Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Raffi Ahmad, you’re my inspiration

Lama nggak blogging, terus terang lama nggak ada ide, dapat ide sesuatu yang pantas untuk di share gara-gara Raffi Ahmad. Aku sama sekali bukan pemuja Raffi Ahmad, tapi dia menjadi inspirasiku untuk menuliskan pengalamanku berhubungan dengan obat terlarang.

Kalau aku ingat-ingat masa kuliah dulu tanpa sengaja aku pernah menenggak narkoba juga. Waktu jaman aku muda dulu obat terlarang masih belum menjamur seperti sekarang. Dulu orang masih pakai morphine, marijuana atau ganja. Baru zat-zat addictive itu yang diburu untuk kasus-kasus penyalah gunaan. Itu sebabnya pemakai obat terlarang tidak ada yang sampai di penjara. Bahkan seingatku ada teman SMA yang sering memakai obat terlarang seperti Vallium, bapaknya seorang dokter, juga tidak pernah berurusan dengan polisi.

Gimana ceritanya kok aku pernah jadi pengguna obat terlarang? Betul itu terjadi tanpa kesengajaan. Justru ini yang aku mau share. Bagaimana tanpa disengaja bahkan tanpa sadar seseorang bisa terjerumus pada penggunaan obat-obat terlarang. Aku juga baru menyadari hal tersebut sekarang ini, setelah lebih dari 20 tahun lalu, setelah kasus Raffi Ahmad. Aku cuma bersyukur aku nggak kecanduan dan abusing obat tersebut.

Mahasiswa Teknik Sipil pada umumnya dibebani banyak sekali tugas-tugas kuliah. Tugas kuliah mahasiswa Teknik adalah perhitungan berupa proyek-proyek. Dalam satu semester untuk tingkat pertengahan kalau kita mengambil 18 SKS dalam masa 3 bulan kita harus membuat perhitungan 3-4 proyek sekaligus. Rangka Baja, Rangka Beton, masih ditambah proyek Irigasi, Ukur Tanah dan laporan-laporan Praktikum. Seseorang yang sudah bekerja dibidang Teknik Sipil pun tidak ada yang sanggup melakukan beberapa proyek sekaligus seperti itu. Sampai-sampai kita Mahasiswa Teknik sering menyebut SKS singkatan dari Sistem Kebut Semalam. Karena tugas yang banyak dan waktu yang terbatas maka ada tugas kuliah kadang harus dikebut dalam waktu semalam.

Selain kuliah aku juga bekerja untuk membayar kuliahku. Aku benar-benar kehabisan waktu antara tugas kuliah dan bekerja. Pengalamanku dengan obat terlarang adalah waktu aku harus menyelesaikan tugas Konstruksi Baja II, sebenarnya tugas itu tugas bersama untuk 2 orang, temanku yang baik hati mengerjakan 99% dari tugas hitungan itu dan aku tinggal mengcopy. Tapi meng-copy juga tidak mudah karena semua tugas berupa tulisan tangan, jadi tidak bisa copas seperti pada tulisan komputer. Untuk meng-copy dan membuat gambar-gambar proyeknya juga butuh waktu. Untuk bisa mengikuti ujian mata kuliah dimaksud maka harus selesai tugas, dapat ACC asdos dengan bukti surat ACC, artinya tugas proyek sudah diterima. Ujian sudah dekat dan waktuku saat itu tinggal 3 hari lagi batas waktu untuk ACC tugas KB II itu. Akhirnya aku menerima saran seseorang untuk minum ‘obat’ yang bisa bikin tetap segar selama 24 jam lebih, supaya aku bisa mengerjakan tugas KB II. Begitulah, nggak heran kalau ada orang yang begitu saja masuk ke ‘jurang’ obat terlarang begitu mudahnya. Pertama kali karena sangat membutuhkan semacam obat stimulan, begitu ada yang menyarankan pasti langsung dicoba. 

Aku nggak ingat nama obat-nya, lagi pula kalau di-share namanya jangan-jangan entar pada nyari, efeknya benar-benar nyata. Aku nggak tidur semalaman sehingga aku bisa mengerjakan tugas kuliah tersebut. Kalau aku pikir obat itu efeknya sama seperti ekstasi. Dimana aku bisa dapat obat itu? Jaman dulu sih gampang saja dapat obat aneh-aneh seperti itu. Di penjual obat yang bukan Apotik bisa dapat dengan mudah dan harganya pun sangat murah. Seingatku untuk 4 butir obat harganya cuma 25 ribu rupiah. Lebih gila lagi orang tua ku tahu aku minum obat itu, teman2 juga tahu dan waktu tidak tidur semalaman itu mengerjakan tugasnya di rumah orang tuaku. 

Untungnya waktu itu aku cuma sekali saja memakai obat tersebut, selanjutnya aku nggak berani lagi memakainya. Karena nggak bisa tidur 48 jam, sementara hari berikutnya aku  tidur lebih dari 48 jam. Orang tua-ku ketakutan. Selama aku tidur hari berikutnya Bapakku nungguin aku di kamar, setiap 6 jam aku diseret dari tempat tidur, di bawa ke kamar mandi, di cuci paksa muka aku, dipaksa makan dan minum, terus diantar lagi ke tempat tidur.

Waktu ketemu sama Asdos-nya masih ada sedikit lagi yang kurang sehingga belum di-ACC, tapi justru aku tidak ada semangat untuk meng-ACC-kan tugasnya. Pertama karena berarti aku harus minum obat itu lagi untuk melekan satu malam lagi dan kedua tugas itu hanya meng-copy hasil kerja teman, dia mengerjakan 99% dari tugas yang seharusnya untuk berdua, bukan cuma itu, untuk meng-copy-nya juga ada teman yg lain harus membantu aku, bahkan adik-ku yang masih SMA, aku benar-benar merasa bersalah itu bukan hasil pekerjaanku, maka aku anulir sendiri tugas itu.

Advertisements