Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Benarkah Ahok Seorang Superhero??

Apa siyy yang sudah dilakukan Ahok? Nyaris tidak ada!!! karyanya hanyalah proyek Kali Jodoh. Itupun juga karena mendengarkan pembisik-pembisik yang kebetulan punya ide briliant. Banyak orang mengira perubahan infrastruktur yang ada di Jakarta adalah hasil karyanya Ahok. Bullshit!! Bullshit!! Bullshit!!. Mulutnya pun bau sama seperti kata-kata yang sering dia ucapkan.

Orang Indonesia itu menganut budaya instant, tidak menghargai proses. Apa yang bisa dilakukan seorang Gubernur yang cuma menjabat selama 2 tahun ? Sehingga simsalabim muncul proyek MRT.

Orang-orang percaya Ahoklah yang membuat perubahan dan mengerjakan segala infrastruktur yang ada di DKI Jakarta sekarang ini. Orang-orang percaya bahwa proyek-proyek untuk transportasi di Jakarta itu datang serta-merta di saat Ahok jadi Gubernur. Mereka tidak tahu bahwa semua itu terjadi melalui proses yang lama dan panjang, dari sejak ide muncul, perencanaan, pembuatan masterplan dan lain-lain. Mereka orang-orang yang memuja Si Ahok memahami sesuatu terjadi secara instant. Padahal Ahok jadi Gubernur juga jabatan warisan dari Jokowi karena Gurbernur terpilih Jokowi kemudian terpilih menjadi Presiden. Bahkan dimulainya proyek Trans Jakarta dan proyek MRT itupun warisan pendahulu-pendahulunya. Trans Jakarta sudah dimulai sejak masa Gubernur Fauzi Bowo.

Kemacetan Jakarta itu sudah terjadi sejak tahun 80-an. Pada saat itu sarjana-sarjana Indonesia di Dinas Pekerjaan Umum sudah berpikir untuk menyelesaikan dan mengatasi permasalahan pertumbuhan lalu-lintas di DKI Jakarta. Pada tahun 80-an pembangunan jalan toll dan double-decker dilakukan di DKI. Sampai akhirnya proyek jalan toll double-decker yang ada masih juga tidak mengejar angka pertumbuhan lalu-lintas di DKI. Ide semula adalah menambah jalur-jalur double-decker di jalan-jalan protokol tapi dari berbagai pertemuan para Engineer di Kementerian PU di era 90-an itu akhirnya ingin meniru keberhasilan kota Bangkok. Selain jalan-jalan double decker Bangkok juga membuat MRT system. Kenapa kita meniru Bangkok? Bangkok menghadapi problema pertumbuhan lalu-lintas yang sangat pesat, malah lebih parah dibandingkan Jakarta. Angan-angan untuk memiliki MRT atau Mass Rapid Transport sudah sejak lama muncul di era Gubernur Sutiyoso. Dan berbagai opsi sistem Mass Rapid Transport yang terintegrasi untuk mengatasi masalah kemacetan Jakarta, termasuk Trans Jakarta, dibuat masterplan nya. Itu terjadi jauh sebelum orang mengenal mantan Bupati Belitung Basuki Tjahya Purnama. Ide Trans Jakarta di masa Fauzi Bowo sendiri muncul karena MRT diyakini akan memakan waktu sangat lama, multiyears project.

Kalau angan-angan pembangunan infrastruktur tarnsportasi DKI Jakarta MRT dan Trans Jakarta pada akhirnya terlaksana seharusnya yang mendapat kredit adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dialah presiden yang meletakkan dasar pembangunan berkesinambungan di seluruh Indonesia, melanjutkan perencanaan pembangunan masa-masa Soeharto. SBY yang berhasil meyakinkan kembali akan pertumbuhan ekonomi Indonesia kepada Dunia setelah proses reformasi politik, sehingga Indonesia bisa mendapatkan dukungan financial untuk pembangunan berbagai infrastruktur yang kita butuhkan. Disaat Dunia hilang kepercayaan kepada Indonesia akibat terjadinya korupsi di pemerintahan di akhir-akhir masa Presiden Soeharto. SBY melunasi hutang-hutang sebelumnya sehingga kita mendapatkan kepercayaan untuk kembali berhutang.

