Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik


Leave a comment

No Title

Aku tidak tahu mau dikasih judul apa tulisan ini.

Ini hanya sekedar sedikit catatan ketika Hans meninggal dunia. Hans suamiku sudah lama menderita sakit kanker darah. Seperti tulisanku sebelumnya. Pada akhirnya dia sudah tidak berdaya lagi menghadapi sakitnya, Hans menghembuskan nafas terakhirnya pada 9 Maret 2017. Sebenarnya dia tidak meninggal karena leukemianya tapi karena sakit di lambung sebagai side effect dari Thalidomide serta diet yang buruk karena selera makan yang buruk. Tapi itu adalah destinasi terakhir dari setiap orang, rahasia Ilahi yang kita tidak tahu.

Air mata kesedihanku menyaksikan seseorang menuju akhir hidupnya bukan kesedihan karena ditinggal mati, melainkan air mata kesedihan mengingat Allah. Mengingat kematian itu sendiri.

Advertisements


Leave a comment

Jalan Bareng ala Manula

Nyari teman untuk jalan bareng rame-rame di usia manula sudah tidak seperti waktu mahasiswa dulu, persoalannya berbeda. Dulu waktu mahasiswa kendalanya adalah uang saku, keuangan cekak. Tapi teman jalan bejibun. Asyik-asyik aja.

Ada perasaan ingin melakukan apa yang dulu belum sempat aku lakukan ketika mahasiswa. Ini bagian dari gejolak mid-age crisis yang aku alami. Aku kepengen jalan-jalan yang sedikit ngeri-ngeri sedap. Maksudnya ngeri-ngeri sedap disini adalah seperti, ke laut, snorkling, kalau perlu belajar surfing, trekking, jalan-jalan ke gunung, yang buat manula mungkin agak beresiko. Resiko terhadap kesehatan, seperti masuk angin, encok, nyeri lutut dan lain-lain. Eh, tapi nanti dulu, usia 50-an itu termasuk manula atau setengah baya ya? Cari teman jalan yang asyik dengan selera destinasi yang sama seperti keinginanku itu tidak mudah.

Iya tidak mudah tapi keinginanku begitu kuat akhirnya aku berhasil mengumpulkan teman-teman yang di atas rata-rata. Aku mulai persis ketika aku berusia 50 tahun, buah dari kegagalanku berangkat ke Australia yang aku impikan sebagai selebrasi memasuki usia 50. Sebagai gantinya aku berikrar untuk jalan-jalan di Indonesia saja. Oktober 2014 ketika hatiku hancur tidak jadi ke Australia, aku mengumpulkan beberapa teman SMP ku, yg berhasil aku bujuk untuk jalan-jalan keliling Bali. Ningrum, Mia dan Endang. Trip akhirnya terlaksana pada bulan April – Mei 2015. Dengan mobil kita berempat keliling ke Bali Barat, Singaraja, Kintamani. Waktu itu masih ditemani Hans suamiku. Meskipun sepanjang perjalanan aku setir sendiri sebenarnya yang membuatku kurang confidence traveling dengan mobil adalah kemampuanku dalam menghadapi kendala kerusakan mobil. Adanya pria membuat aku lebih pede. Meskipun kondisi Hans tidak sehat tapi setidaknya pengetahuannya bisa membantu, itu yang aku pikirkan. Dan betul juga dengan instingku, waktu di Kintamani kita mengalami problem dengan ban kempes. Entahlah apa memang orang Bali baik hati atau karena ada bule banyak yang nolongin untuk ganti ban. Bukan persoalan mudah karena mobil sewaanku banyak hal yg tidak berfungsi normal.

Dari situ membangkitkan semangatku untuk mencari destinasi yang agak jauh. Masih dengan teman-teman lama alumni SMP sebelumnya aku merencanakan trip ke Flores. Misiku dari awal memang ke Indonesia Timur sebagai pengganti trip Australia yang gagal itu. Labuhan Bajo dan Taman Nasional Komodo adalah destinasi berikutnya. Sepanjang 2015 kita membicarakan trip ini. Menetapkan time frame dan budget. Bujuk rayuku berhasil mempengaruhi 9 teman untuk ikut dalam boat trip yang pelaksanaannya sekali lagi akhir bulan April, tahun 2016. Alasan kenapa trip sekitar bulan itu karena cuaca bersahabat pada saat memasuki musim panas. Dan selalu ada hari libur karena beberapa teman masih aktif bekerja. Bukan pengangguran seperti aku.

