Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Asean Economic Community

Leave a comment

1 Januari 2016 adalah tanda dimulainya perjanjian masyarakat ekonomi Asean. Sebenarnya apalah saya ini, membicarakan perihal ekonomi, pembicaraan tingkat tinggi kaum politisi seperti ini. Hanya niat memberikan sumbangsih sebuah pemikiran demi selamatnya bangsa ini menghadapi perkembangan kehidupan di masa depan dengan tatanan ekonomi yang baru ini. Instingku mengatakan bangsa Indonesia akan menghadapi tantangan yang semakin berat, dikarenakan sebagian besar oleh sikap, sifat dan cara berpikir kita sendiri. Tingkah polah kita, baik itu orang-orang yang menjadi penyelenggara negara (saya lebih suka menyebut seperti ini, dari pada menyebut sebagai pemerintah apalagi sebutan sebagai penguasa, membuat aura yang tidak baik), maupun sebagian besar masyarakat kita.

Negara ini sangat besar, wilayah maupun jumlah penduduknya. Tapi dalam menjalankannya bisa dibayangkan seperti sebuah angkutan omprengan. Jalan dengan sebuah tujuan ya dengan trayek tertentu, tapi ya begitulah seperti Metromini asal terangkut selamat Alhamdulillah tidak ya emang gue pikirin, acak kadut kata orang, bandingkan dengan sebuah angkutan seperti sebuah maskapai penerbangan Singapore Airline. Semua ini bukanlah salah yang duduk sebagai penyelenggara negara semata, tapi memang begitulah kita. Orang-orang yang menjabat sebagai penyelenggara negara kan dari kita-kita juga, orang-orang yang kebetulan mempunyai keberuntungan terpilih untuk ada pada posisi itu. Tapi itulah cerminan kita semua begitulah keadaan masyarakat kita.

Okey stop complaining, jadi kita harus bagaimana?

Kita harus menghadapi MEA ini dengan SADAR WISATA. Uupss… bukan hal baru ya sepertinya. Memang ini bukan hal baru tapi pada kenyataan implementasinya melenceng menurut saya. Dan apa hubungannya sadar wisata dengan MEA? Baiklah begini penjelasannya. Dengan adanya MEA ini banyak perusahaan-perusahaan besar yang shifting industrinya di lokasi-lokasi negara-negara dengan infrastruktur industri yang lebih baik dan lebih mendukung. Dan itu bukanlah Indonesia. Apa yang kita bisa buat supaya tetap ada lapangan pekerjaan bagi beratus-ratus juta manusia di negeri ini, melainkan dengan memanfaatkan apa yang Allah berikan kepada kita yaitu alam kita yang indah ini. Yaitu menjadikannya tempat-tempat untuk orang mencari kesenangan untuk cuci mata dan buang uang. Industri wisata akan jadi tempat gantungan hidup kita di masa-masa beberapa tahun ke depan.

Sadar wisata yang aku lihat di Indonesia ini justru berkecenderungannya adalah untuk mengeksploitasi sebuah lingkungan. Membangun sesuatu di suatu tempat yang kecenderungannya merubah keadaan lingkungannya. Menempatkan suatu fasilitas yang pada akhirnya justru merusak keindahan yang ada. Masyarakat yang didoktrin untuk sadar wisata seolah-olah berlomba-lomba memanfaatkan, contoh saja, sebuah kawasan pantai indah berpasir putih, membangun persis di bibir pantai, tempat berjualan, warung-warung, toko souvenir, dan lain-lain. Semua ingin memiliki tempat itu, tapi bukan sense of belonging dalam arti bahwa semua orang berhak untuk menikmati, melainkan rasa memiliki yang berkata saya berhak untuk memanfaatkan. Itulah yang saya sebutkan sebagai kecenderungan untuk eksploitasi ketimbang menjaganya.

Mau saya masyarakat yang sadar wisata itu seharusnya berlomba-lomba menjaga lingkungan tempat wisata itu. Berlomba-lomba menjadikan tempat tinggalnya supaya asri dan indah dilihat. Rumah tinggal mereka dibangun dengan sebuah karakter yang berorientasi pada keindahan, nyeni kalau kata orang. Tempat tinggal, lingkungan, cara hidup dibuat seindah mungkin, selaras dengan keindahan alam dan lingkungan yang ingin ditampilkan pada dunia luar. Jika ingin mendapatkan manfaat dari kunjungan wisatawan lakukanlah dengan cara yang tidak langsung pada lokasi-lokasi wisatanya. Karena lokasi wisata harus tetap seperti apa adanya, hanya dibuat lebih rapi, ditata, tentukan dimana orang bisa duduk santai, dimana orang bisa memarkir kendaraan, bangunan hanya berupa tempat parkir, bangku-bangku taman, promenade, dan tempat-tempat untuk buang sampah. Bukan dengan berebut lahan untuk mendirikan sesuatu di lokasi. Jika ingin berjualan bangunlah tempat berjualan, warung, cafe, apalagi penginapan harus berada pada radius yang cukup jauh.

Jadi kesimpulan dari tulisan ini adalah dalam menghadapi MEA peluang ekonomi kita adalah pariwisata. Bagaimana masyarakat mensikapinya adalah dengan menjaga apa yang indah supaya tetap indah. Membuat lingkungan anugerah Allah tempat yang indah menjadi semakin indah dengan cara hidup yang nyeni, berkelas dan berbudaya. Bagaimana kita memanfaatkannya secara nyata, atau menjadikannya uang, lakukanlah jual beli seperti biasa, tapi bukan langsung di tempat orang berkumpul melainkan dengan radius yang tidak mengganggu keindahan tempat wisata itu sendiri. Sementara penyelenggara negara harus membuat aturan dan tata tertib dengan konsep yang sejalan dengan itu semua.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s