Di masa SBY kita memenangkan bidding penyelenggaraan Asian Games. Kita mendapatkan kepercayaan untuk menyelenggarakan sebuah even besar Asian Games pada tahun 2018, sebuah event yang menguras dana untuk persiapan infrastruktur. Dengan dana pinjaman luar negeri itulah kita mendapatkan dukungan financial membangun proyek MRT. Proyek MRT itu dipersiapkan untuk pelaksanaan Asian Games 2018. Begitu juga Proyek Terminal 3 Bandara Soeta. Bahkan Ground breaking Terminal 3 Ultimate Soeta juga terjadi di masa pemerintahan SBY. Dua proyek itu yang dijanjikan SBY saat melakukan bidding penyelenggaraan Asian Games 2018. Itulah fakta yang disembunyikan oleh pemerintahan Jokowi dan kroni-kroninya di Partai Banteng. Dan beruntung ketika Jokowi mulai menjabat sebagai Presiden Menteri PU yang dipilih adalah Menteri yang berintegritas, setidaknya proyek MRT dapat terlaksana, selamatlah Jokowi. Alhamdulillah. Meskipun tidak yakin juga proyek MRT bisa selesai ketika Asian Games berlangsung 2018 nanti. Itupun kesalahan dari Jokowi Gubernur saat itu yang mencoba mengutak-katik proyek MRT untuk diserahkan pelaksanaannya pada investor dari Malaysia, untung tidak terjadi.

Benar-benar hebat media elektronik di Indonesia ini, berhasil mencuci otak nyaris separuh orang Indonesia sehingga mempercayai Ahok bak seorang Superhero. Terlihat begitu banyaknya orang-orang yang terhipnotis yang menyatakan cintanya pada Ahok dengan mengirim karangan bunga disaat kalah Pilkada. Kata-kata baper melepas kepergiannya ke penjara bersliweran di laman Facebook ketika mendapat vonis 2 tahun penjara akibat mulut baunya salah ngomong soal Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu. Kalau seseorang tahu rasa malu seharusnya menyatakan penghargaan atas apa yang dikerjakan pendahulunya. Tidak mungkin kan Sutiyoso atau Fauzi Bowo terus mengaku-ngaku, “…eh itu proyek gue loh…”. Memangnya mbok Banteng yang ketika SBY meresmikan Jembatan Suramadu terus Si Mbok Banteng tiba-tiba berbicara di depan wartawan: “proyek Suramadu itu direncanakan di jaman saya loh…”. Padahal saat itupun SBY tidak mempersoalkan itu proyek siapa, hanya memulai ground breakingnya, membangun kemudian meresmikan proyeknya.

Semoga suatu saat orang bisa melihat bahwa seorang pecundang adalah pecundang.

Advertisements


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas masalah yang lagi diperdebatkan mengenai tanda dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP yang lagi rame di Medsos.

Jadi sebenarnya siapa yang ERROR? Bapak supir taxi atau si Pak Polisi? Kemarin di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (Hmmm… mudah-mudahan tidak salah menyebut nama, nanti saya re-check kembali) tidak bisa menjawab secara gamblang karena katanya dia tidak melihat kasusnya secara langsung di lapangan. Bapak Kompolnas itu kemudian mengatakan bahwa kalau ada perdebatan sebaiknya diperdebatkan di pengadilan. Tapi siapa yang percaya pengadilan kasus-kasus lalu lintas. Pada kenyataannya di pengadilan tidak ada proses pengadilan yang adil. Yang ada hanya proses ketok palu. Pada akhirnya hanyalah situasi berbeli-belit yang menyusahkan, ongkos yang lebih mahal dan waktu terbuang.