Ajaib ternyata dua trip itu menimbulkan antusiasme untuk jalan-jalan ngeri-ngeri sedap di antara teman-temanku. Masih di tahun 2016 nggak tanggung-tanggung kita naik ke Ijen. Trekking menanjak 3 kilometer menuju kawah Ijen. Sebagian besar malah melakukan rafting dulu di Songa sebelum jalan menanjak ke Ijen. Itu sih gila. Aku tidak ikut rafting karena teknis keberangkatan yang tidak memungkinkan. Mereka start dari Surabaya dan aku dari Denpasar. Aku tidak mau bergabung dengan mereka karena budgetku akan membengkak kalau aku ikut berangkat dari Surabaya, sementara dari Denpasar ke Banyuwangi sebagai titik pendakianku ke Ijen hanya 3 jam perjalanan darat dari Denpasar. Belum lagi target pendakianku adalah sisi utara bibir kawah yang total jarak perjalanan trekkingnya 4.5 kilometer sehingga PP menjadi 9 kilometer. Dibanding biaya sebesar 4.5 juta yang aku butuhkan termasuk tiket pesawat dan hotel jika start dari Surabaya, aku cuma habis dana sebesar 1.7 juta dari arah Denpasar.

Moral cerita dari tulisan ini adalah, harus ada seseorang yang menjadi penggerak untuk memulai sesuatu. Tidak ada kata terlambat untuk jalan-jalan jenis “bukan jalan-jalan cantik” untuk kaum usia pertengahan seperti kami. Dan Next Trip kami berikutnya di tahun 2017 ini Insyaa Allah trekking ke Kampung Waerebo dan Flores Overland.


Leave a comment

Sedekah Ramadhan

Maksud baik kok dihalangi, itu pikiran orang ketika aku bilang sebaiknya tidak membiasakan memberikan uang kepada anak-anak di kampung-kampung. Sepertinya mungkin aku ini orang yang paling sadis di Dunia, tidak punya empati dan kasih sayang. Biarlah orang melihatnya aku ini pelit, nggak pernah sedekah dan tidak pernah bantu saudara-saudaranya. Wes ben wae, tidak perlu diklarifikasi, Gusti Allah mboten sare, wong ndak dapet pengakuan juga ndak apa. Biarlah orang men-judge aku seperti apa yang mereka lihat. Aku tidak peduli apa kata orang, aku peduli dengan menjadikan orang lebih mulia.

Seperti biasa bulan ramadhan seperti sekarang orang berlomba-lomba bagi sedekah. Which is good, jka dipandang dari sudut agama. Penukaran uang receh di Bank seperti acara yang wajib selama bulan puasa dan menjelang Hari Raya Id. Sampai-sampai Bank perlu memberikan pengumuman jadwal penukaran uang kecil. Kebiasaan memberikan donasi kepada kamu miskin dan dhuafa dengan membagi secara langsung berupa uang seperti sebuah tradisi buat bangsa ini. Orang-orang kaya di negara ini seperti membutuhkan pengakuan untuk perbuatan baiknya. Yang memberi sangat bahagia jika bisa membagikan uang kepada sebanyak-banyaknya kaum miskin, apalagi jika melihat orang-orang berebutan untuk mendapatkan uang sedekah. Bahkan beberapa kasus yang terjadi sebelumnya hingga memakan korban jiwa. They looks like animal more than human, ketika saling berebut. Mereka yang berebut sedekah seperti hewan yang hanya memakai insting mereka yang mengatakan: uang, uang, uang. Mereka harus mendapatkan uang sedekah itu lebih dari sekitarnya, ketimbang berpikir rasional, apalagi berpikir untuk sabar menunggu sampai uang diberikan ke tangan mereka. Wanita dewasa, tua, dan muda. Semua berebut, saling dorong saling sikut dan anak-anak menjerit menangis tergencet sana sini. Uang sedekah yang diperebutkan nilainya hanya sebesar 15.000,- sampai 20.000,-.

