Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

Sedekah Ramadhan

Maksud baik kok dihalangi, itu pikiran orang ketika aku bilang sebaiknya tidak membiasakan memberikan uang kepada anak-anak di kampung-kampung. Sepertinya mungkin aku ini orang yang paling sadis di Dunia, tidak punya empati dan kasih sayang. Biarlah orang melihatnya aku ini pelit, nggak pernah sedekah dan tidak pernah bantu saudara-saudaranya. Wes ben wae, tidak perlu diklarifikasi, Gusti Allah mboten sare, wong ndak dapet pengakuan juga ndak apa. Biarlah orang men-judge aku seperti apa yang mereka lihat. Aku tidak peduli apa kata orang, aku peduli dengan menjadikan orang lebih mulia.

Seperti biasa bulan ramadhan seperti sekarang orang berlomba-lomba bagi sedekah. Which is good, jka dipandang dari sudut agama. Penukaran uang receh di Bank seperti acara yang wajib selama bulan puasa dan menjelang Hari Raya Id. Sampai-sampai Bank perlu memberikan pengumuman jadwal penukaran uang kecil. Kebiasaan memberikan donasi kepada kamu miskin dan dhuafa dengan membagi secara langsung berupa uang seperti sebuah tradisi buat bangsa ini. Orang-orang kaya di negara ini seperti membutuhkan pengakuan untuk perbuatan baiknya. Yang memberi sangat bahagia jika bisa membagikan uang kepada sebanyak-banyaknya kaum miskin, apalagi jika melihat orang-orang berebutan untuk mendapatkan uang sedekah. Bahkan beberapa kasus yang terjadi sebelumnya hingga memakan korban jiwa. They looks like animal more than human, ketika saling berebut. Mereka yang berebut sedekah seperti hewan yang hanya memakai insting mereka yang mengatakan: uang, uang, uang. Mereka harus mendapatkan uang sedekah itu lebih dari sekitarnya, ketimbang berpikir rasional, apalagi berpikir untuk sabar menunggu sampai uang diberikan ke tangan mereka. Wanita dewasa, tua, dan muda. Semua berebut, saling dorong saling sikut dan anak-anak menjerit menangis tergencet sana sini. Uang sedekah yang diperebutkan nilainya hanya sebesar 15.000,- sampai 20.000,-.

Apakah tidak ada cara lain untuk memberikan donasi? Haruskah disaksikan orang banyak dan beritanya harus sampai muncul di tivi karena ada orang yang mati lemas dan terinjak-injak hanya untuk memberi sedekah. Yang disalahkan selalu mereka yang berebut sedekah bukannya orang-orang kaya yang butuh pengakuan itu. Tidak adakah cara memberi sedekah yang memuliakan mereka yang diberi, meskipun mereka hanyalah kaum dhuafa dan fakir miskin? Orang-orang miskin itu seperti hewan karena mereka tidak cukup pengetahuan, mereka miskin, bodoh dan tidak beradab. Menjadikan mereka manusia yang beradab dan bermartabat adalah dengan memberikan mereka pengetahuan. Mengajari mereka juga dengan cara memperlakukan mereka secara beradab dan bermartabat. Tidak menjadikan tetap bodoh seperti hewan, menumbuhkan insting mereka untuk mengemis dan meminta-minta.

Sering aku melihat orang senang sekali memberikan uang seribu dua ribu kepada orang miskin tapi sering pelit ketika memberikan pengetahuan kepada orang lain bagaimana caranya dia mencari kekayaan. Ada orang yang pelit bahkan untuk hal-hal kecil seperti berbagi trik dan pengetahuan untuk membuat kue misalnya. Meskipun banyak juga orang yang beramal dengan ilmunya dengan menulis blog-blog berisi pengetahuan yang bermanfaat. Amal berupa pengetahuan itu lebih panjang ketimbang sedekah uang seribu dua ribu. Apalagi jika pengetahuan itu bisa membuat orang lain menggunakannya untuk mencari nafkah sehingga hidupnya menjadi lebih baik.

Sedekah bukan cuma uang seribu dua ribu perak, pengetahuan dan menjadikan orang lain lebih mulia adalah sedekah yang tidak ada habisnya. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal untuk mereka yang mau berbagi pengetahuan. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.

