Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Mengurangi penggunaan kantong plastik.

Leave a comment

Tempat windsurfing yang paling bagus di Denpasar adalah di pantai Timur Serangan tapi sayang lautnya penuh sampah. TPA Suwung semakin hari semakin tinggi saja timbunan sampahnya. Setiap habis air pasang semakin banyak sampah yang terbawa dari TPA Suwung ke Pantai Serangan. Sebenarnya antara TPA Suwung dengan pantai Timur Serangan itu lumayan jauh. Dan TPA Suwung berada di sebelah Barat kalau dari pulau Serangan.

TPA Suwung berada di wilayah Denpasar Selatan dan Pantai Timur Serangan di Pulau Serangan. Saat ini Pulau Serangan sudah terhubung dengan Denpasar dengan adanya jembatan penghubung. Meski sudah tidak lagi nampak nyata selat diantara Denpasar dan pulau Serangan karena ada jembatan diatasnya tapi perairan di Serangan masih terhubung dengan perairan di daerah Suwung. Pada saat air pasang air membawa sebagian sampah-sampah ke arah kanal di pantai Timur Serangan. Selain itu saluran drainase kota Denpasarpun juga terhubung dengan kanal Serangan. Yang paling menyebalkan adalah kalau kita lagi windsurfing saat angin sedang bagus dan kita meluncur dengan kecepatan tinggi tiba-tiba fin kita kandas tersangkut sampah plastik yang melayang-layang di permukaan air. Untung kalau tidak terlempar jatuh, catapult, akibat berhenti secara tiba-tiba pada saat kecepatan tinggi.

Sebenarnya bukan TPA Suwungnya yang saya akan persoalkan karena memang susah untuk mencari tempat lain selain di Suwung untuk membuat TPA. Yang jadi pemikiran saya adalah bagaimana agar sampah di TPA Suwung tidak semakin tinggi saja tumpukannya. Dan agar saluran drainase tidak dipenuhi sampah.

Saya ingin memberikan ide dan sumbang saran lewat tulisan ini bagaimana agar mengurangi sampah-sampah kantong plastik terutama di Bali dan Denpasar khususnya, agar windsurfing di Serangan menjadi lebih nyaman. Pantai Timur Serangan ini pantas untuk dijadikan pusat olah raga windsurfing apalagi waktu pelaksanaan Asian Beach Games yang pertama di Bali, cabang olah raga berlayar semua juga dilaksanakan di Serangan.

Saya ingat dulu waktu kecil waktu kami tinggal di Balikpapan kalau ibu saya pergi belanja ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari ibu selalu membawa keranjang yang terbuat dari bahan rotan berbentuk oval. Waktu saya sempat tinggal sebentar di Austria beberapa tahun yang lalu saya lihat orang-orang di Austria masih menggunakan keranjang seperti itu saat belanja seperti kehidupan di Balikpapan puluhan tahun yang lalu. Yang saya lihat di German yang lebih maju dari Austriapun kebiasaannya seperti itu. Di Indonesia sendiri sudah tidak jaman lagi orang belanja ke pasar membawa keranjang belanja.

Yang saya ingat lagi dari masa jadul kalau belanja-an tidak terlalu banyak ibu membawa “kompek” yaitu keranjang yang terbuat dari anyaman daun pandan. Untuk mengingatkan kembali tas daun pandan ini secara offensive orang-orang di Balikpapan sering juga menyebutnya “kompek mbutun”. Mbutun asal kata Buton. Entah kenapa disebut begitu, entah karena tas itu style orang Buton atau orang-orang Buton yang membuat tas anyaman tersebut. Mungkin karena sering jadi bahan ledekan orang-orang tidak lagi mau belanja menggunakan “kompek” ini padahal ini termasuk bio bag (Hebat kan? orang Buton)

Sementara untuk belanjaan sedikit di Eropa orang memakai kantong dari bahan belacu. Yang ini sudah mulai diterapkan di beberapa supermarket besar di Indonesia meskipun masih banyak juga orang yang tidak mau rugi membeli tas bahan belacu ini. Kenapa mesti beli bio bag kalau bisa dapat kantong plastik, gratis lagi, begitu kira-kira keadaannya.

