Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah.

Leave a comment

Pemerintah berencana menaikkan PPN BM untuk minuman beralkohol, pengusaha resto, café dan perhotelan pun jadi gerah. Berbagai alasanpun disampaikan untuk menghalangi atau menggagalkan rencana ini diantaranya dampaknya terhadap industri wisata.

Memang PPNBM ini bikin gerah semua orang dalam industri wisata, tapi kalau itu menyangkut minuman beralkohol sebenarnya saya tidak terlalu ambil pusing. Yang jadi masalah buat saya adalah pengenaan PPNBM untuk peralatan olah raga sebesar 30% disamping Pajak Pertambahan Nilai yang 10% masih ditambah lagi Pajak Penghasilan (PPh) yang dipungut dua kali, karena sebagai pedagang menengah tidak mempunyai import lisence sehingga pelaksanaan import melalui perusahaan besar (pemungut pajak) lain sebagai agen.

Alat olah raga air, di Propinsi Bali terutama, adalah sarana penunjang pariwisata yang utama. Wisatawan repeater datang ke Bali karena kegiatan wisata bahari-nya. Suguhan  atraksi budaya, barong, kecak, adat istiadat, pura, museum, lukisan, ukir-ukir, cinderamata memang penting tapi itu adalah suguhan untuk wisatawan asing yang baru pertama kali ke Bali. Bagi para repeater kegiatan itu berada diposisi paling bawah dalam wish list mereka saat datang kembali ke Bali. Tidak percaya? Coba saja lakukan survey.

Kegiatan wisata bahari yang paling diminati orang asing dari benua Eropa, Rusia dan Australasia adalah diving, snorkling, kitesurfing, sailing, windsurfing dan yang paling popular adalah surfing. Sementara wisatawan local menyukai fasilitas marine amusement area dengan kegiatan berupa kayaking, glass bottom boat, parasailing, banana boat, flying Manta dan yang mewah berupa jet ski. Kalau kita inginkan adanya wisatawan repeater ini datang dan datang lagi dan untuk semaraknya wisata bahari ini maka perlulah sarananya difasilitasi dengan kemudahan-kemudahan. Rasanya pajak untuk perlengkapan wisata bahari ini bila dikenai PPN 10% itu sudah lebih dari cukup.

Kalau dikorek lebih dalam lagi, kita lihat, sebagian besar hanya orang-orang asing saja yang rela merogoh kocek dalam untuk kegiatan olahraga air, wisatawan local kurang berminat, karena tidak tahu dan tidak bisa. Bukan karena wisatawan asing lebih banyak duit, lebih kaya daripada wisatawan local tapi karena semangat dari wisatawan local untuk melakukan olahraga yang tidak ada. Bagi bangsa lain olah raga adalah kebutuhan utama seperti halnya sandang, pangan dan papan. Sementara bagi bangsa kita olah raga masih merupakan kebutuhan sekunder, barang mewah, tidak semua orang bisa melakukan, hanya mereka yang hidupnya mapan bisa dan biasa berolah raga. Hiburan dan olah raga hanya untuk sebagian kecil orang bukan milik masyarakat. Begitulah keadaannya apalagi dengan adanya pengenaan PPNBM untuk alat olah raga.

Mengharap olahraga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sepertinya masih jauh di langit, di awang-awang, sementara kebijakan ini tidak juga berubah. Apakah pemerintahan SBY dengan Menpora-nya AM yang kata orang modern dan berpandangan maju itu berani merombak kebijakan ini?

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s