Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Kesasar

Leave a comment

Ini tentang pengalaman menggunakan aplikasi GPS yang ada di HP buatan China.

Dua hari sebelum kejadian sempat ngobrol-ngobrol dengan teman kuliah yang kebetulan habis selesai seminar di Bali. Kita ketemuan hari Sabtu setelah program seminar selesai. Kita ngomong-ngomong ngalor-ngidul sambil makan ikan bakar di Serangan. Pembicaraanpun sampai ke soal teknologi masa kini. Betapa mudahnya kita sekarang ini bepergian dengan adanya aplikasi GPS di HP. Aku menimpali, “ada betulnya juga, tapi…”. Aku menambahkan bahwa tidak semua aplikasi GPS benar-benar akurat. Jika perangkatnya bagus maka saat kita masukkan alamat maka kita bisa sampai di koordinat tepat di depan alamat yang kita input. Dan jika perangkatnya kurang bagus maka koordinat bisa salah dan bisa saja GPS akan meminta kita untuk terjun dari overpass, hanya karena salah persepsi overpass sebagai persimpangan biasa. Karena kejadian itu pernah aku alami saat aku dan Hans menyewa mobil Ford Focus di German. Berbeda perangkat GPS yang ada pada mobil Mercedez, sangat akurat mengantarkan kita tepat hingga ke depan pintu masuk Lobby Hotel.

Tepat dua hari setelah obrolan dengan teman itu aku berkesempatan merasakan pahitnya aplikasi GPS dari HP teman. Waktu itu teman ku Fani ngajakin pergi ke sebuah tempat wisata Hot Spring di kawasan Kintamani. Sebagai orang yang sudah lumayan sering keluyuran di Pulau Bali tahu lah kalau dari sekitar Denpasar Timur mau ke Kintamani kita jalannya ke Gianyar dulu lalu ke Bangli. Lanjut terus ke Utara arah Kintamani. Hanya saja aku belum pernah ke Hot Springnya itu. Makanya ketika berangkat dari rumahku di daerah Lembeng jalan bypass Ida Bagus Mantra kita masukan alamat destinasi untuk menuju Hot Spring.

Awal perjalanan aku menggunakan rute bypass arah Ketewel dari Lembeng, so far siy okey. Mulai simpang Ketewel aku menggunakan rute Pasar Sukawati menuju Gianyar Center alias Pusat Kota Gianyar. Sang GPS mulai aneh, dia seolah-olah menyuruhku kembali ke arah Selatan, kembali ke bypass. Aku abaikan, Fani memutuskan untuk menghilangkan suara perintah pada GPS, dengan harapan jika sampai Gianyar GPS akan menyesuaikan. Aku lanjut terus Pasar Sukawati ke Utara ke Kapten Dipta Square lalu ke Timur jalan arah Klungkung lalu ke kiri masuk Jalan Pegesangan menuju Bangli. Dari Bangli lalu ambil jalan yang menuju Kintamani dan masuklah ke jalan Nusantara menuju Kintamani. Sampai di situ karena merasa sudah menuju destinasi ke Kintamani maka aku minta Fani untuk menghidupkan kembali suara perintah GPS. Akhirnya GPS sudah memahami rute posisiku, rute jalan Nusantara, oke sesuai pikirku. Akupun mulai percaya dan mulai ngikutin instruksi dari GPS.