Seorang Kompolnas seharusnya bisa menjelaskan bedanya dilarang PARKIR dan dilarang STOP. Apa sebenarnya kriteria dilarang PARKIR dan apa kriteria dilarang STOP. Parkir, berarti pengendara mobil meletakkan kendaraannya di tempat dan lokasi tertentu, pengendara mematikan mesin, dan meninggalkan kendaraan dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan Stop, atau berhenti berarti kendaraan diletakkan pada tempat dan lokasi tertentu, mesin kendaraan bisa masih hidup atau dimatikan, pengendara masih berada di dalam kendaraan atau tidak jauh dari kendaraan, waktu berlangsungnya kegiatan atau durasi kendaraan berhenti adalah singkat, maka ini disebut sebagai STOP atau berhenti. Yang membedakan antara STOP dan PARKIR adalah durasinya. Inilah yang harus dibedakan. Selama ini tidak ada kriteria jelas durasi waktu antara yang disebut sebagai STOP dan PARKIR.

Saya sendiri sebenarnya meskipun sudah 32 tahun memiliki SIM juga jadi ikut-ikutan bingung menjelaskan berapa lama durasi yang dikatakan STOP atau berhenti sehingga berbeda dengan kriteria PARKIR. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya apa kriteria dilarang PARKIR dan dilarang STOP kalau di negaranya. Jawabanya ternyata lebih lugas dari seorang Kompolnas. Yang dimaksud dengan STOP itu artinya berhenti selama 0 sampai 10 menit. Sedangkan kendaraan berhenti lebih dari 10 menit artinya kendaraan itu diparkir. Jadi jika supir menghentikan kendaraan sementara ada larangan parkir maka masih diperbolehkan selama kendaraan berada di lokasi tersebut tidak lebih dari 10 menit. Jadi misalkan kita sedang berkendaraan tiba-tiba mendapatkan panggilan telephone penting dari telephone genggam dan kita ingin mengangkatnya, kemudian kita menghentikan kendaraan sementara ada tanda dilarang PARKIR kita bisa berhenti atau STOP di tempat itu selama tidak lebih dari 10 menit.

Jadiiiiii…. hehehe tidak salah Polisi lalu lintas Indonesia memang pantas dibully soal kasus penilangan seorang supir taxi yang berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Tidak salah kalau ada yang bilang Polisi Indonesia sama dengan Polisi dari hutan.


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas soal kasus seorang supir taxi yang ditilang karena berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Jadi siapa sebenarnya yang ERROR? Si supir taxi atau Pak Polisinya.

Semalam di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (mudah-mudahan tidak salah nulis nama, nanti saya re-check kembali) ketika ditanya tanggapannya mengenai kasus ini tidak bisa menjawab karena dia tidak melihat sendiri situasinya di lapangan. Kemudian dia melanjutkan jika ada perdebatan sebaiknya dibawa ke pengadilan. Tapi siapa yang percaya dengan pengadilan lalu lintas? Berdasarkan pengalaman pribadi pengadilan lalu lintas bukanlah sebuah proses pengadilan yang adil melainkan hanya sebuah proses ketok palu. Pada akhirnya pengadilan hanyalah sebuah proses yang lebih berbeli-belit yang memakan waktu dan ongkos yang lebih besar dibandingkan dengan tilang.

Sebenarnya tidak perlu ada perdebatan jika jelas apa kriteria dari tanda dilarang PARKIR dan apa kriteria dari tanda dilarang STOP atau berhenti. Sebuah kendaraan itu disebut PARKIR jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat ataupun berada jauh meninggalkan kendaraan, dengan waktu tidak terbatas. Sedangkan sebuah kendaraan itu disebut STOP jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat dengan kendaraan, dalam waktu yang terbatas. Jadi yang membedakan antara PARKIR dan STOP atau berhenti adalah durasi atau jangka waktu kendaraan itu berhenti.

