Guru Kehidupan

Marilah kita berpikir untuk menjadi lebih baik

Priok berdarah.

Leave a comment

14 April terjadi bentrok SatPol PP dengan masyarakat sekitar Koja karena menolak daerahnya dibenahi.

Ini sebuah pemikiranku untuk kasus-kasus semacam. Saat pembenahan dilaksanakan untuk kepentingan yang lebih besar terjadi penolakan dari masyarakat yang jadi korban. Penataan memang harus selalu ada korban. Perumpamaan kita menata sebuah taman bunga yang sudah tumbuh liar tidak beraturan maka akan ada tanaman yang menjadi korban dipotong, dicabut, dibuang sementara yang masih layak mungkin direlokasi ditanam kembali di dalam pot atau ditempat lain. Itu adalah tuntutan dari sebuah kerapihan dan keindahan.

Begitu juga dengan „pengembangan wilayah“, dalam sebuah penataan lingkungan terlebih lagi bila sebuah wilayah telah tumbuh tanpa melalui sebuah penetapan master plan maka pertumbuhan akan bergerak sesukanya. Akibatnya terjadi tumpang tindih kepentingan. Dan terjadilah perebutan wilayah seperti yang terjadi di Koja.

Terus bagaimana kita menghadapi kasus-kasus seperti ini dalam sebuah penataan kota. Demi kehormatan pemerintah dan demi tegaknya HAM yang dituntut masyarakat yang semakin demanding maka harus dicari penyelesaian yang paling arif.

Indonesia itu negara yang luas. Pelabuhan bukan hanya ada di Jakarta dan bukan hanya Sunda Kelapa dan Tanjung Priok dan Koja saja. Kawasan Industri semakin bergerak ke arah Timur. Masih banyak wilayah yang bisa dikembangkan. Bikin Master Plan yang sebaik-baiknya. Kosongkan sebuah wilayah buat perencanaan untuk jangka panjang hingga kebutuhan 50 tahun mendatang. Tidak bisa dibikin lebih lebar pelabuhan peti kemas yang ada di Koja ya buat ditempat lain misalnya di Bekasi, di Cirebon, Di Tegal, di Semarang atau Surabaya sekalian.

Apabila ada masyarakat yang menolak apabila wilayah itu ditata dibenahi dan dikembangkan dengan dasar tata kota yang baik maka tinggalkan daerah tersebut cari wilayah yang masih kosong dan bisa ditata. Tinggalkan masyarakat yang anti terhadap kemajuan. Masyarakat yang egois dan hanya mementingkan kepentingan kelompoknya bukan kepentingan bangsa dan negara.

Teori pengembangan wilayah dan tata kota apabila sebuah infrastruktur terbentuk maka wilayah itu akan tumbuh dan berkembang. Sebagai contoh yang ada didalam kota Jakarta sendiri, jalan terusan Simpruk pada mulanya seperti wilayah Jakarta pinggiran meski berada di tengah kota dan dekat dengan Senayan. Begitu jalan tersebut diperbaiki diperlebar dan menjadi jalan alternatif dari Jakarta Barat menuju Jakarta Selatan selain Senayan maka lambat laun daerah itu berkembang bahkan hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Jika masyarakat Koja menolak ditata wilayahnya, tidak mau berkorban untuk kepentingan yang lebih besar bagi pembangunan kota Jakarta, leave them alone, kembangkan wilayah lainnya. Berikan kemajuan pada masyarakat yang mau berkorban atau tempat yang sama sekali baru kosong sehingga tidak ada tumpang tindih kepentingan. Tempat yang telah tertata baik bisa ditawarkan kepada mereka yang mau menempati wilayah yang sama sekali baru itu dengan diberikan insentif, sementara bagi yang menolak digusur (bahasa kasarnya) tidak perlulah dilakukan pemaksaan. Punishment bisa dengan bentuk yang lain seperti tidak adanya anggaran pembangunan. Toh mereka tidak menghendakinya.

Advertisements

Author: hennybrunner

Dulu kala saya pernah sempat bercita-cita menjadi guru, mungkin sekarang saya tidak menjadi guru di sekolah tapi menjadi guru dalam kehidupan. Kalau dibaca semua, kebanyakan dari artikel-artikel yang saya tulis dalam site ini berkesan menggurui, maka anggaplah saja saya ini memang guru, Guru Kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s