Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Surat terbuka untuk Presiden Jokowi

Leave a comment

Bapak Jokowi yg terhormat,

Melalui surat ini saya ingin menyampaikan apa yang saya pikirkan mengenai negara ini, pengharapan saya kepada bapak di dalam memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya termasuk orang yg tidak ikut memilih pada pilpres tahun ini, terus terang saya golput karena kedua calon presiden yang ada pada saat pilpres 2014 tidak sesuai dengan pilihan hati saya. Saya tidak bisa menetapkan pilihan saya hingga saat terakhir diadakannya Pilpres. Sebenarnya saya melihat ‘sepertinya’ bapak orang baik tapi sayang partai yg mengusung bapak adalah partai yg ketika mendapat kesempatan memimpin negeri ini kebijakan2 yg dibuat masa itu saya nilai gagal. Saya yang dulunya adalah pendukung Ibu Mega merasa kecewa yang sangat berat dengan partai PDIP. Itu yang membuat saya ragu untuk memilih bapak. Saya kurang yakin bahwa bapak bisa bekerja sendiri dalam membuat kebijakan. Bagaimanapun partai pengusung adalah team work anda. Yang saya ingat sampai sekarang kegagalan utama masa pemerintahan PDIP Ibu Mega adalah lemahnya keamanan negara, sehingga terjadi serangan2 bom yang katanya ulah “teroris”. Bom Bali, bom JW Marriot, bom di kedutaan Australia, semua terjadi di masa ibu Mega. Pemboman dan ancaman pemboman oleh pengacau keamanan terjadi dimana-mana. Gangguan keamanan yang membuat perekonomian menjadi kacau. Lemahnya keamanan negara bukan hanya menimbulkan kekacauan ekonomi melainkan juga terjadi kekacauan sosial dan budaya dengan munculnya kebencian pada umat agama yang satu dengan lainnya. Sisa2 peninggalan masa itupun banyak kita lihat di sekitar kita. Gedung2 yg dijaga dengan sistem sekuriti yg sangat ketat karena ketakutan bahwa satu diantara kita orang Indonesia akan meledakkan bangunan itu. Sistem keamanan yg dilakukan masing2 pribadi karena ketidak percayaan bahwa negara bisa menyelengggarakan sistem keamanan yang lebih baik. Semua itu karena intel tidak bisa menemukan sumber, potensi dan asal muasal gangguan keamanan negara dan mencegahnya lebih awal sebelum hal itu terjadi. Seolah-olah ancaman bisa datang dari siapa saja dari orang-orang yang lalu-lalang, sehingga masing2 pribadi yang merasa perlu harus menyelenggarakan sendiri2 sistem keamanan. Dunia luarpun akhirnya menilai bahwa negara ini bukan negara yang aman. Saat ini bapak sudah dipilih oleh sebagian besar dari saudara2 saya sebangsa dan se tanah air. Dan PDIP kembali menjadi ‘leading party’ 5 tahun ke depan. Saya cuma berharap bahwa keamanan negara pada pemerintahan PDIP Jokowi lebih baik daripada di masa Ibu Mega. Yang paling dibutuhkan oleh rakyat dalam sebuah negara adalah keamanan, ketenangan dan kedamaian. Dengan keadaan negara yang aman dari berbagai gangguan keamanan baik dari luar maupun dalam negeri maka masyarakatpun akan tenang dalam bekerja dan berusaha. Keadaan perekonomian pun menjadi stabil. Pemerintahan Demokrat Bapak SBY berhasil meningkatkan keamanan negara saya berharap pada masa pemerintahan Bapak JKW bisa sedikitnya mempertahankan apa yang sdh dikerjakan oleh Bapak SBY, dan jauh lebih baik lagi jika lebih ditingkatkan.

Selanjutnya disamping keamanan, ketenangan dan kedamaian, masyarakat membutuhkan KESEMPATAN. Untuk dapat menghidupi diri sendiri dan keluarga masing2 penduduk negeri ini membutuhkan KESEMPATAN. Kesempatan yang diberikan negara untuk masyarakatnya. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak hingga meningkatkan taraf hidupnya. Kesempatan untuk berusaha, diberbagai bidang; berdagang, memproduksi barang, bertani, berternak dll.