Nggak berapa lama di jalan Nusantara GPS minta aku untuk ambil jalan ke kanan ketika ada simpang tiga, lurus ke Kintamani dan ke kanan ke Besakih. Aku ikutin ambil jalan ke kanan. Dari situ aku mulai melihat ketidak sesuaian antara rambu penunjuk dan GPS. Kalau dari rambu penunjuk Kintamani jalan yg lurus. Tapi di situ aku masih trust dengan GPS, pikirku dan aku bilang ke Fani, mungkin GPS nya lebih tahu jalan yg langsung ke lokasi. Yang terasa aneh adalah jalan yang kita ikuti itu bukan jalan raya utama melainkan jalan penghubung biasa, jalan kecil antar desa. Masih legowo, dan nggak ngajak berantem si mbak GPS. Pikirku, ah mungkin jalan ini lebih cepat sampai. Setelah sekitar 10 kilometer mengikuti jalan itu tahu-tahu kita berada di jalan raya utama. Berdasar kontur aku masih percaya jalan itu menuju ke arah Gunung Batur, karena jalan nya naik terus. Di belakang jalan menuju arah Semarapura. Oh pantesan tadi GPS minta kembali ke bypass, mungkin dari bypass jalannya lebih baik. Kita lanjut terus. Kita jalan menyusuri lereng gunung naik tapi keanehan yang aku utarakan ke Fani jalan selanjutnya kok kita menuju arah menuruni gunung. That’s not possible. Tapi aku pasrah, ya sudahlah kita ikuti saja apa maunya GPS.

Lama-lama makin aneh jalan yang kita lalui. Itu kita sadari. Jalannya jalan yang seolah-olah ke antah berantah. Jalan kecil, seperti jalan-jalan pelosok di kawasan Bali Bagian Timur. Jalan aspal tapi sangat sempit, jika ada mobil berpapasan maka kita harus mepet ke pinggir dan satu ban keluar jalur dari jalan aspal. Apalagi bila berpapasan dengan mobil truk. taking over almost impossible. Lebih gila lagi jalan di tengah hutan ini se-olah jalan yang baru dirintis. Jalan penghubung desa yang baru mulai dilebarkan. Aku ngikutin mobil Daihatsu Taft yang ada di depan, karena serem juga kalau sendirian di tengah hutan belantara. Sampai di suatu tempat akhirnya mobil Daihatsu itu memperlambat jalannya seolah ragu, kemudian dia berhenti sama sekali. Kemudian kita cek HP ternyata tidak ada sinyal. Karena ada mobil lain yang di belakang maka aku dan Fani putuskan untuk lanjut terus. Karena merasa tidak sendiri di tengah hutan.

Tidak beberapa lama kita mulai memasuki wilayah peradaban. Mulai ada rumah-rumah kampung. Sebagian besar rumah seperti mendapat bantuan, rumah gubug menjadi rumah dengan dinding batako yang seolah baru direnovasi secara bersamaan.  Entah apa nama jalannya aku perhatikan ada rambu yang menunjukan jalan menuju arah Tianyar. Aku sama sekali tidak tahu dimana letak Tianyar dalam peta, jalan itu juga menunjukkan arah ke Kubu. Dari vegetasi tumbuhan yang ada di kiri-kanan jalan dari hutan mulai beralih ke vegetasi semak daerah yang kurang hujan. Akhirnya kita tiba di jalan raya utama. Lihat kiri kanan kok seperti jalanan pantai Utara Bali. Mulai bertanya-tanya kok kita seperti di jalanan pinggir pantai? Mulai merasa miris. Ah, mungkin itu bukan laut Utara tapi Danau Batur. Hahaha. Dilema antara rasa miris dan berharap-harap cemas. Tapi toh masih mempercayakan perjalanan sama petunjuk GPS. Belokan terakhir ke kanan. Then…. ooaalaa you are arrive at destination. But what???? ZONK!!!!! Kitapun ketawa ngakak dengan rasa miris, dan seribu tanya dalam kepala, where we are now????

Akhirnya kitapun kembali ke jalan raya, dan kita mengambil jalan lanjutan dari yang tadi. It is clear kita ada di jalan raya antara Singaraja dan Tulamben. Akhirnya kita pergi cari restauran untuk refreshing dan mendinginkan kepala. Ya inilah testemoni mengenai aplikasi GPS di dalam HP buatan China. Missed Leading… wkwkwkwk.

Happy Ending-nya kita putuskan untuk pergi ke Taman Ujung di Amlapura. Kali ini aku lebih percaya sama offline peta buatan Periplus.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s