Advertisements


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas masalah yang lagi diperdebatkan mengenai tanda dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP yang lagi rame di Medsos.

Jadi sebenarnya siapa yang ERROR? Bapak supir taxi atau si Pak Polisi? Kemarin di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (Hmmm… mudah-mudahan tidak salah menyebut nama, nanti saya re-check kembali) tidak bisa menjawab secara gamblang karena katanya dia tidak melihat kasusnya secara langsung di lapangan. Bapak Kompolnas itu kemudian mengatakan bahwa kalau ada perdebatan sebaiknya diperdebatkan di pengadilan. Tapi siapa yang percaya pengadilan kasus-kasus lalu lintas. Pada kenyataannya di pengadilan tidak ada proses pengadilan yang adil. Yang ada hanya proses ketok palu. Pada akhirnya hanyalah situasi berbeli-belit yang menyusahkan, ongkos yang lebih mahal dan waktu terbuang.

Seorang Kompolnas seharusnya bisa menjelaskan bedanya dilarang PARKIR dan dilarang STOP. Apa sebenarnya kriteria dilarang PARKIR dan apa kriteria dilarang STOP. Parkir, berarti pengendara mobil meletakkan kendaraannya di tempat dan lokasi tertentu, pengendara mematikan mesin, dan meninggalkan kendaraan dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan Stop, atau berhenti berarti kendaraan diletakkan pada tempat dan lokasi tertentu, mesin kendaraan bisa masih hidup atau dimatikan, pengendara masih berada di dalam kendaraan atau tidak jauh dari kendaraan, waktu berlangsungnya kegiatan atau durasi kendaraan berhenti adalah singkat, maka ini disebut sebagai STOP atau berhenti. Yang membedakan antara STOP dan PARKIR adalah durasinya. Inilah yang harus dibedakan. Selama ini tidak ada kriteria jelas durasi waktu antara yang disebut sebagai STOP dan PARKIR.

Saya sendiri sebenarnya meskipun sudah 32 tahun memiliki SIM juga jadi ikut-ikutan bingung menjelaskan berapa lama durasi yang dikatakan STOP atau berhenti sehingga berbeda dengan kriteria PARKIR. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya apa kriteria dilarang PARKIR dan dilarang STOP kalau di negaranya. Jawabanya ternyata lebih lugas dari seorang Kompolnas. Yang dimaksud dengan STOP itu artinya berhenti selama 0 sampai 10 menit. Sedangkan kendaraan berhenti lebih dari 10 menit artinya kendaraan itu diparkir. Jadi jika supir menghentikan kendaraan sementara ada larangan parkir maka masih diperbolehkan selama kendaraan berada di lokasi tersebut tidak lebih dari 10 menit. Jadi misalkan kita sedang berkendaraan tiba-tiba mendapatkan panggilan telephone penting dari telephone genggam dan kita ingin mengangkatnya, kemudian kita menghentikan kendaraan sementara ada tanda dilarang PARKIR kita bisa berhenti atau STOP di tempat itu selama tidak lebih dari 10 menit.

Jadiiiiii…. hehehe tidak salah Polisi lalu lintas Indonesia memang pantas dibully soal kasus penilangan seorang supir taxi yang berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Tidak salah kalau ada yang bilang Polisi Indonesia sama dengan Polisi dari hutan.


Leave a comment

Polisi Indonesia = Polisi Tarzan

Ikutan membahas soal kasus seorang supir taxi yang ditilang karena berhenti di dekat tanda dilarang PARKIR. Jadi siapa sebenarnya yang ERROR? Si supir taxi atau Pak Polisinya.

Semalam di MetroTV Kompolnas Adrianus Meliala (mudah-mudahan tidak salah nulis nama, nanti saya re-check kembali) ketika ditanya tanggapannya mengenai kasus ini tidak bisa menjawab karena dia tidak melihat sendiri situasinya di lapangan. Kemudian dia melanjutkan jika ada perdebatan sebaiknya dibawa ke pengadilan. Tapi siapa yang percaya dengan pengadilan lalu lintas? Berdasarkan pengalaman pribadi pengadilan lalu lintas bukanlah sebuah proses pengadilan yang adil melainkan hanya sebuah proses ketok palu. Pada akhirnya pengadilan hanyalah sebuah proses yang lebih berbeli-belit yang memakan waktu dan ongkos yang lebih besar dibandingkan dengan tilang.

