Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Atheis

Entah kok tiba-tiba terlintas tema ini. Kadang orang muslim suka kesal jika Islam dijadikan bahan olok-olokan, dan mereka beranggapan orang-orang yang mengolok-olok adalah penganut agama lain. Padahal tidak. Tidak ada satupun agama yang mengijinkan untuk meng-olok-olok agama dan Tuhan siapapun. 

Benar-benar susah untuk percaya kalau ‘hari gini’ masih ada orang yang tidak percaya Tuhan. Tapi nyatanya ada. Dan aku yakin sekali orang-orang yang memperolok agama sebenarnya mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak percaya akan adanya Tuhan dan tidak mempercayai agama apapun.

Cuma terpikir untuk tidak ter-provokasi dengan orang-orang yang suka meng-olok-olok suatu agama. 

Advertisements


Leave a comment

Gosong tuh…. Jadinya… Gatot = Gagal Total

Masak-memasak, terutama pastry dan kue-kue yang dioven pertama mencoba resep jarang terjadi langsung ‘succes story’. Yang sekarang ini masak kue selalu berhasil pasti juga dulunya pernah mengalami masa-masa kelam, alias bikin kue gosong dan mislek, bohong kalau nggak pernah mengalami itu.

Beda kalau masak dengan top cooking alias diatas kompor, yang bisa dengan mudah dikontrol apinya, menggunakan oven itu tricky, terutama kalau tidak ada lampu dalam ovennya. Buka tutup pintu oven untuk mengecek apakah sudah mencapai tingkat kematangan yang sesuai juga bakalan tidak bagus hasilnya apalagi untuk cake. Waktu yang tertulis dalam buku resep atau dari resep yang kita download di internet juga belum tentu pas karena setiap oven kalau lain merek punya tingkah yang beda-beda.

Pasti semua mengalaminya, malu kalau percobaan pertama atau ada kue-kue yang tidak berhasil. Yang paling lucu itu waktu kita kecil-kecil dulu. Sebelum Hari Raya ibu sering buat kue-kue kering sendiri di rumah. ‘Kalau yang gosong-gosong, itu yang di toples tutup merah, boleh diabisin’, kata nyokap. Yang gosong-gosong suruh cepat-cepat dihabiskan, hehehe biar nggak lihat lagi apalagi sampai ketahuan orang, giliran yang bagus-bagus disayang-sayang, kadang diumpetin di lemari yang paling atas, jauh dari jangkauan anak-anak. ‘Jangan itu nanti buat kalau ada tamu’. Kalau jaman sekarang banyak ibu-ibu kalau bikin kue hasil bikinan yang bagus tidak boleh dipotong dulu, anak-anak suruh nunggu, difoto-foto dulu, mau di-up-load di Facebook, Tweeter, Youtube atau di blog.

Kemarin baru coba resep dapat dari majalah. Judul keren resepnya ‘Heidelbeer Pie mit Meringe’. Sebenarnya ini pie biasa, pakai isian susu yang dikentalkan dengan tepung plus semacam buah black berry dan atasnya diberi topping meringue. Adonan pie-nya basically sama dengan adonan pie lainnya. Filling susu-nya nothing, bukan hal yang terlalu complicated. Black berry-nya di-substitute dengan buah strawberry. Dalam hati wah bakalan jadi pie yang istimewa nih pakai meringue di atasnya.

Didalam resep tertulis setelah dioven 20 menit pie crust-nya lalu dikeluarkan, masukkan adonan filling susu-nya, plus buah berry-nya dan meringue toping-nya, kemudian panggang lagi 20 menit pada suhu 180 derajat celcius, biasanya ini ukuran panas untuk oven listrik maka kalau oven gas berarti pakai 160 derajat saja. Aku lakukan semua mengikuti persis seperti tertulis di resep. Tapi,…. setelah 20 menit ternyata meringue-nya gosong tuh. Luarnya gosong dan bagian dalamnya masih soft. Akibat suhu yang terlalu panas ketika pie-nya diangkat sesudahnya justru bagian tengah snow egg white-nya yang tidak mengering itu malah jadi meleleh. Parah… gagal total pie kali ini.

Pasti semua mengalami kalau mengikuti apa yang tertulis di resep pasti hasilnya tidak sesuai bayangan. Tapi bagaimana kita mau modifikasi sendiri kalau itu kita pertama kali mencoba suatu resep? Untuk kasus ini sebenarnya harusnya aku berpikir. Meringue itu cuma bisa kering kalau dipanggang dalam api yang rendah, jadi bagian dalamnya kering dan luarnya tidak gosong. Jadi next time tidak akan melakukan seperti yang tertulis di resep…. always like that, isn’t… 


Leave a comment

Hugo Chavez

Berguguran satu demi satu pemimpin dunia yang hebat, presiden Venezuela Hugo Chavez akan dimakamkan Jum’at 8 Maret lalu.