Apakah tidak ada cara lain untuk memberikan donasi? Haruskah disaksikan orang banyak dan beritanya harus sampai muncul di tivi karena ada orang yang mati lemas dan terinjak-injak hanya untuk memberi sedekah. Yang disalahkan selalu mereka yang berebut sedekah bukannya orang-orang kaya yang butuh pengakuan itu. Tidak adakah cara memberi sedekah yang memuliakan mereka yang diberi, meskipun mereka hanyalah kaum dhuafa dan fakir miskin? Orang-orang miskin itu seperti hewan karena mereka tidak cukup pengetahuan, mereka miskin, bodoh dan tidak beradab. Menjadikan mereka manusia yang beradab dan bermartabat adalah dengan memberikan mereka pengetahuan. Mengajari mereka juga dengan cara memperlakukan mereka secara beradab dan bermartabat. Tidak menjadikan tetap bodoh seperti hewan, menumbuhkan insting mereka untuk mengemis dan meminta-minta.

Sering aku melihat orang senang sekali memberikan uang seribu dua ribu kepada orang miskin tapi sering pelit ketika memberikan pengetahuan kepada orang lain bagaimana caranya dia mencari kekayaan. Ada orang yang pelit bahkan untuk hal-hal kecil seperti berbagi trik dan pengetahuan untuk membuat kue misalnya. Meskipun banyak juga orang yang beramal dengan ilmunya dengan menulis blog-blog berisi pengetahuan yang bermanfaat. Amal berupa pengetahuan itu lebih panjang ketimbang sedekah uang seribu dua ribu. Apalagi jika pengetahuan itu bisa membuat orang lain menggunakannya untuk mencari nafkah sehingga hidupnya menjadi lebih baik.

Sedekah bukan cuma uang seribu dua ribu perak, pengetahuan dan menjadikan orang lain lebih mulia adalah sedekah yang tidak ada habisnya. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal untuk mereka yang mau berbagi pengetahuan. Aamiin Ya Robbal Alaamiin.


3 Comments

Packing Guide for Holiday

SONY DSC

Live aboard around Komodo National Park

Masih teringat dengan episode persiapan sebelum Komodo Trip, rupanya beberapa teman kesulitan membayangkan what to bring and what to wear.

Acara waktu itu adalah trip dengan kapal, island hoping, melihat beberapa pulau di sekitar Taman Nasional Komodo. Kegiatan selama perjalanan adalah snorkling di sekitar pulau dan trekking di bukit-bukit yang lumayan menantang, dengan bonus view yang luar biasa dari puncak bukit.

Grup WA untuk trip berhari-hari membahas pertanyaan: Untuk berenang di laut pakai apa? Untuk snorkling pakai apa? Nanti trekking pakai apa?

Kebanyakan teman-teman grupku nge-trip lebih memikirkan mau pakai baju apa dan membawa sekian banyak baju plus perlengkapan ini itu for beauty ketimbang memikirkan fungsi. Sehingga karena mendengar saran-saran harus bawa perlengkapan untuk trekking, untuk berenang, untuk snorkling, untuk foto-foto selfie, akibatnya list barang bawaan jadi panjang sekali. Untuk trip 5 hari membawa 5 stel baju, ditambah peralatan kamera, charger dan cable extension, trekking dan snorkling gear.

Bawaan pasti cukup banyak untuk semua kegiatan tetapi aku pilah pilih untuk membawa sesedikit mungkin dengan memfokuskan bawaan pada fungsinya.

 

Pakaian dan toiletries yang harus dipack.

