Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Do it yourself (Life skill)

Leave a comment

Beruntung aku punya orang tua yang dari awal selalu mengingatkan kami untuk harus bisa mengerjakan hal-hal yang dihadapi setiap hari, menyediakan dan menyiapkan makanan sendiri, cleaning, bersih-bersih juga mencuci dan setrika, menggunakan peralatan elektronik, bahkan sebagai anak perempuan selain jahit menjahit dan memasak kita diajarkan juga untuk menggunakan hand tools seperti gergaji, obeng, catut, palu, dll. Meski kita tinggal di kota kecil kita tidak boleh tertinggal dalam hal kemampuan berpikir. Kita selalu diajarkan untuk ‘do it yourself’ memperbaiki kerusakan-kerusakan kecil.

Sering melihat anak-anak muda, remaja-remaja, orang Indonesia, yang canggung ketika harus mengerjakan sendiri pekerjaan-pekerjaan rumah seperti, menyapu, mencuci piring, laundry (mencuci dan setrika), menjahit ataupun memasak. Sangat beda dengan anak-anak muda di Eropa. Anak-anak di sana secara umum tidak canggung dengan pekerjaan-pekerjaan rumah. Itu sebabnya ketika liburan mereka bisa mencari penghasilan sendiri di usia muda dengan skill yang sifatnya sangat mendasar. Mereka anak-anak muda bekerja paruh waktu untuk pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci piring di restorant, menjadi pramusaji, dll.

Ketika saya tinggal di Libya saya perhatikan anak-anak Afrika adalah juga termasuk golongan yang sangat canggung sama seperti anak-anak Indonesia. Bahkan office boy yang berasal dari Benine juga cuma tahu cara menyapu itupun tidak cukup memuaskan. Mesin penyedot debu dan alat setrika sering kali rusak di tangannya. Saya rasa itulah bedanya negara-negara yang sudah maju dengan negara-negara yang belum maju. Skill dari penduduknya. Kalau kita mau negara ini maju maka kita harus mendidik anak-anak kita untuk tidak canggung dalam bekerja di rumah. Pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya life skill.

Juga sekarang jadi paham kan kenapa ada buruh migrant Indonesia bekerja di sektor rumah tangga di Timur Tengah yang kemudian dikembalikan oleh majikannya, dengan alasan terlalu kecil dan tidak bisa bekerja. Saya yakin sekali karena mereka memang masih canggung untuk bekerja, tidak punya skill yang seharusnya adalah skill yang sangat mendasar dalam kehidupan ini.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s