Saya sendiri sudah memiliki SIM selama lebih 32 tahun sejak SIM Roda Dua pertama saya, terus terang ketika ditanya apa bedanya STOP dan PARKIR dan berapa durasinya saya juga jadi ikutan bingung menjawabnya. Saya coba tanya teman-temanpun ternyata tidak ada yang bisa menjawab juga. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya. Di negara dia di Austria apa beda tanda lalu lintas dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP. Dia menjawab dengan lugas bahwa kendaraan disebut STOP jika berhenti antara 0 sampai dengan 10 menit sedangkan kendaraan disebut PARKIR jika berhenti lebih dari 10 menit ke atas hingga tidak terbatas. Sebagai contohnya seorang supir disebut berhenti atau STOP di pinggir jalan jika seseorang sedang berkendaraan kemudian ada panggilan telephone penting dari mobilephone dan dia ingin mengangkat telepon untuk berbicara sementara dia tidak memiliki perangkat earphone ataupun bluetooth sehingga harus berbicara langsung melalui telephone kemudian dia berhenti di tepi jalan sementara ada tanda larangan PARKIR maka dia dapat menghentikan kendaraan di tempat tersebut selama tidak melebihi batas waktu yaitu 10 menit. Dalam hal ini supir STOP dan tidak meninggalkan kendaraan. Contoh lain adalah jika seseorang berkendaraan di depan pintu keberangkatan Bandara yang bertuliskan dilarang PARKIR sementara dia harus menghentikan kendaraan karena dia akan menurunkan penumpang, dia boleh menghentikan kendaraan di tempat tersebut, sementara dia juga dapat mematikan mesin dan keluar dari kendaraan, selama proses kejadian tersebut tidak melebihi batas waktu 10 menit maka proses itu termasuk kategori STOP atau berhenti dan bukan termasuk PARKIR.

Jadiiii… hehehe, pantaslah kalau Polisi Indonesia dibully karena kasus itu. Seorang Kompolnas saja tidak bisa menjawab dengan tegas. Polisi Indonesia memang Polisi dari hutan.


Leave a comment

Pencemaran di Kawasan Sanur Reef

Kebiasaan kami berdua, saya dan suami, adalah melakukan beach walking di dasar perairan Sanur Reef saat sore hari menjelang purnama atau setelah purnama karena air surut banyak sehingga berjalan kaki bisa dilakukan hingga ke mercu suar di ujung reef terluar, meski kita belum pernah melakukan jalan sampai ke mercu suar itu. Sambil melakukan beach walking kita mengamati makhluk-makhluk yang hidup di air dangkal seperti siput-siput, landak laut, timun laut, dan berbagai jenis bintang laut.

Terakhir kami mengamati perairan Sanur Reef adalah pada tanggal 20 Maret 2011 lalu. Betapa shock-nya kami saat melihat keadaan perairan di kawasan Sanur Reef ini. Kondisinya berbeda jauh dengan keadaan tiga bulan yang lalu apalagi dengan keadaan 6 bulan sebelumnya. Kondisi terakhir yang kami lihat, seaweed dan ganggang laut berkembang luar biasa pesat. Tidak ada lagi kawasan di Sanur Reef ini yang tidak tertutup oleh seaweed dan ganggang. Seluruh dasarnya full dipenuhi ganggang. Dan sebaliknya hewan-hewan perairan dangkal seperti timun laut, bintang laut, dan berbagai binatang lunak lain yang biasa saya lihat jumlahnya menurun sangat tajam.

Air laut di kawasan Serangan channel dan Sanur Reef akhir-akhir ini memang keruh luar biasa, bukan cuma keruh tapi sudah berwarna ke coklatan. Sampah seperti biasa tetap banyak mengambang dan terbawa arus, mulai dari sampah bekas sembahyang seperti tatakan sesaji dari daun janur kering, potongan kayu dan bambu, plastik-plastik kemasan makanan ringan dan kantong plastik, sedotan, gelas, botol plastik dan kaleng aluminium bekas minuman ringan, hingga binatang mati serta serpihan janin hasil aborsi. Tapi yang paling mengganggu jika sedang melakukan watersport dan sunbathing di Sanur beach dan Mertasari beach adalah bau menyengat yang terbawa angin dari arah Serangan Channel, bau busuk menyengat aroma sampah, seperti bau amoniak. Bau ini sudah pasti berasal dari TPA Suwung. Tapi saya tidak tahu pasti apakah air keruh di perairan Sanur reef ini diakibatkan leakage (cairan hitam yang terbentuk pada timbunan sampah) dari TPA atau diakibatkan hujan yang membawa material lumpur dan mengotori perairan, karena tukad-tukad dan saluran-saluran seewage (pembuangan air kotor) di daerah Denpasar Timur banyak yang bermuara di Serangan Channel dan arus pasang-surut memudahkan penyebaran keseluruh kawasan Sanur Reef.

