Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Menteri Favorite di Kabinet Kerja

Kabinet baru pemerintahan Jokowi baru saja dibentuk dan diumumkan. Sosial Media heboh membicarakan menteri-menteri kabinet Jokowi ini terlebih karena ada beberapa kejutan di dalam daftar nama yang diumumkan. Ada dua menteri favorite dalam Kabinet Kerja yang banyak dibicarakan di sosial media, Anis Baswedan dan Susi Pudjiastuti. Sama-sama orang hebat dan pekerja keras, hanya bedanya yang satu Sekolah Tinggi dengan nilai excelent dan yang satu hanya tamat Sekolah Menengah. Ibu Susi Pudjiastuti yang hanya tamat Sekolah Menengah Pertama ditambah tampilan luarnya yang uncommon paling banyak dibicarakan orang. Orang sibuk menilai, mencaci atau memuji setinggi langit.

Ada fenomena baru yang terjadi di masyarakat, sebelumnya masyarakat acuh tak acuh dengan pilihan menteri di dalam Kabinet tapi saat ini masyarakat begitu menaruh perhatian pada siapa-siapa saja yang terpilih. Orang-orang ramai berkomentar soal latar belakang kehidupan para menteri-menteri baru, tapi sebenarnya banyak orang tidak melihat lebih jauh pekerjaan dan tugas menteri itu sendiri. Orang hanya sibuk menilai pribadi dan karakter para menteri.

Tugas Kementerian adalah membuat regulasi, membuat aturan main, menentukan kebijakan, menstimulasi, memberikan insentif. Kementerian adalah pengguna anggaran. Menteri membuat program kerja kemudian mengajukan anggaran untuk kementeriannya. Anggaran yang diajukan itu harus tepat sasaran apa saja yang harus distimulasi, dan siapa-siapa saja yang bisa diberikan insentif supaya semua bisa memicu laju tumbuh ekonomi di masyarakat, sehingga terjadi perkembangan dan pertumbuhan di masyarakat, bangsa menjadi makmur dan sejahtera. Seorang Menteri adalah operator yang memberlakukan sebuah aturan main yang adil untuk semua warga negara, bukan hanya untuk kelompok tertentu. Jika aturan main fair dan kebijakannya tepat maka rakyat tentunya merasa tenang. Sebuah catatan dari ‘temen gue’ di sosmed, dia menambahkan bahwa sebenarnya regulasi sudah banyak dan cukup bagus tapi belum ada Menteri yang mampu mengawasi dan mengontrol pelaksanaan di lapangan tanpa punya kepentingan pribadi/kelompok. Dan rasanya betul sekali, implementasi dari regulasi, kebijakan, dan aturan main, juga bagian penting dari tugas menteri.

Pada dasarnya kita tidak bisa bicara sekarang manakah yang lebih hebat dan mana yang lebih baik pekerjaannya, kita harus menunggu untuk melihat kerja nyata dari menteri-menteri baru pemerintahan RI itu. Semoga para menteri itu memang bisa bekerja dengan baik dan tidak disorientasi setelah memasuki jabatan dan kedudukan tinggi sebagai menteri.


Leave a comment

Bali Sanur Windsurfing

I found many information in the internet forum asking for windsurfing in Bali and people are telling people that there are some good wind in Bali but no windsurf facilities. Also, it is not one time tourist pass in front of our friend’s, Pedro, windsurf station comment : “Oo, I never know that there is windsurfing in Sanur”.

This is not true that there’s no windsurf in Bali. Windsurf in Bali start already since long time since the era of Robby Naish in the 70’s. Many local windsurfer admiring and fans of Robby Naish, at least they know when we are talking about him. And there’s Indonesian windsurfer, Oka Sulaksana, he is now almost 40 years old, he was very strong in South East Asian and Asian competition when he was young. But that’s it, and the developing of this sport in this country is very slow, this is correct. Yes, as a windsurfer and as an Indonesian I am not happy with this.

But it was long time ago when not much facilities to windsurf in Bali. These last two years around 2009 until this time 2011, there’s some changes, little bit development in windsurf community in Bali. With dedication to the sport we (me and my husband, thanks to him) run a windsurf shop in Sanur area called ‘Jump and Jibe’, where you can find complete equipment and accessories and repair parts. Pedro a guy from Flores, the other island in Indonesia, he was several years living in Japan, with his friends he start running a windsurf station at Mertasari beach called ‘Ocean Cowboys’, live up the beach with better and more modern equipment compare to several old crapy windsurf station in Sanur area.

