi untuk wanita yang memerlukan dan mampu melewati kesakitan pasca operasi tidak ada salahnya. Saran dari teman-teman yang sudah melakukan : ‘jangan lihat rumah sakitnya tapi carilah dokter yang benar-benar ahli dan pekerjaannya bisa dipertanggung jawabkan supaya tidak kecewa, jangan sampai maunya jadi bagus malah jadi bencana’.

 


Leave a comment

Port El Kantaoui

Port El Kantaoui

Port El Kantaoui

Orang Perancis menyebutnya Sousse, sementara kalau dalam bahasa Arab disebutnya Susah. Tapi orang Tunisia sendiri lebih suka menyebut kota ini sebagai mana orang Perancis menyebutnya. Kota Sousse merupakan salah satu kota tujuan wisata di Tunisia. Dan Port El Kantaoui yang menjadi tema cerita aku kali ini adalah sebuah tempat yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Sousse. Tepatnya berada di wilayah Hammam – Sousse. Tempat ini juga sering sebagai desa turis, atau tourist village. Tempat berlabuh dan bersandar kapal-kapal layar dan yacht. Tempat ini sebenarnya bukan seperti tempat-tempat atraksi wisata kebanyakan di Tunisia yang berupa landmark, peninggalan bangunan kuno, dan sesuatu yang sifatnya seni budaya.

Port El Kantaoui adalah sebuah lokasi yang relatif baru dibuat. Hammam Sousse sendiri juga menarik karena mempunyai white sandy beach yang panjangnya berkilo-kilo meter. Kunjungan ke Sousse Tunisia juga dilakukan oleh kapal-kapal dari negara-negara Eropa. Untuk menarik wisatawan Eropa pemilik yacht untuk berkunjung ke Tunisia maka dibuatlah pelabuhan dan marina tempat sandar kapal-kapal layar dan yacht tersebut. Tempat mereka sandar ketika tidak melaut, mengisi suplai bahan bakar dan air bersih. Sehingga berkembanglah wilayah ini menjadi destinasi wisata pantai dan wisata bahari.

Hammam – Sousse menjadi tempat tujuan wisatawan pada saat musim panas dan di saat liburan panjang. Banyak orang berkunjung ke Souuse untuk menikmati pantai pasir putih dan tinggal beberapa minggu di wilayah tersebut. Wilayah sekitar jalur pantai di wilayah Hammam – Sousse merupakan perkampungan turis, berisi villa-villa dan apartemen sewa. Dan Port El Kantaoui terletak di tengah-tengah Hammam Sousse. Bukan saja menjadi destinasi wisata turis asing pemilik kapal tapi juga orang yang tidak punya kapal mewah dan orang lokal untuk sekedar hang out.

Port El Kantaoui from cafetaria

Port El Kantaoui from cafetaria

Replica Phoenician Boat

Replica Phoenician Boat

Port El Kantaoui

Port El Kantaoui

Beautiful yacht

Beautiful yacht

Beautiful yacht

Another beautiful yacht

Port El Kantaoui ini menjadi tempat yang menarik karena kapal-kapal yacht ini memang menarik untuk dilihat. Seperti aku yang selalu tertarik untuk melihat kapal-kapal yacht cantik berwarna putih, sambil bermimpi kehidupan para rich dan beautiful yang berwisata dengan kapal itu. Karenanya pada waktu menunggu suami yang sedang dirawat di klinik di kota Sousse – Tunisia karena penyakit leukemia yang dideritanya, aku sempatkan untuk mengunjungi pelabuhan marina di Sousse yang terkenal ini. Ketika kondisi Hans sudah agak membaik, sudah bisa duduk, meraih bedsite table, juga makan sendiri tanpa harus disuapin, aku minta seorang kenalan di Sousse untuk mengantar ke Port El Kantaoui.

Pemandangan di Port El Kantaoui ini tambah menarik karena tempat ini bukan hanya sekedar tempat sandar yacht dan sail boat, tapi disekitarnya juga dibangun cafetaria, restauran dan bar tempat hang out. Karena banyak orang-orang luar Tunisia yang mengunjungi tempat ini maka ada juga toko-toko dan lapak-lapak penjual cinderamata. Karena banyak juga kapal yang sandar dan berkunjung ke Tunisia ini berasal dari negara-negara Eropa maka dibangun juga di dalam wilayah marina apartemen sewa dan hotel. Selain itu kegiatan diving dan snorkling juga merupakan salah satu diantara aktifitas wisata di sana.