Sebenarnya tidak perlu ada perdebatan jika jelas apa kriteria dari tanda dilarang PARKIR dan apa kriteria dari tanda dilarang STOP atau berhenti. Sebuah kendaraan itu disebut PARKIR jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat ataupun berada jauh meninggalkan kendaraan, dengan waktu tidak terbatas. Sedangkan sebuah kendaraan itu disebut STOP jika kendaraan itu berhenti di suatu tempat tertentu, supir mematikan mesin kendaraan maupun mesin dalam keadaan hidup, kemudian supir berada di dalam atau di luar kendaraan, dekat dengan kendaraan, dalam waktu yang terbatas. Jadi yang membedakan antara PARKIR dan STOP atau berhenti adalah durasi atau jangka waktu kendaraan itu berhenti.

Saya sendiri sudah memiliki SIM selama lebih 32 tahun sejak SIM Roda Dua pertama saya, terus terang ketika ditanya apa bedanya STOP dan PARKIR dan berapa durasinya saya juga jadi ikutan bingung menjawabnya. Saya coba tanya teman-temanpun ternyata tidak ada yang bisa menjawab juga. Akhirnya saya coba tanya kepada Hans suami saya. Di negara dia di Austria apa beda tanda lalu lintas dilarang PARKIR dan tanda dilarang STOP. Dia menjawab dengan lugas bahwa kendaraan disebut STOP jika berhenti antara 0 sampai dengan 10 menit sedangkan kendaraan disebut PARKIR jika berhenti lebih dari 10 menit ke atas hingga tidak terbatas. Sebagai contohnya seorang supir disebut berhenti atau STOP di pinggir jalan jika seseorang sedang berkendaraan kemudian ada panggilan telephone penting dari mobilephone dan dia ingin mengangkat telepon untuk berbicara sementara dia tidak memiliki perangkat earphone ataupun bluetooth sehingga harus berbicara langsung melalui telephone kemudian dia berhenti di tepi jalan sementara ada tanda larangan PARKIR maka dia dapat menghentikan kendaraan di tempat tersebut selama tidak melebihi batas waktu yaitu 10 menit. Dalam hal ini supir STOP dan tidak meninggalkan kendaraan. Contoh lain adalah jika seseorang berkendaraan di depan pintu keberangkatan Bandara yang bertuliskan dilarang PARKIR sementara dia harus menghentikan kendaraan karena dia akan menurunkan penumpang, dia boleh menghentikan kendaraan di tempat tersebut, sementara dia juga dapat mematikan mesin dan keluar dari kendaraan, selama proses kejadian tersebut tidak melebihi batas waktu 10 menit maka proses itu termasuk kategori STOP atau berhenti dan bukan termasuk PARKIR.

Jadiiii… hehehe, pantaslah kalau Polisi Indonesia dibully karena kasus itu. Seorang Kompolnas saja tidak bisa menjawab dengan tegas. Polisi Indonesia memang Polisi dari hutan.


Leave a comment

R.A. Kartini not swim

Last Sunday 21st April we just celebrating ‘Hari Kartini’. Raden Ajeng Kartini, one of the most Indonesian inspiring women because of the change she made for Indonesian women a right for educations. R.A. Kartini bring education to Indonesian women but she is not swimming… 🙂

Specially in maritime country like Indonesia, often we can not avoid water transportation. Even an air craft sometimes landing in the water, it happen with Lion Air at last April 13th 2013 near Bali – Ngurah Rai Airport. In the case of Indonesian transportion problem which too much disaster to learn swim is a must.

Like Kartini I want a change in Indonesian women way of thinking about swimming. I said 80% of women in South East Asia countries including Indonesia can not swim. Why? They can not because they don’t want. I see that most of the reason they are not swimming because they don’t want get colored skin from swimming. That’s terrible way of thinking. Swimming is ‘LIFE SKILL’ and little bit brown skin even beauty, remember, Cleopatra the most beautiful woman in the world has also brown skin.

Not too late to learn swim, in my other text I will show how to learn swimming with my method which is good for any ages.


Leave a comment

Education is for the need of knowledge….