I agree when people say windsurfing in Indonesia not developing very well compare to the potensi of the country. Our problem is there’s no support from Indonesian goverment to developing it. We found many Mistral One Design used in several rental place, coming from Porlasi, Indonesian Sailing Association, those stuff are used for the KONI (sport organization) before. It is true that boards for slalom, freeride, or wave sailing are really really hard to find. Okey a wave sailing board not really need in Bali, because the wind and good wave never come together. But slalom and freeride boards with medium to bigger size sails is needed. Our experience in importing stuff for our shop is we are robbed and pressed by the goverment, I think the situation is worse than during the Dutch colonial goverment. The import rules, the trading rules, the shop registration, the taxes, all are crazy. It is an antagony, and contra productive to the tourisme campaign made by the goverment and the Board of Tourisme.

Anyway, the aim of what I write now is to tell the world that Sanur – Bali can be one of your windsurf destination. And with all the troubles we have in developing windsurf in Indonesia you still can windsurf in Sanur Bali with good equipment and reasonable price. And when you need information about when and where to windsurf in Bali just call us in +62 812 814 959 34 or check our web site : www.jumpandjibe.com or email us at : info@jumpandjibe.com or jumpandjibe@gmail.com or our Facebook. We can arrange your windsurf tour or to help you make deal with Pedro’s windsurf station or to get contact direct to him. His place also a place for tourist information. This our shop looks like from outside, you wont missed it because it is on the main street in Sanur-Bali.


Leave a comment

Mengurangi penggunaan kantong plastik.

Tempat windsurfing yang paling bagus di Denpasar adalah di pantai Timur Serangan tapi sayang lautnya penuh sampah. TPA Suwung semakin hari semakin tinggi saja timbunan sampahnya. Setiap habis air pasang semakin banyak sampah yang terbawa dari TPA Suwung ke Pantai Serangan. Sebenarnya antara TPA Suwung dengan pantai Timur Serangan itu lumayan jauh. Dan TPA Suwung berada di sebelah Barat kalau dari pulau Serangan.

TPA Suwung berada di wilayah Denpasar Selatan dan Pantai Timur Serangan di Pulau Serangan. Saat ini Pulau Serangan sudah terhubung dengan Denpasar dengan adanya jembatan penghubung. Meski sudah tidak lagi nampak nyata selat diantara Denpasar dan pulau Serangan karena ada jembatan diatasnya tapi perairan di Serangan masih terhubung dengan perairan di daerah Suwung. Pada saat air pasang air membawa sebagian sampah-sampah ke arah kanal di pantai Timur Serangan. Selain itu saluran drainase kota Denpasarpun juga terhubung dengan kanal Serangan. Yang paling menyebalkan adalah kalau kita lagi windsurfing saat angin sedang bagus dan kita meluncur dengan kecepatan tinggi tiba-tiba fin kita kandas tersangkut sampah plastik yang melayang-layang di permukaan air. Untung kalau tidak terlempar jatuh, catapult, akibat berhenti secara tiba-tiba pada saat kecepatan tinggi.

Sebenarnya bukan TPA Suwungnya yang saya akan persoalkan karena memang susah untuk mencari tempat lain selain di Suwung untuk membuat TPA. Yang jadi pemikiran saya adalah bagaimana agar sampah di TPA Suwung tidak semakin tinggi saja tumpukannya. Dan agar saluran drainase tidak dipenuhi sampah.

Saya ingin memberikan ide dan sumbang saran lewat tulisan ini bagaimana agar mengurangi sampah-sampah kantong plastik terutama di Bali dan Denpasar khususnya, agar windsurfing di Serangan menjadi lebih nyaman. Pantai Timur Serangan ini pantas untuk dijadikan pusat olah raga windsurfing apalagi waktu pelaksanaan Asian Beach Games yang pertama di Bali, cabang olah raga berlayar semua juga dilaksanakan di Serangan.

