Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Sampah-sampah Bali dan pencemaran pantai

2 Comments

Ada sedikit lega akhirnya pemerintah Bali menaruh perhatian besar terhadap masalah sampah di wilayah perairan dan pantai yang semakin tidak terkendali. Masalah sampah kembali mencuat sebagai reaksi tulisan yang dimuat di dalam majalah luar negeri Times (meskipun seingat saya tulisan itu, “Holiday in hell” sudah agak lama). Maka semua orang seperti terkaget-kaget, seperti ketika bangun dari mimpi indah sementara faktanya tak seindah mimpi. Sayang tanggapan masyarakat Bali menilai seolah sampah itu bukan dari Pulau Bali sendiri melainkan sampah kiriman. Seperti pepatah bilang : “buruk muka, cermin di belah”, begitulah kira2 reaksi yang terjadi di masyarakat Bali. Ini sebuah kebiasaan dan sikap buruk yang harus dihilangkan.

Jangan dulu menyangka bahwa ada wilayah lain yang mengirimkan sampah ke Bali. Memang banyak sekali wilayah-wilayah di Indonesia yang tidak becus mengelola sampah, tapi bukan berarti bahwa di Pulau Bali juga keadaannya jauh lebih baik dari tempat lain. Berapa meter kah atau beberapa ratus kilometer kah sebuah perairan saling mempengaruhi satu sama lain? Indonesia punya banyak ahli kelautan, beri mereka pekerjaan untuk menunjukan bukti-buktinya. Selain itu sampah yang menumpuk di sepanjang pantai Selatan Bali juga bukan karena rombongan turis lokal yang tidak tertib habis minum air kemasan dalam botol plastik atau makan siang dari lunch box dan membuang sampahnya ke pantai-pantai.

Tengoklah ke dalam pada sistem pengelolaan sampah yang ada di municipality Denpasar, dan kota-kota dengan populasi yang lumayan besar di sekitar Denpasar seperti Tabanan, Mengwi, dan Gianyar.

Lihatlah faktanya bahwa banyak perumahan-perumahan di Bali yang tidak terjangkau oleh sistem pengambilan sampah dari dinas kebersihan. Hotel, restauran, villa-villa, komplek perumahan pengambilan sampah dikelola dengan baik dan teratur. Tapi banyak perumahan penduduk di kawasan Denpasar maupun wilayah-wilayah Utara Denpasar yang tidak melakukan pengambilan sampah rutin di lingkungan tempat tinggal. Sementara di Denpasar sendiri banyak perumahan dengan akses-akses jalan yang sangat sempit dengan populasi lumayan padat yang tidak memiliki akses untuk dilewati oleh truk-truk sampah. Adakah tempat-tempat kolektor sampah di dalam lingkungan yang tidak memiliki akses truk sampah itu. Kemana mereka membuang sampah? Truk-truk sampah di perumahan juga hanya mempunyai fungsi untuk mengambil sampah buangan rumah tangga. Mereka menolak mengambili sampah-sampah berupa potongan kayu dan daun hasil pemangkasan tanaman perdu ataupun pepohonan. Dan masyarakat ketika melakukan pemangkasan pohon dan perdu kemudian membuangnya begitu saja di saluran air dan saluran irigasi.

Faktanya banyak sekali sungai-sungai, besar dan kecil, dan tukad-tukad di pulau Bali ini yang bermuara di pantai Selatan. Faktanya sampah yang terdampar di pantai berupa sampah buangan manusia berupa sampah padat yang tidak terurai dan sampah organik berupa potongan-potongan kayu. Faktanya peristiwa menumpuknya sampah di pantai Selatan terjadi pada saat musim penghujan bukan pada saat musim kering. Faktanya banyak kegiatan pemangkasan setelah pohon dan perdu tumbuh sangat subur pada musim penghujan. Sampah banyak terdampar di pantai pada saat sebelumnya terjadi hujan deras mengguyur cukup lama terutama di daerah yang tinggi dan perbukitan. Sampah menumpuk dan mendarat di pantai tidak tiap hari melainkan saat terjadi air pasang tertinggi pada bulan baru dan bulan purnama. Jadi penumpukan dan terdamparnya sampah di pantai-pantai terjadi kombinasi hujan deras dan air pasang. Faktanya sampah bukan cuma di sepanjang pantai Jimbaran-Tuban-Kuta-Legian-Kerobokan, tapi juga di pantai Sanur di bagian Timur yang sama sekali tidak terpengaruh oleh arus air dari Barat. Meski di pantai Sanur sampah tidak menumpuk di pantai seperti di bagian Barat. Di Tanjung Benoa dan Nusa Dua juga sebenarnya sampah semakin banyak, hanya saja kawasan resort dan hotel bintang lima di sana memiliki cukup banyak pegawai yang membersihkan dan menjaga pantai setiap hari, pagi, siang dan sore hari, sebelum terjadi penumpukan.

Melihat kenyataan dan fakta yang ada janganlah kita menuduh bahwa sampah di Bali adalah sampah kiriman. Kiriman dari mana? Kemungkinan terbesar adalah sampah-sampah itu tidak datang dari jauh-jauh. Melainkan dari perbukitan terbawa derasnya aliran air hujan masuk ke sungai-sungai dan terbawa ke laut lepas. Saat air pasang ombak kemudian mengembalikannya ke daratan dan terdamparlah sampah-sampah itu di pantai.

Catatan akhir dan perenungan :
Kemana sampah-sampah penduduk Denpasar yang dibawa oleh truk-truk pengambil sampah? Jawabannya adalah dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) yang terletak di wilayah Suwung, Denpasar Selatan. Letaknya Suwung itu adalah antara pelabuhan Benoa dan pulau Serangan. Mampukah TPA Suwung menampung sampah seluruh wilayah Denpasar dan sekitarnya? Saatnya untuk memikirkan, sebelum terlambat dan tidak tahu lagi kemana harus membuang sampah untuk penduduk Denpasar dan sekitarnya.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

2 thoughts on “Sampah-sampah Bali dan pencemaran pantai

  1. sebenarnya mengatasi persoalan sampah itu tidak sulit sama skali,dan bahkan SAAAAANGAT mudah skali,dimanapun,berapapun kondisi apapun,bila berkenan(buka)teknologi pemusnah sampah,dgn.cara mudah PASTI BERHASIL.Trima kasih.

    • Setuju Bro, sanggaaaaat mudah. Mentality, mindset sama karakter aja yg perlu dirubah… Begini contohnya konkritnya…Pernah jalan2 keluar negeri? Yang deket aja deh Singapore, kalau kita lihat, disana itu jarang loh ada papan-papan pengumuman tulisan ‘Dilarang buang sampah disini!’, nah kalau di negara kita ada papan peringatan dimana-mana tetep aja buang sampah sembarangan, malah kadang dibawah tulisan peringatannya masih ada juga loh yang nebar sampah disitu. Ya gitu deh, ketahuan kan mentality-nya seperti apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s