Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Wanita Indonesia masih termarjinalkan

Leave a comment

Seorang ibu di Polewali, hidup dengan dua anaknya ditengah rawa karena tidak punya rumah. Anak-anaknya hanya diberi minum air, makanan kadang-kadang saja apabila menemukan bahan makanan tumbuhan dan hewan disekitar rawa-rawa.

Sebuah keluarga di Jawa Timur tinggal didalam bekas kandang ayam ukuran 2 x 2 m. Punya dua orang anak, suaminya kerja serabutan, isterinya juga kerja serabutan kadang-kadang jadi buruh cuci, tapi keluarga jadi sangat kekurangan sekarang karena si wanita tidak bisa bekerja karena usia kandungannya sudah 9 bulan. (kok ya sempat-sempatnya bikin anak? wong ya tinggal di kandang ayam, apa enaknya?)

Sebuah keluarga di Cirebon hidup dengan anak yang jumlahnya mencapai dua lusin. Dibilang si wanita adalah contoh wanita perkasa karena si wanita itu bekerja siang malam merawat anak-anak yang dua lusin masih ditambah lagi mencari nafkah keluarga dengan berjualan makanan kecil karena si suami hanya bekerja sebagai tukang becak.

Seorang wanita muda di Jakarta, punya 5 anak dari 5 orang pria berbeda, tinggal di kolong jembatan, tidak punya uang, tidak punya KTP, mengobati penyakit kelamin dengan menyiram bensin ke alat kelaminnya.

 Cerita yang sangat menyedihkan tentang bangsa ini.

Wahai para ulama, masihkah mengharamkan KB? apakah tidak punya keturunan menentang ajaran agama Islam? Melayani suami kewajiban seorang isteri, tapi haruskah dibiarkan janin tumbuh sementara si laki-laki tidak bisa memberikan nafkah bagi anak-anak yang dihasilkan dari servis seorang wanita pada lelaki tersebut? Apakah tidak tahu kalau anak itu adalah amanat dari yang Maha Mencipta yang harus dipelihara dengan baik. Sah kah perkawinan apabila pria tidak bisa memberikan mas kawin dan menghidupi seorang wanita?

Wanita Indonesia punya seorang pahawan bernama Raden Ajeng Kartini, katanya beruntunglah wanita Indonesia sekarang, karena kita wanita Indonesia sudah mendapatkan kesetaraan dengan pria. Apanya yang setara?

  • Wanita Indonesia masih termarjinalkan hak-haknya.
  • Wanita tidak menikah menjadi bahan bisik-bisik tetangga. Wanita selalu dituntut untuk wajib menikah.
  • Wanita tidak punya anak jadi bahan rongrong-an keluarga, dan layak untuk diceraikan atau diduakan karena alasan tidak punya keturunan, padahal yang punya anakpun diceraikan atau terpaksa bercerai karena si pria telah menginginkan wanita lain.
  • Apabila pria tidak bisa memberi nafkah, wanita tetap tidak bisa menuntut hak untuk tidak menjalankan fungsi reproduksinya. Wanita tidak punya hak untuk memilih punya anak atau tidak.
  • Beban dari sebuah keluarga yang kekurangan selalu menjadi beban wanita.
  • Dan wanita Indonesia masih bodoh dengan menerima perkawinan dengan mas kawin yang nilainya tidak cukup untuk bisa menghidupinya termasuk anak-anaknya. Mas kawin seperangkat alat sholat, sah kah perkawinan itu?
Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s