Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Balada TKW 3 (Budak Belian)

Karena waktu boarding pesawat saya masih lama, masih 2 jam lagi, setelah cek-in saya tidak buru-buru masuk ke area ruang tunggu keberangkatan. Saya duduk di salah satu sudut area cek-in di Terminal 2 Bandara ‘Soekarno Hatta’, sambil pelan-pelan saya isi formulir keberangkatan untuk bagian imigrasi. Jarak satu bangku dari saya duduk seorang perempuan muda, beberapa kali dia menghela napas, seperti kesal, seperti jenuh menunggu, tapi juga seperti lelah. Saya pun mencoba membuka pembicaraan dengan dia, ‘mau berangkat kemana mbak?’, tanya saya bermaksud untuk menghibur dan membunuh kejenuhan dia. Dia menghela napas sekali lagi, tidak menjawab kemana akan berangkat, malah menjawab yang lain : ‘ ah, saya lapar sekali….kepala saya pusing…’. ‘Ting-ting-ting’. Bel dalam pikiran sayapun berbunyi, pasti dia benar-benar lapar. Tidak mungkin orang berbicara seperti itu kalau tidak karena memang benar-benar kelaparan.

Tidak biasanya berangkat ke luar negeri saya bawa bekal sandwich dan apel dalam rucksack (tas punggung) saya. Entah kenapa hari itu saya kayak orang kampung, bawa bekal makanan dan minuman, tidak seperti orang pergi ke luar negeri tapi seperti orang mau berangkat pulang kampung naik kereta api yang tidak dapat konsumsi. Padahal bukan pertama kali saya naik pesawat. Dari umur satu tahun saya sudah bolak balik naik pesawat Balikpapan – Surabaya, karena ortu bekerja di perusahaan minyak nasional. Saya tahu pasti kalau saya akan duduk makan tidur selama di pesawat, saya tahu kalau saya dapat makanan tiga kali untuk 12 jam penerbangan luar negeri. Entahlah hari itu sepertinya ada yang memberi petunjuk saya.

Saya keluarkan sandwich dan apel dari dalam tas saya, dan saya letakkan di tangannya. ‘Ini ambil saja, saya masih kenyang, masih ada apel satu lagi, nggak lama lagi di pesawat saya juga dapat makanan’, kata saya. ‘Maaf airnya sudah saya minum sedikit’, sambil saya serahkan juga botol kecil air mineral yang sudah saya minum sebagian. Dia nampak senang dan mengucapkan terima kasih. Pelan-pelan dia minum airnya dari sedotan dan sedikit-sedikit dia makan sandwichnya. Dia mulai cerita, ‘saya akan berangkat bekerja ke luar negeri, tapi sampai sekarang saya tidak tahu mau berangkat kemana, kata orang agen (PJTKI) cuma saya sudah dapat majikan dan pesawat saya adalah Qatar Air’. ‘O, berangkat nanti dong hampir tengah malam’, kata saya. ‘Itu-lah kenapa saya jengkel sekali sama orang itu’, sambil dia menunjuk seorang laki-laki berkemeja putih lengan pendek yang saya lihat dari tadi berjalan seperti setrikaan agak jauh sedikit dari tempat kita duduk. Dia tambahkan, ‘waktunya berangkat masih lama tapi saya diburu-buru, suruh cepat-cepat, seharian saya tidak makan apa-apa, makan terakhir kemarin sore waktu dijemput ke penampungan’. Padahal saat kita berbicara itu sekitar jam 5 – 6 sore. Bayangkan berarti hampir 24 jam dia nggak makan apa-apa tidak juga minum, kalau menunggu jatah makanan di pesawat dia yang berangkat hampir tengah malam bisa-bisa 24 jam lebih tanpa makanan. Puasa saja tidak selama itu.

Jadi ceritanya, si mbak ‘Yati’ ini diberi tahu kalau dia sudah dapat majikan, sehari sebelumnya dijemput dan dimasukkan ke penampungan. Malam sebelumnya di tempat penampungan orang dari agen memberi tahu kalau dia akan segera berangkat ke-esokan harinya. Jam 5 pagi habis sembahyang subuh dia disuruh cepat-cepat mandi karena jam 6 pagi itu juga dia dijemput untuk ke Bandara. Dari tempat penampungannya di Bekasi perlu 2 jam untuk ke Bandara, jam 8 pagi dia sudah di Bandara. Kata agennya dia akan segera berangkat. Karena diburu-buru dia tidak sempat makan pagi, di penampungan dia tidak boleh keluar untuk cari makan sendiri. Sesampai di Bandara ternyata dia hanya boleh duduk di sudut itu. Selalu ada orang yang mengawasi dia katanya, takut dia lari. Dia tidak punya bekal, hanya uang sepuluh ribu rupiah di tangan, tidak diberi makanan tapi juga tidak diijinkan untuk keluar mencari sesuatu. Setiap saat selalu diberitahu bahwa sebentar lagi pesawatnya akan berangkat.