Dalam isi kampanye Bapak, yang Bapak janjikan dalam memberikan kesempatan pendidikan adalah akan diberikannya Kartu Pintar. Siapa yang akan mendapatkan kartu pintar? Orang miskin jawabannya. Bagaimana membedakan orang miskin dan hampir miskin? Bapak menyelamatkan orang miskin tapi masyarakat hampir miskin yang jumlahnya lebih besar malah justru terjerumus dalam kemiskinan dan tidak ada yang menolong. Bagaimana jika ada yang sudah mendapatkan kesempatan dan berbagai kemudahan dengan kartu pintar ternyata tidak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang layak? Menyelamatkan bangsa kenapa harus pilih-pilih? Bagaimana mungkin, satu wilayah mendapatkan kemudahan pendidikan sementara wilayah yang lain tidak, hanya karena belum bisa membagikan kartunya. Dan pertanyaan lain, Kartu di wilayah yang satu apakah berlaku di wilayah lain? Jika orang-orang berkemampuan ingin mendapatkan yang lebih itu di luar fasilitas negara, tapi standard pendidikan minimum, itulah yang harus diberikan negara untuk semua generasi muda anak-anak bangsa guna meningkatkan pengetahuan, kebisaan, dan keahlian. Perataan pendidikan, tanpa pilih memilih tentunya lebih sederhana, praktis dan tanpa anggaran membuat kartu.

