Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

ABUSING (Indonesiaku, part 3)

Leave a comment

Abuse = pelecehan. Kalau bicara kata pelecehan orang langsung terpikir pelecehan sexual. Padahal maksud kata pelecehan itu tidak hanya dalam kasus sex. Maksud kata “pelecehan” adalah semua tindakan yang bermakna tidak menghargai, menganggap sepele, mengabaikan, merendahkan pihak lain. Di Indonesia ini banyak sekali orang yang melakukan tindakan pelecehan. Berbagai macam hal dilecehkan. Pejabat menggunakan kekuasaan semena-mena, pelecehan terhadap kepentingan rakyat. Membuat aturan dan perundangan bukan untuk mengatur tapi untuk menjaga kepentingan pihak tertentu yang menjadi kelompoknya.

Tapi dibalik itu orang kecil dan miskin juga melakukan pelecehan dengan menganggap bahwa mereka berhak atas segala-galanya, berhak untuk semau gue. Kata “wong cilik”selalu menjadi senjata jika menyangkut masalah ekonomi. Contoh kongkrit adalah pedagang kaki lima yang dengan seenaknya menempati area-area kaki lima yang seharusnya menjadi pedestrian untuk orang berlalu lalang. Dengan dalih wong cilik yang tidak berkecukupan modal untuk menyewa tempat mereka mengabaikan kepentingan orang banyak, kepentingan dan keselamatan orang-orang bahkan anak-anak sekolah SD SMP yang sebagian besar pulang pergi dengan berjalan kaki. Mereka tidak peduli jika anak-anak-anak itu terserempet angkot atau bus karena trotoar tertutup lapak, gerobak dan kadang berupa tenda dagangan mereka, sehingga orang-orang harus berlalu-lalang diatas badan jalan yang dilalui kendaraan-kendaraan bermotor. Pelecehan terhadap hak orang lain.

Pada saat dilakukan penertiban, petugas merasa berkuasa sehingga boleh bertindak semena-mena. Melakukan perusakan atas barang-barang dan property milik orang lain. Ini adalah pelecehan atas hak perorangan. Memang tidak mudah mengatur orang banyak. Pelanggaran undang-undang termasuk juga Peraturan Daerah selayaknya dilakukan di pengadilan. Petugas penertiban seperti SatPol PPseharusnya melakukan tindakan yang lebih beradab bukan dengan cara Bar-bar.

Ini hanyalah sebuah usulan, seharusnya petugas SatPol PP tugasnya hanya berkeliling mendata nama-nama orang pelanggar peraturan tersebut, berikut mencatat ID (Kartu Tanda Penduduk) kemudian membuat semacam surat tilang dan surat panggilan pengadilan terhadap pedagang kaki lima dan penghuni-penghuni liar tanah negara tersebut. Karena intinya mereka itu adalah pelaku pelanggaran terhadap peraturan dan perundang-undangan. Apabila tidak diindahkan dan terjadi pelecehan terhadap surat panggilan dari aparat terjadi maka penyitaan barulah bisa dilakukan.

Pelecehan undang-undang. Siapa yang tidak pernah mendengar orang berkata : Undang-undang ada untuk dilanggar. Selama tidak ketahuan dan tidak tertangkap maka sah-sah saja. Ini adalah bentuk pelecehan terhadap undang-undang dan peraturan. Contoh: penggunaan seat belt, penggunaan hand phone saat menyetir, merokok ditempat umum dan ada larangan untuk merokok.

Pelecehan dalam hal hak asasi manusia. Kenyataan yang terjadi benar-benar kacau. Tidak jelas batas-batasnya. LSM sering menggunakan istilah hak asazi manusia dalam memperjuangkan kaum tertindas. Pihak yang posisinya terjepit selalu menggunakan dalih hak asazi manusia apabila berhadapan dengan pemerintahan. Dalam keberagaman yang ada di Indonesia ini maka negara terbuka atas semua pengecualian yang ada pada kelompok-kelompok minoritas sehinggga tidak ada alasan pelanggaran hak asazi manusia. Dalam aturan negara Indonesia kepemilikan senjata api adalah sangat-sangat terbatas. Apabila ada orang bersama kelompoknya yang memiliki senjata dengan tujuan membentuk pasukan maka itu adalah suatu tindakan melawan pemerintahan yang berdaulat. Perlawanan dari angkatan bersenjata seperti Densus 88 terhadap kelompok jihad bersenjata atau Pasukan dengan kelompok bersenjata lainnya bukanlah melanggar hak asazi manusia. Semua negara berdaulat di muka Bumi ini berhak memiliki pasukan pengaman untuk menjaga kedaulatan negara baik dari musuh yang ada diluar maupun yang ada dalam selimut.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s