Pertumbuhan ganggang dan seaweed yang sangat pesat memang ada hubungannya dengan penurunan kualitas air laut. Saya belum tahu apakah pemerintah Bali dan Denpasar khususnya mengetahui kondisi ini. Yaitu pencemaran air laut luar biasa yang sedang terjadi. Maksud saya menceritakan dan menyebarkannya ke publik adalah untuk memanggil para pecinta lingkungan, orang-orang yang bergerak dalam penyelamatan lingkungan dan pemerintah Denpasar untuk mengetahuinya dan berusaha mengambil langkah-langkah yang perlu untuk mencegah kerusakan masive lingkungan di kawasan Sanur Reef. Dan pertanyaan saya mau dibawa kemana pariwisata kawasan Sanur?

NOTE :
Yang saya harap dilakukan oleh pengamat, pecinta dan penyelamat lingkungan serta pemerintah adalah :

  1. Menguji dan menganalisa kadar pencemaran air laut yang sedang terjadi di dalam perairan Sanur Reef terutama tempat dimana digunakan untuk watersport dan kegiatan pariwisata. Serta mencari darimana asal pencemarannya.
  2. Mengambil tindakan seperti membuat area pengolahan air limbah di muara seewage sebelum air dialirkan dan dibuang ke laut.
  3. Me-review kembali keputusan menggunakan kawasan Suwung sebagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan merencanakan system sanitary landfill di area lain yang tidak berada di lokasi dengan muka air tanah yang tinggi, apalagi daerah rawa-rawa, pada saat air pasang air laut naik masuk jauh kedaratan dan pada saat surut membawa sebagian sampah ketengah laut.

Hal-hal kecil yang bisa dilakukan semua orang adalah :

  • Memisahkan sampah plastik dan sampah organik, sehingga memudahkan pemulung mengambil barang-barang yang bisa di recycle.
  • Mengurangi pemakaian bahan-bahan dengan kemasan isi ulang, karena kemasannya tidak bisa di recycle.
  • Membeli shampoo, sabun cair, pembersih, pewangi dan deterjen dengan kemasan yang besar sekaligus terutama untuk keluarga sangat memungkinkan, jangan dengan kemasan kecil-kecil berupa sachet sehingga mengurangi sampah kemasannya.
  • Mintalah kopi dan teh yang disajikan di dalam cangkir porselen, dan makanan pun dengan piring porselen jika sedang hangout di café dan resto, bukan dengan gelas, piring serta sendok dari kertas karton berlilin, plastik atau styrofoam maupun sedotan plastik. Dan menurut saya kopi dan teh jauh lebih nikmat bila menggunakan cangkir porselen. Makan pun lebih nikmat diatas piring kaca atau porselen dengan sendok garpu logam dari pada makan pakai barang-barang terbuat dari plastik.


2 Comments

Sampah-sampah Bali dan pencemaran pantai

Ada sedikit lega akhirnya pemerintah Bali menaruh perhatian besar terhadap masalah sampah di wilayah perairan dan pantai yang semakin tidak terkendali. Masalah sampah kembali mencuat sebagai reaksi tulisan yang dimuat di dalam majalah luar negeri Times (meskipun seingat saya tulisan itu, “Holiday in hell” sudah agak lama). Maka semua orang seperti terkaget-kaget, seperti ketika bangun dari mimpi indah sementara faktanya tak seindah mimpi. Sayang tanggapan masyarakat Bali menilai seolah sampah itu bukan dari Pulau Bali sendiri melainkan sampah kiriman. Seperti pepatah bilang : “buruk muka, cermin di belah”, begitulah kira2 reaksi yang terjadi di masyarakat Bali. Ini sebuah kebiasaan dan sikap buruk yang harus dihilangkan.

Jangan dulu menyangka bahwa ada wilayah lain yang mengirimkan sampah ke Bali. Memang banyak sekali wilayah-wilayah di Indonesia yang tidak becus mengelola sampah, tapi bukan berarti bahwa di Pulau Bali juga keadaannya jauh lebih baik dari tempat lain. Berapa meter kah atau beberapa ratus kilometer kah sebuah perairan saling mempengaruhi satu sama lain? Indonesia punya banyak ahli kelautan, beri mereka pekerjaan untuk menunjukan bukti-buktinya. Selain itu sampah yang menumpuk di sepanjang pantai Selatan Bali juga bukan karena rombongan turis lokal yang tidak tertib habis minum air kemasan dalam botol plastik atau makan siang dari lunch box dan membuang sampahnya ke pantai-pantai.