Untuk pakaian selalu mixed and match. Pakaian sehari-hari aku cukup membawa 1 celana panjang yang dipakai untuk berangkat. 1 Celana pendek jeans. Dengan  bikini merangkap untuk underwear sehari-hari jadi tidak perlu lagi bawa beha, cuma panties saja. Blus atasan yang tipis sehingga udara bebas mengalir dan juga kaos-kaos tanpa lengan yang airy ketimbang baju-baju berlengan panjang untuk dipadu dengan short jeans. 1 Jacket dengan hood untuk situasi angin kencang saat perjalanan di kapal. Dua pasang kaos kaki untuk dipakai bergantian. Scarf atau selendang, bisa sebagai assesories bisa sebagai shawl bila cuaca berubah.

Untuk toiletries sebenarnya sunlotion itu tidak terlalu penting. Kebanyakan orang terpengaruh dengan pendapat bahwa sunlotion itu adalah benda sangat penting ketika bermandi matahari, padahal tidak. Buatku sering kali sunlotion justru mengganggu, karena sering menyebabkan pedih di mata. Untuk di badan yang sangat penting itu justru rashguard. Yang 100% melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Kecuali jika hanya menggunakan bikini di udara terbuka maka perlu menggunakan sun lotion. Orang Indonesia kebanyakan tidak pamer-pamer tubuh dengan bikini dan kulit terpapar matahari. Jika menggunakan rashguard maka tidak perlu lagi sunlotion. Rashguard adalah bahan T-shirt yang didesign untuk memantulkan sinar matahari, maka bahan rashguard bisa dilihat berbeda dengan T-shirt polester, cenderung shiny.

Untuk cream kulit buatku lebih penting adalah after sun lotion. Setelah terpapar matahari maka kulit membutuhkan cream untuk cooling down panas yang terserap di kulit. Juga untuk memperbaiki sel-sel kulit yang rusak. Untuk aku after sun lotion lebih baik dan lebih penting ketimbang sun lotion.

Untuk membersihkan diri, tooth paste dan sikat gigi yang bisa dilipat dan mandi cukup membawa shower gel yang bisa berfungsi sebagai shampoo dan soap, jadi tidak perlu membawa 2 jenis sabun untuk tubuh sendiri dan untuk rambut sendiri. Kan waktu perjalanan tidak lama hanya 6 hari maksimum. Handuk untuk mandi dan chamois untuk mengeringkan badan setelah berenang. Mungkin suatu saat perlu invest untuk handuk traveling yang tipis dengan daya serap tinggi tapi juga cepat kering.

 

Untuk snorkling dan kegiatan di pantai.

Bawaan yang penting tentunya peralatan snorkling, harus kita pikirkan apakah mau sewa atau membawa sendiri. Aku memilih untuk bawa sendiri, berdasar pengalaman sangat susah mendapatkan fins untuk ukuran kaki yang kecil, size 37-38. Karena dive center menggunakan size dan tipe yang berbeda. Tidak semua tempat liburan ada rental snorkling equipment.

Perlengkapan lain adalah celana pendek dengan bahan yang cepat kering, atau boardshort, dan kemudian rashguard, dengan underware bikini. Semua ini bisa dipakai selama trip dan selama dibutuhkan untuk main air.

Selain itu aku juga packing shorty wetsuit tebal 3mm untuk snorkling. Beruntung waktu itu aku bawa wetsuit karena suhu air di sekitar Pink Beach lumayan rendah, ice cold buat orang seperti aku yang biasa warmbath, mungkin sekitar 18 derajat. Buat yang biasa dan tahan dengan air dingin mungkin tidak perlu shorty wetsuit.

Selain rashguard dan board short yang tidak kalah penting adalah sarung pantai. Setelah basah-basah main air supaya tubuh berbalut bikini tidak terlalu expose maka sarung pantai digunakan sebagai cover up. Dan karena sudah memiliki booties maka aku pack juga bootties-ku just in case snorkling di pantai yang berkarang tajam.

 

Untuk kegiatan trekking.

Tidak perlu berinvestasi membeli sepatu trekking yang sophisticated. Yang penting memakai alas kaki yang nyaman dan mempunyai grip, alias cukup pakem dan bisa menahan kaki supaya tidak terpeleset dan melorot ketika melalui jalan berbatu-batu. Seperti dalam tulisan sebelumnya maka kita harus memilih teknologi yang tepat guna. Aku hanya membawa sandal gunung. Karena praktis bisa buat basah-basah ketika turun dari kapal dan sekaligus untuk trekking.