Untuk membantu masyarakat dalam mendapatkan pendidikan murah maka sekolah dan perguruan haruslah ditempatkan dimana pendidikan itu dibutuhkan dan bidang yang dipilih adalah sesuai dengan kebutuhan. Masyarakat kita masih bodoh dan tertinggal dalam bidang pengetahuan. Ini semua terkait dengan pola pikir kita yang salah. Pendidikan tinggi ada bukan untuk kebutuhan tapi untuk jabatan dan gengsi semata supaya kelihatan intelek. Ini semua pengaruh dari gaya kolonialisme yang tertanam dalam benak kita.

Dulu kala hanya orang-orang berpangkat, kepala daerah, bangsawan-bangsawan yang mengirim anaknya untuk belajar ke perguruan tinggi. Itu sebabnya perguruan tinggi berada di kota-kota besar saja. Pada kenyataannya masa sekarang kesadaran akan pentingnya pendidikan sebenarnya sudah ada pada sebagian besar masyarakat yang berpikiran maju, bahkan sampai ke desa-desa sebenarnya kesadaran itu sudah ada. Beberapa masyarakat desa yang berpikiran maju dan yang ingin maju, mengirim anak-anak mereka ke perguruan tinggi di kota demi pendidikan tinggi, bahkan apabila perlu dengan mengorbankan sawah dan ladang yang jadi penghidupan mereka. Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi.

Kembali mengenai kesalahan dalam kebijakan pendidikan tinggi di tanah air yang muncul bukan untuk kebutuhan akan pendidikan melainkan untuk gengsi dan pangkat semata. Salah satu yang saya anggap kesalahan adalah dalam hal pemilihan dan penetapan jurusan dan fakultas. Sebagai contoh, Universitas Diponegoro tidak memiliki jurusan Pertanian dan Industri Pertanian sebab Universitas Gajah Mada telah memiliki jurusan tersebut sebaliknya Undip memiliki jurusan Perikanan sementara UGM tidak. Hanya karena dua universitas ini berada pada rayon wilayah yang sama, menurut penetap kebijakan pendidikan tidaklah jauh antara Jateng dan DIY. Padahal untuk kebanyakan orang tentulah masalah mengirimkan anak mereka ke kota yg berbeda. Jadi kebijakan ini seolah bila ingin sekolah tinggi masyarakat dipaksa untuk pergi jauh ke kota tertentu, dalam arti hanya orang-orang dengan kemampuan finansial cukup yang bisa pergi sekolah. Tapi kadang kala kalau melihat jurusan dari pendidikan yang dituju bukanlah untuk orang-orang yang memang menaruh minat pada bidang tersebut. Pertanian, Peternakan, Perikanan, sejatinya yang menaruh minat dan bakat untuk bidang ini adalah mereka yang bukan orang kota. Mereka yang berminat pada bidang tersebut adalah mereka2 yang tentunya bergelut dibidang tersebut.

Semisal jurusan Mathematika, Kimia, Metalurgi, Nuklir dan bidang serta jurusan yang aneh-aneh dibuat dan didirikan untuk universitas di kota tidaklah masalah. Tapi, bidang-bidang pendidikan terapan seperti pertanian, peternakan, perikanan, serta industri nya tentunya lebih baik kalau dibuat dibanyak tempat dimana kebutuhan akan itu sangat diperlukan. Di kota-kota kecil, bahkan kalau perlu dibuat sebanyak-banyaknya diberbagai kota tanpa ada penghalang seperti jika Ambarawa memiliki fakultas pertanian boleh saja fakultas yang sama didirikan di kota Temanggung, Blora, Kudus, Pekalongan, Banjarnegara, dan lain-lain. Jika orang desa mau mendalami pertanian dan industri pertanian tidak perlu mereka harus pergi ke Yogya untuk sekolah di UGM. Begitu juga halnya dengan ilmu perikanan. Kenapa orang Yogya tidak boleh membentuk jurusan dan fakultas perikanan? Mestinya kota-kota seperti Pekalongan, Cirebon, Cilacap, Rembang dan Tuban dan semua kota pesisir dimana masyarakat hidup dari perikanan boleh saja mendirikan sekolah tinggi dan fakultas jurusan perikanan, kenapa hanya Undip? (sementara kuliahnyapun lebih banyak di Jepara).