Saya ingat dulu waktu kecil waktu kami tinggal di Balikpapan kalau ibu saya pergi belanja ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari ibu selalu membawa keranjang yang terbuat dari bahan rotan berbentuk oval. Waktu saya sempat tinggal sebentar di Austria beberapa tahun yang lalu saya lihat orang-orang di Austria masih menggunakan keranjang seperti itu saat belanja seperti kehidupan di Balikpapan puluhan tahun yang lalu. Yang saya lihat di German yang lebih maju dari Austriapun kebiasaannya seperti itu. Di Indonesia sendiri sudah tidak jaman lagi orang belanja ke pasar membawa keranjang belanja.

Yang saya ingat lagi dari masa jadul kalau belanja-an tidak terlalu banyak ibu membawa “kompek” yaitu keranjang yang terbuat dari anyaman daun pandan. Untuk mengingatkan kembali tas daun pandan ini secara offensive orang-orang di Balikpapan sering juga menyebutnya “kompek mbutun”. Mbutun asal kata Buton. Entah kenapa disebut begitu, entah karena tas itu style orang Buton atau orang-orang Buton yang membuat tas anyaman tersebut. Mungkin karena sering jadi bahan ledekan orang-orang tidak lagi mau belanja menggunakan “kompek” ini padahal ini termasuk bio bag (Hebat kan? orang Buton)

Sementara untuk belanjaan sedikit di Eropa orang memakai kantong dari bahan belacu. Yang ini sudah mulai diterapkan di beberapa supermarket besar di Indonesia meskipun masih banyak juga orang yang tidak mau rugi membeli tas bahan belacu ini. Kenapa mesti beli bio bag kalau bisa dapat kantong plastik, gratis lagi, begitu kira-kira keadaannya.

Baiklah saya berpikir positif saja bahwa sudah banyak orang yang menggunakan bio bag dari supermarket. Saya juga mengusahakan selalu bawa bio bag kalau belanja. Tapi masih ada lagi persoalan kantong plastik saat belanja meskipun banyak orang sudah pakai bio bag. Setiap beli buah dikantongin plastik sendiri untuk menimbang. Beli sayuran juga pakai kantong plastik. Beli telur juga kantong plastik. Beli ikan, daging dan ayam, kalau ini bolehlah pakai kantong plastik. Tapi buah dan sayuran sebenarnya tidak perlu, kalau mau bungkus sayuran bisa pakai kertas merang (kertas sederhana dari bahan sisa serat padi). Begitu juga untuk tempat telur bisa pakai kertas bergelombang lancip-lancip dari kertas recycle yang biasa buat tempat telur.

Nah supaya belanja tidak harus semua diplastik sendiri-sendiri tempat menimbang buah dan sayuran sebenarnya bisa dipasang di dekat kasir. Kasir langsung menimbang sayuran yang diambil dan datanya langsung masuk komputer pembayaran kasir. Sistem inilah yang digunakan di supermarket dekat tempat saya tinggal di Austria, tidak semua diplastik-plastik sendiri-sendiri.

Nah sampah yang lebih banyak yang saya lihat di Serangan ini sebenarnya sampah dari pembungkus sabun, detergen, dan produk-produk cairan berupa kantong refill. Siapa bilang system refill ini ramah lingkungan. Refill ini diterapkan untuk menekan cost agar harga barang terjangkau bukan karena ramah lingkungan. Nyatanya kantong-kantong plastik untuk refill ini memang tidak ramah lingkungan. Lihat saja tidak ada keterangan pada kantong-kantong tersebut apa jenis plastiknya, tidak ada kode PP untuk plastik Polypropylene, PE untuk Polyethylene atau PET untuk Polyester dll. dan juga tidak ada kode recycled. Sementara kalau kita membeli dengan kemasan aslinya maka jelas sekali semua kode recycle dan jenis plastik ada tertera.

Maka sebaiknya penggunaan system refill ini tidak boleh lagi. Kalau mau menekan cost bisa saja dilakukan cara untuk pembelian selanjutnya maka bila mengembalikan kemasan sebelumnya akan mendapatkan potongan harga. System seperti ini juga diterapkan dalam pembelian botol minuman. Bahkan di Eropa sistem pengembalian kemasan saat ini diterapkan juga pada minuman Coca-Cola dalam kemasan kaleng aluminium. Di Singapore pemulung dengan sigap memungut kaleng minuman ringan setiap saat kita minum di kaki lima. Apa salahnya kalau botol shampoo juga dilakukan sistem kembali botol. Begitu juga dengan kemasan cairan pembersih. Jadi pembeli hanya membayar produk cairannya saja.

