Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


8 Comments

Mengobati Ringworm

Image

Ini loh yang namanya ringworm, pinggirnya ada seperti bintil2 dan bagian tengahnya seperti botak.

Semula tidak tahu, coba diobatin dengan salep antibiotic setelah 3 hari tidak ada tanda-tanda sembuh malah lingkarannya makin lebar. Akhirnya ganti salep antivirus yang dioleskan tiap 3 jam, setelah 24 jam tidak ada reaksi apa-apa. Gatalnya itu loh gatal banget. Akhirnya tanya sama Google, akhirnya tahu kalau ini ringworm. Penyakit kulit ini menular. Namanya ada ‘worm’nya tapi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan cacing. Ini penyebabnya adalah sejenis jamur. Dan jamur ini berkembang biak dibawah permukaan kulit.

Nah, gimana kok sampai bisa ketularan ringworm?.

Salah satunya adalah dari binatang peliharaan seperti kucing, anjing, dll. Jamur ini masuk melalui luka di kulit. Jadi ceritanya kucingku ada yang suka minta pangku, aku sering elus-elus, kebetulan ada nyamuk yang menggigit lutut. Rupanya aku tanpa sengaja menggaruk-garuk gigitan nyamuk dengan tangan yang terkontaminasi akibat mengelus-elus kucing. Gigitan nyamuk tergores oleh kuku yang kebetulan agak panjang. Jadilah aku tertular ringworm ini. Setelah tahu ini bukan virus dan bukan bakteri dan ternyata jamur akhirnya googling lebih lanjut untuk pengobatannya. Dapat info kalau jamurnya bisa mati dengan larutan bleaching.

Akhirnya aku ambil detergen plus B**c**n. Bagian yang kena ringworm ini aku gosok dengan detergen dan B**c**n, digosok-gosok dengan campuran detergen dan B**c**n 5 – 10 menit, baru kemudian dibasuh. Sudah pasti sakit, seperti diiris-iris. TAPI, baru satu kali pemakaian langsung kelihatan hasilnya. Gatalnya langsung hilang. Setelah 3 kali menggunakan detergen dan B**c**n langsung kering, sembuh.

Sekarang cuma kepikiran bekasnya bisa hilang nggak ya?

Ini adalah foto kondisi setelah 3 hari dan 3 kali pengobatan ala rumahan menggunakan bleaching liquid dan detergen. Koreng yang berwarna merah langsung mengering dan meninggalkan bekas, dan keropeng seperti gambar di bawah ini.

ringworm after

Advertisements


1 Comment

‘Kok seperti mau ikut ngatur negara’

Suatu hari ada teman kuliah di Undip, Henri Yap, yang posting status di lamannya di sebuah social media. Dia menulis komentarnya perkara urusan-urusan besar bangsa ini, problematika yang ada di Indonesia, yang setiap hari selalu saja ada isu-isu baru, persoalan yang memang menggelitik, suka bikin gemes, bikin pengen marah, juga bikin puyeng. Sebenarnya tidak ingat juga kasus apa yang dia tulis waktu itu. Yang menggelitik saya justru ada teman lain yang menanggapi di kolom komentar, ‘ngapain pagi-pagi sudah ngomong soal begituan, kok se-olah-olah kita ini mau ikut ngatur negara, dari pada pusing lebih baik nyari duit aja‘.

Apa jadinya kalau kebanyakan masyarakat apatis dan cuek bahkan tidak tahu menahu persoalan-persoalan besar bangsa ini?

Tapi itulah yang terjadi di Indonesia. Sistem demokrasi kita ini terbalik-balik. Posisi ‘government‘ atau kalau di dalam Bahasa Indonesia terjemahannya ‘pemerintah’, justru adalah pihak yang tertinggi di dalam struktur negara, meskipun katanya dipilih oleh rakyat. Mereka, orang-orang yang duduk di parlemen sebagai wakil rakyat pada umumnya tuli dan buta persoalan bangsa, mereka tidak bisa menangkap dan mendengar apa yang sedang bergejolak di dalam masyarakat. Akibatnya mereka tidak bisa membuat kebijakan dan aturan yang sesuai dengan keadaan yang aktual. Rakyat ketakutan kalau harus berhadapan dengan pemerintah, rakyat berharap belas kasihan pemerintah, bukan sebagai pihak yang mempunyai kuasa untuk mengarahkan kebijakan negara.

Ini yang menurut saya perlu diluruskan. Soal kedudukan rakyat di dalam sebuah negara demokrasi.

