Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Ke Luar Negeri

Leave a comment

Selesai baca tulisan Rhenald Kasali jadi ingat masa kecil. Dulu waktu aku kecil, bapakku sering dapat oleh-oleh dari kenalan-kenalannya di kapal tanker. Waktu itu tahun 60-an – 70-an kami masih tinggal di Balikpapan. Belum ada mall, yang namanya kaus kaki atau sepatu saja masih susah cari di toko meski sebagai pegawai perusahaan minyak duit banyak. Nah oleh-oleh dari kenalan-kenalan bapak itu bermacam-macam, kadang ibu dapet payung dari Jepang, majalah Burda, atau bapak dapat 1 box rokok Lucky Strike, kadang kita dapat coklat yang isinya cheery liquor, kita juga dapat permainan lego, pokoknya barang-barang yang tidak ada di Indonesia pada masa itu. Bapak bilang barang-barang itu dari luar negeri. Akupun sering tanya sama bapak, ‘Pak, seperti apa siy luar negeri itu’… ‘yuk, kita jangan ke Jawa melulu setiap liburan, mbok sekali-sekali kita ke luar negeri’. ‘Hush, kamu pikir murah ke luar negeri itu’, begitu jawab bokap.

Tapi, aku tidak pernah berhenti untuk mengatakan kepada semua kenalan orang tuaku kalau mereka tanya, ‘apa cita-cita kamu kalau besar nanti?’. Aku selalu jawab ‘aku pengen ke luar negeri’. Waktu itu umurku masih sekitar 5 tahunan. Tentu saja para orang tua tertawa geli mendengar jawaban aku itu. Terus ibu akan menjelaskan kalau aku sebenarnya ingin jadi desainer karena hobby aku menggambar. Ketika sedikit bertambah umurku meskipun kadang aku mengatakan lain mengenai cita-citaku, dalam hati aku masih menyimpan bahwa aku ingin pergi melihat negara-negara lain, ke ‘LUAR NEGERI’.

Akhirnya keinginanku itu terwujud. Tahun 1995 setelah kira-kira hampir satu tahun bekerja di Jakarta, Tuhan mewujudkan mimpiku itu. Sebagai bonus penjualan satu kontainer geomembrane aku mendapat hadiah pergi ke Inggris selama satu minggu. Pertama kali ke luar negeri, seorang diri, berbagai perasaan bercampur jadi satu, antusias, gairah, tapi juga takut dan tegang, bagaimana kalau aku tidak bisa berbicara bahasa mereka, itu yang aku pikirkan. Sebelum berangkat aku kursus kilat conversation selama 3 bulan. Waktu pulang dari Inggris teman-teman yang punya mimpi sama ingin bisa pergi ke luar negeri, tapi waktu itu belum kesampaian, antusias menanyakan pengalaman ku selama di luar negeri, jawabanku: ‘aku ke Inggris, aku ngomong bahasa Inggris, tapi orang Inggris kok nggak ngerti ya’…

Bahasa Inggrisku tentu saja dengan dialek Jawa karena aku orang Jawa, begitulah kira-kira logisnya. Dalam perjalanan ke Inggris sempat mampir di Hongkong, alamak repotnya berbicara bahasa Inggris dengan orang Chinese, kadang ada rasa putus asa, pengen nangis, tapi aku bukan orang yang menyerah pada keadaan. Dan sekarang pergi ke luar negeri bukan hal yang menegangkan, aku sudah ke berbagai negara di Eropa seperti Belanda, German, Perancis, Swiss, Austria, negara di Afrika, Libya dan Tunisia, negara-negara Asean tentunya, dan…. juga menikah dengan orang luar negeri. Jangan takut soal bahasa, tidak perlu mahir, bahasa bukan sebuah hambatan yang menghalangi kita agar tidak pergi ke luar negeri.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s