Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Merayakan atau Tidak Merayakan Valentine?

Leave a comment

Sebelum mengikuti sesuatu atau tidak mengikuti sesuatu pikirkanlah dulu apa yang akan kita ikuti itu. Blog ini tujuannya adalah untuk membuat kita semua berpikir dan berpikir. Berpikir untuk menjadi orang yang lebih baik.

Tahukah asal muasal Festival Valentine? Mungkin sudah banyak yang mengulas dan menuliskan hal ikhwal dari perayaan Valentine. Tapi saya ingin mengulasnya dengan cara saya sendiri bukan hasil tulisan copy paste dari berbagai blog atau literatur yang merupakan buah pemikiran para ahli sejarah. Ini merupakan kajian saya sendiri berdasarkan literatur yang ada namun saya persingkat tanpa perlu embel-embel tulisan-tulisan canggih hanya supaya nampak meyakinkan. Embel-embel tulisan itu hanya membuat distorsi sehingga pikiran tidak lagi fokus.

Singkatnya, orang Indonesia sering mengira bahwa perayaan Valentine itu berhubungan dengan agama tertentu. Sama sekali salah besar. Tidak ada agama apapun yang diakui di Indonesia merayakan Valentine. Semua agama yang ada di Indonesia tidak ada satupun yang merayakannya. Di gereja? Pura? Klenteng? Carilah tempat-tempat ibadah yang merayakan Festival Valentine. Jawabnya TIDAK ADA. Meski kata Valentine berasal dari nama Santo Valentine tapi Festival ini tidak ada hubungannya dengan gereja Katolik. Perayaan Valentine di era sekarang ini hanya ada di Pusat Perbelanjaan, Restauran, dan tempat-tempat komersil.

Seperti halnya yang tertulis dalam berbagai literartur asal muasal perayaan Festival Valentine dimulai pada abad ke 3 setelah Masehi, dirayakan pada tanggal 14 Februari, hari dimana terbunuhnya Santo Valentine. Yang dianggap sebagai martyr karena keyakinannya akan pentingnya sebuah perkawinan, cinta dan keluarga. Perayaan ini dilakukan oleh orang-orang Romawi yang masih mempercayai Dewi Juno. Juno adalah saudara dan sekaligus isteri dari Dewa Romawi Jupiter, karenanya dianggap sebagai ratu para dewa-dewi Romawi. Dewi yang melambangkan ‘perkawinan’, ‘cinta’, ‘kehamilan’ dan ‘kelahiran anak’. Persembahyangan pada kuil Dewi Juno dilakukan dengan membuat persembahan berupa bunga seperti persembahyangan pada kuil Juno pada bulan Juni.

Begitu dahsyatnya Fsetival ini mempengaruhi orang sedunia tidak lebih karena ‘cinta’, ‘perkawinan’, ‘keluarga’, ‘kehamilan’ dan ‘kelahiran anak’ adalah bagian kehidupan manusia sejak dulu. Tapi apa yang kita lihat makna dari Festival Valentine di era sekarang sudah melenceng jauh dari tujuan awal makna perayaan festival itu sendiri. Dan seperti yang saya jelaskan di atas sekarang Festival Valentine ini adanya hanya di super market, mall dan restauran. Tidak lebih dari even komersial semata.

Jadi, kita bisa memilih mau ikutan Festival Valentine atau tidak. Tidak ikutan-ikutan juga sebenarnya tidak ada hubungannya bahwa artinya seseorang itu bertentangan dan anti dengan ‘perkawinan’, ‘cinta’, ‘kehamilan’, ‘kelahiran anak’ dan ‘keluarga’.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s