Itulah sepenggal cerita tentang salah satu perlakuan keji agen pekerja (PJTKI) di Indonesia terhadap seorang calon TKW.

Moral cerita: Mereka, agen pekerja, memperlakukan seorang TKW seperti budak belian.

Note:
Ceritanya agak didramatisir karena lupa-lupa ingat, karena kejadiannya sudah lama sekali, tapi bahwa dia stack di Bandara hampir seharian dan kelaparan hampir 24 jam itu adalah fakta adanya. Dia tidak tahu mau berangkat kemana itu juga fakta. Dan sebenarnya saya bukan orang paling baik di dunia, saya tidak memberikan seluruh makanan bekal saya, karena di dalam tas selain apel 1 lagi, masih ada 1 bungkus paket permen Hexos isi 5 butir dan juga bungkus paket permen Nano-nano (….. kampungan banget ya) yang saya simpan dan tidak saya kasih ke si mbak itu karena mau saya makan sendiri.


Leave a comment

Balada TKW 2 (Terdampar di Libya)

Namanya mbak ‘Yati’. Bukan karena sekarang masih santer cerita tentang Ruyati, TKW yang dihukum pancung di Arab Saudi lalu saya mengarang cerita TKW dengan nama Yati. Ini bukan cerita karangan, begitu juga dengan tulisan yang pertama, semua adalah cerita yang benar-benar saya alami, kalau saya sebut namanya ‘Yati’ itu memang benar hasil karangan saya saja karena saya lupa nama aslinya tapi ceritanya sendiri adalah fakta.

Saya kenal mbak ‘Yati’, sebut saja begitu, di halaman KBRI Tripoli, saat sedang berlangsung Pemilu Presiden. Kalau orang-orang lebih suka ngobrol sama orang-orang yang se-level, saya tidak memilih dengan siapa saya bergaul, saya bisa ngobrol dengan level mana saja, yang petinggi sekelas Duta Besar dan manager-manager sampai orang-orang pinggiran seperti pekerja-pekerja kasar kuli bangunan dan pembantu rumah tangga.

Dari ngobrol dengan mbak ‘Yati’ (saat selesai acara ‘mencoblos’, istilah untuk voting versi Indonesia, meski sekarang tidak lagi voting dengan ‘mencoblos’ melainkan ‘mencontreng’), saya jadi tahu ternyata rumah majikan tempat mbak ‘Yati’ bekerja ada dalam jangkauan, jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kita, saya, mbak ‘Yati’ dan seorang TKI lain akhirnya pulang dari KBRI dengan satu taxi, taxi tetangga saya yang saya booking untuk pergi dan pulang. Sebelum berpisah Mbak Yati dan saya pun saling tukar nomor HP, dan mbak ‘Yati’ juga tahu dimana saya tinggal. Meski saya tidak tahu persis dimana dia tinggal, karena saya didrop terlebih dahulu sama supir taxi-nya.

Tidak lama setelah perkenalan saya dengan mbak ‘Yati’, setiap hari Jum’at dia sering sms saya. Pengen mampir ke rumah katanya. Kalau tidak ada acara pergi ke luar kota atau acara liburan week end lainnya sayapun mempersilahkan mbak ‘Yati’ main ke rumah. Beberapa kali dia main ke rumah. Tidak ada acara khusus saat dia ke rumah, kita sering duduk saja di ruang tamu, ngobrol sambil minum teh dan ngemil atau duduk di teras di bawah pohon Figs. Sayang dia kadang sungkan sama saya kalau saya perlakukan dia seperti tamu kenalan saya yang lain, padahal saya penasaran ingin tahu cerita dia hingga di bisa terdampar di Libya. Tapi dari ngobrol santai dengan mbak ‘Yati’, akhirnya terungkap juga sedikit cerita tentang dia.

Inilah cerita mbak ‘Yati’, Alhamdulillah, meski judul tulisannya ‘balada’ tapi bukan cerita sedih yang saya dengar dari mbak ‘Yati’. Dia tinggal di Bogor, punya dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Mbak ‘Yati’ ini ternyata pendidikannya SMA meski hanya sampai kelas 3, dan meski sekarang bekerja sebagai pembantu cara komunikasinya sangat baik. Rupanya dia sudah bekerja ke berbagai negara, selain Libya dia pernah bekerja di Dubai, dan Jordan. Dia sangat bangga karena dari hasil kerjanya di luar negeri dia bisa menyekolahkan anak-anaknya di Universitas.

Anak perempuannya yang besar, sudah lulus IPB dan mbak ‘Yati’ sudah punya mantu. Anaknya yang laki-laki saat ini sudah 2 tahun kuliah untuk belajar komputer. Pekerjaan pertamanya dan beberapa pekerjaannya yang lain adalah sebagai pramusaji di hotel. Pekerjaannya di Libya sebenarnya bukan pekerjaan yang dia inginkan karena di Libya dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Selesai kontraknya di Libya dia tidak ingin melanjutkan lagi bekerja di luar negeri kecuali dia mendapatkan pekerjaan diluar pekerjaan rumah tangga dan dimana dia bebas tinggal di luar. Dan bukan hal yang mendesak lagi untuk dia bekerja karena anaknya sudah mampu dan bisa mengongkosi kehidupannya maupun sekolah adiknya dan sebenarnya anak-anaknya tidak memperbolehkan lagi mbak ‘Yati’ untuk bekerja di luar negeri.

