Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Apakah RA Kartini ikut mendukung?

Leave a comment

Suatu hari saya melihat dalam tayangan di TV One dalam acara ‘suara keadilan’ yang meliput kehidupan sebuah keluarga sangat miskin, tinggal di sebuah gubuk yang tidak layak untuk tinggal, diperlihatkan dalam tayangan itu seorang anaknya yang berumur 13 tahun, sangat kurus dan papa, tidak bisa apa-apa, seluruh hidupnya tergantung sama ibunya, anak tersebut cacat sejak lahir karena gizi buruk dan ketika lahir ke duniapun masih tetap mengalami gizi buruk karena tidak bisa menerima makanan lainnya. Alangkah saya terkejut ketika hampir sampai di bagian akhir tayangan tersebut dimana ternyata anak yang cacat dan bergizi buruk itu bukanlah satu-satunya anak dari keluarga miskin tinggal di gubuk reyot itu, masih ada empat lagi anak-anak mereka yang untung saja tidak cacat seperti yang satu itu meski keadaan gizi mereka belum tentu juga.

Ini bukan satu-satunya persoalan rakyat miskin yang ada di Indonesia. Mereka yang miskin dan papa dan tidak berpendidikan justru mayoritas mempunyai banyak anak, sementara mereka yang berpendidikan, berada di strata social menengah atas dan berkecukupan, merencanakan keluarga mereka dengan matang dan mempunyai anak sesuai dengan kemampuan mereka.

Ini adalah tugas kita semua untuk segera menyadarkan mereka semua wanita Indonesia akan hak mereka untuk tidak mengandung dan melahirkan jika keluarga yang mereka bentuk tidak memiliki kemampuan untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Bukan, bukan berarti saya mendukung adanya aborsi tapi saya mendukung program perencanaan keluarga dengan menggunakan alat kontrasepsi. Selanjutnya yang ada dibenak saya adalah adanya undang-undang yang mengatur ini semua. Termasuk juga bahwa wanita tidak berhak untuk diceraikan dengan alasan tidak memiliki keturunan. Sambil bertanya dalam hati apakah seandainya RA Kartini masih hidup akan mendukung ide dan gagasan ini?

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s