Untuk menahan panas matahari aku tidak perlu repot-repot dengan topi-topi lebar, karena berdasar pengalaman pakai topi lebar-lebar yang buat bergaya malah jadi bikin repot bawanya, buat aku cukup kain bandana sebagai penutup kepala.

 

Perlengkapan lain-lain.

Sepertinya rempong tapi untukku pisau, gunting, P3K dan obat-obatan ringan adalah barang-barang yang penting untuk dibawa ketika aktifitas outdoors.

 


Leave a comment

Teknologi Tepat Guna

Sebenarnya apa sih itu ‘teknologi tepat guna‘?. Pada kenyataannya banyak orang tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun sudah sekolah tinggi.

Contohnya, saya dan beberapa teman sedang mempersiapkan trip ke Taman Nasional Komodo untuk bulan Mei yang akan datang, island hoping, dengan kegiatan hangout di kapal, trekking, snorkling dan keceh, main basah-basahan di pantai. Soal sepatu jadi diskusi yang panjang, mau bawa sepatu apa. Jiaahh lucu-lucu juga komentar teman-teman yang sebenarnya sekolahnya tinggi-tinggi tapi jarang main ke pantai. Mereka cukup bingung untuk memilih mau pakai alas kaki apa selama trip, apakah bawa sepatu ‘keds’, sneakers, sepatu sandal, sandal. Ada yang nanya ‘apa mesti bawa semua?’. Wah, hahahaha….kebayang bawaan isi koper mereka, padahal trip rencananya cuma 5 hari saja. Ketika saya tawarkan ide yang praktis dan efisien dengan bawaan barang yaitu cukup pakai satu saja sandal gunung, malah ada yang tanya buat apa sandal gunung? Aduuhhh!!. Padahal sandal gunung bisa buat trekking dan sekaligus buat main air di pantai, kalau merasa kaki kedinginan terutama selama di dalam pesawat karena memakai alas kaki terbuka cukup tambahkan kaos kaki. Dan secara fashionpun tidak masalah masih bisa juga dibuat fancy.

Teringat juga peristiwa puluhan tahun lalu, waktu masih muda, pertama kali trip keliling pulau Bali. Saya dan teman-teman menggunakan sebuah biro travel dengan Budi si guide kita waktu itu. Si Budi ini memakai sneakers untuk selama perjalanan. Mungkin takut kurang sopan dan kurang etis kalau dia memimpin tour cuma pakai alas kaki terbuka atau bahkan sandal, secara orang Indonesia mempunyai nilai-nilai kalau memakai sepatu lebih dihormati. Tapi akibatnya, ketika kita bersenang-senang di pantai Kuta dan Budi juga ikut-ikut keceh main air, sepatu si Budi somehow jadi basah. Karena acara trip padat sepanjang 2 minggu maka tidak ada waktu untuk Si Budi mengeringkan sepatunya. Sepanjang trip Budi memakai sepatu itu meskipun dalam keadaan basah. Dalam waktu 2 hari saja sepatunya jadi bau, bisa dibayangkan bau kaki, dan bau kaos kaki yang nggak dicuci. …Huweeek!. Dan jadilah sepanjang tour kita membully Budi dengan mengatai dia ‘Budi Si Sikil Mambu’, artinya Budi si kaki bau. Kasihan! Hahahaha.

Meskipun orang Indonesia yang sedikit agak tinggi pendidikannya suka sekali menulis atau berbicara dengan istilah-istilah yang berkesan Wah! seperti kata-kata ‘teknologi tepat guna’, sehingga orang awam yang pendidikan dasarnya cuma 9 tahun akan terkesan tapi pada kenyataannya penemuan teknologi sederhana berupa alas kaki, sandal, sepatu, sepatu sandal, sandal gunung, sneakers, ternyata cukup membuat orang yang berpendidikan tinggi sekalipun sulit untuk memilih mau menggunakan yang mana.