Akibat dari pemikiran sekolah tinggi hanya untuk jabatan, gengsi dan nampak intelek semata, maka tidak jarang mahasiswa mengambil jurusan yang sebenarnya bukan bidang yang mereka minati. Ada berbagai bentuk dari kesalahan jurusan ini, terpaksa mengambil jurusan yang kosong dan sepi peminat karena jurusan yang mereka minati terbatas kursinya atau ingin memenuhi minatnya tapi tidak memiliki kemampuan finansial cukup untuk pergi ke kota lain, akhirnya kuliah jurusan apa saja yang penting kuliah. Ini termasuk mereka yang tidak punya kemampuan untuk dapat diterima di fakultas yang diminati. Akhirnya waktu dan dana terbuang percuma, padahal dana pendidikan tinggi di Indonesia tidaklah sedikit. Sementara pengetahuan masih jauh dari jangkauan.

 


Leave a comment

Membuka wawasan

Masyarakat, kehidupan manusia, selalu berubah dari waktu kewaktu, itu harus kita pahami. Tetapi terkadang saat kita membuat sebuah perubahan kita selalu dihadapkan pada nilai-nilai yg sudah ada. Sering orang mencibir dengan mengatakan bahwa sebuah perbuatan dinilai sebagai tidak mencerminkan budaya bangsa dan sebagainya. Sementara yang dikatakan budaya itu sendiri hanyalah berupa hal-hal yang selalu terjadi berulang-ulang di masa tertentu. Budaya-pun akan berubah dari waktu ke waktu.

Saya paling tidak sependapat dengan orang-orang yang suka men-judment orang lain dengan kata-kata, “…tidak pantas dilakukan…. tidak mencerminkan budaya bangsa… “. Saya sangat menghargai mereka yang melihat sesuatu hal yang tidak biasa sebagai sebuah perbedaan yang harus diterima. Karena bisa saja orang melakukan sesuatu yang tidak biasa itu sedang melakukan sebuah bentuk perubahan yang diinginkan orang tersebut.

Jika kita merasa sebuah perbuatan tidak baik tentunya janganlah diikuti tapi kalau memang baik boleh saja diikuti. Ketika kita mengikuti sebuah bentuk perbuatan maka jadilah apa yang namanya budaya terbentuk karena hal tersebut terjadi berulang-ulang dan dilakukan oleh banyak orang. Termasuk korupsi di Indonesia, diikuti, dilakukan berulang-ulang dan oleh banyak orang maka jadilah budaya ‘korupsi’.

Ketika para Obama-mania atau saya lebih suka menyebutnya sebagai Obama-followers terutama dikalangan politisi Indonesia ikut-ikutan meneriakkan kata-kata “perubahan”, tapi sebenarnya mereka tidak benar-benar memahami makna dari kata “perubahan” itu.

Bangsa kita memang berbeda dengan bangsa lain. Budaya kita memang berbeda dengan budaya bangsa lain. Banyak dari kita yang beranggapan budaya Timur itu lebih baik dari budaya Barat. Tidak juga. Contohnya ya korupsi itu. Budaya Barat tidak ada budaya korupsi, sementara di Timur (kecuali Timur jauh, Jepang dan Korea), korupsi adalah budaya.

Maka tidak perlu pengkotak-kotakan budaya, seperti Barat dan Timur, atau beranggapan adanya Westernisasi dan Arabisasi, dan menganggap satunya lebih baik dari yang lain. Sementara orang Arab juga belajar dari Barat. Kalau sebuah perbuatan memang baik dan layak ditiru maka biarkanlah berlangsung perubahan terjadi. Jika terjadi ada perbedaan kebiasaan selama hal itu tidak mengganggu ya biarkan saja. Memaklumi perbedaan berarti kita telah menambah wawasan kita dan ketika kita membuka diri untuk melakukan hal yang sama maka kita telah membuka wawasan kita.


Leave a comment

Handphone dan pengaruhnya pada masyarakat miskin

Kemiskinan didalam masyarakat tidak bisa ditanggulangi hanya dengan mengandalkan usaha pemerintah semata. Tanpa adanya kesadaran dalam masyarakat sendiri untuk mengubah keadaan diri mereka maka segala usaha dari pemerintah tidak akan pernah terwujud. Seperti membatasi tingkat kelahiran, mengubah gaya hidup, dan adanya keinginan untuk meningkatkan pengetahuan untuk bekal mendapatkan pekerjaan dalam meningkatkan taraf hidup. Keinginan sekolah dari anak-anak di kalangan masyarakat miskin rendah. Mereka mudah putus asa, kemampuan belajar mereka rendah dan mempunyai kesulitan yang tinggi dalam memahami ilmu pengetahuan, hal ini akibat kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada anak-anak juga bisa disebabkan oleh gaya hidup dan budaya masyarakat sekitar mereka.