Waktu dia baru jadi presiden lihat tampangnya kayaknya enggak banget deh nih orang, ramalan aku dia adalah model pemimpin korup seperti layaknya pemimpin2 dari negera-negara ‘terbelakang’ (kebalikan dari negara ‘maju’). Tapi ternyata tidak. Waktu lihat langkah-langkah dia me-nasionalisasi perusahaan-perusahaan pertambangan asing yang ada di negaranya syok juga dengarnya, dalam hati aku berpikir wah bakal perang nih Venezuela dengan USA, entah gimana caranya ternyata nggak berani tuh USA. Nampak sekali kalau USA sangat menginginkan kematian si Chavez, tapi cuma berani berkoar-koar nyumpahin dia. Chavez pun tahu nyawanya terancam, tapi dia tetap berani menghadapi resiko itu demi perbaikan ekonomi bangsanya.Nyatanya banyak pemimpin negara-negara lain yang lebih berpihak pada Venezuela, baik secara terang-terangan maupun tidak.

Mereka adalah negara-negara tetangga Venezuela di Amerika bagian Selatan dan negara-negara Afrika. Rupanya Venezuela punya hubungan yang sangat baik dengan negara-negara tetangganya, seperti Colombia, Kuba, dan mungkin bangsa-bangsa di Amerika bagian Selatan juga sebenarnya muak dengan USA cuma tidak berani secara terang-terangan.

Tanpa dukungan bangsa lain Amerika Serikat pun bukan apa-apa. Bangsa Amerika maksud aku USA, yang merasa paling jago ini, sebenarnya tidak ada apa-apanya tanpa follower-followernya. Makanya bangsa kita ini seharusnya nggak perlu takut sama USA. Aku muak banget sama presiden-presiden Indonesia yang suka njilatin pantatnya presiden USA, bangsanya dikentutin di berakin juga diem aja. Sebagai pemimpin sebuah bangsa harus bisa membuat strategi kalau nggak cocok dan tidak baik untuk bangsa kita ya jangan diikutin. Kita harusnya bisa melihat keadaan kalau nggak nguntungin buat bangsa kita cuekin aja mereka. Kalau USA banyak followernya ya kita diam aja dulu tapi kalau nggak ada followernya dan lebih banyak yang berpihak ke kita ya berani untuk berdiri diatas prinsip-prinsip yang baik untuk bangsa kita.

Ada prinsip yang sama dengan aku dari pemimpin dunia yang satu ini ‘Gue baek ame loe, kalau loe juga baik ama gue’, begitu cara dia mengajarkan pada bangsanya dalam menghadapi bangsa Amerika Serikat atau USA.

Setelah kematian Hugo Chavez apakah USA berpikir sebagai kesempatan untuk merebut kembali apa-apa yang diambil Chavez? Yuk kita lihat aja. Kita cuma bisa jadi penonton, tapi banyak hal bisa kita pelajari dari apa yang terjadi disana. Dan kita lihat nanti 2014 kira-kira model presiden Indonesia kayak apa yang jadi kandidat di Pemilu. Semoga nanti ada orang-orang Indonesia yang punya kepercayaan diri serta punya nasionalisme yang kuat seperti Hugo Chavez untuk kandidat Pemilu 2014.

Kelemahan dari negara kita adalah negara-negara tetangga kita Philipina dan Australia adalah USA minded, sementara Malaysia dan Singapore adalah British minded, sementara keduanya Australia dan British adalah follower setia USA. Yang bisa bangsa kita andalkan adalah negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Taiwan. Dengan bangsa-bangsa tersebut kita harus membuat hubungan baik terutama dalam hal kerjasama militer.


Leave a comment

Nasehat Warren Buffet

Copas tetangga sebelah semoga diijinin… sumber: nggak tahu, nggak masalah isinya bagus kok……

 

Inilah Orang terkaya no 3 di dunia, Warren Buffet memberi nasehat :

“Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yg kau miliki, serta ingat :

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

4. Jangan memakai merk, pakailah yang benar˛ nyaman untukmu.

5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

6. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life. So find your happiness inside you.

7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain.

“Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur”


Leave a comment

Tinggal di Perbatasan

Tidak terbayangkan kalau saya harus tinggal di daerah perbatasan Indonesia dengan negara lain, jangankan dengan negara lain perbatasan antar kota saja sudah masalah. Kehidupan masa kini sudah tidak bisa lepas dari kebutuhan akses telpon seluler dan internet, dan tinggal di daerah perbatasan adalah bagian lokasi yang selalu tertinggal dari kemajuan. Termasuk daerah-daerah perbatasan antara dua kota seperti antara kota Denpasar dan kota Gianyar.

