Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Sampah, sampah, sampah

Leave a comment

Image

Ya lagi-lagi bicara sampah yang bertebaran dimana-mana. Orang Indonesia memang jorok, lebih tepat lagi tolol untuk urusan mengelola sampah. Tidak punya solusi bagaimana cara mengatasi sampah yang terus menggunung. Orang Bali dulu kala sangat arif terhadap lingkungan tapi budaya itu sudah luntur dan tergerus oleh jaman. Tidak beda antara orang Bali dan orang Jakarta, sama saja, kali dan sungai, tukad dan yeh adalah tempat buangan sampah.

Sering di Bali diadakan kegiatan ‘Beach Cleaning Day’, kegiatan memunguti sampah di pantai oleh berbagai organisasi masyarakat sebagai bentuk kepedulian mereka pada lingkungan. Terus terang saya angkat topi pada mereka yang mau kerja keras memunguti sampah di pantai itu. Mereka adalah orang-orang yang sungguh baik hati dan sangat peduli. Tapi maaf harus saya katakan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah kerja keras, bukan kerja pintar. Seharian mereka memunguti sampah beberapa jam selanjutnya kembali sampah menumpuk ketika air pasang dan kemudian surut kembali. Orang-orang yang peduli itu membuat reklame besar-besar dan berkampanye untuk membersihkan pantai semata. Tapi apa yang mereka lakukan hanya peduli dan bukan solusi. Solusinya adalah memelihara daerah aliran sungai dan menghindarinya dari pembuangan sampah apapun, padat maupun cair.

Dulu kala orang Bali memuja gunung-gunung yang tinggi seperti Gunung Agung. Karena keyakinan bahwa dari sanalah sumber kehidupan. Dari gunung yang ditumbuhi hutan lebat yang mengalirkan air pada sungai besar dan kecil. Sungai-sungai mengairi sawah-sawah, ladang dan kebun yang menumbuhkan padi dan sayur mayur sebagai sumber pangan dan kehidupan. Tapi sekarang, orang Bali menjual sawah dan ladang mereka kepada orang asing atau menyewakannya untuk hotel dan villa, terutama di Denpasar dan sekitarnya. Orang Bali tidak peduli lagi dengan sungai-sungai mereka apakah bisa untuk mengairi sawah atau tidak. ‘Jangan bilang yang buang sampah itu orang pendatang’. Seperti kebiasaan orang Bali sering menyalahkan pendatang dari Jawa. Tidak. Sampah yang bertebaran di pantai bukan sampah kiriman dari Jawa tapi dari sungai-sungai, yeh dan tukad di Bali sendiri. Dan yang buang sampah ke kali dan sungai itu orang Bali sendiri, orang lokal, orang-orang yang tinggal di Bali, bukan orang lain. Mereka sendiri yang justru mengajari para pendatang yang bahkan juga orang asli pulau Bali, hanya saja mereka datang dari berbagai pelosok pulau Bali seperti dari Karang Asem, Buleleng atau Negara. Justru pendatang dari jauh apalagi expat dan orang asing sangat memikirkan bagaimana sebaik-baiknya mengurangi pemakaian plastik supaya jangan banyak menumpuk jadi sampah. Karena mereka mencintai keindahan Bali, itu sebabnya mereka tinggal di Bali.

Tapi apa daya pantai-pantai yang indah sekarang sudah mulai rusak oleh perlakuan orang Bali terhadap sungai-sungai mereka. Sampah yang terbanyak bukan sampah karena turis buang sampah di pantai. Sampah yang ada di pantai datang dari sungai-sungai. Silahkan saja lihat dan periksa sendiri, jenis sampah yang ada bukan sampah plastik dari makanan para turis. Sampah-sampah yang bertebaran di pantai sangat beragam tapi bukan hal-hal yang berhubungan dengan keberadaan hotel-hotel dan turis ataupun kegiatan pariwisata, tapi berhubungan dengan kehidupan sehari-hari orang asli, penduduk lokal, orang yang tinggal di Bali, apakah itu pendatang dari Jawa atau orang Bali asli pendatang dari Negara, Buleleng, Karang Asem, Bangli dll.

Biang kerok sampah yang menumpuk di pantai datangnya dari semua sungai, tukad dan yeh yang mengalir ke pantai dan orang-orang lokal yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang mempunyai kebiasaan jorok menggelontorkan sampah ke sungai-sungai. Mereka yang lupa pada kearifan nenek moyang bahwa gunung yang mengalirkan air yang bersih di sungai-sungai hingga ke muaranya di pantai adalah sumber kehidupan. Mereka tidak tahu bahwa pantai yang indah akan tetap indah jika sungai-sungai mengalirkan air yang bersih. Mereka bahkan tidak tahu bahwa suatu saat orang tidak mau lagi pergi melihat Bali karena pantai-pantainya penuh sampah dan airnya berbau akibat sungai yang kotor, jorok dan jadi tempat buangan sampah manusia.

Orang Bali masih memuja Gunung Agung tapi melupakan ke-arifan dan makna dari apa yang mereka dan nenek moyang mereka yakini pada jaman dulu kala. Mereka pikir pantai-pantai berpasir putihlah sumber kehidupan di Bali sekarang ini. Ombak-ombak besar untuk berselancar dan hotel-hotel yang memberikan pekerjaan. Mereka lupa bahwa sungai-sungai dengan air bersih yang mengalir dari puncak gunung yang tinggi adalah sumber kehidupan, dulu maupun sekarang, tetap dan masih jadi sumber kehidupan. Meski sekarang orang Bali di Denpasar dan sekitarnya tidak lagi menggunakan sungai untuk sawah – ladang, tapi sebenarnya sungai masih jadi sumber kehidupan orang Bali, untuk sumber air bersih bagi hotel-hotel yang dibangun di sepanjang pantai dan juga untuk semua yang hidup dari pariwisata, dari pemandangan pantai yang mereka jual. Semua pantai dari Barat sampai ke Timur adalah muara dari begitu banyak sungai besar dan kecil, yeh dan tukad, yang mengalir ke Selatan dari gunung-gunung tinggi di Bali.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s