Di negara maju yang menggunakan sistem pemerintahan demokrasi, maka kedudukan masyarakat dan rakyat itu adalah dalam posisi yang tertinggi. Artinya rakyatlah yang mengatur negara ini. Dan kedudukan society dan people power itu adalah menurut keadaan yang sebenarnya, rakyatlah yang mengatur negara, pemerintah itu adalah abdi negara, dibayar diberi gaji supaya apa yang dikehendaki rakyat dan society dapat berjalan dengan baik. Tugas wakil-wakil rakyat dalam parlemen adalah mengamati, mendengarkan dan mengangkat isu-isu yang beredar di dalam masyarakat, untuk kemudian menganalisanya dan merumuskannya di dalam aturan dan kebijakan dari perkembangan isu-isu yang ada tersebut. Parlemen bekerja untuk terus mendengarkan isu-isu dan problematika di dalam masyarakat dan society, bekerja dan berpikir untuk menganalisanya, merumuskannya dan menentukan kebijakan. Sesudahnya adalah tugas pemerintahan dan keamanan untuk menjalankan aturan dan kebijakan yang merupakan amanat dari parlemen/ wakil rakyat. Pemerintah, mereka hanyalah abdi dan pekerja yang memastikan bahwa kebijakan dan ketetapan yang sudah dirumuskan bersama oleh wakil rakyat di dalam parlemen bisa berlangsung lancar dan tertib.

Maka dengan demikian masyarakat memang harus tanggap. Masyarakat harus cerdas memikirkan nasib mereka. Masyarakat harus paham persoalan apa yang sedang terjadi di masyarakat. Masyarakat lah yang harus mengangkat isu-isu dan persoalan, diusulkan, agar dibicarakan dalam pertemuan wakil-wakil rakyat. Kalau masyarakat apatis, cuek, bahkan tidak tahu keadaan diri masyarakat dan society nya itu bagaimana mereka bisa mengatasi persoalan-persoalan dalam negara ini. Kalau ada yang berbicara mengenai urusan-urusan besar negara ini berarti mereka berpikir untuk kepentingan masyarakat dan society. Bukan berarti ingin mengambil peran sebagai pemerintah. Memang rakyatlah yang mengatur negara ini di dalam negara demokrasi, dan bukan pemerintah.


Leave a comment

I Need A Job

Tahun ini usia saya bakal persis setengah abad. Sudah tua ya?. Tapi sebenarnya saya tidak merasa tua. Saya masih melakukan banyak hal yang bahkan yang muda pun belum tentu berani melakukannya. Tapi untuk mencari pekerjaan di Indonesia tidak ada lagi yang percaya untuk mempekerjakan jobseeker se-usia saya. That’s really bad.

Ya, ini sungguh berat. Terutama untuk wanita yang tiba-tiba harus menjadi single parents karena suaminya meninggal. Seperti juga terjadi pada beberapa orang teman sekolah saya di SMP, beberapa menikah dengan yang lebih tua, ada yang pasangan hidupnya lebih dulu meninggal, di usia setengah abad masih banyak wanita yang mempunyai anak yang duduk di bangku sekolah atau kuliah dan masih memerlukan support dari orang tua. Wanita yang menikah di atas 28-30 tahun saat usia 50 tahun anak-anaknya masih di bawah 20 tahun. Padahal dari program KB pemerintah masyarakat disarankan untuk tidak menikah di usia dini, setelah itu agar menjarangkan kelahiran. sehingga logikanya ketika memasuki usia 50 masih banyak yang punya anak di usia pendidikan.

Jika mendadak seseorang kehilangan suami yang menjadi tulang punggung keluarga dan seorang wanita yang semula memfokuskan kehidupannya untuk merawat keluarga ketika kemudian ingin berkarir kembali tentunya tidak mungkin jika ketersediaan lapangan pekerjaan hanya untuk usia di bawah 30 tahun seperti di Indonesia ini.

Entah kenapa di Indonesia seperti itu. Yang saya tahu keadaannya di Luar Negeri pemerintah mendorong masyarakatnya untuk terus dan tetap bekerja hingga usia pensiun. Sehingga pemerintah tidak kerepotan memberikan jaminan sosial. Make sense. Yang terjadi di Indonesia benar-benar tidak masuk akal. Sebagai orang yang punya pendidikan dan pengetahuan saya ogah ngemis jaminan sosial. Saya masih ingin bekerja. Kemana kita harus berjuang untuk ketersediaan lapangan pekerjaan untuk usia di ambang senja. Mungkin saya harus membentuk sebuah organisasi untuk memperjuangkan hal ini.