Tinggal di perbatasan mencari sinyal 3G  /HSPA untuk akses internet yang tidak lelet merupakan sebuah perjuangan. Harus berjuang mencari kesana kemari dan juga harus berani malu. Diantaranya nongkrong internetan di depan minimarket yang akses internetnya bagus. Di daerah saya di dekat jalan raya Bypass Ida Bagus Mantra akses internetnya bagus. Tapi beberapa meter saja dari tepi jalan akses 3G sudah tidak ada, cuma dapat akses 2G yang sangat terbatas. Rumah tinggal saya sebenarnya tidak terlalu jauh masuk kedalam tapi tidak dapat sinyal. Jadi tidak bisa blogging atau sekedar main di jaringan social network. Jangankan akses internet untuk akses telephone selular saja juga terbatas, tidak semua sinyalnya bagus. Di rumah sebenarnya ada land telephone dan bisa pasang Speedy. Di jalan Bypass tidak jauh juga terpampang baliho iklan Speedy yang sangat besar, tapi waktu saya datang ke Telkom untuk pasang internet di rumah jawabnya untuk daerah saya masih waiting list. 😦

Mini market dekat rumah itu adanya di Bypass Ida Bagus Mantra. Beruntung mini market ini termasuk sangat baik, menyediakan kursi-kursi dan payung dibagian teras untuk pelanggannya. Karena tinggal di kompleks yang tidak jauh jadi pegawai minimarket tersebut sudah cukup mengenal saya. Masih bisa bermuka tebal dan berani malu untuk duduk-duduk di tempat itu sambil buka laptop meski tidak sedang belanja apa-apa di mini marketnya. Teman-teman dan tetangga-tetangga saja yang suka ngledekin. Kendala lain adalah waktunya terbatas, cuma selama baterai masih on. Kalau hujan dan angin juga tidak bisa internetan, dan kalau lagi di tengah-tengah meng-akses internet ternyata hujan berangin ya terpaksa harus minggir cari tempat berteduh.


Leave a comment

Ke Luar Negeri

Selesai baca tulisan Rhenald Kasali jadi ingat masa kecil. Dulu waktu aku kecil, bapakku sering dapat oleh-oleh dari kenalan-kenalannya di kapal tanker. Waktu itu tahun 60-an – 70-an kami masih tinggal di Balikpapan. Belum ada mall, yang namanya kaus kaki atau sepatu saja masih susah cari di toko meski sebagai pegawai perusahaan minyak duit banyak. Nah oleh-oleh dari kenalan-kenalan bapak itu bermacam-macam, kadang ibu dapet payung dari Jepang, majalah Burda, atau bapak dapat 1 box rokok Lucky Strike, kadang kita dapat coklat yang isinya cheery liquor, kita juga dapat permainan lego, pokoknya barang-barang yang tidak ada di Indonesia pada masa itu. Bapak bilang barang-barang itu dari luar negeri. Akupun sering tanya sama bapak, ‘Pak, seperti apa siy luar negeri itu’… ‘yuk, kita jangan ke Jawa melulu setiap liburan, mbok sekali-sekali kita ke luar negeri’. ‘Hush, kamu pikir murah ke luar negeri itu’, begitu jawab bokap.

Tapi, aku tidak pernah berhenti untuk mengatakan kepada semua kenalan orang tuaku kalau mereka tanya, ‘apa cita-cita kamu kalau besar nanti?’. Aku selalu jawab ‘aku pengen ke luar negeri’. Waktu itu umurku masih sekitar 5 tahunan. Tentu saja para orang tua tertawa geli mendengar jawaban aku itu. Terus ibu akan menjelaskan kalau aku sebenarnya ingin jadi desainer karena hobby aku menggambar. Ketika sedikit bertambah umurku meskipun kadang aku mengatakan lain mengenai cita-citaku, dalam hati aku masih menyimpan bahwa aku ingin pergi melihat negara-negara lain, ke ‘LUAR NEGERI’.

Akhirnya keinginanku itu terwujud. Tahun 1995 setelah kira-kira hampir satu tahun bekerja di Jakarta, Tuhan mewujudkan mimpiku itu. Sebagai bonus penjualan satu kontainer geomembrane aku mendapat hadiah pergi ke Inggris selama satu minggu. Pertama kali ke luar negeri, seorang diri, berbagai perasaan bercampur jadi satu, antusias, gairah, tapi juga takut dan tegang, bagaimana kalau aku tidak bisa berbicara bahasa mereka, itu yang aku pikirkan. Sebelum berangkat aku kursus kilat conversation selama 3 bulan. Waktu pulang dari Inggris teman-teman yang punya mimpi sama ingin bisa pergi ke luar negeri, tapi waktu itu belum kesampaian, antusias menanyakan pengalaman ku selama di luar negeri, jawabanku: ‘aku ke Inggris, aku ngomong bahasa Inggris, tapi orang Inggris kok nggak ngerti ya’…

Bahasa Inggrisku tentu saja dengan dialek Jawa karena aku orang Jawa, begitulah kira-kira logisnya. Dalam perjalanan ke Inggris sempat mampir di Hongkong, alamak repotnya berbicara bahasa Inggris dengan orang Chinese, kadang ada rasa putus asa, pengen nangis, tapi aku bukan orang yang menyerah pada keadaan. Dan sekarang pergi ke luar negeri bukan hal yang menegangkan, aku sudah ke berbagai negara di Eropa seperti Belanda, German, Perancis, Swiss, Austria, negara di Afrika, Libya dan Tunisia, negara-negara Asean tentunya, dan…. juga menikah dengan orang luar negeri. Jangan takut soal bahasa, tidak perlu mahir, bahasa bukan sebuah hambatan yang menghalangi kita agar tidak pergi ke luar negeri.