Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Pencurian Bayi dari RS Bersalin, kenapa bisa terjadi?

Leave a comment

Beberapa waktu lalu ada berita tentang pencurian bayi baru berumur beberapa jam dari sebuah RS Bersalin di Jakarta. Kok bisa ya? Dari berita yang ditulis disebutkan bahwa pencuri bayi tersebut mengaku-aku sebagai perawat saat meminta bayi dari salah satu keluarga. Atas pencurian bayi tersebut pihak keluarga menyalahkan pihak rumah sakit karena banyak perawat di klinik bersalin tersebut yang tidak menggunakan seragam.

Saya sendiri melihat persoalan ini bukan dari seragamnya. Sudah pasti dan tidak bisa ditawar-tawar bahwa seorang perawat harus menggunakan seragam, tapi seragam itu tidak akan menghalangi niat buruk seseorang. Hanya sedikit memberikan hambatan tapi tidak akan menyurutkan. Kalau seseorang memang sudah berniat mencuri bayi tersebut, seberapalah arti harga seragam perawat dibanding harga bayinya, masih bisa ditiru dan dipalsukan, ya tidak? Nah kalau bayi saja bisa dicuri dari RS berarti peralatan dan perlengkapan rumah sakit yang mahal-mahal itu juga beresiko tinggi untuk dicuri juga sebenarnya.

Sebagai orang-orang Teknik Sipil yang bergelut di bidang bangunan mari kita telaah dari sudut pandang kita.  Puskesmas dan klinik di Indonesia seringkali tidak dibangun berdasarkan perencanaan yang matang. Coba saja perhatikan terutama RS yang kecil-kecil di daerah, klinik dan puskesmas. Banyak yang dibuat diatas bangunan dengan desain seperti bangunan kebanyakan bukan dengan perencanaan yang khusus berdasarkan peruntukkannya sebagai tempat layanan kesehatan. Bahkan tidak kurang bangunan dengan desain rumah tinggal disulap menjadi klinik.

Nah mengenai kasus di RS Bersalin yang sering kecolongan bayi itu kita harus lihat system yang ada pada Rumah Bersalin tersebut, bagaimana kondisi pembagian area dari bangunannya. Kenapa kok orang yang tidak berkepentingan bisa dengan mudahnya ‘blusak-blusuk’. Apalagi bayi yang dicuri baru berumur beberapa jam. Adakah pemisahan yang jelas antara Red Area (100% steril), area yang hanya boleh dilalui oleh staff RS saja (setengah steril), area yang boleh dimasuki publik hanya pada jam-jam bezoek saja, dan public area dimana out pasien, pengunjung dan siapa saja bebas berlalu-lalang diluar jam bezoek.

Logikanya bayi yang baru lahir harus diletakan pada ruang bayi atau biasa disebut ‘Nursery’ pada area maternity, pada jam-jam bezoek bayi yang baru lahir bisa dilihat oleh visitor hanya dari jendela besar. Bayi yang baru lahir sangat sensitif dan mudah tertular penyakit. Sehingga bayi yang baru lahir tidak boleh tercemar dengan lalu lalang orang luar yang bisa saja membawa berbagai macam kuman dan penyakit. Visitors (pem-bezoek atau pengunjung pasien) bisa bertemu dengan orang tua bayi tapi bayi sendiri hanya boleh dilihat dari jendela kaca lebar pada ruang bayi. Ada tirai penutup pada jendela besar terbuat dari kaca tertutup tersebut dan hanya dibuka saat jam berkunjung selebihnya ditutup.

Saat jam menyusui ibu si bayi yang dalam kondisi sehat dan mampu berjalan sendiri datang keruang menyusui atau dalam istilah bahasa Inggrisnya disebut sebagai breast feeding room yang dibuat di area Nursery. Breast feeding dilakukan saat diluar jam bezoek. Ada nurse station tersendiri di area Nursery yang bertanggung jawab dengan pasien bayi tersebut. Jika Ibu si Bayi tidak mampu turun dari tempat tidur dan berjalan maka bayi baru bisa dibawa pada ruang rawat si Ibu, itupun harus dilakukan oleh perawat dari bagian Nursery. Dilakukan juga pada saat jam-jam diluar jam berkunjung. Pasien ibu-ibu yang baru melahirkan sendiri hanya boleh dikunjungi sanak saudara dan teman pada jam-jam berkunjung. Diluar jam berkunjung semua orang harus keluar dari area perawatan pasien dan ijin khusus hanya diberikan pada keluarga terdekat, semua tercatat pada buku tamu bagian control dan keamanan.

System seperti itu yang seharusnya berlaku pada Maternity Unit disebuah rumah sakit ataupun Rumah Bersalin. Jadi menurut saya Departemen Kesehatan harusnya segera bertindak melakukan pengawasan dan pembenahan dengan adanya penyedia layanan kesehatan yang diluar standard tersebut. Dan juga jangan sampai terjadi RS dengan standard Puskesmas mengaku-aku sebagai RS berstandard International. Sementara seragam perawat sendiri yang berwarna putih itu mempunyai makna hygienic. Kalau dokter dan perawat tidak mengganti pakaiannya yang dipakai keluyuran diluaran (saat naik kendaraan umum misalnya) dengan pakaian seragam yang putih bersih dan steril saat mulai bekerja melayani pasien maka patut diragukan tingkat kebersihan dari RS-nya.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengetahuan yang saya dapat selama magang dan bekerja sebagai staf non permanent di perusahaan yang bergerak dibidang pengadaan dan perawatan alat-alat kesehatan, Hospital Engineering GmbH, Tripoli. Dan hanya sekedar untuk share apa yang saya pikirkan tentang kasus-kasus yang saya baca di koran dan untuk sekedar bahan omongan, kalau bermanfaat tentunya saya merasa senang tapi sekiranya mengganggu maka silahkan di skip saja jangan terlalu dipikirkan dan diambil hati. Terima kasih.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s