Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Mid aged crisis

Leave a comment

Sudah lama mau nulis jurnal tentang hal ini sejak aku sendiri memasuki usia setengah abad, judul draft tulisan inipun sudah lebih dari setahun ada dalam kotak draft tapi tidak pernah publish malah konsep serta ide awal jadi lupa sama sekali. Teringat kembali untuk menulis jurnal krisis usia pertengahan ini gara-gara seorang teman cowok yang usianya sepantaran menanyakan, ‘apakah wanita akan bernafsu ketika melihat pria yang ganteng?’. Entah apa yang ada dalam benak dia sehingga dia menanyakan hal itu.

Dalam hati geli juga baca pertanyaan dia di grup Whatsapp, tapi tidak ada pertanyaan lebih lanjut kenapa dia bertanya seperti itu. Karena obrolan lewat grup selalu pendek-pendek dan sering tidak fokus, masing-masing member punya pemikiran berbeda-beda sehingga ada berbagai komentar ketika menanggapi suatu pertanyaan. Dalam hati menebak-nebak, apa dia sudah merasa tidak ganteng lagi? Usia pertengahan untuk seorang pria umumnya rambut di kepala mulai menipis dan perut buncit, mungkin dia galau merasa sudah tidak diinginkan lagi.

Usia setengah abad apa yang aku alami dan rasakan seperti kembali memasuki situasi usia-usia remaja belasan tahun. Muncul keinginan untuk melakukan sesuatu yang berbeda, tapi juga ada ketakutan untuk out of the box. Seperti sedang berdiri di persimpangan jalan, persoalan menjadi lebih complex karena sudah menikah, tidak sendiri lagi, meski sudah tidak pernah berhubungan sex. Timbul pertanyaan dalam hati apakah aku masih menarik dan diinginkan pria. Kemudian muncul keinginan mengembalikan kulit dan bentuk tubuh seperti remaja lagi, ingin mempercantik diri. Apakah pria juga mengalami ketakutan yang sama?

Demi men-support dan menyenangkan hati teman masa kecilku itu supaya tidak galau maka aku bilang kalau dia adalah pria idaman semua wanita. Dan faktanya bisa dibilang memang demikian.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s