Pengaruh gaya hidup menggunakan handphone misalnya, saat ini telah menjangkau kelapisan masyarakat kelas bawah. Banyak kita lihat orang-orang yang memilih untuk membeli pulsa dari pada membeli makanan yang lebih bergizi. Pengaruh gaya hidup ini kaitannya dengan kepribadian, ada orang-orang yang tidak bisa bertahan karena arus kehidupan disekitarnya. Hal positif dari penggunaan HP ini memang kemudahan dalam komunikasi, tapi banyak juga yang tidak tahu batas-batas antara keinginan dan kebutuhan. Selain itu iklan-iklan yang agresif dari para provider mobile phone telah banyak menyesatkan masyarakat. Pulsa HP maupun perangkatnya dari tahun ke-tahun harga semakin menurun sementara harga kebutuhan pokok semakin meningkat. Belanja pulsa meningkat sementara belanja untuk hal-hal lain yang lebih penting untuk hidup antara lain makanan yang sehat dan bergizi dikurangi.

Anak-anak perempuan dari keluarga kurang mampu di daerah dan pinggiran kota pada usia masih dibawah umur dikirim ke kota untuk bekerja sebagai pelayan karena orang tua tidak mampu mengirim mereka ke sekolah. Anak-anak remaja puteri belasan tahun ini dengan kepribadian yang belum matang terpengaruh gaya hidup orang kota untuk memiliki HP. Gaji mereka sebagai pelayan lebih banyak mereka gunakan untuk hal-hal konsumtif seperti membeli HP dan membeli pulsa. Sore hari saat mereka bebas tugas berjam-jam mereka menikmati kemudahan komunikasi ini hanya sebagai hiburan atau untuk berkencan. Kehidupan mereka pada akhirnya hanya sampai pada pernikahan dan berkeluarga. Harapan semula untuk membantu keluarga atau membantu adik-adik mereka untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak terlaksana.

Banyak dari keluarga dengan penghasilan menengah kebawah tidak berbeda dalam hal menetapkan anggaran belanja keluarga. Kebutuhan pulsa HP ini menjadi prioritas. Lemari pendingin di rumah tidak berisi cukup makanan sementara pulsa HP yang hampir habis terus diisi. Anak-anak dibawah umur diperkotaan lebih dari setengahnya menggunakan perangkat HP. Akibat selanjutnya banyak anak-anak wanita yang ‘useless’, karena tidak mampu bekerja akibat kurang pengetahuan sebagai akibat dari kurang gizi. Kemudian orang tua akan memilih untuk cepat menikahkan anak-anak gadis mereka untuk melepaskan tanggung jawabnya. Sementara sebenarnya banyak anak-anak bujang yang juga  ‘useless’ tidak bekerja mapan karena juga tidak berpengetahuan dan tidak siap secara materi untuk bisa menghidupi sebuah keluarga. Tapi tradisi dan budaya seperti ini dalam masyarakat tidak juga berubah. Akibat kemudian adalah  tingkat kelahiran dan pertumbuhan populasi manusia terus meningkat. Sementara taraf hidup masyarakat pada akhirnya dari tahun ke-tahun akan terus menurun. Pemerintah membuat berbagai program kesejahteraan masyarakat, bantuan langsung tunai, jaminan kesehatan dan pendidikan gratis tapi semua tidak akan pernah berakhir dan mencapai sasaran.

Sebenarnya kesadaran seluruh masyarakat untuk merubah budaya dan gaya hidup adalah sangat besar perannya dalam mengatasi kemiskinan.

Secara skematic rangkuman tulisan ini adalah sebagai berikut:

Keluarga kurang mampu tapi bergaya hidup pengguna HP—> belanja pulsa dengan mengurangi kebutuhan pokok sehingga kurang gizi—> tidak sanggup belajar sehingga pengetahuan rendah—> tidak mampu bekerja dan terjadinya pernikahan dini—> pertambahan populasi manusia meningkat—> masyarakat yang tetap miskin.