Sayapun mempertanyakan persoalan kesempatan bekerja dan berusaha. Bapak menjawabnya dengan program Bapak yang Bapak sebut dengan revolusi mental para birokrat, ingin mempermudah segala bentuk birokrasi dan perijinan sehingga terbuka peluang usaha dan peluang pekerjaan. Di negara ini yang terjadi adalah sebuah penilaian bahwa jika seseorang akan memulai sebuah usaha, berdagang, menyediakan jasa atau memproduksi barang, maka orang itu adalah termasuk orang yang berkelebihan, bukan dinilai sebagai orang yang sedang berusaha untuk survive, menyelamatkan kehidupannya atau meningkatkan taraf hidupnya untuk bangkit dari keterpurukan, sehingga oleh PNS, mereka2 pegawai negara yang digaji dengan uang negara, mereka2 para birokrat dari tingkat kelurahan hingga ke dinas perijinan, seseorang yang membuka peluang usaha layak dijadikan sapi perah, ATM berjalan atau apapun istilahnya. Revolusi mental birokrat memang perlu, tapi tahukah Bapak bahwa birokrat bekerja mempersulit masyarakat yang mengajukan perijinan membuka peluang usaha bukan hanya mempergunakan SIFAT DAN PERILAKU, atau mentality mereka tapi juga dengan menggunakan aturan dan undang-undang yang ada? Contohnya, undang2 dan aturan jika seseorang dari kota Solo dengan kartu tanda penduduk kota Solo tidak mempunyai peluang dan kesempatan membuka usaha di DKI, hanya orang dgn KTP DKI bisa mengajukan ijin usaha di DKI, hanya orang dengan KTP Bali bisa mengajukan ijin usaha di Bali. Bapak pasti akan menjawab hal itu tidak benar. Saya setuju, tentu saja bisa, tapi dengan catatan. Bisa mengajukan ijin usaha jika melalui proses yang panjang dari tingkat RT, RW, Kelurahan hingga Kecamatan untuk sebuah kartu penduduk musiman, yg harus diperpanjang setiap 3 bulan. Bukan hanya DKI dengan aturan seperti itu, tapi terjadi di seluruh Indonesia. Penduduk propinsi yang satu tidak diakui di propinsi yang lain, kartu penduduk kota yang satu tidak dapat digunakan untuk mendapatkan fasilitas di kota yang lain bahkan terkadang untuk membuka rekening di Bank sekalipun. Penduduk Indonesia mempunyai KTP warga negara Indonesia tapi tidak berlaku di seluruh Indonesia. Undang2 dan aturan pendirian usaha juga masih menggunakan aturan2 Jaman Penjajahan Belanda. Aturan yang membatasi lokasi dan tempat ijin usaha berdasar ijin HO, sebuah aturan yang dibuat oleh VOC, aturan dari pemerintahan penjajah. Bagaimana bisa terjadi, aturan pemerintahan RI untuk bangsanya sendiri tapi menggunakan aturan penjajah? Orientasi dari aturan yang digunakan adalah untuk kepentingan pemerintah, bukan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. Semua aturan2 yang mempersulit perijinan masih ada dan digunakan. Semua kerumitan aturan sengaja dibuat sehingga orang tidak tahu harus mulai dari mana untuk melegalisasi usahanya. Pada akhirnya penduduk yang mau memulai usaha harus membayar mahal kepada Biro Jasa kroni-kroni birokrat. Bagi saya revolusi mental birokrat ini adalah OMONG KOSONG Bapak Jokowi yang paling besar. Bukannya saya mengharapkan sebuah negara tanpa aturan dan undang2, melainkan sebuah perubahan dari persoalan yang paling mendasar, bahwa pemerintah bukan penjajah. Bagi saya sebuah revolusi birokrasi adalah merubah semua aturan dan undang2, menggantinya dengan aturan dan undang2 yang sama sekali baru dengan orientasi untuk masyarakat, bangsa, semangat nasionalisme, dan ketertiban komunitas yang berkepentingan. Salah satu contohnya adalah jika Bapak bisa memerintahkan kepada seluruh pimpinan, kepala daerah, bahkan kepala suku, untuk merubah aturan bahwa pemegang KTP warga Indonesia bisa membuka peluang usaha, mengajukan ijin usaha dimanapun di seluruh wilayah Indonesia yang dikehendaki. Semua kepala daerah harus membuka kesempatan yang sebesar-besarnya untuk penduduk Indonesia yang berasal dari wilayah manapun di Indonesia. Satu penduduk satu KTP, SATU INDONESIA untuk semua warga negara Indonesia, tidak terkotak-kotak oleh kepentingan propinsi dan lokal. Administrasi pemerintahan juga menjadi lebih sederhana. Masyarakat yang ingin menciptakan lapangan pekerjaan sendiri membutuhkan aturan-aturan yang mendukung dan memudahkan dalam hal membuka peluang usaha, aturan yang bisa menjaga ketertiban diantara komunitas dalam usaha, tapi tidak membatasi kesempatan dalam memulai usahanya. Aturan yang menguntungkan semua pihak baik untuk pelaku usaha maupun konsumennya. Dan terpenting adalah aturan2 yang tidak ada lagi satupun celah yang bisa digunakan oleh mental birokrat yang paling buruk sekalipun untuk menjadikan pelaku usaha sebagai sapi perah. Itu yang lebih pantas untuk disebut sebagai revolusi birokrasi.

Semoga Bapak dapat memahami isi dari surat saya ini, apa yang saya bicarakan di dalam surat saya yang panjang lebar ini, dan dapat memaklumi mengapa saya meragukan kepemimpinan Bapak. Tapi dibalik keraguan itu ada pengharapan bahwa Bapak Jokowi Presiden RI ke 7 yang terhormat yang dipilih oleh lebih dari setengah masyarakat Indonesia, oleh saudara-saudara saya sebangsa dan setanah air, memang pribadi yang layak dan tepat untuk memimpin negeri ini karena berhasil mewujudkan apa yang menjadi gagasan dan harapan saya, harapan semua masyarakat Indonesia yang sependapat dengan saya tapi tidak mempunyai kemampuan untuk menyampaikannya. Apa yang saya ungkapkan ini karena saya menghargai dan mendukung siapapun yang menjadi pimpinan di negeri ini meskipun bukan pribadi yang menjadi favorite saya. Saya menunggu perubahan ini dalam 5 tahun ke depan masa pemerintahan Bapak. Terima kasih.

Salam hormat saya,

Henny Brunner

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s