Baiklah saya berpikir positif saja bahwa sudah banyak orang yang menggunakan bio bag dari supermarket. Saya juga mengusahakan selalu bawa bio bag kalau belanja. Tapi masih ada lagi persoalan kantong plastik saat belanja meskipun banyak orang sudah pakai bio bag. Setiap beli buah dikantongin plastik sendiri untuk menimbang. Beli sayuran juga pakai kantong plastik. Beli telur juga kantong plastik. Beli ikan, daging dan ayam, kalau ini bolehlah pakai kantong plastik. Tapi buah dan sayuran sebenarnya tidak perlu, kalau mau bungkus sayuran bisa pakai kertas merang (kertas sederhana dari bahan sisa serat padi). Begitu juga untuk tempat telur bisa pakai kertas bergelombang lancip-lancip dari kertas recycle yang biasa buat tempat telur.

Nah supaya belanja tidak harus semua diplastik sendiri-sendiri tempat menimbang buah dan sayuran sebenarnya bisa dipasang di dekat kasir. Kasir langsung menimbang sayuran yang diambil dan datanya langsung masuk komputer pembayaran kasir. Sistem inilah yang digunakan di supermarket dekat tempat saya tinggal di Austria, tidak semua diplastik-plastik sendiri-sendiri.

Nah sampah yang lebih banyak yang saya lihat di Serangan ini sebenarnya sampah dari pembungkus sabun, detergen, dan produk-produk cairan berupa kantong refill. Siapa bilang system refill ini ramah lingkungan. Refill ini diterapkan untuk menekan cost agar harga barang terjangkau bukan karena ramah lingkungan. Nyatanya kantong-kantong plastik untuk refill ini memang tidak ramah lingkungan. Lihat saja tidak ada keterangan pada kantong-kantong tersebut apa jenis plastiknya, tidak ada kode PP untuk plastik Polypropylene, PE untuk Polyethylene atau PET untuk Polyester dll. dan juga tidak ada kode recycled. Sementara kalau kita membeli dengan kemasan aslinya maka jelas sekali semua kode recycle dan jenis plastik ada tertera.

Maka sebaiknya penggunaan system refill ini tidak boleh lagi. Kalau mau menekan cost bisa saja dilakukan cara untuk pembelian selanjutnya maka bila mengembalikan kemasan sebelumnya akan mendapatkan potongan harga. System seperti ini juga diterapkan dalam pembelian botol minuman. Bahkan di Eropa sistem pengembalian kemasan saat ini diterapkan juga pada minuman Coca-Cola dalam kemasan kaleng aluminium. Di Singapore pemulung dengan sigap memungut kaleng minuman ringan setiap saat kita minum di kaki lima. Apa salahnya kalau botol shampoo juga dilakukan sistem kembali botol. Begitu juga dengan kemasan cairan pembersih. Jadi pembeli hanya membayar produk cairannya saja.

Seperti saya jelaskan sebelumnya pembungkus detergen juga termasuk sampah yang banyak di perairan Serangan. Dulu detergen dibungkus dengan kemasan box karton tapi sekarang tidak lagi. Ada yang menggunakan kemasan karton tapi dalamnya juga digunakan kantong plastik. Kalau mampu beli detergen dalam jumlah banyak sekaligus maka sebaiknya belilah dalam ukuran yang besar jangan membeli ukuran sachet kecil-kecil karena sampah yang ditimbulkan jadi lebih banyak dengan membeli bungkusan kecil-kecil itu.

Dan hampir sama banyaknya dengan kantong detergen adalah sampah kantong plastik pembungkus mie instan dan makanan ringan, potatoes chips, ketela chips, dan lain-lain. Duh bagaimana ya menguranginya? Mungkin ada yang mau bantu memikirkan?……..

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s