Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Meja

Meja. Ya kali ini mau ngomongin soal meja. Buat orang Indonesia sepertinya meja itu barang mewah. Mungkin ini pendapatku aja. Tapi aku temukan banyak sekali tempat yg bisa dibilang ‘Lack of table’. Dan sebagai contohnya, buat orang Indonesia melakukan berbagai pekerjaan di lantai adalah hal yang lumrah.

Saat aku menginap di rumah keponakanku di Jakarta aku hanya menemukan satu buah meja, yaitu meja tamu. Keponakanku di Jakarta tinggal di lokasi yang cukup baik lingkungannya di Permata Bintaro, masih termasuk bagian dari kawasan Bintaro Jaya. Meski di kawasan cukup elit, yang ada sekuriti 24 jam tapi rumahnya ukuran type 45. Semuanya seperti serba temporary. Seperti orang sedang camping tapi permanen :-), seperti ituyang aku rasakan.

Waktu aku posting ini aku juga melakukannya dengan duduk lesehan di kamar. Sebenarnya bisa juga duduk di kursi tamu bukannya di lantai, atau di atas tempat tidur. Ya itu sebabnya gadget seperti Tab, Note, iPad begitu booming dan hits. Karena perangkat itu sangat mobile. Aku juga baru saja beli gadget baru semacam. Karena perangkat PC duduk diatas meja koneksi internet pakai modem di rumah sangat menyebalkan koneksinya. Itu sebabnya aku mengeluarkan simpanan untuk beli gadget yg lebih ringan, supaya bisa dibawa kemana-mana, dan tidak perlu pakai meja.


Leave a comment

Roti keju

Image

Image

Setelah gas terpasang ‘happy cooking Mom’ kembali. Sudah lama pengen sekali belajar bikin roti. Inilah resep dari roti pertamaku.

  • 300 gr tepung terigu untuk roti
  • keju parut untuk isi
  • 1/2 bungkus fermipan ukuran 11 gr
  • sedikit garam
  • 1 butir telur
  • 50 gr mentega
  • 2 sdm gula pasir
  • 125 ml susu hangat
  • tepung untuk bekerja supaya tidak lengket
  • mentega untuk mengoles loyang
  • kuning telur dan sedikit susu untuk mengoles

Taruh terigu pada mangkok besar, tambahkan garam, satu sendok makan gula pasir dan setengah bungkus fermipan. Campur jadi satu, kemudian uleni dengan susu hangat sehingga membentuk sebuah adonan. Diamkan adonan selama lebih kurang 10 – 15 menit sampai fermipan mulai bereaksi. Tambahkan telur, satu sendok makan gula dan 50 gr mentega, aduk hingga kalis.

Tutup mangkok dengan serbet yang lembab supaya adonan tidak kering. Diamkan selama 30 – 45 menit hingga mengembang.

Setelah mengembang bagi adonan menjadi beberapa bagian, bentuk sesuai selera dengan isian keju parut. Letakkan pada loyang yang sudah dioles mentega. Tutup dengan plastik foil dan tunggu hingga adonan kembali mengembang. Dengan kuas yang lembut olesi permukaannya dengan campuran kuning telur dan susu.

Panggang selama 30-35 menit pada suhu medium, saya menggunakan suhu 160 derajat Celcius pada oven gas.

 


Leave a comment

Gas Regulator, bagaimana menggantinya?

Image

Sungguh keterlaluan, seorang insinyur tapi untuk mengganti selang gas dan regulator masak minta bantuan teknisi. Itu yang terjadi dengan saya. Bukan saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan teknis kecil ini tapi pemberitaan tentang tabung-tabung gas yang meledak dan berbagai kecelakaan yang menyangkut soal gas Elpiji membuat saya paranoid.

Beberapa hari lalu gas di rumah habis, ditandai dengan bau gas yang keluar menyengat. Karena pressure berkurang maka justru regulatornya sepertinya tidak berfungsi dengan baik. Biasanya urusan mengganti tabung Elpiji adalah pekerjaan suami atau langsung saya serahkan pada si penjual gas untuk memasangkan tabung yang penuh. Saking paranoidnya saya tidak pernah menyentuh apalagi untuk mengkutak-katik yang namanya regulator. Yang saya tahu cuma menyalakan kompor untuk memasak.