Seperti saya jelaskan sebelumnya pembungkus detergen juga termasuk sampah yang banyak di perairan Serangan. Dulu detergen dibungkus dengan kemasan box karton tapi sekarang tidak lagi. Ada yang menggunakan kemasan karton tapi dalamnya juga digunakan kantong plastik. Kalau mampu beli detergen dalam jumlah banyak sekaligus maka sebaiknya belilah dalam ukuran yang besar jangan membeli ukuran sachet kecil-kecil karena sampah yang ditimbulkan jadi lebih banyak dengan membeli bungkusan kecil-kecil itu.

Dan hampir sama banyaknya dengan kantong detergen adalah sampah kantong plastik pembungkus mie instan dan makanan ringan, potatoes chips, ketela chips, dan lain-lain. Duh bagaimana ya menguranginya? Mungkin ada yang mau bantu memikirkan?……..


Leave a comment

Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah.

Pemerintah berencana menaikkan PPN BM untuk minuman beralkohol, pengusaha resto, café dan perhotelan pun jadi gerah. Berbagai alasanpun disampaikan untuk menghalangi atau menggagalkan rencana ini diantaranya dampaknya terhadap industri wisata.

Memang PPNBM ini bikin gerah semua orang dalam industri wisata, tapi kalau itu menyangkut minuman beralkohol sebenarnya saya tidak terlalu ambil pusing. Yang jadi masalah buat saya adalah pengenaan PPNBM untuk peralatan olah raga sebesar 30% disamping Pajak Pertambahan Nilai yang 10% masih ditambah lagi Pajak Penghasilan (PPh) yang dipungut dua kali, karena sebagai pedagang menengah tidak mempunyai import lisence sehingga pelaksanaan import melalui perusahaan besar (pemungut pajak) lain sebagai agen.

Alat olah raga air, di Propinsi Bali terutama, adalah sarana penunjang pariwisata yang utama. Wisatawan repeater datang ke Bali karena kegiatan wisata bahari-nya. Suguhan  atraksi budaya, barong, kecak, adat istiadat, pura, museum, lukisan, ukir-ukir, cinderamata memang penting tapi itu adalah suguhan untuk wisatawan asing yang baru pertama kali ke Bali. Bagi para repeater kegiatan itu berada diposisi paling bawah dalam wish list mereka saat datang kembali ke Bali. Tidak percaya? Coba saja lakukan survey.

Kegiatan wisata bahari yang paling diminati orang asing dari benua Eropa, Rusia dan Australasia adalah diving, snorkling, kitesurfing, sailing, windsurfing dan yang paling popular adalah surfing. Sementara wisatawan local menyukai fasilitas marine amusement area dengan kegiatan berupa kayaking, glass bottom boat, parasailing, banana boat, flying Manta dan yang mewah berupa jet ski. Kalau kita inginkan adanya wisatawan repeater ini datang dan datang lagi dan untuk semaraknya wisata bahari ini maka perlulah sarananya difasilitasi dengan kemudahan-kemudahan. Rasanya pajak untuk perlengkapan wisata bahari ini bila dikenai PPN 10% itu sudah lebih dari cukup.

Kalau dikorek lebih dalam lagi, kita lihat, sebagian besar hanya orang-orang asing saja yang rela merogoh kocek dalam untuk kegiatan olahraga air, wisatawan local kurang berminat, karena tidak tahu dan tidak bisa. Bukan karena wisatawan asing lebih banyak duit, lebih kaya daripada wisatawan local tapi karena semangat dari wisatawan local untuk melakukan olahraga yang tidak ada. Bagi bangsa lain olah raga adalah kebutuhan utama seperti halnya sandang, pangan dan papan. Sementara bagi bangsa kita olah raga masih merupakan kebutuhan sekunder, barang mewah, tidak semua orang bisa melakukan, hanya mereka yang hidupnya mapan bisa dan biasa berolah raga. Hiburan dan olah raga hanya untuk sebagian kecil orang bukan milik masyarakat. Begitulah keadaannya apalagi dengan adanya pengenaan PPNBM untuk alat olah raga.

Mengharap olahraga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sepertinya masih jauh di langit, di awang-awang, sementara kebijakan ini tidak juga berubah. Apakah pemerintahan SBY dengan Menpora-nya AM yang kata orang modern dan berpandangan maju itu berani merombak kebijakan ini?