Leave a comment

Asian Games 2018

Banyak dari masyarakat Indonesia yang tidak antusias dengan kegiatan olah raga apalagi dengan pentingnya even-even seperti PON, Sea Games, Asian Games.

Jakarta Indonesia akan menjadi host Asian Games ke 17 tahun 2018. Acara lauching logo Asian Games sudah digulirkan. Berita acara sepenting itu menurut saya ternyata hanya nyempil di suatu malam di acara berita malam TVRI beberapa waktu lalu. Media-media besar tidak ada yang memberitakan. Menunjukan betapa kita tidak menaruh perhatian pada even yang menurut saya seharusnya sebuah even yang mesti dibuat besar.

Pesta olah raga adalah bagian dari pride of the nation, kebanggaan dalam berbangsa dan bernegara. Saat-saat supremasi sebuah negara diakui dan berbangga-bangga dengan betapa seringnya bendera negara dinaikkan. Kejayaan suatu negara terpancar jika mampu menyelenggarakan pesta olah raga yang meriah dan dikenang sepanjang masa terutama oleh rakyatnya. Itulah sebabnya presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno di awal-awal adanya Asian Games berusaha membawa pesta olah raga ini ke Indonesia di tahun 1962 meski ekonomi kita belum begitu kokoh. Ada rasa kebanggaan yang besar sebagai penyelenggara Asian Games yang ke 4.

Kebanggaan dan nasionalisme itu seperti sirna di masa sekarang. Belum terdengar gaungnya meski logo sudah diluncurkan. Belum lagi persoalan PSSI dengan Menpora Nahrowi yang tidak ada habisnya. Perdebatan kedua institusi ini kalau diibaratkan seolah-olah bertengkar mana yang benar, 1 + 1 sama dengan 2 atau 1 + 1 sama dengan 1, kalau kata orang Jawa  sebaiknya : ‘sing waras ngalah’. Jadi sedikit ragu, mampukah pemerintahan Jokowi mempersembahkan sebuah pesta besar untuk Asian Games ke 17 di Indonesia nanti?


2 Comments

Made in Thailand

Masih melanjutkan persoalan krisis usia pertengahan kali ini menyangkut tentang body transformation. Obrolan di grup berlanjut, kali ini gantian aku yang tanya, ‘apakah pria jadi bernafsu ketika melihat boobs dan bokong indah wanita?’. Jawabannya benar-benar membuat galau wanita paruh baya pada umumnya karena wanita yang sudah tidak punya boobs dan bokong indah pasti merasa sudah tidak diinginkan lagi.

Seorang wanita yang sudah mendekati paruh baya tubuhnya sudah tidak sekencang dulu lagi. Tubuh yang tambun saat hamil kemudian diet yang ketat sesudahnya, tubuh jadi melar mengkerut secara drastis, ditambah kurang olah raga otot-ototpun menghilang terutama otot yang menyangga payudara supaya tetap tegak menantang. Tummy and tuck, operasi pasang boobs di Thailand rasanya perlu didukung untuk meningkatkan kepercayaan diri seorang wanita, suami yang mampu membiayai seharusnya juga mensupport demi kesenangannya juga dan keluarga tetap harmonis.

Aku sendiri belum perlu dan bersyukur meski tidak suka pakai beha masih bisa bangga kalau teman-teman sesama wanita seusia melirik bentuk tubuhku. Lagi pula bagaimana mungkin aku melakukan tummy and tuck jika lihat gerbang rumah sakit dan jarum suntik saja aku sudah lari sipat kuping seperti kucing kecil yang takut dengan kucing garong. Memikirkan small operation pakai laser untuk buang kutil saja bikin aku keringat dingin apalagi mau menghadapi scapel, pisau operasi. Tapi untuk wanita yang memerlukan dan mampu melewati kesakitan pasca operasi tidak ada salahnya. Saran dari teman-teman yang sudah melakukan : ‘jangan lihat rumah sakitnya tapi carilah dokter yang benar-benar ahli dan pekerjaannya bisa dipertanggung jawabkan supaya tidak kecewa, jangan sampai maunya jadi bagus malah jadi bencana’.