Tabung kosong baru saja diganti, ketika tukang gas nya masih ada kami coba bersama, api menyala normal seperti biasa. Baru satu jam lewat ketika mau mulai masak makan malam ternyata api mengecil dan gas seperti tidak mau keluar. Pressure gauge di regulator tiba-tiba menunjukan angka nol. Karena sudah malam maka besoknya saya panggil kembali si tukang gas. Ketika si tukang gas datang dia mengganti karet seal di kepala tabung, woa la gas tersambung kembali. Baru 10 menit masak air eh gasnya mengecil kembali.

Karena suami tidak ada di rumah dan sedang di luar kota entah 1 atau 2 bulan lagi baru datang, maka pusinglah saya. Stress, dan nervous membayangkan kalau saya tidak bisa mengatasi persoalan ini. Saya lepas regulator gas, dan saya tutup rapat kepala tabung dengan plastik foil dan ikat rapat-rapat menggunakan karet. Otak saya sebagaimana kebanyakan orang Indonesia berpikir, tak ada rotan akarpun jadi, kalau tidak ada gas saya toh bisa masak pakai arang. Hahah, kembali ke jaman batu, meskipun masaknya dengan alat untuk barbeque. Dua hari saya masak dengan arang, untung masak nasi menggunakan rice cooker yang tinggal nyolokin.

Yah keterlaluan, seseorang dengan pendidikan teknik, meskipun teknik jurusan yang berbeda, mengganti regulator saja tidak berdaya. Ya itulah saya. 

Tapi setelah dua hari kembali kejaman batu akhirnya saya mengumpulkan segala kekuatan bathin, terkumpulah cukup adrenalin. Seharian saya browsing di internet mencari seluk beluk mengenai mengganti regulator dan selang gas. Semoga Allah memberkati mereka yang membagikan ilmunya melalui internet dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Tak kenal maka tak sayang. Malu bertanya sesat di jalan. Ketidak tahuan membuat kita buta. Alhamdulillah, dari browsing dan membaca di beberapa situs akhirnya saya jadi lebih percaya diri untuk mengerjakan sendiri mengganti regulator gas di rumah.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya bagaimana memilih regulator yang baik. Bagaimana ciri-cirinya dan berapa harganya. Memang bisa dibilang sangat sulit untuk bisa menjatuhkan pilihan karena begitu banyak merek, begitu banyak pilihan, bermacam harga dari harga 50 ribu hingga yang 200 ribu. Apakah yang murah jelek dan yang mahal lebih baik? Belum tentu. Patokan saya adalah saya tidak mau membeli produk dengan merek yang sama seperti yang saya punya, karena saya tahu itu tidak mengunci dengan baik dan sedikit miring, kadang agak goyang. Mungkin ini yang menjadi sebab mengeluarkan bau ketika mau habis. Entahlah.

Setelah cari informasi di internet ketika di supermarket jadi lebih fokus mau cari yang mana. Kebetulan toko yang saya datangi waktu itu tidak banyak macam dan sepertinya toko tersebut selektif hanya menyediakan jenis yang banyak dicari orang, jadi pilihan tidak terlalu sulit. Saya memilih double lock dan jenis yang memiliki pressure gauge jadi bisa tahu kalau gas sudah mau habis.

Sampai di rumah saya menyiapkan semua perkakas yang saya perlukan, tang dan obeng. Dari hasil browsing saya jadi tahu kemungkinannya adalah gas tidak keluar karena regulator menutup keluarnya gas secara automatis disebabkan ada kebocoran. Maka dari itu selain mengganti regulatornya saya juga memutuskan untuk mengganti juga selangnya. Saya perhatikan selang gas yang lama mempunyai diameter dalam yang lebih besar dari diameter selang gas yang baru saya beli. Tempat sambungan gas pada kompor berukuran kecil. Sehingga sambungan selang pada kompor menggunakan karet seal tambahan yang terpisah. Sepertinya ini juga penyebab lainnya disamping regulator yang sedikit goyang. Karet tambahan pada selang itu sudah agak lama, mungkin sudah ‘londot’ kalau istilah Jawa-nya, alias kendor. Kemungkinannya juga terjadi kebocoran disitu sehingga memasukan udara yang menyetop gas secara automatis. Itulah gunanya regulator automatis. Kalau tidak membaca di internet saya tidak mungkin tahu bahwa ada yang namanya regulator automatis.

Selanjutnya pekerjaan memasang clem pada selang dan mengencangkan clem bukan pekerjaan yang memerlukan ilmu teknik yang tinggi hanya butuh kerapihan hasil kerja saja. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menikmati daging kambing panggang setelah itu.