Tengoklah ke dalam pada sistem pengelolaan sampah yang ada di municipality Denpasar, dan kota-kota dengan populasi yang lumayan besar di sekitar Denpasar seperti Tabanan, Mengwi, dan Gianyar.

Lihatlah faktanya bahwa banyak perumahan-perumahan di Bali yang tidak terjangkau oleh sistem pengambilan sampah dari dinas kebersihan. Hotel, restauran, villa-villa, komplek perumahan pengambilan sampah dikelola dengan baik dan teratur. Tapi banyak perumahan penduduk di kawasan Denpasar maupun wilayah-wilayah Utara Denpasar yang tidak melakukan pengambilan sampah rutin di lingkungan tempat tinggal. Sementara di Denpasar sendiri banyak perumahan dengan akses-akses jalan yang sangat sempit dengan populasi lumayan padat yang tidak memiliki akses untuk dilewati oleh truk-truk sampah. Adakah tempat-tempat kolektor sampah di dalam lingkungan yang tidak memiliki akses truk sampah itu. Kemana mereka membuang sampah? Truk-truk sampah di perumahan juga hanya mempunyai fungsi untuk mengambil sampah buangan rumah tangga. Mereka menolak mengambili sampah-sampah berupa potongan kayu dan daun hasil pemangkasan tanaman perdu ataupun pepohonan. Dan masyarakat ketika melakukan pemangkasan pohon dan perdu kemudian membuangnya begitu saja di saluran air dan saluran irigasi.

Faktanya banyak sekali sungai-sungai, besar dan kecil, dan tukad-tukad di pulau Bali ini yang bermuara di pantai Selatan. Faktanya sampah yang terdampar di pantai berupa sampah buangan manusia berupa sampah padat yang tidak terurai dan sampah organik berupa potongan-potongan kayu. Faktanya peristiwa menumpuknya sampah di pantai Selatan terjadi pada saat musim penghujan bukan pada saat musim kering. Faktanya banyak kegiatan pemangkasan setelah pohon dan perdu tumbuh sangat subur pada musim penghujan. Sampah banyak terdampar di pantai pada saat sebelumnya terjadi hujan deras mengguyur cukup lama terutama di daerah yang tinggi dan perbukitan. Sampah menumpuk dan mendarat di pantai tidak tiap hari melainkan saat terjadi air pasang tertinggi pada bulan baru dan bulan purnama. Jadi penumpukan dan terdamparnya sampah di pantai-pantai terjadi kombinasi hujan deras dan air pasang. Faktanya sampah bukan cuma di sepanjang pantai Jimbaran-Tuban-Kuta-Legian-Kerobokan, tapi juga di pantai Sanur di bagian Timur yang sama sekali tidak terpengaruh oleh arus air dari Barat. Meski di pantai Sanur sampah tidak menumpuk di pantai seperti di bagian Barat. Di Tanjung Benoa dan Nusa Dua juga sebenarnya sampah semakin banyak, hanya saja kawasan resort dan hotel bintang lima di sana memiliki cukup banyak pegawai yang membersihkan dan menjaga pantai setiap hari, pagi, siang dan sore hari, sebelum terjadi penumpukan.

Melihat kenyataan dan fakta yang ada janganlah kita menuduh bahwa sampah di Bali adalah sampah kiriman. Kiriman dari mana? Kemungkinan terbesar adalah sampah-sampah itu tidak datang dari jauh-jauh. Melainkan dari perbukitan terbawa derasnya aliran air hujan masuk ke sungai-sungai dan terbawa ke laut lepas. Saat air pasang ombak kemudian mengembalikannya ke daratan dan terdamparlah sampah-sampah itu di pantai.