Cafetaria and restaurant

Cafetaria and restaurant

Tunisian snack and bonbon

Tunisian snack and bonbon

Uups, made in Bali

Uups, made in Bali


Leave a comment

Merayakan atau Tidak Merayakan Valentine?

Sebelum mengikuti sesuatu atau tidak mengikuti sesuatu pikirkanlah dulu apa yang akan kita ikuti itu. Blog ini tujuannya adalah untuk membuat kita semua berpikir dan berpikir. Berpikir untuk menjadi orang yang lebih baik.

Tahukah asal muasal Festival Valentine? Mungkin sudah banyak yang mengulas dan menuliskan hal ikhwal dari perayaan Valentine. Tapi saya ingin mengulasnya dengan cara saya sendiri bukan hasil tulisan copy paste dari berbagai blog atau literatur yang merupakan buah pemikiran para ahli sejarah. Ini merupakan kajian saya sendiri berdasarkan literatur yang ada namun saya persingkat tanpa perlu embel-embel tulisan-tulisan canggih hanya supaya nampak meyakinkan. Embel-embel tulisan itu hanya membuat distorsi sehingga pikiran tidak lagi fokus.

Singkatnya, orang Indonesia sering mengira bahwa perayaan Valentine itu berhubungan dengan agama tertentu. Sama sekali salah besar. Tidak ada agama apapun yang diakui di Indonesia merayakan Valentine. Semua agama yang ada di Indonesia tidak ada satupun yang merayakannya. Di gereja? Pura? Klenteng? Carilah tempat-tempat ibadah yang merayakan Festival Valentine. Jawabnya TIDAK ADA. Meski kata Valentine berasal dari nama Santo Valentine tapi Festival ini tidak ada hubungannya dengan gereja Katolik. Perayaan Valentine di era sekarang ini hanya ada di Pusat Perbelanjaan, Restauran, dan tempat-tempat komersil.

Seperti halnya yang tertulis dalam berbagai literartur asal muasal perayaan Festival Valentine dimulai pada abad ke 3 setelah Masehi, dirayakan pada tanggal 14 Februari, hari dimana terbunuhnya Santo Valentine. Yang dianggap sebagai martyr karena keyakinannya akan pentingnya sebuah perkawinan, cinta dan keluarga. Perayaan ini dilakukan oleh orang-orang Romawi yang masih mempercayai Dewi Juno. Juno adalah saudara dan sekaligus isteri dari Dewa Romawi Jupiter, karenanya dianggap sebagai ratu para dewa-dewi Romawi. Dewi yang melambangkan ‘perkawinan’, ‘cinta’, ‘kehamilan’ dan ‘kelahiran anak’. Persembahyangan pada kuil Dewi Juno dilakukan dengan membuat persembahan berupa bunga seperti persembahyangan pada kuil Juno pada bulan Juni.

Begitu dahsyatnya Fsetival ini mempengaruhi orang sedunia tidak lebih karena ‘cinta’, ‘perkawinan’, ‘keluarga’, ‘kehamilan’ dan ‘kelahiran anak’ adalah bagian kehidupan manusia sejak dulu. Tapi apa yang kita lihat makna dari Festival Valentine di era sekarang sudah melenceng jauh dari tujuan awal makna perayaan festival itu sendiri. Dan seperti yang saya jelaskan di atas sekarang Festival Valentine ini adanya hanya di super market, mall dan restauran. Tidak lebih dari even komersial semata.

Jadi, kita bisa memilih mau ikutan Festival Valentine atau tidak. Tidak ikutan-ikutan juga sebenarnya tidak ada hubungannya bahwa artinya seseorang itu bertentangan dan anti dengan ‘perkawinan’, ‘cinta’, ‘kehamilan’, ‘kelahiran anak’ dan ‘keluarga’.


Leave a comment

Cokelat berhadiah kondom

SONY DSC

Ada yang sibuk bikin promosi Valentine Day dan sebagian sibuk promosi menentangnya. Sekarang kelihatan lebih ramai memperdebatkannya bukan karena dulu Valentine Day tidak existing tapi karena dulu system komunikasi belum seperti sekarang. Dulu jaman masih ABG umur 13 tahun kita juga sudah kenal apa itu Valentine Day dan sekarang usia saya sudah setengah abad, jadi Valentine Day di Indonesia sebenarnya bukan barang baru. Saya atau kita remaja dulu mengenal Valentine Day dari majalah-majalah remaja seperti Gadis, Hai, Mode Indonesia. Dulu media hanya lewat Koran dan majalah, bedanya jurnalistik sekarang lebih banyak medianya itu yang bikin nampak lebih ramai dan heboh.

