Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Balada TKW 2 (Terdampar di Libya)

Leave a comment

Namanya mbak ‘Yati’. Bukan karena sekarang masih santer cerita tentang Ruyati, TKW yang dihukum pancung di Arab Saudi lalu saya mengarang cerita TKW dengan nama Yati. Ini bukan cerita karangan, begitu juga dengan tulisan yang pertama, semua adalah cerita yang benar-benar saya alami, kalau saya sebut namanya ‘Yati’ itu memang benar hasil karangan saya saja karena saya lupa nama aslinya tapi ceritanya sendiri adalah fakta.

Saya kenal mbak ‘Yati’, sebut saja begitu, di halaman KBRI Tripoli, saat sedang berlangsung Pemilu Presiden. Kalau orang-orang lebih suka ngobrol sama orang-orang yang se-level, saya tidak memilih dengan siapa saya bergaul, saya bisa ngobrol dengan level mana saja, yang petinggi sekelas Duta Besar dan manager-manager sampai orang-orang pinggiran seperti pekerja-pekerja kasar kuli bangunan dan pembantu rumah tangga.

Dari ngobrol dengan mbak ‘Yati’ (saat selesai acara ‘mencoblos’, istilah untuk voting versi Indonesia, meski sekarang tidak lagi voting dengan ‘mencoblos’ melainkan ‘mencontreng’), saya jadi tahu ternyata rumah majikan tempat mbak ‘Yati’ bekerja ada dalam jangkauan, jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kita, saya, mbak ‘Yati’ dan seorang TKI lain akhirnya pulang dari KBRI dengan satu taxi, taxi tetangga saya yang saya booking untuk pergi dan pulang. Sebelum berpisah Mbak Yati dan saya pun saling tukar nomor HP, dan mbak ‘Yati’ juga tahu dimana saya tinggal. Meski saya tidak tahu persis dimana dia tinggal, karena saya didrop terlebih dahulu sama supir taxi-nya.

Tidak lama setelah perkenalan saya dengan mbak ‘Yati’, setiap hari Jum’at dia sering sms saya. Pengen mampir ke rumah katanya. Kalau tidak ada acara pergi ke luar kota atau acara liburan week end lainnya sayapun mempersilahkan mbak ‘Yati’ main ke rumah. Beberapa kali dia main ke rumah. Tidak ada acara khusus saat dia ke rumah, kita sering duduk saja di ruang tamu, ngobrol sambil minum teh dan ngemil atau duduk di teras di bawah pohon Figs. Sayang dia kadang sungkan sama saya kalau saya perlakukan dia seperti tamu kenalan saya yang lain, padahal saya penasaran ingin tahu cerita dia hingga di bisa terdampar di Libya. Tapi dari ngobrol santai dengan mbak ‘Yati’, akhirnya terungkap juga sedikit cerita tentang dia.

Inilah cerita mbak ‘Yati’, Alhamdulillah, meski judul tulisannya ‘balada’ tapi bukan cerita sedih yang saya dengar dari mbak ‘Yati’. Dia tinggal di Bogor, punya dua orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki. Mbak ‘Yati’ ini ternyata pendidikannya SMA meski hanya sampai kelas 3, dan meski sekarang bekerja sebagai pembantu cara komunikasinya sangat baik. Rupanya dia sudah bekerja ke berbagai negara, selain Libya dia pernah bekerja di Dubai, dan Jordan. Dia sangat bangga karena dari hasil kerjanya di luar negeri dia bisa menyekolahkan anak-anaknya di Universitas.

Anak perempuannya yang besar, sudah lulus IPB dan mbak ‘Yati’ sudah punya mantu. Anaknya yang laki-laki saat ini sudah 2 tahun kuliah untuk belajar komputer. Pekerjaan pertamanya dan beberapa pekerjaannya yang lain adalah sebagai pramusaji di hotel. Pekerjaannya di Libya sebenarnya bukan pekerjaan yang dia inginkan karena di Libya dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Selesai kontraknya di Libya dia tidak ingin melanjutkan lagi bekerja di luar negeri kecuali dia mendapatkan pekerjaan diluar pekerjaan rumah tangga dan dimana dia bebas tinggal di luar. Dan bukan hal yang mendesak lagi untuk dia bekerja karena anaknya sudah mampu dan bisa mengongkosi kehidupannya maupun sekolah adiknya dan sebenarnya anak-anaknya tidak memperbolehkan lagi mbak ‘Yati’ untuk bekerja di luar negeri.

Tapi ada yang menjadi catatan saya dari kasus mbak ‘Yati’. Karena tidak bisa lagi mendapatkan pekerjaan yang sama sebagai pramusaji hotel di Dubai atau di Jordan, karena dia sudah dianggap tua untuk pekerjaan itu, oleh agennya dia dijanjikan pekerjaan lain. Dalam perjanjiannya dia akan bekerja di Dubai, tapi apa yang terjadi sesampainya di Dubai, entah permainan apa yang dilakukan para agen pekerja, ternyata dia dikirim ke Tripoli-Libya, yang jaraknya 8 jam penerbangan. Ini sebenarnya termasuk kasus human trafficking. Belakangan saya tahu banyak sekali kasus seperti mbak ‘Yati’ ini. Dijanjikan pekerjaan di Dubai tapi berakhir di Libya. Tahukah BNP2TKI akan hal ini?

Fortunately, yang terjadi dengan mbak ‘Yati’, keluarga majikan yang mempekerjakannya adalah keluarga terhormat yang berpendidikan tinggi. Yang saya dengar dari mbak ‘Yati’, majikan yang wanita adalah seorang guru dan suaminya seorang dokter. Dan untungnya lagi mbak ‘Yati’ punya majikan yang manusiawi, dia mendapat kelonggaran waktu bekerja yang lumayan enak dibanding TKW kebanyakan. Dia mendapatkan libur setiap hari Jum’at dan boleh pergi keluar rumah dari pagi sampai hari gelap, untuk shoping atau main bertemu teman atau kemana saja dia mau. Itulah sebabnya dia berkesempatan main beberapa kali ke rumah saya di waktu dia libur.

Moral cerita : Nyawa manusia dibuat gambling oleh PJTKI.

 

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s