Catatan akhir dan perenungan :
Kemana sampah-sampah penduduk Denpasar yang dibawa oleh truk-truk pengambil sampah? Jawabannya adalah dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang terletak di wilayah Suwung, Denpasar Selatan. Letaknya Suwung itu adalah antara pelabuhan Benoa dan pulau Serangan. Mampukah TPA Suwung menampung sampah seluruh wilayah Denpasar dan sekitarnya? Saatnya untuk memikirkan, sebelum terlambat dan tidak tahu lagi kemana harus membuang sampah untuk penduduk Denpasar dan sekitarnya.


Leave a comment

Priok berdarah.

14 April terjadi bentrok SatPol PP dengan masyarakat sekitar Koja karena menolak daerahnya dibenahi.

Ini sebuah pemikiranku untuk kasus-kasus semacam. Saat pembenahan dilaksanakan untuk kepentingan yang lebih besar terjadi penolakan dari masyarakat yang jadi korban. Penataan memang harus selalu ada korban. Perumpamaan kita menata sebuah taman bunga yang sudah tumbuh liar tidak beraturan maka akan ada tanaman yang menjadi korban dipotong, dicabut, dibuang sementara yang masih layak mungkin direlokasi ditanam kembali di dalam pot atau ditempat lain. Itu adalah tuntutan dari sebuah kerapihan dan keindahan.

Begitu juga dengan „pengembangan wilayah“, dalam sebuah penataan lingkungan terlebih lagi bila sebuah wilayah telah tumbuh tanpa melalui sebuah penetapan master plan maka pertumbuhan akan bergerak sesukanya. Akibatnya terjadi tumpang tindih kepentingan. Dan terjadilah perebutan wilayah seperti yang terjadi di Koja.

Terus bagaimana kita menghadapi kasus-kasus seperti ini dalam sebuah penataan kota. Demi kehormatan pemerintah dan demi tegaknya HAM yang dituntut masyarakat yang semakin demanding maka harus dicari penyelesaian yang paling arif.

Indonesia itu negara yang luas. Pelabuhan bukan hanya ada di Jakarta dan bukan hanya Sunda Kelapa dan Tanjung Priok dan Koja saja. Kawasan Industri semakin bergerak ke arah Timur. Masih banyak wilayah yang bisa dikembangkan. Bikin Master Plan yang sebaik-baiknya. Kosongkan sebuah wilayah buat perencanaan untuk jangka panjang hingga kebutuhan 50 tahun mendatang. Tidak bisa dibikin lebih lebar pelabuhan peti kemas yang ada di Koja ya buat ditempat lain misalnya di Bekasi, di Cirebon, Di Tegal, di Semarang atau Surabaya sekalian.

Apabila ada masyarakat yang menolak apabila wilayah itu ditata dibenahi dan dikembangkan dengan dasar tata kota yang baik maka tinggalkan daerah tersebut cari wilayah yang masih kosong dan bisa ditata. Tinggalkan masyarakat yang anti terhadap kemajuan. Masyarakat yang egois dan hanya mementingkan kepentingan kelompoknya bukan kepentingan bangsa dan negara.

Teori pengembangan wilayah dan tata kota apabila sebuah infrastruktur terbentuk maka wilayah itu akan tumbuh dan berkembang. Sebagai contoh yang ada didalam kota Jakarta sendiri, jalan terusan Simpruk pada mulanya seperti wilayah Jakarta pinggiran meski berada di tengah kota dan dekat dengan Senayan. Begitu jalan tersebut diperbaiki diperlebar dan menjadi jalan alternatif dari Jakarta Barat menuju Jakarta Selatan selain Senayan maka lambat laun daerah itu berkembang bahkan hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Jika masyarakat Koja menolak ditata wilayahnya, tidak mau berkorban untuk kepentingan yang lebih besar bagi pembangunan kota Jakarta, leave them alone, kembangkan wilayah lainnya. Berikan kemajuan pada masyarakat yang mau berkorban atau tempat yang sama sekali baru kosong sehingga tidak ada tumpang tindih kepentingan. Tempat yang telah tertata baik bisa ditawarkan kepada mereka yang mau menempati wilayah yang sama sekali baru itu dengan diberikan insentif, sementara bagi yang menolak digusur (bahasa kasarnya) tidak perlulah dilakukan pemaksaan. Punishment bisa dengan bentuk yang lain seperti tidak adanya anggaran pembangunan. Toh mereka tidak menghendakinya.