Jadi tertarik juga untuk mengulas dan mengenang Valentine Day masa lalu. Teringat lagi waktu masa pertama-tama naksir cowok di usia 13 tahun. Sangat normal dan terjadi hampir semua anak baru gede mengalami fase-fase itu. Teringat pernah menulis puisi-puisi cinta, meski tidak ingat lagi isinya, pasti malu kalau baca sekarang. Berharap tidak ada yang membaca tulisan-tulisan itu di halaman belakang buku sekolah. Jaman remaja tahun 70-an dulu tidak ada yang jual kartu valentine tapi bukan berarti VD tidak exist. Jaman dulu bukan cuma kartu VD yang langka kartu-kartu lain juga dan kita remaja dulu biasa membuat sendiri kartu-kartu ucapan. Kadang ada majalah yang memberi bonus kartu VD dengan gambar-gambar kartun.

Remaja mulai tertarik lawan jenis juga hal yang biasa. Masa SMP aku dulu juga ada naksir teman cowok dan aku tahu ada teman-teman cowok yang juga naksir aku. Pernah dulu aku buat kartu Valentine dan berkhayal untuk mengirim kartu buat anak cowok yang aku taksir itu. Berharap ada juga yang mengirimkan kartu dan berkata „ will you be my valentine“. Hahaha… tapi tidak ada satupun cowok yang naksir itu mengirimi kartu apalagi kirim cokelat dan sekuntum mawar merah. Sebagai cewek tahan gengsi untuk tidak mengirimi kartu lebih dahulu. Masih takut pacaran juga. Takut pelajaran sekolah kacau karena mikirin pacaran. Ketika hari Valentine lewat tidak ada kartu dan kartu bikinan sendiri akhirnya cuma jadi sekedar kerajinan tangan.

Beberapa hari lalu ada berita heboh tentang kondom hadiah setiap membeli dua batang coklat di jaringan minimarket Indomaret dan Alfamart. Masyarakat heboh karena takut anak-anak remaja terlalu dini mengenal sex. Kalau aku ingat-ingat kembali dulu pertama kali tahu kondom juga pas di SMP. Malah tahunya dari teman-teman sekelas. Ada anak cowok yang meniup sebuah balon warna biru. Lalu teman-teman cewek mulai berteriak-teriak seperti anak babi. Terus aku tanya kenapa sih ribut. Ada teman cewek yang memberitahu bahwa balon yang dibuat mainan itu bukan balon biasa. Itu kondom. Aku penasaran sekali dan tanya teman kok mereka tahu kalau itu kondom. Lalu teman memberikan penjelasan kalau di bagian ujung balon itu ada yang ‘nyenil’ seperti puting payudara maka itu kondom bukan balon hiasan pesta. ‘Oooo’ baru tahu deh. Bagaimana mereka bisa dapat benda itu tidak ada yang berterus terang. Tapi toh pada intinya bisa juga benda seperti itu jatuh ke tangan anak remaja baru gede.

Usia 13 atau 14 tahun pertama kali menstruasi buat yang cewek sementara anak cowok sudah disunat dan mulai tumbuh kumis. Organ sexual berkembang dan keinginan sexual juga mulai muncul. Keinginan untuk melakukan sex itu normal sekali. Kenapa orang tua sekarang harus menjadi ketakutan jika anak-anak remajanya mulai tumbuh ‘keinginan’ itu?. Dulu kita-kita juga bermimpi mendapatkan first kiss dari cowok idaman pada saat Valentine tapi nyatanya tidak berani mendekati cowok itu, melakukan bersentuhan saja tidak berani apalagi sampai berciuman, akhirnya hanya mimpi basah… hahaha.

Dari semua catatan di atas dan kenangan VD masa remaja tahun 70-80an pada dasarnya Valentine Day bukan barang baru yang mesti ditakuti oleh orang tua untuk anak remajanya. Pada dasarnya perayaan Valentine juga hanya perayaan biasa saja, yang sebenarnya dimanfaatkan untuk menjual mimpi dan khayalan, hanya event komersil tidak ada lain. Sekarang ini bukan hanya Valentine Day yang jadi begitu komersil, Perayaan Ulang Tahun, Lebaran, Natal, Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Imlek, bahkan kalau bisa acara Ultah kucing kesayangan dibuat perayaan dan dikomersilkan luar biasa. Yang kita lawan sebenarnya adalah dunia kapitalis dan pedagang yang mengkomersilkan berbagai acara itu. Bagaimana melawannya? STOP BUYING, WE DON’T NEED IT.