Tapi ada yang menjadi catatan saya dari kasus mbak ‘Yati’. Karena tidak bisa lagi mendapatkan pekerjaan yang sama sebagai pramusaji hotel di Dubai atau di Jordan, karena dia sudah dianggap tua untuk pekerjaan itu, oleh agennya dia dijanjikan pekerjaan lain. Dalam perjanjiannya dia akan bekerja di Dubai, tapi apa yang terjadi sesampainya di Dubai, entah permainan apa yang dilakukan para agen pekerja, ternyata dia dikirim ke Tripoli-Libya, yang jaraknya 8 jam penerbangan. Ini sebenarnya termasuk kasus human trafficking. Belakangan saya tahu banyak sekali kasus seperti mbak ‘Yati’ ini. Dijanjikan pekerjaan di Dubai tapi berakhir di Libya. Tahukah BNP2TKI akan hal ini?

Fortunately, yang terjadi dengan mbak ‘Yati’, keluarga majikan yang mempekerjakannya adalah keluarga terhormat yang berpendidikan tinggi. Yang saya dengar dari mbak ‘Yati’, majikan yang wanita adalah seorang guru dan suaminya seorang dokter. Dan untungnya lagi mbak ‘Yati’ punya majikan yang manusiawi, dia mendapat kelonggaran waktu bekerja yang lumayan enak dibanding TKW kebanyakan. Dia mendapatkan libur setiap hari Jum’at dan boleh pergi keluar rumah dari pagi sampai hari gelap, untuk shoping atau main bertemu teman atau kemana saja dia mau. Itulah sebabnya dia berkesempatan main beberapa kali ke rumah saya di waktu dia libur.

Moral cerita : Nyawa manusia dibuat gambling oleh PJTKI.

 


Leave a comment

Balada TKW 1

Suatu hari sekitar 8 – 9 tahun lalu di kawasan Indramayu, saya berada dalam sebuah angkot, baru saja mengambil uang proyek dari sebuah ATM. Dalam angkot itu tidak banyak penumpangnya, di seberang saya duduk seorang perempuan, lebih muda dari saya. Dia tahu saya baru mengambil uang dari ATM, dia lalu tanya saya, ‘apakah kalau mau terima uang dari luar negeri harus punya tabungan di bank, bank apa saja yang bisa menerima kiriman uang dari negara lain’.

Itu awal pembicaraan dari perempuan muda di seberang saya yang membuka komunikasi antara saya dengan dia sepanjang perjalanan dengan angkot kembali ke lokasi proyek.

Ceritanya perempuan itu berencana menerima uang dari bekas majikannya untuk membeli tiket pesawat kembali bekerja di Arab. Sayapun jelaskan panjang lebar berbagai cara pengiriman uang yang memungkinkan untuk dia. Sebenarnya bukan masalah kirim-mengirim uangnya yang menjadi perhatian bagi saya, tapi latar belakang cerita kehidupannyalah yang menarik perhatian saya waktu itu, yang menjadi penyebab kenapa dia tanya-tanya soal kirim uang dari luar negeri.

Perempuan muda itu baru beberapa bulan kembali ke kampung halamannya, dia pulang dari Arab Saudi, bekerja sebagai TKW di sebuah keluarga orang Arab. Dia baru saja menyelesaikan kontraknya bekerja selama 2 tahun di sana. Saya tanya bagaimana majikan dia, karena saya dengar banyak pembantu rumah tangga diperlakukan tidak baik. Dia bilang dia baik-baik saja disana, dan sangat bersyukur punya majikan yang memperlakukan dia dengan sangat baik. Justru kehidupannya setelah pulang kampung yang kurang baik.

Kembali ke kampung halaman dia harus bercerai dengan suaminya. Ditinggal bekerja 2 tahun di negeri orang suaminya melupakan sumpah pernikahan mereka. Bukan cuma itu saja, uang hasil jerih payah kerjanya selama di Arab yang dikirimkan melalui agen penyalur tenaga kerja kepada suaminya yang rencananya untuk memperbaiki rumah mereka ternyata digunakan suaminya untuk kawin lagi.

Rumah tidak diperbaiki sementara perkawinannya juga hancur. Karena kecewa dengan keadaan tersebut maka dia berniat untuk kembali bekerja di Arab, selain itu karena dia tidak punya uang lagi, semua sudah dihabiskan oleh suami dan madunya. Tapi untuk keberangkatannya yang kedua kali ini dia tidak ingin menggunakan jasa agen karena menurut ceritanya sebagian besar gajinya dipotong untuk agen juga dia tidak mau uang gajinya jatuh ke tangan suaminya.