Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Handphone dan pengaruhnya pada masyarakat miskin

Kemiskinan didalam masyarakat tidak bisa ditanggulangi hanya dengan mengandalkan usaha pemerintah semata. Tanpa adanya kesadaran dalam masyarakat sendiri untuk mengubah keadaan diri mereka maka segala usaha dari pemerintah tidak akan pernah terwujud. Seperti membatasi tingkat kelahiran, mengubah gaya hidup, dan adanya keinginan untuk meningkatkan pengetahuan untuk bekal mendapatkan pekerjaan dalam meningkatkan taraf hidup. Keinginan sekolah dari anak-anak di kalangan masyarakat miskin rendah. Mereka mudah putus asa, kemampuan belajar mereka rendah dan mempunyai kesulitan yang tinggi dalam memahami ilmu pengetahuan, hal ini akibat kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada anak-anak juga bisa disebabkan oleh gaya hidup dan budaya masyarakat sekitar mereka.

Pengaruh gaya hidup menggunakan handphone misalnya, saat ini telah menjangkau kelapisan masyarakat kelas bawah. Banyak kita lihat orang-orang yang memilih untuk membeli pulsa dari pada membeli makanan yang lebih bergizi. Pengaruh gaya hidup ini kaitannya dengan kepribadian, ada orang-orang yang tidak bisa bertahan karena arus kehidupan disekitarnya. Hal positif dari penggunaan HP ini memang kemudahan dalam komunikasi, tapi banyak juga yang tidak tahu batas-batas antara keinginan dan kebutuhan. Selain itu iklan-iklan yang agresif dari para provider mobile phone telah banyak menyesatkan masyarakat. Pulsa HP maupun perangkatnya dari tahun ke-tahun harga semakin menurun sementara harga kebutuhan pokok semakin meningkat. Belanja pulsa meningkat sementara belanja untuk hal-hal lain yang lebih penting untuk hidup antara lain makanan yang sehat dan bergizi dikurangi.

Anak-anak perempuan dari keluarga kurang mampu di daerah dan pinggiran kota pada usia masih dibawah umur dikirim ke kota untuk bekerja sebagai pelayan karena orang tua tidak mampu mengirim mereka ke sekolah. Anak-anak remaja puteri belasan tahun ini dengan kepribadian yang belum matang terpengaruh gaya hidup orang kota untuk memiliki HP. Gaji mereka sebagai pelayan lebih banyak mereka gunakan untuk hal-hal konsumtif seperti membeli HP dan membeli pulsa. Sore hari saat mereka bebas tugas berjam-jam mereka menikmati kemudahan komunikasi ini hanya sebagai hiburan atau untuk berkencan. Kehidupan mereka pada akhirnya hanya sampai pada pernikahan dan berkeluarga. Harapan semula untuk membantu keluarga atau membantu adik-adik mereka untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak terlaksana.

Banyak dari keluarga dengan penghasilan menengah kebawah tidak berbeda dalam hal menetapkan anggaran belanja keluarga. Kebutuhan pulsa HP ini menjadi prioritas. Lemari pendingin di rumah tidak berisi cukup makanan sementara pulsa HP yang hampir habis terus diisi. Anak-anak dibawah umur diperkotaan lebih dari setengahnya menggunakan perangkat HP. Akibat selanjutnya banyak anak-anak wanita yang ‘useless’, karena tidak mampu bekerja akibat kurang pengetahuan sebagai akibat dari kurang gizi. Kemudian orang tua akan memilih untuk cepat menikahkan anak-anak gadis mereka untuk melepaskan tanggung jawabnya. Sementara sebenarnya banyak anak-anak bujang yang juga  ‘useless’ tidak bekerja mapan karena juga tidak berpengetahuan dan tidak siap secara materi untuk bisa menghidupi sebuah keluarga. Tapi tradisi dan budaya seperti ini dalam masyarakat tidak juga berubah. Akibat kemudian adalah  tingkat kelahiran dan pertumbuhan populasi manusia terus meningkat. Sementara taraf hidup masyarakat pada akhirnya dari tahun ke-tahun akan terus menurun. Pemerintah membuat berbagai program kesejahteraan masyarakat, bantuan langsung tunai, jaminan kesehatan dan pendidikan gratis tapi semua tidak akan pernah berakhir dan mencapai sasaran.

Sebenarnya kesadaran seluruh masyarakat untuk merubah budaya dan gaya hidup adalah sangat besar perannya dalam mengatasi kemiskinan.

Secara skematic rangkuman tulisan ini adalah sebagai berikut:

Keluarga kurang mampu tapi bergaya hidup pengguna HP—> belanja pulsa dengan mengurangi kebutuhan pokok sehingga kurang gizi—> tidak sanggup belajar sehingga pengetahuan rendah—> tidak mampu bekerja dan terjadinya pernikahan dini—> pertambahan populasi manusia meningkat—> masyarakat yang tetap miskin.